
Di sebuah kantor.
Freddy tampak tengah melamun di kursinya. Hingga ia tak menyadari Celine telah berdiri di hadapannya.
"Apa yang sedang kau pikirkan?" Tanyanya. Freddy tersentak.
"Apakah kau tak bisa terlebih dahulu mengetuk pintu sebelum masuk ke ruanganku?"
"Rupanya kau terlalu asyik dengan khayalanmu. Hingga tak mendengar aku mengetuk pintu."
Freddy bangkit dari kursinya. Ia lalu melepas pandangannya ke arah jalanan. Dari tempatnya berdiri ia bisa melihat dengan jelas kepadatan jalan siang itu.
"Helena pergi dari kamar apartemennya," ucap Freddy tiba-tiba.
"Jadi dia yang ada di pikiranmu saat ini?" Tanyanya. Freddy mengalihkan pandangannya. Ia menatap Celine.
"Apa kau tahu jika Helena meninggalkan apartemennya?" Tanyanya. Celine tak menjawab. Ia hanya tersenyum sinis.
"Kau terus memikirkan perempuan j**a*g itu. Bagaimana dengan Sarah? Apa perempuan sakit-sakitan itu masih hidup?" Tanyanya.
"Jaga mulutmu!" Seru Freddy.
"Apa lagi yang kau harapkan dari perempuan tak berguna itu?"
"Diam!" Seru Freddy. Pria itu mulai geram.
“Apa kau yang membuatnya pergi?” Tanya Freddy.
“Apa maksud ucapanmu?”
“Aku tahu dari dulu kau tak menyukainya.”
“Kau pikir aku sekejam itu?”
“Kurasa tuduhanku masuk akal.”
“Malam itu Helena yang mendatangi kamarku.”
Freddy menatap Celine penuh selidik.
“Lalu?”
“Ia memutuskan pergi dari hidupmu.”
“Tak mungkin Helena melakukannya. perempuan itu bahkan cinta mati padaku.”
“Cinta mati katamu? Mungkin saja perempuan itu ingin kembali pada keluarganya yang telah begitu lama ia tinggalkan.”
“Dari mana kau tahu hal itu?”
“Helena yang mengatakannya sendiri padaku.”
“Kau tahu dimana dia sekarang?”
Celine menggeleng.
Meskipun Celine mengetahui dimana keberadaan Helena, namun sampai kapanpun ia tak akan memberitahukannya pada Freddy.
"Kau ada jadwal meeting jam sembilan pagi ini," ucap Celine kemudian.
Freddy melirik arloji di tangannya. Pukul 08.45. Pria itu pun melangkah keluar dari ruangannya. Tak berselang lama Celine pun meninggalkan ruangan tersebut.
*****
Sementara itu Gibran tengah duduk di bawah pohon rindang di antara padang ilalang yang luas. Suara gemericik air dari sebuah sungai kecil di dekat padang tersebut semakin membuatnya merasa nyaman berada disana selama berhari-hari.
Tiba-tiba seseorang menyapanya.
"Sedang apa kau di tempat ini?" Tanya seseorang berbaju putih namun wajahnya samar.
Gibran bangkit dari duduknya. Ia lalu memandang laki-laki tersebut.
"Kau siapa?" Tanyanya.
"Tak seharusnya kau berada di tempat ini," ucapnya.
"Hanya di tempat ini aku menemukan kedamaian," ucap Gibran.
"Kembalilah, belum saatnya kau berada di tempat ini." Laki-laki yang belum begitu tua itu membalikkan badannya. Ia hendak berlalu dari hadapan Gibran. Namun ia menahannya.
"Tunggu! Kau mau kemana? Biarkan aku ikut denganmu." Gibran berjalan setengah berlari mengejar sosok misterius tersebut.
"Pulanglah, Keluargamu tengah cemas menunggumu. Apa kau tak kasihan pada Ibumu? Seorang anak laki-laki kecil bahkan terus menangisimu. Mereka menunggumu kembali membuka mata. " Laki-laki itu mempercepat langkahnya. Tiba-tiba Gibran terjatuh. Namun pria itu tak menyerah. Ia terus mengejar sosok tersebut. Tiba tiba datang setitik cahaya terang. Gibran pun mengikuti arah cahaya tersebut. Hingga akhirnya ia pun merasakan kembali detak jantungnya.
******
Malam hari di apartemen Keenan.
Keenan merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Akhir-akhir ini ia dipusingkan dengan berbagai masalah. Dimulai dari hilangnya ponsel dan laptop, kecelakaan Gibran, serta pertemuannya yang tak terduga dengan Emily, perempuan yang pernah menggoreskan luka yang teramat dalam di hati mendiang ibu kandungnya.
