
Beberapa hari menjelang hari pernikahan.
Pagi itu Aurora terlihat keluar dari kamarnya dengan berpakaian rapi.
"Ibu mau ke mana?" tanya Andromeda.
"Ibu mau ke rumah paman Sean. Apa kau mau ikut?"
Andro melompat dari kursinya.
"Ikut!" serunya kemudian. Keduanya pun keluar dari ruangan itu.
Aurora menghentikan taksi yang akan mengantarkan keduanya menuju rumah sang paman. Hanya dalam waktu kurang dari setengah jam taksi itu sampai di tempat tujuan.
Dengan wajah riang Andro melangkahkan kakinya menuju teras rumah itu. Dia bergegas menekan tombol bertanda lonceng yang berada di dekat pintu. Tidak berselang lama tampak seorang perempuan paruh baya berdiri dari balik pintu.
"Selamat pagi, Nenek," sapanya dengan senyum ramah.
"Astaga! Andro!" Perempuan yang dipanggil nenek itu tidak menjawab salam Andro, dia justru merengkuh tubuh kecil itu ke dalam pelukannya dan menciumi pipi bocah laki-laki itu dengan gemas.
"Nenek sangat merindukanmu, Sayang," ucapnya. Dia berniat menggendong tubuh Andro, namun tiba-tiba perempuan itu memegang pinggangnya sambil mengaduh kesakitan.
"Aku sudah besar, Nek. Nenek tidak akan senggup menggendongku," ledeknya.
Kegaduhan dari teras rumah itu membuat Sean dan kedua putrinya yang kini berkumpul di ruang makan penasaran. Ketiganya pun meninggalkan ruang itu dan melangkahkan kaki mereka menuju teras.
"Ada apa, Sayang?" tanya Sean. Dia lantas melongok ke arah terasnya. Alangkah terkejutnya pria itu saat mendapati Aurora dan Andromeda berdiri di hadapannya.
"Astaga! Aurora! Andromeda!" Apa ini benar kalian?" tanyanya setengah tak percaya.
"Tentu saja, itu keponakan kita dan cucu kita." Nikita menimpali.
Mereka pun mempersilahkan keduanya masuk ke dalam rumah.
"Sudah begitu lama kita tidak bertemu. Bagaimana kabar kalian, Nak?" tanya Sean.
"Kami baik-baik saja," jawab Aurora.
"Syukurlah," ucap Sean dan Nikita hampir bersamaan.
Tiba-tiba pandangan Aurora tertuju pada saudara sepupunya, Fiona. Bekas luka akibat kecelakaan yang dialaminya beberapa bulan yang lalu itu ternyata tidak benar-benar hilang. Wajah itu kini tidak secantik dulu.
"Bagaimana kabarmu, Fio?" tanyanya.
"Aku baik-baik saja," jawabnya. "Bagaimana hubunganmu dengan Keenan?" tanyanya kemudian.
"Mister tampan akan menjadi ayahku." Andro menimpali.
Semua yang berada di ruangan itu mengernyitkan keningnya, tidak terkecuali sang paman, Sean.
"Apa maksud ucapanmu, Sayang?" tanyanya.
"Mengapa Ibu diam saja? Bukankah tidak lama lagi Ibu akan menikah dengan mister tampan?"
Ucapan Andro membuat Aurora tersipu. Tiba-tiba pipinya bersemu merah.
"Apa benar yang dikatakan Andro?" tanya Nikita.
"Sungguh?" tanyanya setengah tak percaya. Aurora menganggukkan kepalanya.
"Meskipun kalian pernah menjadi mantan kekasih, namun dari sorot matanya aku bisa melihat jika dia masih menyimpan cinta yang begitu besar untukmu," Fiona menimpali.
"Itulah jodoh. Kita tidak akan pernah tahu siapa yang akan menjadi jodoh kita. Aurora dan Keenan harus terpisah dalam waktu yang cukup lama. Namun, ternyata Tuhan kembali menyatukan mereka dengan cara yang tak biasa," ungkap Sean.
"Semoga kebahagiaan selalu menyertai kalian," ucap Fiona.
"Terima kasih, Fio."
"Lantas, kapan hari pernikahan kalian?" tanya Nikita.
"Hari Minggu, Bi."
"Apa kau tidak menyebar kartu undangan?"
Aurora menggelengkan kepalanya.
"Kami berdua sudah sepakat, acara pernikahan kami hanya akan digelar secara sederhana dengan dihadiri kawan dan kerabat dekat. Kurasa itu sudah lebih dari cukup," ujarnya.
"Dari dulu kau memang tak pernah berubah, Nak. Sederhana dan rendah hati," ucap Sean.
"Hal itu pula yang ingin aku tanamkan pada putraku." Aurora membelai lembut rambut Andro yang duduk persis di sebelahnya.
"Kalian sudah sarapan?" tanya Nikita tiba-tiba. Andro menggelengkan kepalanya.
"Sekali-kali makanlah di rumah nenek." Nikita menggandeng tangan Andro dan mengajaknya masuk menuju ruang makan. Dia menarik sebuah kursi dan meminta bocah itu untuk mendudukinya.
"Kau harus makan yang banyak." Nikita menuangkan beberapa centong nasi dia atas piring. Dia bahkan meletakkan dua potong paha ayam berukuran cukup besar di dalam piring tersebut.
"Astaga! Aku tidak mungkin sanggup menghabiskan makanan sebanyak ini," ucap Andro.
"Kau harus menghabiskan isi piring ini atau nenek akan marah padamu," ucap Nikita.
"Tapi, Nek…"
"Habiskan, atau nenek akan marah," ucap Fiona sambil menahan tawa.
Meskipun dengan memberengutkan wajahnya, Andro berusaha menghabiskan isi piring itu. Dia melirik ke arah Aurora, sama seperti Fiona, sang ibu pun turut menahan tawa memandang raut wajah Andro yang kini teraniaya di bawah tekanan neneknya.
Bersambung….
Hai, Kak🥰
mampir juga yuk di karya ku di aplikasi Fizzo
Judulnya "Benih Bayaran"
Penulis: Imma Dealova
Ditunggu ya dukungan kalian….
happy reading 🥰🥰