ANDROMEDA

ANDROMEDA
Kemunculan Fiona



Di toko kue Aurora.


Siang itu toko kue milik Aurora tampak ramai. Beberapa pelanggan mengantri untuk mendapatkan kue dari toko tersebut yang dikenal lezat.


Sejak Andro mengenal internet, bocah itu pun rajin mempromosikan toko milik sang ibu. Kini beberapa pelanggan tokonya bahkan berasal dari luar kota.


Nesya, kasir baru yang ramah dan murah senyum itu pun semakin menarik para pelanggan untuk membeli kue buatan Aurora.


"Istirahatlah, kau tampak begitu letih setelah melayani pelanggan kita," ucap Aurora. Nesya hanya tersenyum.


"Oh ya, kau bilang ibumu juga bekerja di kasir. Apa ia masih bekerja hingga sekarang?" Tanya Aurora kemudian.


"Ibuku sudah berhenti dari pekerjaannya sejak beberapa tahun yang lalu. Sepertinya pemilik toko menganggap ibuku sudah terlalu tua untuk bekerja di tokonya. Ia menggantinya dengan kasir baru yang lebih muda dan menarik," jawab Nesya.


"Lalu apa kesibukan ibumu sekarang?" Tanya Aurora lagi.


"Ibuku menjual kue keliling," jawabnya.


"Belakangan ini aku merasa kerepotan. Pelanggan tokoku makin banyak. Jika ibumu bersedia, aku akan mengajaknya bekerja di rumahku untuk membantuku membuat kue."


"Nanti saya sampaikan. Kurasa ibu akan sangat tertarik menerima tawaranmu, nyonya." Ucap Nesya.


Di sela-sela obrolan mereka, tiba-tiba sebuah mobil berhenti di depan toko.


Tampak seorang perempuan berkaca mata hitam keluar dari mobil berwarna silver tersebut. Ia menenteng tas mewah serta mengenakan perhiasan yang cukup mencolok. Perempuan itu pun melepas kaca matanya dan berjalan ke arah toko.


Aurora menatap perempuan itu selama beberapa detik sebelum ia mengenalinya.


"Fiona," ucap Aurora. Ia tak menyangka akan kembali bertemu dengan satu-satunya saudara sepupunya tersebut. Meskipun ia dan Fiona memiliki hubungan kerabat, namun sejak bisnis Aurora terpuruk beberapa tahun lalu. Sean, ayah kandungnya yang tak lain adalah kakak kandung sang ayah justru menghindarinya. 


Sean dan istrinya, Nikita, sama sekali tak peduli padanya. Mereka bahkan turut menyebar berita negatif tentang Aurora. Keluarganya benar-benar menganggap Aurora seperti sampah yang tak berguna. Bahkan saat kematian sang ibu, tak ada satupun keluarga Fiona yang tampak di pemakaman sang ibu.


Aurora mendekatkan tubuhnya ke arah Fiona. Ada sebuah kerinduan setelah sekian lama ia tak menjumpai saudara sepupunya tersebut. Aurora hendak memeluk Fiona. Namun perempuan itu menghindar. Ia tampak enggan bersentuhan dengan Aurora.


"Ini rupanya toko kue yang tengah ramai diperbincangkan di sosial media itu? Hanya toko sekecil ini," ucapnya sinis.


"Meskipun ini hanya toko kecil, namun setidaknya aku bisa terus bertahan hidup tanpa bantuan siapapun." Ucap Aurora.


Fiona terdiam. Ia tak memiliki kata-kata untuk menanggapi ucapan Aurora.


"Kudengar saat itu kau mengandung tanpa menikah. Dimana anak h*ra* itu sekarang?" Tanya Fiona.


"Jaga mulutmu! Kau sama sekali tak berhak mengatakan sepatah kata pun tentang anakku!" Seru Aurora dengan nada tinggi.


"Mengapa kau tersinggung? Lalu apa sebutan lain yang tepat untuk anak itu? 


Anak sial, atau anak terkutuk?" Tanyanya.


Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Fiona. Nesya, sang kasir yang ada di toko itu hanya mampu menahan napas.


"Kurang ajar! Beraninya menamparku!"


Fiona hendak membalas tamparan sepupunya tersebut. Namun tiba-tiba seseorang mendorong tubuhnya. Perempuan itu tak dapat menahan keseimbangan. Ia pun jatuh di lantai.


"Siapa kau anak kecil tak tahu sopan santun!" Seru Fiona. Wajahnya terlihat memerah.