Sang ibu bahkan sedikitpun tak mengetahui jika Nicholas Alvaro, ayah kandungnya adalah seorang pria beristri bahkan telah memiliki anak.
Pertengkaran siang itu menyebabkan sang ibu sakit dan kondisinya makin memburuk. Hingga akhirnya ia pun benar-benar kehilangan sang ibu.
Tiba-tiba ia teringat sampel rambut yang ia simpan di dalam sebuah laci. Keenan beranjak dari tempat tidurnya. Ia lalu membuka laci mejanya.
Keenan membuka satu demi satu laci mejanya. Ia mencari sebuah amplop berwarna coklat yang pernah ia simpan beberapa waktu yang lalu.
Matanya terbelalak. Amplop coklat itu tak berada di dalam laci. Ia ingat betul dimana ia menyimpan benda penting tersebut.
Keenan bahkan membuka seluruh laci mejanya. Namun ia tak menemukan benda yang ia cari.
"Sial!" umpatnya.
Keenan termenung. Kini satu-satunya benda yang bisa membuka sebuah rahasia besar mengenai kakak tirinya juga telah hilang. Ia pun mulai menduga jika benda tersebut hilang bersama ponsel serta laptopnya beberapa waktu yang lalu.
Jika pencuri mengambil benda berharga miliknya mungkin masih masuk akal. Namun amplop itu hanyalah berisi helaian rambut.
Pencuri sama sekali tak membutuhkan benda tersebut kecuali ia mengira amplop berwarna coklat yang disimpannya di dalam laci tersebut berisi uang.
"Apakah Gibran ada hubungannya dengan hilangnya benda-benda tersebut?" Keenan menggumam.
Ia merasa usaha keras yang ia lakukan untuk mengumpulkan bukti terkait masa lalu Gibran hanyalah sia-sia.
Keenan kemudian memukul meja dengan cukup keras. Seketika pria itu merasa putus asa.
******
Keesokan paginya.
Sebuah taksi terlihat memasuki pekarangan rumah Hans. Felice yang pagi itu tengah membaca surat kabar di teras rumahnya melongok ke arah halaman.
Tampak seorang perempuan menenteng tas berukuran cukup besar keluar dari dalam taksi. Ia pun melangkah mendekati rumah besar tersebut.
"Nadine? Kau kah itu?" Felice bangkit dari kursinya kemudian memandang perempuan tersebut. Tiba-tiba Nadine menghambur ke pelukan sang nenek.
"Bagaimana kabarmu?" Tanya Felice.
Nadine tak menjawab. Matanya justru berkaca-kaca.
"Masuklah," ucapnya kemudian.
Keduanya pun lalu masuk ke dalam rumah.
Tiba-tiba Hans keluar dari dalam kamarnya.
"Nadine!" Serunya. Pria itu pun lalu merengkuh Nadine ke dalam pelukannya.
"Maafkan aku, ayah," ucapnya.
Hans tersenyum.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" Tanyanya. Hans dan Felice saling memandang.
"Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat," ucap Hans kemudian.
"Kemana, ayah?" Tanya Nadine.
"Ikutlah denganku, nanti kau akan tahu," jawab Hans.
Nadine menurut. Ia pun mengikuti Hans yang berjalan ke arah mobilnya.
Hans kemudian melajukan mobilnya.
"Kita mau pergi kemana, ayah?" Tanya Nadine. Hans tak menjawab. Pandangannya terus tertuju pada jalanan.
Tak lama kemudian Hans menghentikan mobilnya di depan sebuah rumah sakit.
"Mengapa kau mengajakku ke tempat ini?" Siapa yang sakit?" Tanyanya heran.
Hans tak menjawab. Ia terus melangkah masuk ke dalam tempat tersebut.
Langkah Hans berhenti di depan sebuah ruangan. Tiba-tiba jantung Nadine berdegup kencang.
"Mengapa kita ke tempat ini, ayah? Katakan padaku. Jangan hanya diam!"
Ucap Nadine setengah menjerit.
Hans kemudian menatap mata putrinya.
Bersambung
Tembus 200 👍aku up episode selanjutnya.…
❤ ❤ ❤
Hai kak, dukung terus karyaku ya…
Jangan lupa beri like👍, komentar💬, ✒vote, favorit💙 serta hadiah🎁.
Sekecil apapun dukungan yang kalian berikan untukku, aku akan sangat berterima kasih.
Semoga kalian terus menjadi pembaca setiaku..💕💕