
Keenan tengah bersantai di kamarnya sambil mendengarkan musik dari ponselnya. Namun tiba-tiba ponselnya mati.
"Sial!" Umpatnya.
Ia membuka laci meja. Dan mencari charger ponselnya.
Ia pun lalu menghubungkan pengisi daya tersebut ke ponselnya dan meletakkannya di atas meja.
Tiba-tiba seseorang mengetuk pintu.
Keenan melangkah ke arah pintu. Tampak dua orang pria berkemeja berdiri di depan kamarnya.
"Selamat sore," sapa salah satu pria.
"Selamat sore. Kau mencariku?" Tanya Keenan.
"Kenalkan, saya Eric, dan ini teman saya, Lucas. Kami ingin menawarkan produk kami," jelasnya.
"Silahkan duduk," ucap Keenan. Kedua pria itu pun lalu duduk di kursi yang ada di depan kamar tersebut.
"Kami ingin menawarkan produk kami, yakni alat terapi kesehatan." Pria berkemeja putih itu lalu mengeluarkan sebuah benda dari dalam tasnya.
Keenan tampak tertarik. Ia pun memperhatikan saat sales itu menjelaskan perihal barang dagangannya.
Tak berselang lama, seorang pria yang bersamanya beranjak dari tempat duduknya.
"Maaf, Tuan. Boleh aku menumpang ke kamar kecil?" Tanyanya.
"Oh, tentu. Kau berjalan lurus saja. Kamar mandi ada di sebelah kiri pojok ruangan," jelasnya.
Pria yang juga berkemeja putih itu lalu masuk ke dalam kamar apartemen Keenan. Ia itu sama sekali tak menaruh curiga pada tamunya.
Salah satu pria yang berada di luar kamar belum usai menawarkan dagangannya. Namun pria yang tadi menanyakan kamar kecil padanya tiba-tiba keluar dari dalam kamarnya dengan wajah panik.
"Tadi bos menelponku, kita harus segera datang ke kantor. Pimpinan pusat telah menunggu kita," ucapnya dengan wajah gugup.
Eric bergegas memasukkan barang dagangannya ke dalam tas miliknya. Keduanya pun lalu pamit dan meninggalkan tempat tersebut.
"Astaga! Pria itu bahkan belum menyebutkan harga produknya," gumamnya sedikit geli.
Keenan masuk ke dalam kamarnya. Ia lalu merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Tak lama kemudian ia pun terlelap.
Sementara di dalam sebuah mobil. Dua orang pria tengah beradu tos. Keduanya baru saja berhasil mengambil sebuah ponsel dan laptop dari sebuah kamar apartemen.
*****
Andro tiba di rumahnya. Tampak sang ibu menunggunya di depan pintu dengan wajah cemas.
"Kau dari mana saja, sayang? Mengapa jam segini baru sampai rumah?" Tanya Aurora. Andro justru tersenyum.
"Aku begitu mencemaskanmu. Kau hanya tersenyum," gerutunya.
"Aku punya cerita menarik untukmu, mom," ucap Andro.
Aurora mendekatkan hidungnya ke tubuh putranya.
"Cepatlah mandi, aku mencium bau tak sedap dari tubuhmu." Aurora terkekeh.
Andro pun berlalu dari hadapan sang ibu.
Beberapa menit kemudian Andro keluar dari kamar mandi.
"Lihat. Kau terlihat lebih tampan setelah mandi," goda sang ibu.
Andro hanya tersenyum. Ia lalu menghampiri sang ibu di meja makan.
"Tadi kau mengatakan punya cerita menarik. Boleh aku mendengarnya?" Tanya sang ibu sambil menyiapkan malam mereka.
"Aku tadi membantu polisi menangkap pencuri," jawabnya. Sang ibu tersentak mendengar jawaban tersebut.
"Kau pasti bercanda."
"Jika kau tak percaya, kau bisa melihat berita di televisi. Aku sempat diwawancarai wartawan."
"Sungguh?" Tanyanya.
Aurora lalu menghidupkan layar televisi. Ia pun lalu mencari channel yang menayangkan berita. Benar saja, di layar televisi tersebut tampak wajah sang anak tengah diwawancarai oleh wartawan. Andro menjadi saksi kunci dalam peristiwa pencurian yang terjadi di dekat taman.
"Apa aku terlihat tampan di televisi, mom?" Tanyanya. Sang ibu lalu menatap wajah Andro.
"Lihat anak ini. Dia merasa dirinya tampan rupanya." Aurora merengkuh tubuh Andro dan menciuminya dengan gemas. Sementara Andro terus berteriak ingin melepaskan diri.
"Oh iya, siapa pemilik laptop itu, apa kau tahu?" Tanya Aurora.
"Sean?" Tanyanya dengan wajah kaget.
