ANDROMEDA

ANDROMEDA
Cinta baru



Pagi hari di rumah Hans.


Hans bersama ibu dan putrinya tengah menikmati sarapan mereka.


"Ayah…Nenek, aku akan kembali ke New York," ucap Nadine. 


Felice cepat-cepat mengambil minumannya dan meneguknya dengan cepat. Ucapan Nadine seketika  membuat tenggorokannya terasa sempit untuk menelan makanan.


"Mau apalagi kau kesana?" Tanya Hans.


"Aku benar-benar telah kehilangan Gibran. Ia bahkan tak mengenaliku lagi. Tak ada gunanya aku ada di sini," jawabnya.


"Gibran hanya sedang amnesia. Bukan berarti dia melupakanmu untuk selamanya. Jangankan mengenalmu. Identitas dirinya pun ia tak ingat. Suatu hari ingatannya bisa kembali pulih," ucap Felice.


"Ingatannya mungkin bisa pulih. Tapi bagaimana dengan perasaanku padanya? Aku merasa hatiku telah mati untuknya."


"Apakah ada cinta baru yang telah mengisi hatimu?" Hans tiba-tiba menyahut.


Nadine tersentak. Bagaimana mungkin sang ayah bisa mengatakan hal itu? Apakah masa lalunya bersama ibu kandungnya yang membuatnya berpikir semudah itu ia pindah ke lain hati. 


Nama Joe tiba-tiba melintas di pikirannya. Badut tampan itu perlahan menggeser posisi Gibran di hatinya. Meskipun hanya baru sebatas rasa nyaman saat bersamanya. Namun justru rasa nyaman itulah yang selama ini begitu sulit didapatkannya dari Gibran.


Dering ponsel membuatnya sedikit kaget.


Baru beberapa detik yang lalu ia memikirkan Joe, pria itu kini menelponnya.


Nadine merasa canggung menjawab panggilan tersebut di depan ayah dan neneknya. Ia pun memilih menolak panggilan dari Joe.


"Mengapa kau tak menjawab teleponmu?" Tanya Felice heran.


"Nomor tak dikenal, aku malas menjawab," ucapnya sedikit gugup.


"Apakah pria itu yang menelponmu?" Tanya Hans. Nadine tiba-tiba tersedak makanannya. Ia pun cepat-cepat meneguk minuman.


"Tak ada pria manapun, Ayah," tegasnya. Pipinya memerah.


"Mengapa kau panik?" timpal Felice.


"Aku tak merasa panik. Aku hanya tersedak makananku. Kurasa semua orang pernah mengalami," ucapnya.


"Kalian merusak selera makanku," gerutunya kemudian.


Nadine beranjak dari tempat duduknya. Dan meninggalkan piringnya yang belum kosong.


Felice hanya menggelengkan kepalanya melihat sikap cucunya tersebut.


"Lihat putrimu. Aku merawatnya sedari kecil. Aku paham betul. Ia sedang membohongi kita. Setelah meninggalkan meja ini pasti dia ke taman belakang agar bisa lebih bebas mengobrol dengan prianya itu," ucapnya.


Di taman belakang rumah.


Nadine tampak tengah mengobrol dengan seseorang melalui ponselnya.


~Nadine: "Ada apa kau menelponku?"


~Joe: "Tentu saja aku merindukanmu."


~Nadine: "Konyol"


~Joe: "Apa sedikitpun kau tak merindukanku? Ha ha ha."


~Nadine: "Astaga! Joe! Hentikan kegilaanmu!"


~Joe: "Kau yang membuatku gila."


Nadine mengakhiri percakapan. Lagi-lagi  Joe, badut tampan itu membuatnya kesal. Namun justru rasa kesal itu yang membuat hatinya terasa hangat. Joe laki-laki yang berbeda. Entah daya tarik macam apa yang ada dalam diri Joe hingga mampu membuat perempuan manja dan keras kepala seperti dirinya bisa tertarik padanya.


"Jadi, nama pria itu Joe?" 


Nadine kaget dan hampir menjatuhkan ponselnya. Hans sang ayah tiba-tiba sudah duduk di sisinya.


"Dia hanya kawanku, Ayah," ucapnya. Sekali lagi pipi Nadine merona.


"Aku begitu mengenalmu. Aku bisa melihat sorot bahagia pada matamu saat ini. Dan sorot mata itu yang sudah begitu lama hilang darimu," ucap Hans.


"Kami hanya berteman, Ayah."


"Kau pantas bahagia," ucap Hans. Ia lalu membelai lembut rambut Nadine. Ia pun lalu memeluk sang ayah.


Dari kejauhan Felice memandang keduanya dengan mata berkaca-kaca.


******


Siang itu Keenan mengunjungi rumah ibu angkatnya, Sarah.


