
New York, 01.00 pm
Nadine tengah berbelanja di sebuah supermarket tak jauh dari hotel tempat menginapnya. Perempuan itu tampak tengah kebingungan memilih buah.
Tiba-tiba seorang pria menghampirinya.
"Kau perlu bantuan?" Tanyanya.
Nadine lalu mendongakkan kepalanya.
Ia merasa tak mengenal pria tersebut.
"Apa kita pernah bertemu?" Tanyanya dengan wajah heran.
"Aku badut Joe," pria itu terkekeh.
Nadine mengamati wajah Joe untuk beberapa saat. Sebelum ia benar-benar mengenali wajah pria yang berdiri di sampingnya tersebut.
"Astaga! Benar ini kau?" Tanyanya setengah tak percaya.
"Kau tampan juga ternyata," gumamnya.
"Kau berbelanja di sini?" Tanyanya.
"Kurasa aku butuh asupan vitamin lebih. Belakangan ini aku sering merasa pusing," jawab Nadine sambil memasukkan beberapa butir jeruk Sunkist ke dalam kantong transparant.
"Kau terlalu dipusingkan dengan masalahmu, nona." Joe terkekeh.
"Mungkin benar katamu. Beban pikiranku terlalu berat," ucapnya. "Kau ada waktu?" Tanyanya kemudian.
Joe melirik arloji di pergelangan tangannya."Dua jam lagi aku ada jadwal kuliah," jawabnya.
"Kurasa aku tak akan meminta waktumu lebih dari satu jam," ucap Nadine.
"Baiklah. Kita bisa berbincang sambil makan siang," ucapnya.
Keduanya lalu berjalan menuju sebuah kedai tak jauh dari supermarket.
"Wajahmu masih sama seperti saat kita pertama bertemu di taman," ucap Joe.
"Tentu saja. Baru dua minggu yang lalu kita bertemu," ujarnya.
"Masalahmu belum selesai?" Tanya Joe.
"Sial! Pria ini lagi-lagi bisa membaca pikiranku." Umpatnya.
"Aku tak pandai membaca pikiran orang lain. Tapi kurasa siapa pun yang memandang wajahmu dari dekat. Dia akan tahu jika kau tengah menghadapi masalah yang tak mudah."
Nadine membuang napas. Ia memandang seorang pelayan yang berjalan ke arah meja mereka. Gadis berpakaian khas pramusaji itu membawa nampan berisi makanan serta minuman yang telah mereka pesan sebelumnya.
"Selamat menikmati," ucapnya dengan senyum ramah.
"Ayahku mendatangiku beberapa waktu yang lalu," ucap Nadine.
"Dia mengajakmu pulang?" Tanya Joe. Ia kemudian menghisap sedotan di gelas minumannya.
"Aku putri satu-satunya. Kurasa wajar jika ayah mencemaskanku," jawabnya.
"Lantas, mengapa kau tak ikut pulang bersamanya?" Tanyanya lagi.
Nadine mengaduk-aduk makanan di piringnya. Perempuan itu tampak tak berselera.
"Sepertinya aku butuh waktu lebih lama lagi di tempat ini," ucapnya.
"Bukan kah banyak orang yang tengah menunggumu?" Tanya Joe.
"Aku bahkan tak tahu kapan aku akan kembali ke negara asalku," jawab Nadine.
"Bagaimana dengan pertunanganmu?"
"Aku tak menginginkannya lagi."
Jawaban Nadine membuat Joe tersedak oleh makanannya.
"Kau harus bicara baik-baik dengan calon tunanganmu. Bersikaplah dewasa. Jangan biarkan ia menunggumu tanpa kepastian."
"Aku berharap dia datang menjemputku. Tapi nyatanya? Sudah dua minggu aku pergi dari darinya. Dia mungkin sama sekali tak merasa kehilangan diriku."
"Dia hanya masih terlalu sibuk dengan pekerjaanya," ucap Joe. Pria itu telah mengosongkan piringnya.
"Tampaknya kau tak berselera makan. Lihat. Piringku sudah kosong. Makanlah, kau juga harus peduli pada dirimu sendiri. Jika kau sakit nanti tak ada yang merawatmu. Kau seorang diri di sini."
Entah mengapa ucapan Joe terasa hangat di hati Nadine. Gibran yang ia kenal adalah pria yang dingin dan tak begitu memperhatikannya sedetail itu.
Nadine pun mulai memasukkan makanan ke mulutnya. Namun baru beberapa sendok, perempuan itu merasa mual. Ia pun bergegas ke toilet.
"Wajahmu terlihat pucat. Kau harus segera ke dokter," ucap Joe saat Nadine kembali ke meja mereka.
"Aku baik-baik saja," ucap Nadine.
"Kau sudah selesai dengan makan siangmu?" Tanyanya kemudian.
Joe menganggukkan kepalanya.
"Biar aku yang membayar makan siangmu," ucap Nadine.
Joe lalu berjalan menuju meja kasir.