"Ya. Kenapa kau terkejut? Apa kau mengenal nama itu?" Tanya Andro.
Aurora menggelengkan kepalanya.
"Ayo kita makan," ajaknya kemudian.
"Sean, apa dia benar-benar paman Sean?" gumamnya lirih.
Menjelang tidur malamnya, Aurora kesulitan memejamkan matanya. Pikirannya terus melayang pada kejadian-kejadian yang dialaminya belakangan ini. Rekaman pengakuan Gibran, kaburnya Nadine, tes DNA, kemunculan Fiona, dan tiba-tiba Andro menyebut nama Sean. Yang tak lain adalah nama sang paman. Sean dan keluarganya yang sama sekali tak pernah peduli padanya saat ia menghadapi masalah besar dalam hidupnya.
Aurora membuang napas. Tiba-tiba ia ingin menelepon Keenan. Perempuan itu ingin menumpahkan beban pikirannya padanya. Meskipun tak yakin Keenan masih terjaga.
Aurora mengambil ponselnya. Ia pun menghubungi Keenan. Berkali-kali ia menelpon nomor ponselnya namun tak tersambung.
"Mungkin dia sudah tidur dan mematikan ponselnya," gumamnya.
Aurora lalu meletakkan ponselnya. Ia memejamkan matanya yang mulai terasa berat.
******
Keenan baru terbangun saat mendekati tengah malam. Perutnya terasa lapar. Ia baru ingat dirinya belum makan malam.
Keenan beranjak dari ranjangnya hendak menuju dapur. Namun saat melintasi meja langkahnya tiba-tiba terhenti. Matanya terbelalak. Ponsel miliknya tak berada di di atas meja tempat biasa ia meletakkan benda tersebut.
Keenan mengucek matanya. Berharap pandangan matanya lebih jelas. Namun nyatanya ponsel miliknya telah raib. Ia bahkan mencari benda tersebut hingga ke kolong meja dan tempat tidurnya. Tapi ia tak menemukan benda yang ia cari.
Keenan duduk di sofa dan mencoba berpikir dengan tenang. Tiba-tiba ingatannya kembali pada kejadian tadi sore saat dua orang sales datang ke kamar apartemennya.
Sore itu ia meninggalkan ponselnya di kamar karena kehabisan daya. Saat ia baru saja menghubungkan pengisi daya ke ponselnya, seseorang mengetuk pintu. Ia pun mengobrol dengan salah satu sales di depan kamarnya. Namun pria lainnya pergi ke kamar mandi.
Tak lama pria itu kembali ke depan kamar Keenan. Dengan alasan urusan penting, keduanya lalu meninggalkan kamar apartemennya.
Keenan tak menyadari jika ponselnya telah diambil pria yang mengaku sebagai sales tersebut.
Keenan baru teringat laptopnya. Ia meletakkan laptop dan ponselnya di meja yang sama. Pandangannya pun lalu tertuju pada meja itu. Namun benda tersebut tak terlihat di sana.
"Breng**k!" Serunya. "Mengapa aku ceroboh sekali, membiarkan begitu saja orang asing masuk ke kamarku," gumamnya kemudian.
Keenan memandang jam dinding di kamarnya. Jam menunjukkan pukul 11.45. Pria itu membuang napas.
"Kurasa terlalu malam jika aku ke ruang pemantauan CCTV sekarang," gumamnya.
Keenan kembali merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Tiba-tiba selera makannya hilang.
Keesokan paginya Keenan mendatangi ruang pengendali CCTV apartemen yang berada di lantai dasar. Namun ia sedikit heran. Di ruang tersebut tampak seorang pria yang tak ia kenal tengah mengobrol dengan seorang petugas keamanan apartemen.
"Selamat pagi, Tuan Keenan," sapa petugas keamanan yang bernama Anton tersebut.
"Selamat pagi, pak Anton," balasnya.
"Ada yang bisa saya bantu, Tuan?" Tanyanya.
"Aku baru saja kehilangan laptop dan ponselku," jawabnya.
Anton tersentak kaget. "Kapan kau kehilangan benda-benda itu?" Tanyanya lagi.
"Kemarin sore, sekitar jam 5. Apa aku
bisa melihat rekaman CCTV kemarin? Tanyanya.
"Itulah masalahnya, Tuan. Sudah dua hari CCTV di apartemen ini rusak, sekarang tengah diperbaiki," jawab Anton.
Keenan merasa tubuhnya seketika lemas.
Bersambung…
Tembus 200 👍aku up episode berikutnya…
❤ ❤ ❤
Hai kak, dukung terus karyaku ya…
Jangan lupa beri like👍, komentar💬, ✒vote, favorit💙 serta hadiah🎁.
Sekecil apapun dukungan yang kalian berikan untukku, aku akan sangat berterima kasih.
Semoga kalian terus menjadi pembaca setiaku..💕💕