
Di rumah Hans.
Pagi itu Hans dan Helena tengah mengitari meja makan. Tiba-tiba Nadine keluar dari dalam kamarnya.
"Selamat pagi, Sayang," sapa Helena.
Nadine tak menjawab. Ia menarik sebuah kursi kemudian mendudukinya.
Raut wajahnya masih menyimpan rasa kesal pada Helena. Ia masih belum bisa menerima kembalinya sang ibu setelah tiga puluh tahun lalu perempuan itu pergi meninggalkannya begitu saja.
"Pagi ini Ayah yang meminta agar ibumu memasak makanan kesukaanmu," ucap Hans.
Helena mengambil piring kosong kemudian menuangkan nasi beserta lauk ke dalam piring tersebut lalu menyodorkannya kepada Nadine.
Nadine mengambil piring itu namun tiba-tiba ia beranjak dari tempat duduknya. "Kau mau kemana?" tanya sang ayah.
"Aku mau sarapan di dapur bersama bi Mira," jawabnya sambil berlalu dari meja makan kemudian berjalan menuju arah dapur.
Hans menghela nafas. Meskipun ia tak menyukai sikap Nadine pada Helena, namun Hans memilih diam karena tak ingin ada keributan di meja makan.
"Mengapa Nona makan di sini?" tanya Mira di sela kesibukannya membereskan dapur.
"Aku malas makan satu meja dengan perempuan itu," jawabnya. Mira tersenyum.
"Nyonya Helena adalah ibu kandung Nona. Sampai kapan Nona akan bersikap seperti ini padanya. Aku tahu jika nyonya Helena pernah berbuat kesalahan besar di masa lalu. Namun Nyonya sudah menyadari kesalahannya dan memutuskan untuk kembali kepada keluarganya. Setiap orang pasti memiliki masa lalu, dan Nyonya berhak mendapatkan kesempatan kedua. Cobalah berdamai dengan keadaan, sikap Nona yang terus begini justru akan menyiksa perasaan Nona sendiri," ucap Mira.
"Hatiku masih sakit, Bi!" pekik Nadine.
"Rasa sakit hati dan kecewa itu wajar, namun jangan sampai perasaan dendam yang ada di hati Nona justru akan menghancurkan Nona sendiri."
Nadine tiba-tiba meletakkan sendok makan di atas piringnya.
"Lihat tuan Hans. Aku yakin jika tuan juga merasakan sakit hati serta kekecewaan yang dalam pada nyonya Helena namun tuan mau memaafkan dan menerima kembali nyonya dalam keluarganya. Tuan menyadari jika setiap orang yang pernah berbuat kesalahan, ia berhak mendapatkan kesempatan kedua," ujar Mira.
"Aku perlu waktu untuk menerima semua ini. Terlalu sulit bagiku untuk memberinya maaf atas apa yang telah dilakukannya padaku," ucap Nadine.
"Semoga hati Nona kembali terbuka. Bibi juga ingin melihat kalian sebagai keluarga yang utuh. Mendiang nyonya Felice yang dulu pernah begitu membenci nyonya Helena pun bahkan rela mendonorkan kornea matanya kepada Nyonya Helena. Aku yakin nyonya Felice punya alasan tersendiri melakukan hal itu," ucap Mira.
Nadine merenungi ucapan Mira. Mungkin ucapan Mira ada benarnya. Setiap orang yang pernah berbuat kesalahan berhak mendapatkan kesempatan ke dua dan memperbaiki dirinya.
Dering ponsel sedikit mengagetkannya. Sebuah pesan masuk di aplikasi percakapan. Nadine bergegas membuka pesan tersebut.
[From: Keenan.
[Temui aku sekarang di cafe Pandora.]
Nadine beranjak dari dapur kemudian masuk ke dalam kamarnya. Tak berselang lama ia keluar dari kamar dengan pakaian rapi.
"Aku keluar sebentar, Ayah," ucap Nadine.
"Kau mau kemana, Sayang?" tanya Helena.
"Bukan urusanmu!" ucapnya ketus.
Nadine kemudian berlalu dari hadapan Hans dan Nadine.
"Sampai kapan putriku akan bersikap acuh padaku?" tanya Helena dengan raut wajah sedih.
"Nadine perlu waktu. Aku yakin suatu saat nanti dia akan menerimamu," hibur Hans.
"Seandainya aku tak berbuat bodoh, semua ini tak akan terjadi," ucap Helena.
"Sudahlah, jangan kau jangan terus menyalahkan dirimu sendiri. Bukankah kita telah sepakat untuk mengulang semuanya dari awal?" Hans meraih jemari Helena kemudian mengecupnya.
*****
Keenan dan Nadine bertemu di sebuah cafe.
"Bagaimana kabarmu?" tanya Keenan.
