
Helena menatap wajah perempuan yang sama sekali tak asing baginya tersebut.
"Masih hidup kau ternyata," ucap Felice sinis.
"I...i...ibu" ucapnya dengan mata berkaca-kaca.
"Jangan memanggilku ibu!" Bentaknya kasar.
"Ibu, maafkan aku," ucapnya. Helena memegang tangan Felice namun perempuan itu menepisnya dengan kasar.
"Dosamu sudah terlalu besar. Kau bahkan tak pantas meminta maaf."
Helena berlutut di depan Felice. Ia kembali memegang tangan ibu dari suami yang hampir tiga puluh tahun ditinggalkannya tersebut.
"Bagaimana kabar suami dan anakku?" Tanyanya dengan suara bergetar.
"Kau masih mengingat mereka rupanya. Bukankah selama ini kau membuang mereka?"
"Aku menyesal. Aku ingin kembali pada keluargaku," ucapnya parau.
"Simpan saja penyesalanmu, perempuan tak punya hati!" Seru Felice.
Dua pasang mata menyaksikan adegan tersebut. Mereka hanya terpaku.
"Sudahlah. Aku hanya membuang waktuku!" Felice menepis tangan Helena. Kali ini perempuan itu benar-benar pergi dari hadapannya.
"Ibu! Ibu!" Helena terus memanggil Felce. Namun perempuan itu tak menghiraukannya.
Helena bangkit dari lantai. Ia tahu sedari dulu Felice tidak menyukainya. Terlebih setelah ia meninggalkan anak dan suaminya, kebencian padanya makin menjadi.
Dengan langkah gontai ia keluar dari toko tersebut. Ia lalu memberhentikan sebuah taksi yang melintas, dan masuk ke dalamnya.
"Joyce Boutique," ucapnya pada pengemudi taksi tersebut.
*****
"Kau kenapa, Helena? Apa kau baik-baik saja?" Tanya kasir di butik tempatnya bekerja.
"Aku baik-baik saja," jawabnya.
"Kau terlihat pucat. Apa kau sakit?" Tanya kasir itu lagi. Helena menggeleng pelan.
"Aku masih punya banyak pekerjaan," ucapnya sambil berlalu dari hadapan kasir tersebut.
Helena lalu masuk ke dalam toko. Ia duduk di kursinya. Air matanya tiba-tiba mengalir deras.
"Hans…Nadine, aku merindukan kaIian," ucapnya lirih.
*****
Dua hari kemudian.
Hans kembali dari New York.
"Kau pulang sendiri. Dimana putrimu?" Tanya Felice.
"Dia masih di New York," ucapnya.
"Kau tak berhasil membujuknya pulang?" Tanya sang ibu lagi. Hans menggelengkan kepalanya.
"Sepertinya pertunangan Nadine dan Gibran terancam batal," ucap Hans.
"Batal, apa maksudmu?" Tanya Felice.
"Nadine yang mengatakannya padaku. Ia tak bisa melanjutkan hubungannya dengan Gibran."
"Astaga! Apa yang sebenarnya terjadi, Hans?"
"Nadine kecewa pada Gibran."
"Apa yang telah dilakukan pria itu pada cucuku?" Tanya Felice.
Hans menghela napas.
"Gibran menyembunyikan sebuah rahasia besar tentang masa lalunya."
"Bukankah semua orang punya masa lalu?" Tanya Felice.
"Masalahnya rumit. Aku sulit menceritakannya," jawab Hans.
"Istirahat lah, aku tahu kau lelah," ucap Felice kemudian. Hans pun berlalu dari hadapannya.
"Apa dosaku, Tuhan? Mengapa anak dan cucuku dihadapkan pada persoalan serumit ini?" gumamnya.
Keesokan harinya.
"Kau mau pergi kemana pagi-pagi begini?" Tanya Felice di sela sarapan paginya.
"Aku harus menemui seseorang," jawabnya. Hans meneguk segelas susu dan menghabiskannya dengan cepat.
Pria itu kemudian mengecup kening sang ibu dan berlalu dari hadapannya.
Hans menuju sebuah cafe. Ia pun menuju sebuah meja. Seorang perempuan tampak menunggu kedatangannya.
"Ada apa kau menemuiku, Joyce," Tanyanya.
"Tolong aku. Roy terus mengejarku," ucapnya dengan wajah panik.
"Roy, mantan suamimu?" Tanya Hans.
"Ya. Ia bahkan berani mendatangi kamar apartemenku," jawabnya.
"Apa maunya?"
"Ia mengajakku rujuk!"
"Kau menolaknya?"
"Tentu saja aku menolaknya. Aku tak sudi menerima pria itu lagi. Setelah apa yang dilakukannya padaku dan pada Celine."
"Bagaimana caraku membantumu?" Tanya Hans.
"Jadilah kekasihku," ucap Joyce.
"Apa?" Tanya Hans kaget.
"Maksudku, jadilah kekasih pura-puraku. Aku terlanjur berbohong padanya jika aku telah memilki calon suami. Dan pria itu kau."
