
Siang itu di ruang kerja Gibran.
Pria itu tengah disibukkan dengan laptop serta setumpuk berkas di atas meja kerjanya. Ketika tiba-tiba ponselnya berdering singkat. Sebuah pesan masuk ke aplikasi percakapan. Ia berharap pesan itu dari Nadine,calon tunangannya yang beberapa hari belakangan ini hilang tanpa kabar.
[From: +62812xxxxxxxx
Selamat pagi, saya dari Joyce Boutique, pesanan baju atas nama Gibran sudah selesai. Harap datang ke butik sore ini untuk melakukan fitting. Terima kasih.]
Gibran meletakkan ponselnya. Ia tak tahu harus membalas apa ke nomor tersebut. Ia lalu memijat pelan dahinya.
"Baju pertunangan kita bahkan sudah siap. Tapi entah dimana keberadaanmu kini, Nadine," gumamnya sambil menatap foto Nadine di layar ponselnya.
Ketukan pintu sedikit mengagetkannya.
"Selamat siang, pak," ucap Cindy, sekretaris pribadinya.
"Ada apa?" Tanyanya.
"Ada tamu untukmu," jawabnya.
"Suruh saja dia masuk ke ruanganku sekarang."
Perempuan itu pun berlalu dari ruang kerja Gibran dan kembali bersama seorang pria yang amat dikenalnya.
"Kau sedang sibuk, calon menantuku," sapanya. Gibran bangkit dari kursinya dan menyambut Hans.
"Tidak terlalu, ayah," jawabnya.
Gibran terbiasa memanggil Hans dengan sebutan Ayah semenjak keduanya berkenalan.
"Sudah hampir seminggu putriku tak pulang ke rumah," ucap Hans. Pria itu duduk di sofa kemudian menyilangkan kakinya.
"Ya. Aku bahkan tak bisa menghubungi ponselnya," ucap Gibran.
"Ia menelponku kemarin malam."
"Benarkah?" Tanya Gibran.
"Putriku sekarang ada di New York," jawab Hans. Jawaban dari Hans sontak membuat Gibran terkejut.
"New York? Apa yang ia lakukan di sana?" Tanyanya lagi.
"Dia menghindarimu, apa kau tak menyadarinya?"
"Aku bahkan tak tahu apa kesalahanku. Tiba-tiba ia pergi dan aku tak bisa menghubungi ponselnya."
"Kurasa putriku tak mungkin senekat itu jika ia tak memiliki alasan kuat."
"Sungguh, aku tak tahu mengapa ia menghindariku."
"Kalian bertengkar?" Tanyanya.
"Tidak sama sekali. Terakhir kami bertemu, kami pergi ke sebuah butik untuk memesan baju pertunangan kami. Seharusnya sore ini kami mendatangi butik untuk fitting," jawab Gibran.
"Lantas, apa kau akan mendatangi butik itu?"
"Aku tak mungkin melakukan fitting seorang diri. Aku memesan baju itu sepasang."
"Nadine tak ada di sini. Kau tahu itu. Kecuali kau mencarinya dan mengajaknya kembali."
"Itu tak mungkin. Aku sibuk dengan pekerjaanku."
"Jadi, kau lebih mementingkan pekerjaanmu dibandingkan pertunanganmu?" Tanya Hans.
"Bukan begitu, ayah," jawabnya.
"Apa maumu sekarang?" Tanyanya lagi.
Gibran terdiam.
"Baiklah, aku yang akan menjemput putriku," ucap Hans. Pria itu lalu beranjak dari tempat duduknya dan hendak melangkah keluar dari ruangan tersebut.
"Ayah!" Panggil Gibran. Namun Hans tak menoleh. Ia benar-benar meninggalkan ruangan Gibran.
Gibran merasa kesal. Ia memukul meja kerjanya dengan cukup keras.
Cindy pun bergegas masuk ke ruang Gibran.
"Ada apa, pak?" Tanyanya dengan wajah panik.
"Tak ada apa-apa. Lanjutkan pekerjaanmu," ucap Gibran.
Cindy pun berlalu dari hadapan Gibran.
"Mengapa jadi seperti ini?" gumamnya.
****
Di rumah Aurora.
Aurora baru saja pulang dari kiosnya. Ia pun lalu duduk di sofa ruang tamu.
"Good evening, Mom," sapa Andro. Ia meletakkan secangkir teh hangat di atas meja.
(Selamat sore, ibu)
"Aku punya sesuatu untukmu, bukalah," ucap Aurora sambil menyodorkan sebuah bungkusan tipis berbentuk persegi pada anak semata wayangnya tersebut.
"Apa ini?" Tanya Andro dengan wajah penasaran. Ia pun mulai membuka kantong yang membungkus benda itu.
"Wow!" Serunya dengan wajah berseri.
Bungkusan itu ternyata berisi sebuah laptop.
"Thank's, Mom," ucapnya. Ia hendak memeluk sang ibu.
(Terima kasih, Ibu)
"Bukan Mommy yang membelikan benda itu," ucap Aurora. Andro pun batal memeluknya. Bocah itu mengernyitkan keningnya.
