
Malam itu Andro tengah membaca buku di ruang tamu. Sang ibu berada di dapur memasak makan malam mereka.
Tiba-tiba ponsel Aurora berdering. Andro meletakkan bukunya dan bergegas mengambil ponsel yang terletak di atas meja. Sebuah nomor asing tampak di layar ponsel tersebut.
Andro ragu menjawab panggilan itu. Ia pun melanjutkan membaca bukunya. Ponsel sang ibu kembali berdering. Kali ini Aurora keluar dari dapur.
"Mengapa kau tak menjawab telepon itu, sayang?" Tanyanya.
"Nomor tak dikenal yang menelpon. Aku ragu menjawabnya," jawab Andro.
"Smart boy!" Seru sang ibu sambil mengelus rambut sang anak.
Aurora mengambil ponselnya lalu menjawab panggilan tersebut.
~Aurora: Halo, selamat malam. Dengan siapa aku berbicara?
~+62812xxxxxxx: Selamat malam. Benar ini dengan Nyonya Aurora, ibu dari seorang anak tampan bernama Andromeda?
~Aurora: Tunggu. Kurasa aku mengenal suaramu.
~+62812xxxxxxxx: Ha ha ha
~Aurora: Mengapa kau mengganti nomor ponselmu?
~+62812xxxxxxxx: Aku baru saja kehilangan ponselku.
~Aurora: Astaga! Bagaimana mungkin ponselmu hilang. Setahuku kau bukan pria yang ceroboh.
~+62xxxxxxxx: Mungkin aku sedang sial. Kemarin dua orang pria mendatangi kamar apartemenku. Mereka mengaku sebagai sales. Salah satu pria meminjam kamar kecil. Tak lama kemudian mereka meninggalkan kamar apartemenku dengan tergesa-gesa. Aku baru menyadari jika ponsel yang masih terhubung ke pengisi daya itu hilang menjelang tengah malam saat aku terbangun karena lapar.
~Aurora: Tenanglah. Di apartemenmu pasti terpasang CCTV 'kan? Kau bisa menjadikan rekaman CCTV itu sebagai bukti laporanmu pada polisi.
~+62812xxxxxxxx: Itulah yang tengah kupikirkan sekarang. Waktu kejadian itu berlangsung, CCTV di apartemen tengah dalam perbaikan. Selain ponsel, pencuri itu juga mengambil laptopku.
~Aurora: Lalu bagaimana dengan bukti rekaman itu?
~+62812xxxxxxxx: Entahlah. Rekaman itu tersimpan di ponsel itu. Oh ya, dimana Andro?
~Aurora: Dia sedang menjadi kutu buku. He he he.
~+62812xxxxxxxxx: Baiklah, sampaikan salamku untuknya, selamat malam.
Aurora meletakkan kembali ponselnya di meja.
"Apa itu mister tampan?" Tanya Andro.
Aurora mengangguk.
"Mengapa ia mengganti nomor ponselnya?" Tanyanya lagi.
"Dia baru saja kehilangan ponselnya," jawab sang ibu. Andro tersentak kaget.
"Dimana ponselnya hilang?"
"Dia curiga pada pria yang mendatangi apartemennya dan mengaku sebagai sales. Salah satu pria meminjam kamar mandinya. Dan beberapa jam kemudian di hari yang sama, ia kehilangan ponselnya," jawab sang ibu.
"Kurasa di apartemennya terpasang CCTV."
"Itulah masalahnya. Pada saat kejadian, CCTV di apartemennya tengah dalam perbaikan."
"Sudahlah. Ayo kita makan malam."
Keduanya pun berlalu dari ruang tamu menuju ruang makan.
Aurora tak berhenti memikirkan ponsel Keenan yang hilang. Disana ia menyimpan bukti rekaman pengakuan seorang Gibran yang telah menyentuh tubuhnya delapan tahun lalu.
"Are you OK, mom?" Tanya Andro.
"I'm OK, dears, lanjutkan makanmu," jawabnya.
*****
Semenjak bertemu Keenan di counter handphone miliknya, Fiona tak bisa begitu saja melupakan wajahnya. Wajah tegas namun meneduhkan itu terus mengganggu pikirannya. Fiona penasaran akan kepribadiannya sekaligus kehidupan pribadi Keenan.
Seumur hidupnya baru kali ini perasaan itu menghampirinya.
Fiona terus memandang nomor Keenan di layar ponselnya. Sebagai pemilik counter handphone, tentu ia bisa menyimpan nomor pelanggan mana saja yang ia mau saat pelanggan tersebut membeli nomor perdana di tokonya.
Fiona teramat ingin mengobrol lebih dekat dengan pria itu. Namun ia tak memiliki keberanian yang cukup. Dengan jantung berdegup tak beraturan, akhirnya ia memutuskan untuk mengirim sebuah pesan singkat pada nomor yang diberi nama Mr.K tersebut.
