ANDROMEDA

ANDROMEDA
Kehilangan



Sebuah taksi terlihat memasuki pekarangan rumah Hans. Tak berselang lama pintu taksi terbuka. Tampak seorang perempuan keluar dari taksi tersebut. Ia lalu melangkah menuju teras rumah. Tiba-tiba pandangannya tertuju pada sebuah bendera berwarna putih yang terpasang di tiang rumah besar tersebut. Sementara beberapa orang tampak berlalu lalang di sekitar rumahnya.


"Ada apa ini? Mengapa ada bendera berwarna putih di rumahku?" gumamnya.


Perempuan itu terus berjalan menuju ruang tamu. Ia tercengang mendapati ada banyak orang di ruangan tersebut dan hampir semuanya mengenakan pakaian berwarna hitam.


"Ada apa ini?" tanyanya. Semua orang yang ada di ruangan tersebut sontak memandang perempuan yang baru saja datang tersebut.


Hans bergegas menghampiri perempuan tersebut kemudian menggandeng tangannya dan mengajaknya mendekat ke arah seorang perempuan yang kini telah terbujur kaku. 


Ia lalu membuka kain tipis yang menutupi wajah perempuan tua yang kini sudah tak bernyawa itu. Beberapa detik kemudian tangisnya pecah saat mendapati wajah yang ada dihadapannya. Ia sangat mengenali wajah itu.


"Nenek!" pekiknya. Nadine memeluk tubuh Felicia dan menangis di atas dadanya.


"Nenek, mengapa nenek meninggalkan Nadine," ucapnya terisak.


Hans memandang adegan tersebut dengan hati perih. Sejak kecil Nadine dan Felice begitu dekat, karena setelah Helena meninggalkannya, Felice lah yang kemudian menjelma sebagai perempuan yang menggantikan sosok ibu bagi putrinya, Nadine. Bahkan tak jarang di depan kawan-kawannya Nadine  memperkenalkan Felicia sebagai ibu kandungnya.


Hans menghampiri putri semata wayangnya tersebut. "Sudahlah, jangan menangis lagi. Nenekmu sudah bahagia di sana. Ia tak lagi merasakan kesakitan," ucap Hans.


"Mengapa ayah tak memberitahuku jika nenek sudah meninggal?" tanyanya.


"Kejadiannya begitu cepat. Kemarin pagi ayah masih menyuapi nenekmu," jawabnya.


"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanyanya terisak.


"Kurasa nenekmu terjatuh dari ranjang saat ia hendak meraih gelas yang ada di meja. Tadi siang kebetulan Mira sedang keluar rumah," jawab Hans.


Nadine kembali meneteskan air matanya. Ia merasa begitu kehilangan. Sang nenek, Felicia. Perempuan yang amat ia sayangi kini telah meninggalkan dirinya untuk selamanya.


Di pemakaman.


Nadine memandangi gundukan tanah itu. Tempat yang menjadi tempat peristirahatan terakhir bagi sang nenek. Tangannya mendekap erat bingkai foto perempuan yang amat berarti dalam hidupnya tersebut. Entah sudah berapa banyak air mata yang tumpah semenjak ia tiba di rumahnya hingga ke tempat pemakaman ini.


Hans menaburkan bunga segar di atas pusara sang ibu. Raut wajahnya masih diselimuti kesedihan.


"Beristirahatlah dengan tenang, Ibu" ucapnya sambil mengelus batu nisan yang bertuliskan nama sang ibu.


Hans memandang langit yang mulai terlihat gelap. "Ayo kita pulang," ucapnya sambil merangkul pundak Nadine.


"Aku masih ingin menemani nenek, Ayah," ucapnya.


"Ayah mengerti, kau sangat menyayangi nenekmu. Namun kau tak bisa begini. Lihat, langit sudah begitu gelap. Tak lama lagi hujan turun," ucap Hans.


"Ayah pulanglah dulu, aku masih ingin disini," ucap Nadine. Gerimis perlahan turun.


"Kau jangan keras kepala, Nak. Kita pulang sekarang sebelum hujan turun." 


Hans terus memaksa putrinya untuk meninggalkan area pemakaman, namun Nadine terus menolak. Akhirnya Hans menyerah dan meninggalkan Nadine di depan pusara Felicia.


Nadine terus memeluk nisan sang nenek. Ia tak memperdulikan tetesan air gerimis yang kini telah berganti menjadi tetesan air hujan. Ia juga tak memperdulikan badannya yang mulai basah karena air hujan tersebut.


Tiba-tiba seseorang menghampirinya. Ia membawa payung yang senada dengan warna pakaian yang dikenakannya.


"Sampai kapan kau akan berada di tempat ini?" tanyanya.


Nadine mendongakkan wajahnya.


"Keenan," ucapnya.


