
Di rumah Sarah.
Kedatangan Freddy di ruang tamu membuat Keenan dan Rio tersentak. Keduanya tak menyadari jika pria tersebut telah mendengar seluruh percakapan mereka perihal surat wasiat Sarah.
"Aku keberatan dengan isi surat wasiat itu!" serunya.
"Nyonya Sarah sendiri yang menulis surat wasiat ini, Tuan," ucap Rio.
"Bisa saja kalian bekerja sama untuk menguasai harta Sarah," ucapnya ketus.
"Jaga ucapan Anda, Tuan Freddy yang terhormat!" timpal Keenan. Ia menatap tajam mata ayah angkatnya tersebut.
"Surat wasiat ini sangat kuat di mata hukum. Saya tak memiliki kewenangan untuk merubah isinya sedikitpun," tegas Rio.
"Munafik!" umpat Freddy.
"Lantas, apa yang kudapat dari pernikahanku selama ini?" tanyanya kemudian.
"Tanyakan pada diri Anda. Pernikahan macam apa yang selama ini Anda jalani!" seru Keenan. Freddy terdiam.
Keenan beranjak dari sofa.
"Ayo kita pergi, Rio," ucapnya kemudian.
Rio lalu mengambil map yang berisi surat wasiat tersebut. Keduanya pun kemudian berlalu dari hadapan Freddy.
"Sial!" umpatnya.
*****
Di rumah Aurora.
"Sudah lama aku tidak menemui Mister tampan. Bolehkan aku menemuinya, Ibu?" tanya Andro pada sang ibu yang tengah sibuk membuat adonan kue.
Aurora menganggukkan kepalanya lalu tersenyum.
Andro bergegas mengambil sepedanya dan hendak menaikinya. Namun tiba-tiba ia dikejutkan dengan kedatangan pria yang baru saja akan ditemuinya tersebut.
"Mister tampan!" seru Andro dengan wajah berseri.
Andro memandang Keenan. Wajahnya diliputi kesedihan, dan hampir tak ada semangat.
"Mister baik-baik saja?" tanya Andro penuh perhatian. Keenan hanya tersenyum simpul.
Bocah itu lalu masuk ke dalam rumah dan menghampiri sang ibu.
"Kau tak jadi pergi?" tanya Aurora.
"Mister tampan datang kesini," jawabnya.
Aurora mematikan mesin pembuat adonan. Ia pun lalu keluar menuju teras rumahnya.
Aurora memandang wajah Keenan yang terlihat tak seperti biasanya.
"Apakah kau baik-baik saja?" tanya Aurora.
Keenan tak menjawab. Ia mendongakkan kepalanya mencoba menahan buliran bening yang hampir tumpah dari sudut matanya.
"Ibuku baru saja meninggal dunia," ucapnya dengan suara berat.
Aurora tersentak.
"Nyonya Sarah?" tanyanya setengah tak percaya.
"Ibuku meninggal kemarin siang," ucapnya. Keenan tak dapat lagi membendung air matanya.
Aurora menatap wajah Keenan. Wajah yang pernah begitu dalam mengisi hatinya. Ingin sekali rasanya ia memeluk Keenan dan meredakan tangisnya. Namun Aurora sadar diri. Hubungan mereka kini tak lebih dari kawan.
"Ibumu sudah bahagia disana. Ia tak merasakan kesakitan lagi," hibur Aurora.
Keenan lalu menyeka air matanya.
"Pria itu yang sudah membuat ibuku meninggal!" serunya.
"Tak baik kau bicara begitu. Bukankah tak ada seorang pun yang bisa menawar maut?" tanya Aurora.
"Di detik-detik terakhir sisa hidupnya, ibu harus melihat pemandangan yang menyakitkan. Dengan mata kepalanya sendiri ibu melihat perselingkuhan suaminya bersama sekretarisnya." Air mata Keenan kembali menetes.
"Sudahlah, mungkin ini yang terbaik bagi ibumu, kau harus berdamai dengan takdir," ucap Aurora. Entah disadari atau tidak, ia telah menggenggam tangan Keenan.
Keenan yang sudah lama tak merasakan genggaman tangan seorang perempuan pun tiba-tiba merasakan kehangatan di hatinya.
Keenan lalu menatap mata Aurora. Begitupun Aurora. Netra keduanya bertemu. Mereka tak bisa memungkiri. Rasa cinta itu masih tersisa di hati masing-masing.
Tiba-tiba Aurora melepaskan tangan Keenan. Wajahnya tampak gugup dan pipinya bersemu merah.
"Maaf," ucapnya.
"Bagaimana kabar Nadine?" tanya Aurora mengalihkan pembicaraan.
"Ia memutuskan kembali lagi ke New York," jawab Keenan.
"Apakah Nadine benar-benar membatalkan pertunangannya?"
"Kurasa begitu. Ia sudah berhenti berharap pada Gibran."