"Sangat buruk," jawab Nadine dengan raut wajah kesal.
"Kemarin Gibran menemuiku di rumah sakit," ucap Nadine. Keenan mengernyitkan keningnya.
"Bagaimana mungkin?"
"Gibran kembali mengenaliku."
"Astaga! Lalu apa yang dia katakan padamu?"
"Ia mengingat semua tentangku. Bahkan cincin pertunangan dan baju pertunangan itu, dia juga mengingatnya."
"Ya. Aku sudah jujur padanya jika aku telah membatalkan pertunangan itu. Dia terus memohon dan memintaku untuk kembali padanya. Kau tahu apa yang terjadi selanjutnya?"
"Apa yang terjadi?"
"Tiba-tiba ia merasakan nyeri hebat di kepalanya."
"Bagaimana keadaannya sekarang?"
"Entahlah. Aku pergi meninggalkannya."
"Mungkin tak lama lagi ingatannya kembali pulih," ucap Keenan.
"Kurasa aku harus cepat kembali ke New York. Aku ingin menghindari Gibran. Aku takut dia memaksaku untuk kembali padanya. Aku tak bisa melakukan itu. Keputusanku untuk meninggalkannya sudah bulat."
"Aku tahu perasaanmu, tapi apakah kau yakin jika Gibran akan melepaskanmu begitu saja?" Pertanyaan Keenan tiba-tiba membuat Nadine merasa cemas.
"Apa yang harus kulakukan?"
"Aku justru berharap Gibran lekas mengingat semuanya termasuk masa lalunya bersama Aurora. Jika ia masih juga menyangkal perbuatannya pada Aurora, kita bisa memintanya melakukan tes DNA antara dirinya dan Andromeda. Jika semuanya terbukti, kau akan memiliki alasan kuat untuk meninggalkannya," ucap Keenan.
"Apakah aku boleh bertanya satu hal padamu?" tanya Nadine.
"Apa yang ingin kau tanyakan?" tanya Keenan.
"Apakah kau masih mencintai Aurora? Kau terlihat begitu peduli padanya."
"Entahlah. Aku hanya tak rela jika dia disakiti siapapun," ucap Keenan.
"Aku ingin menanyakan sesuatu tentang keluargamu," ucap Keenan.
"Apa yang ingin kau tanyakan?"
"Benarkah Helena adalah ibu kandungmu?" tanya Keenan.
Nadine membuang nafas.
"Jika disuruh memilih, aku tak mau memiliki ibu sepertinya."
"Apa maksud ucapanmu?" tanya Keenan.
"Meskipun dia ibu kandungku, namun sikapnya sungguh tak pantas dilakukan. Ibuku meninggalkanku hampir tiga puluh tahun. Dan ia tiba-tiba kembali ke keluargaku," ujarnya.
"Astaga! Jadi benar, Helena adalah ibu kandungmu?"
"Mengapa kau terlihat begitu kaget? Apa kau mengenalnya?"
"Dia...ibumu...ibumu adalah kekasih gelap ayah angkatku," ucap Keenan. Tiba-tiba tangisnya pecah.
Nadine tersentak.
"Apa maksud ucapanmu?"
"Selama ini ibumu menjadi kekasih gelap ayah angkatku yang bernama Freddy," ucapnya terisak. Nadine tersentak kemudian ia membungkam mulutnya dengan tangannya sendiri.
"Tapi...bagaimana mungkin, Keenan?"
"Itulah kenyataannya. Selama lebih dari tiga puluh tahun ayah angkatku mengkhianati ibu angkatku. Ibu sama sekali tak tahu hal itu karena pria itu bermain rapi."
"Jadi…selama ini ibuku bersama ayah angkatmu?" tanya Nadine. Kini tangisnya pecah.
"Aku sudah begitu lama tidak melihat ibumu. Yang kuingat saat itu Freddy mengajakku bertemu seorang perempuan bernama Helena di salah satu kamar apartemen. Awalnya aku mengira jika nyonya Helena dan Freddy hanya berteman biasa, namun seiring berjalannya waktu aku mulai paham jika hubungan mereka bukan sekedar kawan."
Air mata Nadine terus mengalir. Di saat ia akan mencoba menerima Helena, kini justru rahasia besar perihal ibu kandungnya mulai terkuak. Ucapan Keenan adalah jawaban dari pertanyaannya selama ini.
Bersambung...
Tembus 500 👍aku up episode selanjutnya.…
❤ ❤ ❤
Hai kak, dukung terus karyaku ya…
Jangan lupa beri like👍, komentar💬, ✒vote, favorit💙 serta hadiah🎁.
Sekecil apapun dukungan yang kalian berikan untukku, aku akan sangat berterima kasih.
Semoga kalian terus menjadi pembaca setiaku..💕💕