
Aurora mempersilahkan Gibran dan Emily masuk ke dalam rumahnya. Keduanya lalu menuju kamar Andromeda.
"Hai, jagoan. Bagaimana kabarmu?" sapa Gibran.
"Mister handsome!" seru Andro. Ia langsung menghambur ke pelukan Gibran. Tiba-tiba rasa hangat menjalar di dalam hatinya.
"Mister kemana saja? Mengapa jarang menjengukku?" tanya Andro.
"Belakangan ini aku begitu sibuk dengan pekerjaanku," jawab Gibran.
"Orang dewasa selalu sibuk," gerutu Andro.
"Jika kau sembuh nanti aku ingin mengajakmu berjalan-jalan," ucap Gibran. Ia lantas duduk di sisi Andro yang berbaring di atas ranjang.
"Aku ingin makan eskrim," ucap Andro penuh semangat.
"Tentu saja, kau bisa makan es krim sebanyak yang kau mau," ucap Gibran.
Andro tersenyum mempelihatkan deretan giginya yang rapi.
"Wajahmu begitu mirip dengan Andro saat kau masih kecil," ucap Emily.
"Benarkah, Ibu?" tanya Gibran.
Gibran lalu menatap wajah bocah laki-laki itu namun tiba-tiba ia menjerit kesakitan. "Kepalaku! Sakit sekali" pekiknya sambil terus memegang kepalanya.
Emily seketika panik.
"Kau kenapa, Nak?" tanya sang ibu.
Bayangan itu melintas di kepalanya. Saat dirinya bertemu Aurora malam itu, saat keduanya berkenalan lalu meminum anggur, dan saat Gibran membawanya ke sebuah motel. Semuanya seperti nyata meskipun masih terlihat masih samar dan abu-abu.
"Arggggh!" Gibran mengerang kesakitan dan terus memegang kuat kepalanya.
"Mister handsome kenapa?" Apa Mister baik-baik saja?" tanya Andro dengan wajah cemas. Beberapa saat kemudian Gibran mulai terlihat tenang. Ia tak lagi merasakan kesakitan.
"Apakah ada sesuatu yang kau ingat?" tanya Emily. Gibran menggelengkan kepalanya.
"Sebaiknya kita pulang sekarang," ucap Emily. Gibran lalu beranjak dari ranjang.
"Sampai jumpa, Andro," ucap Gibran.
Andro tak menjawab. Ia justru menggeser tubuhnya lalu memeluk Gibran dengan begitu erat. Ia merasa tak rela jika Gibran meninggalkannya.
Gibran menatap wajah Andro.
"Kita bisa bertemu lagi lain waktu," ucapnya.
Aurora memandang adegan itu dengan hati perih. Rupanya Andromeda mulai merasa nyaman jika berada di sisi Gibran yang tak lain adalah ayah kandungnya.
Aurora lalu menghampiri Andro.
"Mister handsome harus segera pulang, ia masih punya banyak pekerjaan," bujuknya.
Perlahan Andromeda melepaskan tangannya dari tubuh Gibran. Tak berselang lama Gibran dan nyonya Emily pun meninggalkan kamar Andro.
*****
Gibran mengendarai mobilnya sambil melamun. Bayangan Aurora yang beberapa saat lalu melintas di ingatannya itu terus mengganggu.
"Apa yang sedang kau pikirkan?" tanya Emily.
"Tidak ada, Ibu," jawab Gibran.
"Ibu tahu kau sedang menyembunyikan sesuatu," ucap Emily.
Tiba-tiba Gibran menepikan mobilnya. Ia terdiam, lantas berpikir. "Mengapa tiba-tiba bayangan Aurora melintas di pikiranku? Apakah ada sesuatu yang pernah terjadi di antara kami?" gumamnya.
"Ibu, bolehkah aku menanyakan sesuatu?" tanya Gibran.
"Apa yang ingin kau tanyakan, Nak?"
"Apakah ibu tahu mengapa Nadine membatalkan pertunangan kami?" tanyanya.
Emily membuang nafas.
"Nadine pernah mengatakan pada ibu jika ia kecewa dengan masa lalumu meskipun ia tak mengatakannya dengan jelas.
"Beberapa hari yang lalu aku menemuinya di rumah sakit," ucap Gibran.
"Apakah ingatanmu mulai pulih?" tanya sang ibu.
"Perlahan aku mulai mengingat masa laluku, meskipun masih begitu samar. Bahkan aku merasa pernah begitu dekat dengan Aurora," ujarnya.
Emily tersentak.
"Aurora?"
"Ya. Perempuan itu, ibu kandung Andromeda."
Emily terdiam, lantas ia berpikir.
"Apakah masa lalu Gibran berkaitan dengan Aurora?" gumamnya.
"Mungkin aku perlu bertemu dengan Nadine. Aku perlu kejelasan. Aku tak rela jika ia tiba-tiba membatalkan pertunangan kalian tanpa alasan yang jelas," tegas Emily.
