ANDROMEDA

ANDROMEDA
Sebuah getaran



Di rumah Emily.


Sore itu Gibran keluar dari kamarnya.


"Kau mau pergi kemana, Nak?" tanya Emily yang tiba-tiba melintas di depan kamar Gibran.


"Aku mau ke rumah sakit, Bu," jawabnya.


"Kau mau menjenguk Andromeda?" tanya Emily. Gibran mengangguk.


"Kau begitu perhatian padanya," ucap sang ibu.


"Saat aku dirawat di rumah sakit kemarin anak itu sering mengunjungiku," ucap Gibran.


"Pergilah," ucap sang ibu sambil tersenyum. Gibran kemudian berlalu dari hadapan sang ibu.


Emily mengarahkan kursi rodanya menuju kamar putrinya, Alicya.


Emily kemudian mengetuk pintu kamar tersebut.


"Alicya, Apakah kau sedang tidur, Nak?" tanya sang ibu.


"Tidak, Ibu. Masuklah," jawab Alicya dari dalam kamarnya.


Emily kemudian membuka pintu kamar.


Tampak Alicya tengah duduk di ranjangnya sambil membaca buku.


"Ibu lihat akhir-akhir ini kau jarang keluar bersama kawan-kawanmu," ucap sang ibu.


"Setelah kejadian malam itu aku sering merasa takut jika berdekatan dengan kawan laki-lakiku," ucap Alicya. Tiba-tiba raut wajahnya berubah sedih.


"Kau seorang gadis yang sedang beranjak dewasa. Kau harus bisa menjaga dirimu baik-baik. Jangan sampai kau salah bergaul atau salah memilih kawan. Bisa-bisa kawan itu yang akan menjerumuskanmu ke dalam hal yang tak baik," ucap Emily.


"Aku minta maaf, Ibu. Aku menyesal tak mengikuti nasehat ibu. Ternyata Dave adalah laki-laki bejat." 


"Ya. Beruntung malam itu Keenan melintas. Entah apa yang akan terjadi padamu jika Keenan terlambat beberapa menit saja. Mungkin hal buruk telah menimpamu."


"Iya, Ibu. Aku merasa berhutang budi pada kak Keenan. Oh ya, sepertinya Ibu mengenal kak Keenan," ucap Alicya.


Emily membuang nafas.


Selama ini Emily selalu menutup rahasia perihal Keenan. Namun kini usia Alicya sudah 15 tahun. Mungkin sudah saatnya Alicya tahu jika ia memiliki saudara laki-laki selain Gibran.


"Gibran, kau, dan Keenan memiliki ayah yang sama. Meskipun Keenan terlahir dari perempuan yang berbeda," ucap Emily.


Alicya tersentak.


"Apa maksud ucapan ibu?" tanyanya dengan wajah penasaran.


"Ayahmu menikah lagi tanpa sepengetahuan ibu," jawabnya.


"Kak Keenan…?" Alicya tak melanjutkan kata-katanya.


"Ya. Keenan adalah anak dari istri muda ayahmu."


"Astaga! Mana mungkin ayah berbuat itu!" pekik Alicya.


"Ibu pun awalnya tak percaya. Namun setelah ibu melihat sendiri ayahmu masuk ke rumah itu. Ibu baru tahu jika gosip yang lama beredar jika ayahmu punya dua istri ternyata bukan sebuah berita bohong. Ayahmu benar-benar menikah lagi."


"Lalu dimana sekarang perempuan itu tinggal?" tanya Alicya.


"Perempuan itu sudah lama meninggal," jawab Emily.


"Lalu, siapa yang merawat kak Keenan setelah ibunya meninggal?" tanya Alicya.


"Ibu dan nenekmu tak bisa menerima Keenan untuk tinggal di rumah ini. Nenekmu lalu menitipkannya di sebuah panti asuhan."


Alicya kembali tersentak.


"Namun anak itu bernasib baik. Saat usianya sepuluh tahun ia diadopsi oleh sepasang suami istri kaya. Itulah yang menjadikannya sebagai seorang CEO seperti sekarang."


"Oh ya Ibu, kakak dimana?" tanya Alicya.


"Kakakmu ke rumah sakit," jawab Emily.


"Siapa yang sakit?"


"Kau ingat Andromeda? Anak itu mengalami kecelakaan dan hingga sekarang belum sadarkan diri."


"Astaga! Kasihan sekali anak itu," ucap Alicya.


"Entah mengapa ibu merasa Andro dan kakakmu memiliki hubungan yang begitu dekat. Hati ibu merasa hangat saat melihat Andro," ucap Emily.


*****


Gibran tiba di rumah sakit. Ia pun langsung menuju ruang perawatan Andro namun Aurora sang ibu tak berada di bangku tunggu.


"Mungkin dia sedang ke kantin," gumamnya.


