
Sean, Nikita, dan Sofia berada di depan ruang operasi. Wajah ketiganya terlihat begitu cemas.
Setelah beberapa jam menunggu, akhirnya pintu ruang operasi terbuka. Tampak seorang dokter keluar dari ruangan tersebut. Benny beserta anak dan istrinya bergegas menghampiri dokter.
"Bagaimana keadaan anak kami, Dokter?" tanyanya.
"Kami telah berhasil mengambil serpihan kaca mobil yang berada di wajah pasien. Namun wajah pasien tidak bisa kembali seperti semula. Bekas lukanya mungkin bersifat permanen," jawab dokter.
"Astaga! Apakah wajah putri kami akan cacat, Dokter?" tanya Sean.
Dokter itu mengangguk. Sofia sontak membungkam mulutnya dengan tangannya sendiri.
"Tak lama lagi pasien akan segera sadar. Kalian bisa menemuinya," ucap dokter.
"Terima kasih, Dokter," ucap Sean.
Tak lama berselang dokter itu pun berlalu dari hadapan keluarga tersebut.
Nikita membuka pintu ruang operasi. Tampak putri sulungnya terbaring di atas ranjang pasien. Wajahnya masih tertutup perban.
Sofia memandang wajah sang kakak. Ingin sekali rasanya gadis itu memeluk Fiona, namun ia tak berani melakukannya. Sofia tahu, sang kakak tidak membutuhkan pelukannya.
Beberapa saat kemudian Fiona membuka matanya. Dan wajah pertama yang ia lihat setelah beberapa waktu terpengaruh obat bius adalah wajah sang adik, Sofia. Gadis itu tersenyum padanya.
"Mengapa kau disini?" tanyanya ketus namun kemudian ia mengaduh kesakitan.
"Kau jangan berbicara terlalu keras. Luka bekas operasi di wajahmu masih belum kering," ucap Sean.
"Aku lega operasi Kakak berjalan lancar," ucap Sofia.
"Kau tak usah berpura-pura baik di hadapan ayah dan ibu. Bukankah kau menginginkan agar aku secepatnya mati!" Lagi-lagi Fiona mengaduh kesakitan.
"Astaga! Apakah kau tak bisa berbicara sedikit lebih halus pada adikmu?" ucap Sean. Fiona pun terdiam.
"Dokter mengatakan jika ia telah berhasil mengambil serpihan kaca mobil dari wajahmu, tapi…" Nikita tak melanjutkan kata-katanya.
"Kenapa, Ibu? Apa yang terjadi padaku?" tanya Fiona.
"Luka bekas operasi di wajahmu bersifat permanen dan tak mungkin bisa hilang sampai kapanpun," jawab Nikita.
Tiba-tiba Fiona memukuli wajahnya sendiri sambil berteriak histeris. Ia terus mengumpat dan menyebut kata-kata yang tak pantas didengar oleh siapapun.
"Fiona! Hentikan!" Sean memegang kedua tangan Fiona agar ia tak kembali menyakiti dirinya sendiri.
"Mengapa aku tak mati saja!" serunya sambil terisak.
"Jaga ucapanmu! Tak pantas kau berkata begitu!" seru Sean.
Sofia tak berkata apapun. Ia hanya memandang sang kakak dengan wajah iba.
*****
Siang itu Keenan mendatangi ruang perawatan Andromeda. Sang ibu, Aurora terlihat tengah membereskan kotak makan siang anaknya tersebut.
"Hai, jagoan, bagaimana kabarmu hari ini?" sapanya sambil meletakkan keranjang berisi buah di atas meja. Ia lalu duduk di sisi Andro.
"Aku ingin segera pulang. Aku tak betah berlama-lama di ruangan ini," ucap Andro.
"Tak lama lagi dokter pasti memperbolehkanmu pulang," ucap Keenan.
"Aku kangen dengan si biru," ucap Andro. Tiba-tiba raut wajahnya berubah sedih.
Keenan membuang nafas. Ia tak mungkin mengatakan pada bocah tersebut jika kecelakaan yang beberapa hari dialaminya membuat sepeda kesayangannya yang biasa dipanggil si biru kini telah ringsek tak berbentuk.
"Sudah beberapa hari mister handsome tak datang kesini. Apa dia sibuk?" tanya Andro.
"Ya. Mister handsome mengatakan padaku jika ia sedang sibuk. Tapi jika ia sudah tak sibuk lagi ia akan menjengukmu," ucap Keenan.
"Aku merindukannya. Aku selalu merasa nyaman bila bersamanya," ucap Andro. Keenan dan Aurora tiba-tiba saling memandang.
"Kau minum obat sekarang, setelah itu istirahat," ucap Aurora sambil mengambil obat dan segelas air putih yang berada di atas meja di sisi ranjang. Andro menurut. Ia lalu meminum obat tersebut. Aurora laly membelai rambut Andro. Tak membutuhkan waktu lama, Andro pun terlelap.
