ANDROMEDA

ANDROMEDA
Karma



Pagi hari di rumah Joyce.


Joyce dan putri semata wayangnya, Celine tengah menikmati sarapan pagi mereka.


"Mulai besok Helena akan tinggal bersama kita," ucap Joyce mengawali percakapan.


"Helena? Penjahit di butik milik ibu?" Tanya Celine.


"Ya. Dia tak memiliki siapapun," jawab Joyce.


"Mengapa ibu begitu perduli pada perempuan itu? Ibu sudah menanggung seluruh biaya perawatannya. Kurasa itu sudah lebih dari cukup," ucap Celine.


"Helena tak bisa melihat. Bagaimana mungkin ia bisa hidup seorang diri?" Tanya Joyce.


"Sampai kapan ibu akan menanggung hidupnya?" Tanya Celine.


"Kau terlihat begitu membencinya. Apa ada masalah di antara kalian? Atau kalian sudah saling mengenal?" Tanya Joyce.


"Aku hanya tak ingin Helena terus memanfaatkan kebaikan ibu," ujarnya.


"Dengan atau tanpa persetujuan darimu, Helena akan tinggal di rumah kita," ucap Joyce. Tiba-tiba Celine bangkit dari tempat duduknya. "Aku harus pergi sekarang," ucapnya sambil berlalu dari hadapan Joyce.


Joyce tahu Celine kesal padanya. Namun ia tak sampai hati jika harus membiarkan seorang tuna netra hidup seorang diri.


*****


Di rumah sakit


Perawat Zi terlihat memasuki ruang perawatan Gibran. 


"Selamat pagi, Tuan Gibran," sapanya ramah. Gibran tak menjawab. Ia tampak tengah melamun.


"Apa ada sesuatu yang kau ingat?" Tanyanya.


"Apakah aku pernah menikah dan memiliki anak?" Tanya Gibran.


Perawat Zi tersenyum.


"Selama kau dirawat di sini, tak ada seorang pun perempuan yang mengaku sebagai istrimu," jawabnya.


"Lalu, siapa anak kecil yang sering mengunjungiku?" Tanyanya lagi.


"Andro...Andro...ya. Namanya Andromeda. Mungkin dia salah satu saudaramu," jawab perawat Zi. Tiba-tiba Gibran merasakan nyeri hebat di kepalanya. Ia terus mengaduh kesakitan. 


Perawat Zi bergegas meninggalkan ruang tersebut dan memanggil dokter. Tak lama kemudian ia kembali ke ruangan tersebut bersama dokter Arsen.


"Apa yang terjadi padanya?" Tanyanya.


"Ia hanya menanyakan apakah dia sudah menikah atau belum. Kemudian menanyakan anak kecil yang sering mengunjunginya. Tiba-tiba dia merasa kesakitan," jawabnya.


Dokter itu lalu menyuntikkan sesuatu ke dalam cairan infus yang tergantung di sisi ranjang pasien. Tak berselang lama, pria itu pun terlelap.


Untuk ke sekian kalinya Zivanna memandang wajah Gibran yang tengah tertidur. Meskipun kini ia mengidap amnesia, namun hal itu sama sekali tak mengurangi rasa kagumnya pada pria tersebut. Ini bahkan kesempatan bagus untuk masuk ke dalam kehidupan Gibran.


Suara derit pintu sedikit mengagetkannya.


Keenan datang seorang diri ke ruangan tersebut.


"Selamat pagi, Tuan," sapa Zi ramah.


"Selamat pagi," sahut Keenan. Bagaimana keadaan Gibran?" Tanyanya.


"Tuan Gibran baru saja diberikan obat penenang. Beberapa saat yang lalu ia merasakan nyeri hebat di kepalanya. Setelah aku menyebut Andromeda," jawab Zi.


"Andromeda? Apakah yang kau maksud itu anak laki-laki kecil berusia tujuh tahun yang sering menjenguknya?"


Zi mengangguk.


"Apa kau keluarganya?" Tanya Zi.


"Ya, aku adiknya," jawab Keenan. 


Keenan memandang Gibran yang tertidur karena pengaruh obat bius yang baru saja masuk ke dalam tubuhnya.


Dulu Gibran bersikap seolah tak pernah memiliki masa lalu dengan Aurora. Ia bahkan terus memungkiri perbuatannya pada perempuan itu hingga akhirnya Andromeda terlahir. Apakah ini karma baginya? Ia bersikap seperti seorang yang lupa ingatan. Dan kini Tuhan seakan memberinya teguran. Gibran kini benar-benar kehilangan ingatannya.


Keenan melirik arloji di tangannya. Kemudian ia hendak bergegas meninggalkan ruangan tersebut. Tiba-tiba pintu terbuka. Tampak seorang pria paruh baya bersama seorang perempuan tua berdiri di depan pintu.


"Suster, apa kau tahu pria yang baru saja keluar dari ruangan in?" Tanya Hans.