"Simpan dulu terima kasihmu, jika kau bertemu dengan mister tampan mu, baru kau katakan padanya," ucap sang ibu. Ia mengangkat cangkir berisi teh hangat dan menyeruputnya pelan.
"Mister tampan kah, yang memberikannya untukku?" Tanya Andro.
Aurora menganggukkan kepalanya.
"Kurasa hadiah ini terlalu mahal untukku," ucapnya kemudian.
"Itu sama artinya kau tak menghargai pemberian orang lain," ucapnya kemudian.
Andro berlalu dari hadapan sang ibu. Ia lalu berlari keluar rumah dan mengambil sepedanya.
"Kau mau kemana, hari hampir gelap."
"Aku akan menemui mister tampan." Ucap Andro dari luar rumah. Ia sudah siap melaju dengan sepedanya.
"Astaga, anak ini," gumamnya.
******
Di apartemen Keenan.
Keenan baru setengah jam yang lalu pulang dari kantornya. Ia tengah menikmati secangkir cokelat hangat di balkon apartemennya.
Tiba-tiba bel berbunyi. Pria itu pun bangkit dari tempat duduknya. Ia kemudian membuka pintu depan.
Tampak di hadapannya seorang bocah tampan berambut pirang tersenyum tulus ke arahnya.
"Andro." Ucapnya sedikit kaget.
Bocah itu tiba-tiba memeluknya.
"Hei, kau kenapa?" Tanya Keenan heran.
"Terima kasih untuk laptopnya," ucap Andro. Matanya tampak berkaca-kaca.
"Kau anak baik dan pandai. Hadiah itu pantas untukmu," ucap Keenan.
Tiba-tiba Rio melintas di hadapan mereka.
"Hai, pria baik hati," sapa Andro pada Rio.
"Namaku Rio, adik kecil," sahutnya sambil tersenyum.
"Kau datang kesini lagi rupanya," ucapnya kemudian.
"Aku datang kesini untuk mengucapkan terima kasih pada Mister tampan," ucapnya.
"Siapa Mister tampan?" Tanyanya.
"Itu panggilan istimewa untukku. Kurasa panggilan itu memang tepat untukku," ucap Keenan terkekeh.
"Baiklah. Aku masuk ke kamarku dulu," ucap Rio. Pria itu pun lalu masuk ke dalam kamar yang tak jauh dari kamar Gibran.
"Aku tengah menikmati cokelat hangat. Kau mau?" Tanya Keenan.
Andro menganggukkan kepalanya.
Keenan pun lalu menggandeng tangan Andro dan mengajaknya masuk ke dalam kamar.
"Sudah berapa lama Mister tinggal di apartemen ini?" Tanya Andro.
"Sudah begitu lama. Sejak aku SMA." Jawabnya sambil menuangkan air hangat ke dalam cangkir berisi cokelat bubuk.
"Seperti apa mommy saat muda?" Tanya Andro tiba-tiba. Keenan tersenyum.
"Ibumu adalah siswa yang pandai," jawab Keenan.
"Benarkah?"
"Selain pandai, ibumu juga gadis yang cantik."
"Itu sebabnya Mister menyukainya?" Tanya Andro polos. Keenan tertawa kecil.
"Mister masih menyukai mommy?" Tanya Andro. Entah mengapa pertanyaan itu membuat jantung Keenan tiba-tiba berdegup kencang.
"Ibu mu perempuan yang baik, semua orang pasti menyukainya," jawab Keenan.
"Aku pulang sekarang," ucap Andro setelah menghabiskan secangkir cokelat hangatnya.
"Lihat wajahmu." Keenan terkekeh saat memandang mulut Andro yang terlihat belepotan karena minuman yang baru saja diteguknya. Pria itu lalu mengambil tissue dan membersihkan noda berwarna cokelat dari mulut bocah kecil tersebut.
"See you," ucapnya sambil berlalu dari hadapan Keenan.
(Sampai jumpa)
"See you too," balas Keenan.
(Sampai jumpa)
"Sampaikan salamku untuk ibumu," ucapnya kemudian.
"Tentu," jawabnya.
Andro lalu berjalan menuju sebuah lift.
Tiba-tiba seorang perempuan berjalan dengan langkah cepat menuju lift. Ia menabrak tubuh kecil Andro dan hampir membuatnya terjatuh.
"I'm sorry," ucapnya sambil menatap wajah Andro.
(Maafkan Saya)
"I'm OK, Miss," ucap Andro kemudian.
(Aku baik-baik saja, Nyonya)
"Joyce!" Seorang pria memanggil perempuan tersebut dan terlihat mengejarnya. Ia hendak masuk ke dalam lift tersebut namun pintu lift sudah tertutup.
Bersambung…
Tembus 200 👍, aku up episode selanjutnya.
❤ ❤ ❤
Hai kak, dukung terus karyaku ya…
Jangan lupa beri like👍, komentar💬, ✒vote, favorit💙 serta hadiah🎁.
Sekecil apapun dukungan yang kalian berikan untukku, aku akan sangat berterima kasih.
Semoga kalian terus menjadi pembaca setiaku..💕💕