"Ini konyol, Joyce. Bagaimana kau bisa berpikir ke arah itu?"
"Mengapa harus aku? Bukankah kau punya banyak kawan pria?"
"Entahlah, Hans. Saat itu hanya kau yang aku ingat."
Hans tampak berpikir.
"Baiklah, aku mau membantumu," ucapnya. Hans menatap wajah Joyce yang terlihat lega.
"Kapan kita bertemu dengannya?" Tanya Hans.
"Seharusnya tak lama lagi ia datang ke tempat ini," jawab Joyce.
Setengah jam berlalu, namun Roy belum terlihat mendatangi cafe tersebut.
Hans melirik jam tangannya.
"Aku tak punya banyak waktu lagi." Hans beranjak dari tempat duduknya.
"Tunggulah beberapa menit lagi, kumohon." Joyce memelas.
Hans pun kembali ke tempat duduknya.
Tiba-tiba seorang pria menghampiri meja keduanya.
"Maaf, aku sedikit terlambat, sayang," ucapnya. Joyce membuang muka.
"Sedikit terlambat katamu?" Kami sudah membuang waktu kami." Ucap Joyce dengan nada kesal.
"Kau semakin cantik jika tengah marah begini, Joyce," rayunya.
"Siapa pria ini?" Roy memandang Hans dari ujung rambut hingga ke ujung kakinya.
"Namanya Hans. Dia calon suamiku," ucap Joyce.
"Seleramu boleh juga," ucap Roy.
"Kau sekarang percaya 'kan? Aku sudah benar-benar melupakanmu." Ucap Joyce.
Roy menarik kursi kemudian duduk sisi Hans.
"Sudah berapa lama kau mengenal istriku?" Tanyanya.
"Berhenti memanggilku istri, Roy!" Seru Joyce.
"Bukan kah kau memang masih istriku?" Tanyanya enteng.
"Aku bahkan tak menganggapmu lagi sebagai suamiku sejak hari itu."
"Saat itu aku hanya khilaf," ucap Roy sambil tersenyum tanpa beban.
"Berhentilah mengejarku! Urusi saja anak dan istrimu itu." Ucap Joyce masih dengan nada kesal.
"Aku tak bisa melupakanmu, sayang" ucap Roy.
"Omong kosong! Kau lupa atas apa yang telah kau lakukan padaku dan pada Celine 'heh?" Tanya Joyce.
"Dimana putri kecilku sekarang? Apa dia secantik ibunya?" Tanyanya lagi.
"Celine putriku!" Seru Joyce. Ia beranjak dari tempat duduknya lalu menarik tangan Hans.
"Ayo kita tinggalkan tempat ini. Pria ini hanya membuat tekanan darahku semakin tinggi!" Serunya.
Hans dan Celine kemudian meninggalkan cafe tersebut.
"Breng**k!" Seru Roy kemudian sambil memukul meja.
*****
Malam itu Keenan mengunjungi rumah Sarah, ibu angkatnya.
"Bagaimana kabarmu, bu?" Keenan mengecup kening sang ibu.
"Kau lihat. Rambutku rontok makin parah." Sarah memunguti beberapa helai rambut yang rontok di atas tempat tidurnya. Keenan memandang perempuan tersebut penuh rasa iba.
"Aku berencana mengajakmu berobat ke luar negeri," ucap Keenan sambil memijat lembut kaki Sarah.
"Aku hanya tinggal menunggu waktuku tiba," ucap Sarah dengan pandangan kosong.
"Jangan pernah katakan itu!" Seru Keenan. " Kau pasti akan sembuh." Ucapnya kemudian.
"Aku akan membuat surat wasiat dalam waktu dekat." Ucap Sarah.
"Cukup!" Keenan memeluk Sarah. Hatinya terasa begitu perih mendengar ucapan ibu angkatnya tersebut. Tanpa ia sadari, air matanya mengalir.
"Keenan," ucap Sarah lemah.
Keenan menatap mata ibu angkatnya.
"Ada yang ingin kau katakan?" Tanyanya.
"Ibu ingin melihatmu menikah," ucapnya.
Ucapan Sarah sontak membuatnya terkejut.
"Menikah?" Tanyanya.
"Usiamu tak muda lagi. Aku ingin mati dengan tenang," ucap Sarah.
"Jangan pernah menyebut kata itu lagi, kumohon," ucap Keenan.
"Setelah pertunanganmu gagal. Aku tak melihatmu dekat dengan perempuan manapun," ucapnya.
Keenan menatap mata Sarah. Ia sama sekali tak memiliki jawaban atas pertanyaan ibu angkatnya tersebut.
Bersambung...
Tembus 200 👍aku up episode berikutnya…
❤ ❤ ❤
Hai kak, dukung terus karyaku ya…
Jangan lupa beri like👍, komentar💬, ✒vote, favorit💙 serta hadiah🎁.
Sekecil apapun dukungan yang kalian berikan untukku, aku akan sangat berterima kasih.
Semoga kalian terus menjadi pembaca setiaku..💕💕