ANDROMEDA

ANDROMEDA
Hadiah istimewa



Di rumah sakit.


Nadine memandang Gibran. Ia masih tak percaya jika pria itu kembali mengenalinya.


"Nadine, bisakah kita berbicara?" tanya Gibran. Ia menarik tangan Nadine dan mengajaknya menuju taman kecil yang berada di dekat tempat parkir.


"Kau wajah yang pertama muncul di ingatanku. Dan bingkai foto yang berada di kamarku, meyakinkanku jika kita pernah menjalin hubungan yang begitu dekat," ucap Gibran.


Nadine merasa bingung. Ia tak menyangka jika Ingatan Gibran mulai pulih dan dirinya lah orang yang muncul di ingatannya.


"Aku mengingat semua tentang kita. Bukankah tak lama lagi kita akan bertunangan?" tanya Gibran.


"Aku…aku…" Nadine tak bisa mengatakan jika dirinya telah membatalkan pertunangan mereka.


"Aku bahkan ingat jika kita telah memesan baju yang akan kita pakai di hari pertunangan kita. Aku tak sabar lagi menunggu hari itu tiba," ucap Gibran dengan mata berbinar.


"Gibran! Cukup!" seru Nadine.


Gibran tersentak. "Ada apa denganmu?" tanyanya.


"Semuanya sudah selesai!" pekik Nadine. Tangisnya pun seketika pecah.


"Apa maksud ucapanmu?" tanya Gibran dengan raut wajah kebingungan.


"Aku telah membatalkan pertunangan kita," ucap Nadine.


"Kau pasti hanya bercanda," ucap Gibran.


"Lihat wajahku. Apa aku terlihat sedang sedang bercanda?" tanya Nadine dengan suara bergetar.


"Tapi...mengapa kau lakukan itu?" tanya Gibran.


"Aku tak bisa mengatakan apa alasannya. Tak ada lagi yang bisa dipertahankan dalam hubungan kita."


"Apakah aku pernah menyakitimu? Hingga kau tega melakukan ini padaku?" 


Nadine menyeka air matanya.


"Kau tak perlu tahu. Hubungan kita sudah berakhir. Kumohon, lepaskan aku. Aku ingin mencari kebahagiaanku." Nadine hendak berlalu dari hadapan Gibran namun tiba-tiba ia menghambur ke pelukan Nadine.


"Jika aku punya kesalahan di masa lalu, maafkan aku. Jangan tinggalkan aku," ucap Gibran terisak.


Nadine meronta ingin lepas dari pelukan Gibran, namun pria itu justru semakin mempererat pelukannya.


"Lepaskan. Atau aku akan berteriak!" seru Nadine. Perlahan Gibran mulai melepaskan tubuh Nadine dari pelukannya.


"Maaf, aku tak bermaksud tidak sopan. Aku hanya takut kehilanganmu," ucap Gibran.


"Maaf, keputusanku sudah bulat. Aku tak bisa melanjutkan pertunangan kita," ucap Nadine.


Tiba-tiba Gibran merasakan nyeri hebat di kepalanya. Perlahan ia mulai terduduk di lantai dan tak berselang lama tubuhnya pun ambruk.


Nadine mengguncang tubuh Gibran. Aurora yang sedari tadi memandang keduanya dari kejauhan pun akhirnya mendekati mereka.


"Apa yang terjadi dengannya?" tanya Aurora.


"Entahlah. Tiba-tiba ia kesakitan, dan pingsan," jawab Nadine.


Dengan bantuan dua orang pria yang kebetulan melintas di tempat tersebut, Gibran pun dibawa menuju ruang perawatan.


"Apa yang terjadi padanya?" tanya dokter.


"Ia tiba-tiba merasakan kesakitan. Tak berselang lama ia pingsan," jawab Nadine.


Nadine keluar dari ruangan tersebut. Mungkin menghindari Gibran adalah hal terbaik yang bisa dilakukannya saat ini. 


Dokter memeriksa Gibran. Beberapa saat kemudian ia pun siuman.


"Apakah kau keluarganya?" tanya dokter.


Aurora terlihat kebingungan, namun akhirnya ia menganggukkan kepalanya.


"Kau jangan khawatir, pasien baik-baik saja. Jika otaknya mengingat sesuatu, ia akan mengalami nyeri di kepalanya."


"Apakah ingatannya bisa benar-benar pulih?" tanya Aurora.


"Kemungkinan itu selalu ada. Sebagai keluarganya, kau harus terus membantunya agar ingatannya segera pulih." Tak berselang lama dokter itu pun keluar dari ruangan tersebut.


Aurora terdiam. Tak ada kata apapun yang mampu terucap dari bibirnya. Kembalinya ingatan Gibran justru menjadi hal yang begitu ia takutkan.


Beberapa saat kemudian Gibran siuman.


"Di mana Nadine?" tanyanya.


"Dia...pergi," jawab Aurora.


Gibran lalu memandang Aurora.


"Bagaimana keadaan Andromeda? Tanyanya.


