ANDROMEDA

ANDROMEDA
Sebuah firasat



Malam hari di rumah Joyce.


Joyce tengah makan malam dengan putri semata wayangnya, Celine.


"Helena tak jadi tinggal di rumah ini," ucap Joyce.


"Mengapa? Apakah Ibu berubah pikiran?" Tanya Celine.


Joyce menggelengkan kepalanya.


"Helena kini telah bertemu dengan keluarganya," jawab Joyce.


"Bagaimana mungkin, Ibu?" 


"Helena ternyata istri Hans!" 


Ucapan sang ibu membuat Celine tersedak oleh makanannya. Ia pun  bergegas mengambil segelas minuman dan meneguknya dengan cepat.


"Hans yang Ibu maksud…Hans salah satu kawan Ibu?" Tanya Celine.


Joyce mengangguk.


"Astaga! sempit benar dunia ini," ucap Celine.


"Helena beruntung. Meskipun ia pernah meninggalkan Hans selama puluhan tahun, namun Hans mau memaafkannya, dan mengajak Helena kembali." 


"Dan aku tahu kemana selama ini Helena pergi," ucap Celine.


"Apa maksud ucapanmu? Kau mengenal Helena?" 


"Sangat...sangat mengenalnya."


Joyce tersentak.


"Selama ini Helena menjadi kekasih gelap Freddy!"


"Freddy?  Freddy atasanmu?"


"Ya. Helena rela meninggalkan keluarganya hanya demi Freddy. Meskipun pada akhirnya Helena memilih pergi dari kehidupan Freddy. Mungkin kebutaan yang kini dialaminya adalah sebuah karma."


"Tak sepantasnya kau berbicara begitu."


"Aku bicara fakta. Dosa Helena terlalu besar pada suami dan anaknya. Tuhan kini telah menghukumnya."


"Itu bukan urusan kita," ucap Joyce. Ia kemudian meneguk minumannya.


"Aku mau istirahat." Joyce beranjak dari kursinya kemudian berlalu dari hadapan Celine.


Joyce merenung di kamarnya. Tiba-tiba hatinya merasa perih. Setelah sekian lama ia menutup hati untuk laki-laki setelah perpisahannya dengan Roy, dan di saat benih-benih cinta itu muncul pada Hans, yang tak lain adalah teman sekolahnya. 


Namun nyatanya cinta Hans pada Helena begitu kuat. Bahkan setelah pengkhianatan yang begitu pahit dari Helena, Hans dengan mudah mau memaafkannya.


Joyce menghela napas. Ia kemudian membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Matanya mulai terasa berat. Tak lama kemudian ia pun terlelap.


******


New York, 08.00 a.m.


Joe terlihat duduk seorang diri di tepi telaga. Tempat yang akhir-akhir sering didatanginya. Kepergian Nadine ternyata benar-benar membuat harinya terasa kosong.


"Kapan kau kembali, gadis konyol," gumamnya.


Tiba-tiba seorang menutup kedua matanya dari belakang. Awalnya ia berpikir jika itu adalah Fay, teman kuliahnya yang pernah mendatangi tempat tersebut. Namun aroma khas parfum itu seketika membuat jantungnya berdebar.


"Nadine…" ucapnya.


"Mengapa kau bisa tahu jika itu aku?" gerutunya sebal.


"Kau lupa? Aku seorang peramal?" Joe terkekeh.


"Kapan kau kembali?"


"Dua hari yang lalu."


"Aku benar-benar telah membatalkan pertunanganku," ucapnya kemudian.


"Lalu, apakah kau sudah membicarakannya pada Gibran?"


"Bagaimana aku mengatakannya. Dia bahkan tak mengingat apapun tentangku."


Joe tercengang.


"Separah itukah amnesia yang dialaminya?" Tanyanya.


"Jangankan pada orang lain. Ia bahkan tak mengingat identitasnya sendiri."


"Aku memutuskan untuk menetap di sini. Aku akan melamar pekerjaan di salah satu perusahaan," ucap Nadine.


"Sungguh?" Tanya Joe dengan mata berbinar. Nadine menganggukkan kepalanya.


Tiba-tiba Joe memeluk Nadine. Dan hal itu membuat jantung Nadine berdegup kencang. Nadine menatap mata Joe. Netra keduanya pun bertemu.


"Maaf...aku hanya reflek." Joe bergegas melepaskan pelukannya. Dia terlihat salah tingkah. Pipinya pun bersemu merah. Sementara Nadine hanya tersenyum geli melihat tingkah badut tampan itu.