Nadine hendak bangkit dari tempat duduknya. Namun entah mengapa kepalanya terasa berat. Tiba-tiba pandangannya gelap. Nadine terjatuh di kursinya.
Joe segera berlari menghampiri Nadine.
"Nadine! Nadine!" Ia menepuk pelan pipi Nadine. Namun perempuan itu tak bergeming. Matanya terpejam.
Joe mengambil ponselnya. Ia segera memesan ambulance.
Beberapa saat kemudian, ambulance pun tiba. Dua orang keluar dari mobil berwarna putih tersebut kemudian mengangkat tubuh Nadine ke dalamnya.
Joe panik. Ia tak tahu harus berbuat apa. Sempat terbersit di pikirannya untuk menghubungi keluarga Nadine yang saat ini berada jauh darinya.
Joe mencari ponsel Nadine di dalam tasnya. Namun ia tak menemukannya. Ia pun mencari ke saku celana Nadine. Namun benda tersebut juga tak ada disana.
"Apa mungkin ponselnya terjatuh saat tadi ia dibawa masuk ke mobil ini?" gumamnya.
Joe tak lagi memperdulikan benda itu. Baginya yang terpenting sekarang adalah keselamatan Nadine. Perempuan itu harus secepatnya mendapatkan pertolongan.
Di depan kamar ICU Joe menunggu dengan wajah tegang. Perasaan ini lebih menegangkan dibandingkan saat dirinya menunggu hasil tes masuk universitas.
Setelah beberapa menit, Seorang dokter keluar dari ruang periksa.
"Bagaimana keadaan kawan perempuan saya, dokter?" Tanyanya.
"Kawanmu baik-baik saja. Ia hanya terlalu lemah. Mungkin ia kurang menjaga pola makannya." Ucap dokter.
Joe menghembuskan napas lega.
"Aku bisa bertemu dengannya sekarang?" Tanyanya.
"Kami akan segera memindahkannya ke ruang perawatan. Ia perlu dirawat untuk beberapa hari ke depan," ucap dokter itu.
Di ruang perawatan.
"Lihat dirimu sekarang. Ini karena kau mengabaikan dirimu sendiri," ucap Joe.
"Sepertinya ucapanmu tadi mengandung kutukan," ucap Nadine berusaha melucu.
"Kau kurang berbakat melucu," gerutu Joe kesal.
"Kau harus mengisi perutmu. Dan minum obat setelahnya," ucap Joe. Pria itu lalu mengambil nampan berisi sepiring makanan serta buah segar yang beberapa waktu diantarkan perawat ke ruang tersebut.
Joe memandang Nadine yang masih tampak lemah. Ia hendak duduk namun tak berhasil melakukannya. Joe meletakkan kembali nampan itu di atas meja. Ia bergegas membantu Nadine untuk duduk. Joe menatap wajah Nadine. Tak sengaja netra mereka bertemu.
"Terima kasih Joe," ucap Nadine.
Joe merasa wajahnya memerah saat Nadine menatapnya.
"Tak perlu berterima kasih. Semua orang akan melakukan hal yang sama jika ada di posisiku," ucap Joe.
"Bagaimana kuliahmu? Kau terpaksa membolos hanya karena aku."
"Sudahlah. Jangan pikirkan itu. Kau cepatlah makan dan minum obat. Jangan membuatku khawatir lagi." Ucapan Joe sama persis seperti ucapan Hans saat ia sakit.
Tiba-tiba air mata Nadine menetes. Ia segera menyekanya sebelum pria itu melihat.
Nadine lalu mengambil nampan berisi makanan serta buah segar. Perempuan itu tampak begitu lahap.
"Astaga! Kau tampak seperti orang kelaparan." Joe terkekeh.
Nadine tersipu. Ternyata Joe memperhatikannya.
Nadine baru tersadar jika ponsel miliknya tak berada di dalam saku celananya.
"Kau melihat ponselku?" Tanyanya sambil mencari benda tersebut di dalam tasnya.
"Aku tadi sempat berpikir ingin menghubungi salah satu keluargamu. Namun aku tak menemukan ponselmu di saku celanamu. Kurasa ponselmu terjatuh saat petugas ambulance mengangkatmu ke dalam mobil."
Nadine termenung.
"Astaga! Duniamu belum berakhir hanya karena kau kehilangan ponsel 'kan? Pakai ponselku. Kurasa kau menghafal salah satu nomor ponsel keluargamu," Joe menyodorkan ponselnya pada Nadine.
Netra mereka kembali bertemu.
Bersambung….
Note: Anggap saja dialog antara Joe dan pelayan cafe serta dokter adalah bahasa Inggris yang sudah ditranslate ya...😊💕
Tembus 200 👍aku up episode berikutnya…
❤ ❤ ❤
Hai kak, dukung terus karyaku ya…
Jangan lupa beri like👍, komentar💬, ✒vote, favorit💙 serta hadiah🎁.
Sekecil apapun dukungan yang kalian berikan untukku, aku akan sangat berterima kasih.
Semoga kalian terus menjadi pembaca setiaku..💕💕