"Sekarang juga kita ke rumah Nadine," ucap Emily. Gibran lalu melajukan mobilnya menuju rumah Nadine.
Sesampainya di rumah Hans.
"Selamat sore, Tuan Hans."
"Selamat sore, Nyonya Emily."
Tiba-tiba pandangan Emily tertuju pada perempuan yang berdiri di sisi Hans.
"Siapa perempuan ini, Tuan. Kurasa aku belum pernah melihatnya," ucapnya.
Helena tersenyum, ia lantas mengulurkan tangannya ke arah Emily.
"Namaku Helena, aku istri Hans, sekaligus ibu kandung Nadine," ucapnya.
Dengan sedikit ragu Emily menjabat tangan perempuan yang asing di matanya tersebut.
"Kau...ibu kandung Nadine?" tanya Emily setengah tak percaya.
"Ya. Nadine adalah putri kandungku," jawab Helena.
"Selama ini aku tak pernah melihatmu. Nadine selalu mengatakan jika ia hanya tinggal bersama ayah dan neneknya," ujar Emily.
"Lebih baik kita berbicara di dalam," ucap Hans. Ia lantas mempersilahkan kedua tamunya tersebut masuk menuju ruang tamu.
"Selama ini aku tak bersama suami dan putriku," ucap Helena.
"Apa maksud ucapanmu?" tanya Emily.
"Aku telah melakukan kesalahan besar. Aku meninggalkan keluargaku selama tiga puluh tahun," jawab Helena dengan wajah tertunduk.
"Astaga!" seru Emily.
"Aku sungguh menyesal telah melakukan dosa besar kepada keluargaku. Aku sadar jika kebahagiaanku yang sesungguhnya adalah berkumpul bersama orang-orang yang kusayangi," ujar Helena.
"Kurasa semua orang memiliki masa lalu dan pernah berbuat kesalahan. Namun ia juga berhak mendapatkan kesempatan ke dua," ucap Emily.
"Aku menyesali dosa-dosaku, dan aku telah berjanji pada diriku sendiri untuk menebus kesalahanku. Aku akan menjadi istri sekaligus ibu yang baik," ujar Helena.
"Oh ya, di mana nyonya Felicia dan Helena?" tanya Emily. Ia mengarahkan pandangannya di ruangan yang berukuran besar tersebut.
Hans menghela nafas.
"Ibuku baru seminggu yang lalu meninggal dunia," ucapnya dengan raut wajah sedih. Emily membungkam mulutnya dengan tangannya sendiri.
"Sungguh?" tanyanya.
Hans menganggukkan kepalanya.
"Kami turut berduka cita, Tuan," ucap Emily.
"Terima kasih, Nyonya," ucap Hans.
"Maksud kedatangan kami adalah ingin bertemu Nadine," ucap Emily. "Di mana dia?" tanyanya kemudian.
Hans dan Helena saling bersitatap.
"Nadine, meninggalkan rumah," jawab Hans setengah memekik.
Gibran tersentak. "Apa maksud Tuan?" tanyanya.
"Nadine belum bisa menerimaku. Kurasa kepergianku yang tiba-tiba membuat perasaannya begitu terluka," timpal Helena.
"Apakah Tuan tahu kemana Nadine pergi?" tanya Gibran.
"Kurasa ia kembali ke New York," jawab Hans.
"Apakah ada hal yang penting yang ingin kalian bicarakan dengan putriku?" tanya Helena.
"Aku hanya ingin kejelasan mengapa Nadine membatalkan pertunangan dengan putraku," jawab Emily.
"Aku yakin putriku memiliki alasan yang kuat dengan keputusannya," ucap Hans.
"Apakah Nadine tak pernah mengatakan sesuatu padamu mengenai Gibran?" tanya Emily.
"Nadine pernah mengatakan jika Gibran telah berbuat kesalahan besar di masa lalunya dan ia begitu sulit untuk memaafkannya," jawab Hans.
"Kesalahan besar apa yang dimaksud putrimu?" tanya Emily.
"Entahlah. Nadine tak mengatakannya dengan jelas," jawab Hans.
Tiba-tiba Gibran merasakan nyeri hebat di kepalanya. Bayangan Aurora dan peristiwa malam itu lagi-lagi melintas di kepalanya. Ketiga orang yang berada di ruangan tersebut sontak panik.
"Kau kenapa, Nak?" tanya sang ibu dengan wajah cemas.
"Arrrghh! Kepalaku!" pekik Gibran sambil terus memegangi kepalanya.
Bersambung…
Tembus 500 👍aku up episode selanjutnya.…
❤ ❤ ❤
Hai kak, dukung terus karyaku ya…
Jangan lupa beri like👍, komentar💬, ✒vote, favorit💙 serta hadiah🎁.
Sekecil apapun dukungan yang kalian berikan untukku, aku akan sangat berterima kasih.
Semoga kalian terus menjadi pembaca setiaku..💕💕