"Pria itu mengatakan jika dia adalah adik Tuan Gibran," jawab Zi.


"Adik?" Hans dan Felice saling memandang.


"Apakah Gibran belum bangun dari tidurnya, suster?" Tanya Hans.


"Tuan Gibran baru saja tertidur karena pengaruh obat penenang. Beberapa waktu yang lalu Tuan Gibran merasakan nyeri hebat di kepalanya setelah aku menyebut nama Andromeda," jawab Zi.


"Andromeda? Siapa dia?" 


"Dia anak kecil yang sering mengunjunginya, Tuan."


Hans dan Felice kembali saling memandang.


"Tampaknya sekarang bukan waktu yang tepat untuk berbicara padanya," ucap Felice. Keduanya pun berlalu dari ruangan tersebut.


Hans dan Felice hendak memasuki mobilnya. Namun tiba-tiba Emily dan putrinya Alicya turun dari dalam mobil yang terparkir tepat di sebelah mobilnya.


"Nyonya Felice," ucapnya.


Felice tersenyum pada keduanya.


"Apakah kau baru saja menemui putraku?" Tanya Emily.


"Putramu baru saja tertidur Nyonya. Perawat mengatakan jika beberapa saat yang lalu Gibran merasa kesakitan. Jadi dokter memberinya obat penenang," jawabnya.


"Ada yang ingin kutanyakan padamu, Nyonya," ucap Felice.


"Sebaiknya kita duduk di tempat itu." Emily lalu meminta Alicya untuk mendorong kursi rodanya ke sebuah taman kecil yang terletak di dekat area parkir.


"Saat aku memasuki ruang perawatan Gibran, aku berpapasan dengan seorang pria. Aku tak mengenalnya. Namun perawat mengatakan jika pria itu adalah adik Gibran. Bukankah kau hanya memiliki dua anak. Gibran dan Alicya. Lalu, siapa pria yang mengaku sebagai adik Gibran? Apa kau bisa menjelaskan?" Tanya Felice.


Emily membuang napas. Ia bingung apakah ia harus menceritakan perihal Keenan pada Felice? Jika ia menutupinya pun tak ada untungnya juga baginya.


"Pria itu pasti Keenan. Dia adalah adik tiri Gibran," ucap Emily.


"Adik tiri? Apa maksudmu?" Tanya Felice setengah tak percaya.


"Sebenarnya yang akan kuceritakan padamu adalah aib keluargaku. Namun kurasa ada baiknya juga Nyonya mengetahuinya," ucap Emily.


Felice menautkan alisnya. Perempuan tua itu semakin bingung dengan arah pembicaraan ibu kandung dari kekasih cucunya.


"Keenan adalah anak dari pernikahan ke dua suamiku. Tepatnya pernikahan yang dirahasiakan dariku," ucapnya.


"Suamimu menikah lagi?" Tanya Felice.


"Ya. Aku tak menyangka dia tega mengkhianatiku. Aku baru mengetahui hubungan mereka setelah perempuan itu melahirkan seorang anak laki-laki. Usianya mungkin hanya berjarak beberapa tahun dari Gibran. Suamiku menjalin hubungan dengan perempuan itu mungkin tak lama setelah kami menikah," ucap Emily dengan raut wajah penuh kesedihan. Emily seakan membuka lamanya yang tak akan pernah bisa sembuh sampai kapanpun. Meskipun ia sudah memaafkan mendiang suaminya.


"Lalu dimana Keenan dan ibunya tinggal sekarang?" Tanya Felice.


"Perempuan itu sudah lama meninggal," jawabnya. Felice tersentak.


"Lantas, siapa yang merawat Keenan?"


"Aku dan ibuku saat itu tak bisa menerima Keenan. Bagi kami anak itu adalah anak haram. Ibuku menyerahkan Keenan ke sebuah panti asuhan. Di saat usianya menginjak sepuluh tahun, anak itu diadopsi oleh sepasang suami istri yang berasal dari luar kota. Suamiku sempat meminta alamat orang tua angkat Keenan. Namun rupanya pihak panti dan orang tua baru Keenan telah membuat perjanjian agar tak memberikan identitasnya pada siapapun. Sejak saat itu tak mengetahui keberadaan Keenan. Kami baru bertemu lagi beberapa hari yang lalu saat Gibran baru saja mengalami kecelakaan."


"Apakah kau masih menyimpan dendam pada Keenan?" Tanya Felice.


Bersambung...


Tembus 200 👍aku up episode selanjutnya.…


❤ ❤ ❤ 


Hai kak, dukung terus karyaku ya…


Jangan lupa beri like👍, komentar💬, ✒vote, favorit💙 serta hadiah🎁.


Sekecil apapun dukungan yang kalian berikan untukku, aku akan sangat berterima kasih.


Semoga kalian terus menjadi pembaca setiaku..💕💕