Rupanya Joe begitu bahagia mendengar keputusan Nadine yang akan menetap di New York. Entah disadari atau tidak, kini benih-benih cinta mulai tumbuh di hati keduanya.


Butiran-butiran berwarna putih tiba-tiba  turun dari langit. Perlahan dan semakin lebat. Joe menatap wajah Nadine di antara salju-salju tersebut. Wajah Nadine yang begitu bahagia. Senyumnya lepas tanpa beban. Wajah Nadine ternyata lebih indah dengan senyumnya.


"Apakah aku telah jatuh cinta padanya?" gumam Joe.


******


Siang hari di rumah Sarah.


Keenan kembali mengunjungi rumah ibu angkatnya, Sarah. Perempuan itu terlihat tengah sibuk memasak di dapur.


"Astaga, Ibu? Apa yang sedang Ibu lakukan?" Tanya Keenan yang tiba-tiba muncul di dapur.


"Ibu sedang memasak, Nak," ucapnya sambil memotong sayuran.


"Ibu tak perlu susah payah begini. Ibu seharusnya beristirahat di kamar. Biar bibi yang melanjutkannya," ucap Keenan.


"Tak apa, Nak. Sudah begitu lama Ibu tidak memasak untuk ayahmu. Dia pasti merindukan masakan Ibu. Hari ini Ibu akan memberi kejutan kecil untuknya," ucap Sarah sambil tersenyum.


Keenan menatap wajah Sarah penuh rasa iba. Begitu besar rasa cintanya pada Freddy, ayah angkatnya. Namun sedikit pun Sarah tak mengerti. Apa yang telah dilakukan suaminya tersebut di belakangnya.


Bertahun-tahun Freddy membagi cintanya pada seorang perempuan. Permainannya begitu rapi. Hingga Sarah tak mencium pengkhianatan itu sedikit pun.


Keenan yang telah lama mengetahui hal tersebut pun tak sampai hati jika harus secara terang-terangan mengungkap aib rumah tangga itu di hadapan Sarah.


Sarah yang begitu percaya pada Freddy ditambah kondisi kesehatannya yang belakangan ini makin memburuk karena penyakit kelainan darah yang tengah dideritanya, membuat Keenan lebih memilih menyimpan rahasia tersebut darinya. Keenan tak ingin membuat Sarah tertekan.


"Hari ini kau punya waktu?" Tanya Sarah.


Keenan melirik arloji di tangannya.


"Aku masih punya waktu dua jam sebelum memimpin rapat di kantor siang ini," jawabnya.


"Aku ingin menemui ayahmu di kantornya," ucap Sarah.


Keenan tersentak.


"Jika Ibu hanya ingin mengantar makanan itu, Ibu bisa mengantarnya melalui kurir," ucap Keenan.


"Itu mungkin terdengar lebih mudah. Tapi hari ini Ibu ingin sekali datang ke kantornya. Ibu bahkan lupa kapan terakhir Ibu datang ke sana."


Sarah mulai memasukkan makanan tersebut ke dalam kotak makan siang.


"Ayo kita berangkat sekarang," ajak Sarah. 


Meskipun merasa keberatan, Keenan pun akhirnya menuruti permintaan sang Ibu. Keenan hanya berharap jika semuanya akan baik-baik saja. Hal yang ia takutkan tidak terjadi.


Selentingan yang terdengar beberapa bulan terakhir ini jika Freddy memiliki wanita idaman lain, hanyalah sebuah gosip. 


Kepergian Helena dari apartemen yang pernah ia dengar dari Rio, yang selama ini membantu mengawasinya, adalah hal yang cukup melegakan bagi Keenan.


Sarah masuk ke dalam kamarnya. Tak lama kemudian ia keluar dengan mengenakan gaun berwarna jingga yang beberapa waktu dibelikan Freddy untuknya.


"Mengapa Ibu memakai gaun? Kita tak akan pergi ke pesta," ucap Keenan heran.


"Gaun ini adalah gaun pemberian ayahmu. Ibu ingin terlihat cantik di hadapannya. Ibu tak merasa waktu Ibu tak lama lagi," ucap Sarah sambil tersenyum.


Keenan tersentak. Sebuah kekhawatiran tiba-tiba melintas di pikirannya. Namun Keenan berusaha keras menepisnya.


"Apakah Ibu terlihat cantik hari ini?" Tanyanya dengan raut wajah berseri.


Keenan mengangguk kemudian tersenyum.


Keduanya pun meninggalkan rumah. Keenan kemudian melajukan mobilnya menuju kantor Freddy, ayah angkatnya.


Bersambung….



VISUAL: CELINE



VISUAL : JOYCE