"Aku perlu berbicara denganmu," ucap Keenan. Ia beranjak dari tempat duduknya kemudian membuka pintu. Aurora mengikutinya. Keduanya lalu duduk di bangku tunggu yang berada di depan ruang Andro.
"Gibran mengalami perampokan," ucap Keenan. Aurora tersentak.
"Lalu apa yang terjadi padanya?" tanya Aurora.
"Dompet dan ponsel miliknya dirampok dan Gibran sempat dipukul perampok itu."
"Darimana kau tahu jika Gibran dirampok?"
"Rio, kawanku saat itu kebetulan melintas dan mendengar teriakan Alicya meminta tolong. Rio mengatakan jika setelah kepalanya dipukul perampok itu, Gibran sering mengalami sakit kepala."
"Apakah ada kemungkinan ingatan Gibran kembali pulih?"
"Lalu bagaimana jika ingatannya benar-benar pulih? Bagaimana jika Gibran mengingat semuanya?"
Tiba-tiba raut wajah Aurora berubah sedih.
"Kalaupun ingatannya kembali, aku tak yakin Gibran mau mengakui perbuatannya di masa lalu," ucap Keenan.
"Aku takut dia mengambil Andromeda dari sisiku," ucap Aurora.
Keenan menatap wajah Aurora.
"Aku tak akan membiarkan hal itu terjadi. Kau ibu terbaik untuk Andro. Tak ada seorang pun yang bisa merebut seorang anak dari sisi ibunya sekalipun orang itu adalah ayah kandungnya," ucap Keenan.
Tiba-tiba Aurora menyandarkan kepalanya di pundak Keenan. Seketika hati Keenan merasa hangat. Ia berharap waktu tak cepat berlalu. Jauh di lubuk hatinya, ia masih menyimpan perasaan yang begitu dalam pada perempuan yang pernah hampir menjadi tunangannya itu.
"Ehem!" Tiba-tiba Sean melintas di hadapan keduanya. Rupanya mereka tak menyadari Sean yang keluar dari ruang perawatan Fiona.
Sontak Aurora menjadi salah tingkah. Ia bergegas beranjak dari tempat duduknya.
"Paman…Sean," ucap Aurora dengan wajah gugup.
"Maaf, aku mengganggu," ucapnya.
"Ah, tidak, Paman. Kami hanya…" Keenan tak melanjutkan kata-katanya.
"Sudahlah, Paman juga pernah muda." Sean terkekeh.
"Bagaimana keadaan Fiona, Paman?" tanya Aurora.
Sean membuang nafas.
"Fiona baru saja selesai menjalani operasi di wajahnya," jawab Sean.
Keenan menautkan alisnya.
"Fiona?" tanyanya
"Ya. Fiona adalah putri sulungku. Dia kakak Sofia, salah satu karyawan di kantormu," jawab Sean.
"Kau mengenal Fiona?" tanya Aurora.
"Aku belum lama mengenalnya. Kebetulan waktu itu aku membeli ponsel di toko ponsel milik Fiona," jawab Keenan.
"Astaga! Mengapa dunia ini sempit sekali." Aurora terkekeh.
"Apakah aku bisa menemui Fiona, Paman?" tanya Aurora.
"Tentu saja." Sean Lalu membuka pintu ruangan tempat Fiona dirawat.
Di dalam ruangan itu hanya ada Fiona yang terbaring di ranjang pasien. Sementara Nikita dan Sofia sedang berada di kantin.
"Fiona, bagaimana keadaanmu?" tanya Aurora penuh perhatian.
Fiona terkejut dengan kedatangan Aurora, saudara sepupunya, namun ia lebih terkejut saat melihat wajah laki-laki yang berdiri di samping Aurora.
"Keenan...Kau…?" tanyanya.
"Aku baru tahu jika kau dan Sofia bersaudara," ucapnya.
"Kau mengenal Aurora?" tanya Fiona.
Aurora dan Keenan saling memandang.
"Ya. Kami sudah mengenal sejak kami masih duduk di bangku SMA," jawabnya.
"Sungguh?" tanya Fiona.
"Ya, bahkan kami…" Keenan tak melanjutkan kata-katanya karena tiba-tiba ponselnya berdering.
Bersambung…
Tembus 500 👍aku up episode selanjutnya.…
❤ ❤ ❤
Hai kak, dukung terus karyaku ya…
Jangan lupa beri like👍, komentar💬, ✒vote, favorit💙 serta hadiah🎁.
Sekecil apapun dukungan yang kalian berikan untukku, aku akan sangat berterima kasih.
Semoga kalian terus menjadi pembaca setiaku..💕💕