"Keadaannya membaik. Dokter memperbolehkannya pulang besok pagi," jawab Aurora.


"Apa kau tahu, mengapa Nadine membatalkan pertunangan kami?" tanya Gibran. Aurora tersentak. Ia tak menyangka jika Gibran akan menanyakan hal tersebut padanya.


"Entahlah. Maaf aku harus segera kembali ke ruangan putraku. Aku sudah cukup lama meninggalkannya sendirian." 


Aurora kemudian berlalu dari ruangan tersebut. Ia menarik nafas lega. Setidaknya saat ini ia bisa menghindari pertanyaan Gibran.


Sesampainya di kamar Andro, bocah itu sudah bangun.


"Ibu dari mana?" tanya Andro.


"Ibu ada sedikit urusan," jawab Aurora.o


"Apakah mister handsome belum juga kesini?" tanya Andro.


"Mungkin dia sedang sibuk," jawab sang ibu. Aurora tak mungkin mengatakan jika saat ini Gibran berada di rumah sakit dan hanya berjarak beberapa ruangan darinya. Ia tak ingin jika Andromeda terlalu dekat dengannya.


******


Keesokan paginya.


Aurora dan Andromeda tengah bersiap untuk pulang. Andromeda sudah tak sabar ingin kembali berjalan-jalan dengan sepeda kesayangannya yang biasa dipanggilnya si biru. Ia sama sekali tak tahu jika akibat kecelakaan yang dialaminya, si biru telah rusak tak berbentuk.


Tiba-tiba pintu terbuka. Tampak Keenan memasuki ruangan tersebut.


"Selamat pagi, jagoan," sapanya.


"Selamat pagi, Mister tampan," sahut Andro dengan wajah ceria.


"Kau sudah siap pulang hari ini?" tanya Keenan.


"Tentu saja," ucap Andro sambil tersenyum memperlihatkan deretan giginya yang rapi.


"Aku sudah menyiapkan sebuah kejutan kecil untukmu," ucap Keenan.


"Kejutan apa?" tanya Andro penasaran.


"Jika aku memberitahumu, itu tak lagi bernama kejutan." Keenan terkekeh.


"Aku sudah membayar seluruh biaya perawatan Andro," ucap Keenan.


"Kau tak perlu melakukannya," ucap Aurora. 


"Aku hanya ingin membantumu," ucap Keenan. Aurora menatap wajah Keenan. Entah mengapa belakangan ini hatinya merasa begitu nyaman saat berada bersama Keenan. Apakah rasa itu memang masih ada? Ataukah justru muncul kembali dari dalam hatinya?


Ketiganya kemudian meninggalkan rumah sakit. Keenan melajukan mobilnya menuju rumah Aurora.


"Andro, kau harus menutup matamu sekarang," ucap Keenan sambil menutup kedua mata Andro menggunakan kain.


Perlahan Keenan dan Aurora menggandeng tangannya kemudian turun dari mobil.


"Mengapa mataku harus ditutup?" tanya Andro.


"Nanti kau juga tahu," jawab Keenan.


Tak berselang lama Keenan membuka kain yang menutupi kedua mata Andro.


Andro pun perlahan membuka matanya. Ia mengernyitkan keningnya saat di hadapannya terdapat kotak berukuran besar dan masih tertutup kain.


"Apa ini?" tanyanya.


"Bukalah."


Andro lalu membuka penutup kotak berukuran besar itu. Ia tercengang saat mendapati benda yang ada di hadapannya adalah sebuah sepeda baru yang berwarna biru.


"Si biru milikmu rusak parah. Kau tak bisa lagi bermain dengannya. Aku sengaja membelikanmu sepeda yang mirip dengan sepeda kesayanganmu itu," ucap Keenan.


Andro menatap wajah pria yang biasa dipanggil mister tampan itu. Matanya berkaca-kaca. Beberapa detik kemudian bocah itu menghambur ke pelukan Keenan. Tangisnya pun pecah.


"Mengapa kau menangis?" tanya Keenan.


"Aku bahagia memiliki kawan sepertimu," ucapnya terisak.


"Sudahlah, jangan menangis lagi. Aku tak suka melihatmu menangis. Aku justru ingin selalu membuat kalian tersenyum," ucap Keenan sambil menatap wajah Aurora.


"Mengapa Mister begitu baik pada kami? Apakah Mister masih menyukai ibuku?" tanyanya polos. Pertanyaan Andro membuat Keenan salah tingkah. Begitu pun Aurora, tiba-tiba pipinya bersemu merah.


Bersambung….


Tembus 500 👍aku up episode selanjutnya.…


❤ ❤ ❤ 


Hai kak, dukung terus karyaku ya…


Jangan lupa beri like👍, komentar💬, ✒vote, favorit💙 serta hadiah🎁.


Sekecil apapun dukungan yang kalian berikan untukku, aku akan sangat berterima kasih.


Semoga kalian terus menjadi pembaca setiaku..💕💕