ANDROMEDA

ANDROMEDA
Tak dianggap



Helena tercengang. Felice ibu mertuanya tiba-tiba mengatakan jika Nadine bukanlah anak kandung Hans.


"Aku tahu kau masih menjalin hubungan dengan pria itu," ucap Felice ketus.


"Pria mana yang Ibu maksud?" tanya Helena.


"Selain buta, apa kau juga mulai amnesia?" 


"Ibu, kumohon. Berhenti mengungkit masa laluku." Helena memekik.


"Satu minggu menjelang pernikahanmu dan Hans, aku melihatmu bertemu dengan pria itu di taman."


Helena tersentak. Bagaimana mungkin Felice mengetahui pertemuannya dengan Freddy saat itu.


"Beberapa minggu kemudian kau hamil. Mana mungkin kau hamil secepat itu. Aku juga merasa wajah Nadine tak memiliki kemiripan sedikitpun dengan Hans. Apakah Nadine anakmu bersama pria itu?"


"Ibu! Cukup!" Helena beranjak dari tempat duduknya.


"Satu lagi yang menjadi tanda tanya besarku. Kemana saja kau selama tiga puluh tahun ini?" tanya Felice.


Helena terdiam.


"Mengapa kau diam? Apakah pertanyaanku kurang jelas?" 


"Aku sadar kesalahanku begitu besar. Namun aku mencoba meninggalkan masa laluku dan memperbaiki pernikahanku bersama Hans."


"Jika bukan karena keinginan almarhum suamiku, aku tak sudi memiliki menantu hina sepertimu!" seru Felice.


Helena terduduk di kursinya. Tiba-tiba buliran bening menetes di pipinya.


"Aku tahu Ibu tak pernah menyukaiku. Apapun yang aku lakukan tak pernah benar di mata Ibu," ucapnya terisak.


"Kau pikir air matamu bisa merubah kebencianku padamu?" tanya Felice.


"Aku maaf, Ibu. Aku sungguh menyesal," pekik Helena.


"Sebanyak apapun kau mengucapkan penyesalan dan kata maaf, tak akan merubah sikapku padamu!"


Felice berlalu dari hadapan Helena.


"Ibu! Ibu!" Helena terus memanggil ibu mertuanya tersebut namun Felice tak menghiraukannya.


Helena melangkah mencoba mengejar Felice. Namun sial baginya. Kakinya justru tersandung salah satu kursi di meja makan tersebut. Helena pun terjatuh.


Tiba-tiba seseorang berlari ke arahnya.


"Nyonya baik-baik saja?" tanyanya sambil membantu Helena bangkit dari lantai. 


Perempuan setengah baya itu adalah asisten rumah tangga Felice yang bernama Mira. Mira telah bekerja di rumah Felice selama lebih dari dua puluh tahun. Dulunya Mira adalah seorang pengasuh bayi. Namun semenjak diusir dari rumah tempatnya bekerja, Mira pun bekerja di rumah Felice.


"Bantu aku ke kamarku, Bi," ucap Helena. Mira pun kemudian menuntun Helena menuju kamarnya.


"Nyonya memerlukan sesuatu?" tanya Mira. Helena menggeleng pelan.


"Bibi sudah berapa lama bekerja di rumah ini?" tanya Helena.


"Aku mulai bekerja di rumah ini saat nona Nadine mulai masuk sekolah. Aku yang biasa mengantar dan menjemput nona Nadine," jawab Mira.


"Nadine," ucap Helena. Buliran bening kembali menetes di pipinya.


"Seperti apa wajah putriku, Bi?" 


"Nona Nadine adalah gadis yang cantik dan cerdas."


"Apakah putriku pernah menanyakanku?" 


Mira menghela nafas.


"Nona Nadine bukanlah gadis yang lemah. Di saat hampir semua kawan sekolahnya mengejeknya sebagai anak yang tak memiliki ibu, nona Nadine justru dengan tegas mengatakan jika ia memiliki seorang ayah yang hebat. Ayah yang sekaligus menjadi sosok ibu baginya," ujar Mira.


Tiba-tiba rasa bersalah menghampiri Helena.


"Aku sungguh menyesal telah melakukan sebuah kesalahan besar pada putriku," ucap Helena.


"Semua orang memiliki masa lalu, Nyonya," ucap Mira.


"Bibi sendiri? Dimana keluarga Bibi?" tanya Helena.


"Aku hidup sendiri tanpa suami dan anak, Nyonya," ucapnya dengan raut wajah sedih.


"Apa Bibi belum menikah?" tanya Helena.