"Aku takut," ucap Aurora.
"Apa yang kau takutkan?" tanya Keenan.
"Jika suatu hari nanti ingatan Gibran pulih, ia akan merebut Andromeda dariku. Bagaimanapun juga dia ayah kandungnya. Dan memiliki hak atas Andro," jawab. Aurora dengan wajah cemas.
"Kau tenang saja. Aku tak akan membiarkan siapapun mengambil Andro dari pelukanmu," ucap Keenan.
Aurora memandang Keenan. Sekali lagi netra keduanya bertemu. Entah mengapa kini Keenan yang terlihat salah tingkah.
Tiba-tiba Andro menghampiri keduanya.
"Mungkin makan es krim bisa menghiburmu, Mister," ucap Andro dengan senyum cerianya.
"Es krim? Benar juga katamu," ucap Keenan.
"Ibu mau ikut?" tanya Andro.
"Aku masih punya banyak pekerjaan, Sayang. Kalian berdua pergilah bersenang-senang," ucap Aurora.
Keduanya pun berlalu dari hadapan Aurora.
Aurora memandang punggung Keenan yang semakin menjauh darinya.
Keenan, seseorang pria yang sedari kecil telah merasakan pahitnya kehidupan. Keenan kecil yang tiba-tiba mengetahui jika sang ayah yang selama ini ia banggakan ternyata telah memiliki keluarga. Dan ia pun harus terbuang dari keluarga Nyonya Emily yang tak lain adalah ibu kandung Gibran. Ia juga pernah merasakan getirnya hidup di sebuah panti asuhan. Hingga suatu ketika ia diadopsi oleh sepasang suami istri bernama Freddy dan Sarah.
Awalnya semua tampak baik-baik saja. Hingga suatu ketika Freddy mengajaknya ke suatu kamar apartemen dan mengenalkan Helena hanya sebagai temannya.
Namun seiring berjalannya waktu, Keenan mulai sadar jika hubungan keduanya bukanlah hanya sekedar teman. Hubungan itu bahkan berlangsung selama tiga puluh tahun. Freddy begitu pandai menyembunyikan rahasia itu dari Sarah hingga tak sedikitpun ada curiga di pikirannya.
Dan hingga saat menjelang detik-detik terakhir hidupnya, Sarah harus benar-benar melihat dengan mata kepalanya sendiri jika Freddy benar-benar telah membagi cintanya.
"Mengapa hidupmu sepahit ini, Keenan?" gumam Aurora.
*******
Keenan dan Andro telah sampai di sebuah kedai es krim. Benar saja, kini wajah Keenan tak lagi murung. Sejenak ia melupakan kesedihannya karena kepergian seseorang yang sangat berarti dalam hidupnya.
"Mister duduk saja di kursi itu, biar aku yang membawakan es krim itu untukmu," ucap Andro. Keenan pun lalu duduk di sebuah bangku tak jauh dari kedai es krim tersebut.
"Andro membawa dua mangkuk es krim ke arah Keenan. Dari arah berlawanan tampak seorang perempuan yang berjalan menuju kedai es krim namun ia tak memperhatikan jalan. Pandangannya tak beralih dari ponsel yang ada di tangannya.
Andro mencoba menghindarinya namun langkah perempuan itu terlalu cepat. Keduanya pun bertabrakan. Es krim yang baru saja dipesan pun jatuh berceceran di lantai.
"Astaga! Apa kau sudah tak memiliki mata!" seru perempuan itu sambil mengambil ponselnya yang terlempar cukup jauh. Ia kemudian berdiri dan menatap Andro dengan wajah penuh amarah.
"Kau lagi! Mengapa dunia ini begitu sempit. Kau benar-benar anak pembawa sial!" serunya sambil memandang Andro dengan tatapan penuh kebencian.
"Bibi tak memperhatikan jalan," ucap Andro dengan raut wajah penuh ketakutan.
"Jangan panggil aku Bibi! Aku tak sudi memiliki keponakan ha**m sepertimu!" seru Fiona.
Suara Fiona yang begitu lantang pun sampai ke telinga Keenan. Pria itu pun lalu beranjak dari kursinya dan melangkah mendekati asal suara tersebut.
Tiba-tiba Andro berlari ke arahnya sambil menangis.
"Mengapa kau menangis, jagoan?" tanyanya.
Keenan memandang es krim yang berceceran di lantai. Ia baru sadar jika Andro telah menjatuhkan es krimnya.
Bersambung….
Tembus 500 👍aku up episode selanjutnya.…
❤ ❤ ❤
Hai kak, dukung terus karyaku ya…
Jangan lupa beri like👍, komentar💬, ✒vote, favorit💙 serta hadiah🎁.
Sekecil apapun dukungan yang kalian berikan untukku, aku akan sangat berterima kasih.
Semoga kalian terus menjadi pembaca setiaku..💕💕
Visual FIONA