Gibran memutar gagang pintu kemudian mendorongnya. Tampak di hadapannya Andromeda masih terbaring di ranjang pasien. Ia masih belum sadarkan diri.


Gibran mendekati wajah Andro lalu memberi sebuah kecupan lembut di keningnya.


"Hai, jagoan. Sampai kapan kau akan berbaring di tempat ini? Apa kau tak lelah sepanjang hari hanya tertidur? Kasihan ibumu yang hampir setiap hari menangisimu," ucapnya.


"Kau harus bangun, kasihan ibumu. Bukankah tugas anak laki-laki menjaga ibunya?" 


Gibran terus berbicara pada Andromeda.


Hingga tiba-tiba keajaiban terjadi. Andro menggerakkan jari-jarinya. Perlahan bocah itu pun membuka matanya.


Gibran tersentak. Ia bergegas keluar dari ruang tersebut dan memanggil dokter.


"Dokter! Andromeda sudah sadar!" serunya dengan raut wajah berseri.


Dokter itu pun lalu masuk ke ruang perawatan Andromeda. Ia lalu memeriksa bocah tersebut.


"Pasien telah berhasil melewati masa kritisnya," ucapnya sambil tersenyum.


Andro menatap Gibran yang berdiri di sampingnya.


"Mister handsome, " ucapnya lirih.


"Syukurlah kau masih ingat padaku," ucap Gibran.


"Dimana ibu?" tanyanya.


"Mungkin ibumu berada di kantin," jawab Gibran.


Tak berselang lama, Aurora memasuki ruangan. Ia tercengang mendapati Gibran berada di ruang tersebut.


"Kau…?" tanyanya.


"Maaf jika aku lancang masuk ke ruangan ini tanpa seizinmu. Aku hanya ingin bertemu Andro," ucap Gibran.


Aurora kembali tercengang saat melihat Andromeda yang sudah terbangun.


"Astaga! Andro! Kau sudah sadar!" seru  Aurora. Ia kemudian mendekati Andro dan memeluk tubuhnya.


"Ibu takut kehilanganmu, jangan buat ibu takut lagi," ucapnya dengan suara bergetar.


"Maaf, Ibu. Aku sudah membuatmu khawatir," ucap Andro.


"Sejak kapan Andro sadar?" tanya Aurora pada Gibran yang belum beranjak dari tempatnya berdiri.


"Waktu aku masuk ke ruangan ini Andro belum sadar. Namun setelah aku bicara padanya, tiba-tiba jari-jarinya bergerak. Tak lama kemudian ia pun sadar dan membuka matanya," jawab Gibran.


"Apa yang kau katakan padanya?" tanya Aurora. Gibran menautkan alisnya.


"Aku hanya memintanya untuk bangun," jawabnya.


"Tak ada hal lain yang kau katakan?" 


"Apa maksud ucapanmu?" 


"Sudahlah. Lupakan saja." 


"Ibu, aku haus," ucap Andro.


Aurora bergegas mengambil segelas air yang berada di atas meja kemudian memberikannya pada Andro. Bocah itu pun mengosongkan gelas tersebut dengan cepat.


"Sudah tiga hari kau tak sadarkan diri karena kecelakaan itu. Kau pasti merasa sangat lapar dan haus," ucap Gibran.


"Bagaimana Mister tahu jika aku mengalami kecelakaan?" tanya Andro.


"Tentu saja aku tahu. Saat terjadi peristiwa kecelakaan itu, kebetulan aku melintas di jalan itu. Aku kemudian membawamu ke rumah sakit ini," jawab Gibran.


"Terima kasih Mister," ucap Andro sambil tersenyum tulus pada pria yang sedari dulu selalu dipanggilnya Mister handsome tersebut.


"Tiba-tiba seorang perawat masuk ke ruangan tersebut. Ia membawa nampan berisi semangkuk bubur beserta segelas teh hangat.


"Selamat sore, Andromeda," sapa perawat itu dengan senyum ramah.


"Selamat sore, Suster," ucapnya.


Perawat itu kemudian meletakkan nampan tersebut di atas meja.


"Kau harus makan yang banyak agar cepat pulih," ucap perawat sambil menjawil hidung Andro.


Aurora bergegas mengambil mangkuk tersebut dan hendak menyuapi Andro.


"Ibu, aku ingin Mister handsome yang menyuapiku," ucap Andro.


Aurora menatap wajah Gibran. Begitupun pria itu Netra keduanya pun bersitatap.


Bersambung….


Tembus 500 👍aku up episode selanjutnya.…


❤ ❤ ❤ 


Hai kak, dukung terus karyaku ya…


Jangan lupa beri like👍, komentar💬, ✒vote, favorit💙 serta hadiah🎁.


Sekecil apapun dukungan yang kalian berikan untukku, aku akan sangat berterima kasih.


Semoga kalian terus menjadi pembaca setiaku..💕💕