ANDROMEDA

ANDROMEDA
Bad news



Di rumah sakit. 


Gibran sedikit kebingungan saat perawat bertanya apakah dirinya ayah Andromeda. Ia pun akhirnya mengiyakan pertanyaan perawat.


"Bagaimana aku memberitahu keluarganya," gumamnya.


Gibran mengambil ponselnya. Meskipun banyak kontak yang tersimpan, namun ia hampir tak mengingat nama-nama tersebut. Ia kemudian menghubungi nomor Emily, sang ibu.


[Emily: Ada apa, Nak?"]


[Gibran: I..i...ibu…"]


[Emily: Suaramu terdengar seperti sedang panik. Apa yang terjadi, Nak?"]


[Gibran: I...ibu...Andro...Andromeda…]


[Emily: Maksudmu Andromeda. Kenapa dengan anak itu?"]


[Gibran: Andromeda mengalami kecelakaan. Ia tak sadarkan diri. Aku sekarang menemaninya di rumah sakit.]


[Emily: Astaga!]


[Gibran: Aku tak bisa menghubungi keluarganya.]


[Emily: Baiklah. Ibu akan segera menyebarkan berita ini. Mungkin ini bisa membantu.]


Gibran mengakhiri panggilan.


"Tuhan, selamatkan Andromeda," gumamnya.


*****


Di apartemen Keenan.


Keenan baru saja memasuki kamar apartemennya. Ia melonggarkan dasi yang seharian melingkar di lehernya lalu duduk di sofa. Ia kemudian menghidupkan televisi.


Keenan mencari stasiun televisi yang menayangkan berita. Sore itu sebuah stasiun televisi menayangkan berita kecelakaan yang baru saja terjadi di sebuah jalan.


"Pemirsa, sebuah kecelakaan tragis baru saja terjadi di jalan Melati. Kecelakaan tersebut melibatkan sebuah mobil dan seorang anak laki-laki bersepeda. Anak laki-laki berusia tujuh tahun itu mengalami luka yang cukup serius. Seorang pengguna jalan membawanya ke rumah sakit MD"


"Astaga!" seru Keenan. Ia terperanjat. Di layar televisi tampak sepeda yang sangar ia kenali. Sepeda itu adalah sepeda kesayangan Andromeda.


Keenan bergegas beranjak dari sofa lalu keluar dari kamarnya tersebut.


Ia melajukan mobilnya menuju rumah Aurora.


Sesampainya di rumah Aurora.


Aurora terlihat berdiri di depan rumahnya dengan wajah gelisah. Ia sedikit kaget saat melihat mobil Keenan berhenti di depan rumahnya.


"Kau kenapa?" tanya Keenan.


"Entahlah. Perasaanku tidak enak," jawabnya.


"Ayo ikut aku sekarang," ucap Keenan.


"Kemana? Aku sedang menunggu Andro," ucap Aurora.


Keenan menggandeng tangan Aurora  


kemudian mengajaknya masuk menuju mobilnya.


"Kita mau kemana?" tanya Aurora dengan wajah bingung.


"Sudahlah. Nanti kau akan tahu," ucap Keenan sambil menghidupkan mesin mobilnya.


Keenan menghentikan mobilnya di depan rumah sakit.


"Mengapa kau mengajakku kesini?" tanyanya masih dengan wajah kebingungan.


Keenan lalu menghampiri seorang perawat. 


"Permisi, apakah di rumah sakit ini ada pasien anak korban kecelakaan bernama Andromeda?" tanyanya.


Perawat tersebut kemudian memeriksa komputernya.


"Benar, Tuan. Pasien atas nama Andromeda sedang dalam penanganan di ruang ICU," jawabnya.


Tiba-tiba jantung Aurora berdegup kencang. 


"Andromeda? Apa maksudmu?" tanya Aurora.


"Andro…Andro...mengalami kecelakaan. Aku melihat beritanya di televisi beberapa waktu lalu.


Aurora sontak berlari menuju ruang ICU. Namun ia kaget bukan main saat mendapati seorang pria tengah duduk di bangku tunggu yang berada di depan ruang tersebut. Ia mengenal betul pria itu.


"Gib...Gib...Gibran? Mengapa dia ada di sini?" gumamnya. Aurora kemudian melangkah mendekati Gibran. 


"Syukurlah kau datang. Aku bingung bagaimana memberitahumu," ucap Gibran.


"Apa yang sebenarnya terjadi pada putraku?" tanyanya. Buliran bening mulai menetes di pipinya.


"Andro tertabrak mobil. Dari keterangan para saksi, Andro tengah mengejar seorang pejambret tas milik seorang perempuan. Ia mengejar pria tersebut hingga memasuki gang kecil. Namun saat keluar dari gang, tiba-tiba sebuah mobil melintas. Andro dan mobil itu pun bertabrakan. Sepedanya ringsek dan putramu tak sadarkan diri," ungkapnya.