"Bagaimana keadaanmu, Bu?" Tanya Keenan penuh perhatian.


"Aku hanya menunggu waktuku tiba," jawabnya dengan pandangan mata kosong.


"Jangan katakan hal itu lagi," ucap Keenan.


"Hari ini aku akan menuliskan surat wasiat."


"Ibu!" Cukup!" Keenan merengkuh Sarah ke dalam pelukannya. Pria itu pun menangis.


"Tak lama lagi pengacara itu akan tiba," ucapnya.


Benar saja, tak berselang lama seseorang mengetuk pintu kamar Sarah.


"Rio…" ucap Keenan sedikit kaget.


"Keenan… sedang apa kau disini?" Tanya Rio tak kalah kaget.


"Rumah ini rumah ibuku," jawabnya.


"Astaga! Dunia begitu sempit rupanya."  


Rio terkekeh.


"Apakah kalian saling mengenal?" Tanya Sarah.


"Dia Rio, teman sekolahku. Dia juga tinggal di apartemen yang sama denganku," jawabnya.


"Sungguh?" Tanya Sarah.


Keenan tersenyum.


Keenan melirik arloji di tangannya.


"Kurasa aku harus pergi sekarang. Tak lama lagi ada jadwal meeting," ucap Keenan.


"Apa kau tak ingin menemaniku sedikit lebih lama lagi?" Tanya Sarah.


Keenan lalu menatap lekat mata Sarah.


"Aku janji, akhir pekan ini akan kuhabiskan waktuku bersamamu," ucap Keenan.


"Aku pegang janjimu," ucap Sarah.


Setelah mengecup kening ibu angkatnya, pria itu pun berlalu dari kamar tersebut.


"Apa kau sudah lama tinggal di apartemen itu?" Tanyanya pada Rio.


"Kurang lebih lima tahun, Nyonya," jawabnya.


"Mari kita mulai sekarang," ucapnya.


Rio mengangguk.


*******


Keenan menghentikan mobilnya di depan sebuah cafe. Ia akan mengadakan pertemuan dengan rekan bisnisnya di tempat tersebut. 


Setelah mengunci mobilnya, pria itu pun melangkah masuk ke dalam cafe. Namun langkahnya terhenti. Saat ia melihat sebuah dompet tergeletak di lantai.


Tak jauh dari tempatnya berdiri tampak dua orang tengah terlibat sebuah keributan kecil.


"Aku yakin dompet milikku jatuh di area parkir ini," ucap seorang perempuan berpakaian blouse selutut berambut panjang dan mengenakan high heel itu.


"Pasti kau yang mengambil dompetku," ucapnya kemudian pada seorang juru parkir tua.


"Aku tak mengambil dompetmu. Aku bahkan tak tahu seperti apa dompetmu," ucapnya.


"Tentu saja kau akan berkata begitu. Mana ada maling yang mau mengaku."


"Demi apapun, aku tak melihat ataupun mengambil dompetmu," ucap juru parkir itu.


"Mengakulah. Atau aku akan membawamu ke kantor polisi!" ancamnya. Juru parkir tua itu mulai panik. Keenan yang sedari tadi menyaksikan adegan itu pun lalu mendekat ke arah perempuan.


"Kau mencari dompet ini, Nona?" Tanyanya. Perempuan itu membalikkan badannya. Keenan terkejut saat melihat wajah perempuan itu. 


"Fiona…" ucapnya.


"Kee...Keenan…"ucap Fiona.


"Kau...Kau sedang apa di tempat ini?" Tanyanya sedikit gugup.


"Minta maaf lah pada juru parkir itu," ucapnya.


"Mengapa aku harus meminta maaf? Dia yang seharusnya minta maaf karena telah mengambil dompetku," ucapnya.


"Kau jangan asal menuduh tanpa bukti apapun," ucap Keenan.


"Hanya juru parkir itu yang ada di tempat ini. Siapa lagi jika bukan dia yang mengambil dompetku?" Tanyanya.


Keenan mendekat ke arah sebuah tempat sampah. Ia pun lalu memasukkan dompet yang beberapa saat lalu ia temukan tergeletak di lantai tersebut ke dalam tempat tersebut.


"Sampah…harus dibuang di tong sampah," ucapnya. Pria itu pun berlalu meninggalkan Fiona yang masih tampak kebingungan.


Bersambung…


Tembus 200 👍aku up episode selanjutnya.…


❤ ❤ ❤ 


Hai kak, dukung terus karyaku ya…


Jangan lupa beri like👍, komentar💬, ✒vote, favorit💙 serta hadiah🎁.


Sekecil apapun dukungan yang kalian berikan untukku, aku akan sangat berterima kasih.


Semoga kalian terus menjadi pembaca setiaku..💕💕