Good night, Mister Keenan]
Setelah beberapa menit tak ada balasan.
Ia pun kembali mengirim pesan yang sama. Namun hampir setengah jam, masih tak ada balasan.
"Sombong sekali pria ini. Tapi justru aku semakin penasaran padanya," gumamnya.
Fiona meletakkan ponselnya di atas nakas. Ia pun membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Tak berselang lama, ponselnya pun berdering singkat. Perempuan itu berharap pesan itu dari Keenan. Dengan penuh semangat ia membuka ponselnya. Namun seketika raut wajahnya berubah kesal. Dave yang mengirim pesan padanya.
[From: Dave
Good night, my angel.]
Fiona hanya membaca pesan itu. Tak ada sedikitpun keinginan untuk membalasnya. Ia justru melempar ponselnya dengan kasar.
Dave adalah pria yang hampir tiga tahun menjadi teman prianya. Meskipun status keduanya hanya teman, namun terkadang perlakuan Dave terlalu berlebihan. Duda berumur tiga puluh lima tahun tersebut sering memperkenalkan Fiona sebagai kekasihnya di depan teman-temannya.
Meskipun Fiona sering merasa kesal, tapi ia selalu terbuai bualan dan rayuan manis dari Dave. Hal itulah yang membuat Fiona selalu menuruti kemauan Dave. Fiona pun seakan tak sadar jika Dave hanya menginginkan uangnya, bukan hati apalagi cintanya.
****
Di rumah Emily.
Alicya keluar dari kamarnya dengan penampilan tak biasa. Malam itu Alice memakai gaun ketat berwarna hijau tosca dengan bagian dadanya sedikit terbuka. Gadis yang baru berusia lima belas tahun itu bahkan memakai riasan yang justru membuat wajahnya terlihat lebih dewasa dari usianya.
"Kau mau kemana, Alice?" Tanya Emily, sang ibu. Kedatangan sang ibu yang tiba-tiba sedikit mengagetkannya.
"Aku hendak ke pesta ulang tahun kawanku, ini kado untuknya," jawab Alice sambil memperlihatkan sebuah kotak kecil di tangan kanannya.
"Kurasa pakaianmu sedikit terbuka," ucap sang ibu. Perempuan yang terbiasa memakai kursi roda itu memandang gaun yang dikenakan anak gadisnya tersebut.
"Kawanku bahkan memakai pakaian yang menonjolkan bagian dada mereka, bu," ucap Alice.
"Ganti pakaianmu, atau kau tak keluar sama sekali!" Gertak Emily.
Alice pun masuk kembali ke kamarnya. Ia mengeluarkan semua baju dari lemarinya. Pilihannya jatuh pada sebuah dress panjang berwarna merah muda.
Alice menatap dirinya di depan cermin.
"Astaga! Kau terlihat kuno, Alice!" Gumamnya.
Alice ingin menukar bajunya dengan baju lain yang dimilikinya. Namun ia kaget saat menatap jam dinding di kamarnya. Pukul 20.00. Alice pun bergegas meninggalkan kamarnya yang berantakan karena ulahnya sendiri.
Alice membuka pintu kamarnya. Ia sedikit tersentak. Ternyata sang ibu belum beranjak dari depan kamarnya.
"Kau lebih baik dengan pakaianmu yang sekarang," ucap sang ibu.
Alice pun lalu berpamitan pada sang ibu. Meskipun hatinya terasa sedikit dongkol. Gadis yang baru beranjak dewasa itu hanya ingin terlihat menarik di depan laki-laki yang telah membuatnya jatuh cinta.
Sesampainya di cafe, Alice menghampiri seorang laki-laki yang tengah duduk menyendiri. Dengan langkah hati-hati, gadis itu mendekatinya dan menutup matanya dari arah belakang.
"Alice," ucap pria itu sambil menyentuh lembut tangan Alice. Desiran lembut tiba-tiba terasa di hati Alice. Itu adalah sentuhan pertama baginya dari seorang laki-laki.
"Maaf aku sedikit terlambat," ucapnya.
Pria itu kemudian memandang Alice dari ujung rambut hingga ujung kakinya.
"Kau cantik sekali malam ini Alice. Aku hampir tak mengenalimu," ucapnya.
Alice tersipu, tiba-tiba wajahnya merona.
Bersambung...
Tembus 200 👍aku up episode berikutnya…
❤ ❤ ❤
Hai kak, dukung terus karyaku ya…
Jangan lupa beri like👍, komentar💬, ✒vote, favorit💙 serta hadiah🎁.
Sekecil apapun dukungan yang kalian berikan untukku, aku akan sangat berterima kasih.
Semoga kalian terus menjadi pembaca setiaku..💕💕