Mira membuang napas. Tiba-tiba ingatannya kembali pada puluhan tahun silam. Saat dirinya bekerja menjadi seorang pengasuh bayi. Ibu bayi tersebut adalah seorang pemilik butik. Karena kesibukannya, suaminya sering merasa kesepian. Entah siapa yang memulai, Mira dan suami dari majikannya tersebut diam-diam menjalin sebuah hubungan terlarang. Keduanya menyembunyikan hubungan tersebut dari sang nyonya.


Namun rupanya bangkai tercium juga meskipun keduanya telah begitu rapat menyimpannya. Suatu hari sang nyonya menemukan sebuah alat tes kehamilan di tempat sampah. Mira pun mengakui jika dirinya tengah mengandung anak dari suami sang nyonya.


Sang nyonya murka. Ia pun mengusir Mira beserta suaminya dan mengatakan akan segera mengurus perpisahan mereka.


Mira kembali terpuruk namun mencoba untuk bangkit. Dan dalam situasi itulah ia bertemu dengan kawan lamanya yang kemudian menawarkan pekerjaan sebagai asisten rumah tangga di rumah Felice.


"Ternyata kisah hidupmu tak kalah pahit," ucap Helena.


"Aku tersadar, sesuatu yang kita dapatkan dengan cara tak seharusnya tak akan bertahan lama," ucap Mira.


"Kau benar, Mira. Aku pernah begitu bodoh meninggalkan keluargaku hanya demi seorang pria yang tak jauh lebih baik dari Hans," ucap Helena.


"Nyonya meninggalkan pria itu?" tanya Mira.


"Ya. Aku mulai sadar. Kebahagiaanku bukan bersamanya," jawab Helena.


Helena dan Mira tak menyadari jika sepasang telinga sedari tadi telah mendengarkan seluruh percakapan mereka.


******


Sore hari di rumah Emily.


Alicya melangkah mengendap-endap hendak keluar dari kamarnya. Gadis berusia lima belas tahun tersebut tampak mengenakan gaun sedikit terbuka.


"Kau mau kemana?" tanya Gibran yang tiba-tiba muncul. Alicya tersentak kaget.


"Aku akan bertemu dengan kawanku," jawabnya dengan wajah gugup.


"Masuk ke kamarmu," ucapnya.


"Tapi, Kak…" 


"Masuk ke kamarmu!" Gibran meninggikan suaranya.


Suara Gibran yang cukup keras terdengar hingga ke kamar sang ibu. Perempuan yang tak pernah lepas dari kursi roda itu pun keluar dari kamarnya dan mendekati kamar Alice, putrinya yang tengah menginjak remaja.


"Ada apa, ini, Nak?" tanyanya penasaran.


"Lihat Alicya. Dia akan keluar dengan berpakaian terbuka," jawab Gibran.


Emily lalu memandang Alicya.


"Astaga! Alice. Mengapa kau berpakaian seperti ini? Kau seorang perempuan. Kau harus menghargai tubuhmu sendiri!" seru sang ibu.


Alicya menundukkan kepalanya. Raut wajahnya terlihat begitu kesal.


"Tak lama lagi hari gelap. Tak baik gadis sepertimu keluar di malam hari," ucap sang ibu.


Dengan terpaksa Alicya masuk kembali ke kamarnya.


Alicya melepas sepatu berhak yang tengah dipakainya kemudian melemparkannya ke lantai dengan kasar.


Gadis itu pun merebahkan tubuhnya di atas ranjang.


"Aku sudah besar, mengapa mereka selalu menganggapku anak kecil?" gumamnya. Alicya lalu membenamkan wajahnya di bantal.


Tiba-tiba ponselnya berdering. Alice bergegas mengambil ponsel dari dalam tasnya. Ia pun kemudian menjawab panggilan tersebut.


"Hai, Dave…" 


"Aku sudah menunggumu di cafe. Mengapa kau belum datang?" 


"Kurasa malam ini kita tak bisa bertemu. Ibu dan kakakku melarangku keluar."


"Ah! Kolot sekali mereka! Apa aku perlu menjemputmu?"


"Aku takut jika ibu dan kakakku tahu."


"Apakah di kamarmu ada jendela?" Jika kau memang ingin menemuiku, keluarlah dari jendela itu. Aku akan menunggumu di dekat rumahmu."


Alicya memutus panggilan. Pandangannya kemudian tertuju pada sebuah jendela yang berada di kamarnya.


Bersambung….


 


Tembus 500 👍aku up episode selanjutnya.…


❤ ❤ ❤ 


Hai kak, dukung terus karyaku ya…


Jangan lupa beri like👍, komentar💬, ✒vote, favorit💙 serta hadiah🎁.


Sekecil apapun dukungan yang kalian berikan untukku, aku akan sangat berterima kasih.


Semoga kalian terus menjadi pembaca setiaku..💕💕