"Ayo kita pulang sekarang." Keenan mengarahkan payungnya mendekat ke arah Nadine namun Nadine tak bergeming. Ia masih belum beranjak dari tempat duduknya yang kini telah berubah menjadi tanah yang basah dan lembab.


Keenan menarik lengan Nadine. Perempuan itu pun akhirnya mau beranjak dari makam sang nenek.


Keenan lalu mengajak Nadine berjalan menuju mobilnya.


"Kuantar kau pulang sekarang," ucap Keenan. Nadine menganggukkan kepalanya.


"Bagaimana kau tahu jika nenekku meninggal?" tanyanya.


"Beberapa jam yang lalu aku juga berada di rumah sakit. Aku bertemu ayahmu. Ia kemudian mengatakan jika nenekmu baru saja meninggal dunia," jawab Keenan.


"Apakah keluargamu ada yang sakit?" tanya Nadine. Keenan menggelengkan kepalanya.


"Aku tak memiliki siapapun sekarang. Ibuku sudah meninggal dunia beberapa bulan yang lalu," ujar Keenan. Tiba-tiba raut wajahnya berubah sedih. Nadine memandang wajah sahabatnya tersebut penuh rasa iba.


"Lantas, siapa yang dirawat di rumah sakit?" tanya Nadine penasaran.


Nadine tersentak.


"Andromeda...anak Aurora?" tanya Nadine.


"Ya. Beberapa hari yang lalu Andromeda mengalami kecelakaan. Ia bahkan sempat mengalami koma," jawab Keenan.


"Astaga! Lalu sekarang bagaimana keadaan anak itu?" 


"Keadaannya sudah membaik. Dokter mengizinkannya pulang besok pagi."


"Syukurlah."


"Tiga hari setelah Andromeda kecelakaan, Gibran mengalami perampokan," ucap Keenan. Nadine kembali tersentak.


"Perampok mengambil dompet dan ponsel miliknya. Salah satu dari perampok itu sempat memukul kepala Gibran menggunakan benda keras," ungkap Keenan. Nadine membungkam mulutnya dengan tangannya sendiri.


"Lalu, bagaimana keadaannya sekarang?" 


"Entahlah. Rumah sakit tempatnya dirawat berbeda dengan rumah sakit tempat Andro dirawat. Aku belum sempat menjenguknya."


"Apakah pukulan benda keras di kepalanya berbahaya bagi Gibran?"


"Hal itu bisa saja berbahaya dan semakin memperparah amnesia yang dideritanya. Namun ada kemungkinan lain. Pukulan benda keras itu justru bisa memicu ingatannya kembali pulih."


"Aku takut jika Gibran mengingat semuanya. Sedangkan aku sebagai kekasihnya justru meninggalkannya saat ia mengalami masa sulit."


"Apakah perasaan cintamu untuknya sudah hilang sama sekali?" tanya Keenan.


"Entahlah, aku pun tak mengerti dengan perasaanku sendiri. Rasa kecewa yang terlalu dalam padanya semakin lama mengikis perasaan cinta yang ada di hatiku," jawab Nadine.


Keenan menghentikan mobilnya. Keduanya telah sampai di halaman rumah Nadine. Nadine kemudian turun dari mobil sahabatnya tersebut.


"Kau mau mampir?" tanya Nadine.


Keenan melirik arloji di pergelangan tangannya. "Kurasa lain kali," jawabnya.


"Baiklah. Sampaikan salamku untuk Andromeda dan Aurora," ucap Nadine.


Keenan menautkan alisnya.


"Baiklah, Nona Nadine," ucapnya kemudian. Keenan melajukan mobilnya dan berlalu dari hadapan Nadine.


Nadine melangkah masuk ke dalam rumahnya. Ia melihat Hans yang telah berganti pakaian dan bersiap hendak keluar rumah. Hans sedikit kaget mendapati putrinya telah berada di dalam rumah.


"Kapan kau sampai?" tanyanya.


"Baru saja. Keenan yang mengantarku. Dia datang ke pemakaman nenek," jawab Nadine.


"Ayah mau kemana?" tanya Nadine sedikit heran.


"Cepatlah mengganti pakaianmu, lalu ikut ayah," ucap Hans.


"Ayah mau mengajakku kemana?" 


"Kau nanti juga tahu."


Nadine lalu masuk ke dalam kamarnya untuk berganti pakaian. Tak berselang lama ia pun keluar dari kamarnya dan menghampiri sang ayah yang telah menunggunya di ruang tamu.


Nadine sama sekali tak menyangka jika sebuah kejutan besar telah menantinya.


Bersambung...


Tembus 500 👍aku up episode selanjutnya.…


❤ ❤ ❤ 


Hai kak, dukung terus karyaku ya…


Jangan lupa beri like👍, komentar💬, ✒vote, favorit💙 serta hadiah🎁.


Sekecil apapun dukungan yang kalian berikan untukku, aku akan sangat berterima kasih.


Semoga kalian terus menjadi pembaca setiaku..💕💕