Ucapan Gibran seketika membuat tubuh Aurora merasa lemas. Ia hampir kehilangan tenaganya. Aurora memegang kepalanya. Tak berselang lama ia merasakan pandangannya gelap.


Tak berselang lama Aurora membuka matanya.


"Andro! Anakku!" serunya dengan suara bergetar.


"Tenanglah, Andro sedang ditangani dokter. Anakmu akan baik-baik saja. Andro anak yang kuat," hibur Keenan.


Pintu terbuka. Tampak seorang dokter keluar dari ruang perawatan Andromeda.


"Bagaimana keadaan putraku, Dokter?" tanya Aurora dengan wajah cemas.


"Meskipun ayahnya membawa kesini di waktu yang tepat, namun pasien terlalu banyak kehilangan darah," jawab dokter.


"Ayah?" tanya Aurora dan Keenan hampir bersamaan. Keduanya kemudian saling memandang.


"Pria itu, Nyonya. Dia yang telah menyelamatkan putramu," ucapnya sambil memandang ke arah Gibran.


"Apakah putraku baik-baik saja?"


"Putramu kini dalam keadaan koma. Dan dia membutuhkan tranfusi darah. Golongan darah putramu adalah B. Namun saat ini ketersediaan darah golongan B di rumah sakit ini kosong."


"Astaga! Apa yang harus kulakukan sekarang?" ucap Aurora.


"Kau harus secepatnya mendapatkan donor darah. Hanya itu satu-satunya cara untuk menyelamatkan nyawa putramu."


Aurora kembali terduduk lemas.


Golongan darahnya bebeda dengan Andro. Begitupun Keenan.Ia tak dapat mendonorkan darahnya pada Andro.


Pandangan Keenan tiba-tiba tertuju pada Gibran. Pria itu memang ayah kandung Andromeda. Golongan darahnya pasti cocok dengannya. Keenan melangkah mendekati pria tersebut.


"Apakah aku boleh meminta minta tolong padamu?" tanya Keenan.


"Apa yang harus kulakukan?" tanyanya.


"Andro sangat membutuhkan tranfusi darah. Apakah kau tak keberatan jika mendonorkan darahmu?" 


"Tentu. Aku mau melakukannya."


Gibrab lalu memasuki ruang pemeriksaan golongan darah. Ternyata benar. Golongan darah Gibran cocok dengan Andromeda.


"Tentu saja golongan darah kalian cocok. Kalian memang terikat hubungan darah," gumam Aurora.


Gibran memandang Andro yang terbaring di ranjang. Kondisi itu sama persis dengan apa yang dialaminya beberapa waktu yang lalu saat dirinya berada di titik antara kehidupan dan kematian.


"Kau harus kuat, kau akan baik-baik saja," ucapnya sambil mengecup lembut kening Andro.


Beberapa lama kemudian.


Gibran tampak keluar dari ruang perawatan Andro.


"Terima kasih, kau telah menyelamatkan putraku," ucap Aurora.


Gibran tersenyum.


"Bolehkah aku bertanya satu hal padamu?" tanya Gibran.


"Apa yang ingin kau tanyakan?" tanya Aurora. 


"Dimana ayah Andromeda?" tanyanya.


Jantung Aurora serasa behenti berdetak.


Tak mungkin baginya mengatakan jika dirinyalah ayah kandung Andromeda.


"Ayah Andromeda kini bekerja jauh di luar kota," jawab Aurora. 


"Apakah kau tak segera memberinya kabar jika Andromeda kini berada di rumah sakit?"


Aurora terdiam. Kini pertanyaan Gibran justru memojokkannya. Wajahnya terlihat bingung. Ternyata Keenan paham jika pertanyaan Gibran membuat Aurora merasa tak nyaman.


Keenan berdehem kecil kemudian menghampiri keduanya. Ia mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Apakah kau tak ingin menemui Andro?" tanyanya. Aurora pun lalu masuk ke dalam ruang perawatan  Andro.


Aurora memandang wajah Andro. Wajah yang selalu menjadi penyemangat hidupnya. Wajah yang membuatnya mampu bertahan meskipun cobaan berat datang padanya.


Aurora lalu mengecup lembut kening Andro. Ia kemudian menggenggam tangan kecilnya.


"Bertahanlah, Sayang. Ibu percaya, kau adalah anak yang kuat," ucapnya dengan suara bergetar.


Bersambung...


Tembus 500 👍aku up episode selanjutnya.…


❤ ❤ ❤ 


Hai kak, dukung terus karyaku ya…


Jangan lupa beri like👍, komentar💬, ✒vote, favorit💙 serta hadiah🎁.


Sekecil apapun dukungan yang kalian berikan untukku, aku akan sangat berterima kasih.


Semoga kalian terus menjadi pembaca setiaku..💕💕