"Tak akan kubiarkan seorang pun menyakiti mommy!" Seru Andro.


"Oh, kau ternyata anak h*ra* itu?" Tanya Fiona.


"Cukup Fiona! Andro tak tahu apapun." Ucap Aurora.


"Anak dan ibu sama saja. Tak punya moral!" umpatnya. Fiona kemudian berlalu dari toko kue tersebut.


Perempuan itu membanting pintu mobilnya dengan cukup keras. Aurora sedikit tersentak. Perempuan itu pun mengelus dada. 


"Who is she?" Tanya Andro.


"Namanya Fiona. Ia adalah sepupu Mommy," jawab Aurora.


"Mengapa dia begitu kasar padamu?" Tanyanya.


"Entahlah. Mungkin moodnya sedang kurang bagus," jawab sang ibu.


Beberapa bulan kemudian masalah datang. Sang ayah menjadi korban penipuan sebuah investasi bodong. Ia pun terpaksa menagih hutang pada sang kakak untuk membayar gaji karyawannya. Namun Sean beralasan jika ia belum memiliki uang untuk mengganti hutangnya. Berkali-kali sang ayah mendatangi Sean untuk meminta haknya, namun sang paman selalu berkelit. Akhirnya sang ayah pun terpaksa menjual beberapa aset perusahaan untuk membayar gaji karyawan.


Beberapa tahun kemudian, tepatnya saat Aurora duduk di bangku SMA, Sean kembali datang dan hendak meminjam uang. Namun kali ini sang ayah menolak. Ia justru menanyakan kapan hutangnya akan dibayar. Keduanya pun terlibat sebuah pertengkaran. 


Beberapa hari setelah pertengkaran tersebut, ayah Aurora mengalami sebuah kecelakaan. Meskipun tuduhan mengarah pada Sean, namun pria itu punya alibi kuat jika ia sama sekali tak bersalah dalam peristiwa kecelakaan tersebut. Penyelidikan pun menemui jalan buntu. Polisi akhirnya menutup kasus tersebut.


"Mommy, mommy, are you OK?" Tanya Andro sambil menyentuh pelan lengan sang ibu. Aurora tersentak dari lamunannya.


"I'm OK," ucap Aurora.


"What do you think?" Tanya Andro.


"Aku tak sedang memikirkan apapun, ucap sang ibu sambil menjawil hidung Andro.


*******


Fiona memasuki rumahnya dengan wajah kesal.


"Kau kenapa? Lihat wajahmu. Bahkan lebih merah dari apel ini," ucap sang ibu yang tengah mengupas sebutir apel di meja makan.


"Kau tahu, siapa yang membuatku semarah ini?" Tanyanya.


Nikita mengangkat kedua bahunya.


"Aurora!" Serunya. Tiba-tiba Nikita menjatuhkan pisau yang tengah dipegangnya.


"Aurora anak keponakan ayahmu, yang kau maksud?" Tanya Nikita.


Fiona mengangguk.


"Astaga! Dimana kau menemuinya?"


"Kau tahu, toko kue yang tengah ramai diperbincangkan di sosial media itu ternyata miliknya."


"Bagaimana keadaannya sekarang?" Tanyanya.


"Kau terlihat peduli padanya," ucap Fiona ketus.


"Apa benar yang dikatakan orang-orang jika ia mengandung tanpa suami?"


"Entahlah. Tapi tadi kulihat di tokonya ada seorang anak laki-laki berusia sekitar tujuh tahun. Kurasa dia anaknya."


Tiba-tiba ponsel Fiona berdering. Seseorang menelponnya. Ia pun berdiri sedikit menjauh dari sang ibu.


Fiona menaruh ponselnya dengan kasar di atas meja makan.


"Astaga! Siapa lagi yang membuatmu kesal?" Tanya sang ibu.


Fiona tak menjawab. Wajahnya masih terlihat kesal.


Beberapa saat kemudian ponselnya kembali berdering.


"Berhenti menggangguku, Dave!" Teriaknya sambil menutup kedua telinganya.


Nikita hanya memandang anak gadisnya dengan wajah heran.


Bersambung...


Tembus 200 👍aku up episode berikutnya…


❤ ❤ ❤ 


Hai kak, dukung terus karyaku ya…


Jangan lupa beri like👍, komentar💬, ✒vote, favorit💙 serta hadiah🎁.


Sekecil apapun dukungan yang kalian berikan untukku, aku akan sangat berterima kasih.


Semoga kalian terus menjadi pembaca setiaku..💕💕