ANDROMEDA

ANDROMEDA
Gelap



Pukul 22.00


Helena tersadar. Namun pandangannya gelap. Ia tak melihat apapun.


"Dimana aku?" Tanyanya sambil meraba tempat tidurnya. Joyce yang tengah tertidur di sofa pun terbangun. Ia pun bergegas menghampiri penjahit di butiknya tersebut.


"Helena, apa yang terjadi padamu?" Tanya Joyce.


"Nyonya…nyonya Joyce, kau kah itu?" Tanya Helena.


"Ini sama sekali tak lucu!" Seru Joyce. Ia mulai merasa ada sesuatu yang tak beres pada Helena. Perempuan itu pun lalu beranjak dari sofa dan menghampiri Helena.


"Aku tak melihatmu, nyonya!" Seru Helena dengan suara bergetar.


"Helena! Kau jangan bercanda!" Seru Joyce. Tangan Helena terus meraba sekelilingnya hingga tangannya tak sengaja mendorong gelas yang terletak di atas meja. Gelas itu pun jatuh dan pecah di lantai.


"Helena!" Seru Joyce. Perempuan itu mengguncang tubuh Helena. 


"Kau benar tak melihatku?" Tanya Joyce dengan suara bergetar. Helena menggelengkan kepalanya.


"Aku tak melihat apapun selain gelap," jawabnya.


Joyce menatap Helena penuh iba. Hatinya teriris. Rupanya kecelakaan yang dialaminya sehari yang lalu membuatnya kehilangan penglihatannya.


Tiba-tiba seseorang masuk ke dalam ruangan tersebut.


"Selamat malam," ucap dokter.


"Apa yang terjadi denganku, dokter?" Tanya Helena.


"Apa maksudmu?" Tanya dokter.


"Setelah tersadar dari komanya, ia tak bisa melihat apapun," ucap Joyce.


Dokter pun memeriksa Helena.


"Akibat kecelakaan itu kau mengalami cedera yang cukup parah di kepala. Dengan sangat menyesal aku harus mengatakan jika kau kehilangan penglihatanmu," ucap dokter.


"Maksudmu, aku buta?" Tanyanya.


Dokter tak menjawab. Pria itu hanya membuang napas.


"Tidak! jeritnya. Helena kemudian menangis. Joyce mendekati Helena dan merengkuhnya ke dalam pelukannya.


Joyce membiarkan Helena menangis di pundaknya.


*****


Alice tiba di rumah sakit. Gadis itu pun bergegas menuju ruang ICU. 


"Ibu." Alice menghambur ke pelukan sang ibu.


"Bagaimana keadaan kak Gibran?" Tanyanya. Emily menggeleng pelan.


"Kakakmu masih koma," ucapnya.


Alice lalu mendekat ke arah jendela kaca. Dari tempatnya berdiri ia bisa dengan jelas menatap wajah sang kakak.


"Bangun, kak," ucapnya lirih.


Tiba-tiba seorang laki-laki menghampiri Emily.


"Kau siapa?" Tanyanya ketus.


"Aku Dave, aku teman Alicya," jawabnya.


Emily memandang pria itu dari ujung rambut hingga ke ujung kakinya.


"Sejak kapan kalian berteman? Setahuku putriku tak berteman dengan orang dewasa," Tanyanya.


Dave terdiam.Ia lalu mengalihkan pandangannya pada Alice.


"Dia, teman baruku, bu," jawab Alice.


"Sebaiknya kau fokus pada sekolahmu." Emily lalu menatap Dave dengan pandangan sinis.


"Kami hanya berteman," ucap Alice.


"Apa pekerjaanmu?" Tanya Emily.


Dave menunduk. Ia tak memiliki jawaban.


"Pengusaha. Ya, Dave adalah pengusaha," sahut Alice.


"Aku tak yakin," ucap Emily.


"Permisi, nyonya. Sepertinya aku harus ke kamar kecil," ucap Dave. Pria itu kemudian berlalu dari hadapan Emily.


Alicya tahu, jika Dave tak benar-benar pergi ke kamar kecil. Itu hanya alasannya untuk menghindari Emily yang sudah membuatnya merasa tak nyaman.


"Perempuan tua cerewet!" Umpatnya.


"Siapa yang kau katakan cerewet?" Tanya Alice yang tiba-tiba berdiri di belakang Dave. Pria itu ternyata menuju kantin rumah sakit.


Dave sedikit tersentak. 


"Kau mau makan?" Tanyanya. Ia berusaha tak terlihat gugup.


Alice menggeleng.


"Bagaimana keadaan kakakmu?" Tanya Dave.


"Kakakku belum sadar dari koma," jawabnya.


Tak jauh dari tempat duduknya, tampak seorang perempuan tengah menikmati sarapan. Dave memperhatikan perempuan yang berusia sekitar lima puluh tahun tersebut dari arah samping. 


"Kau mau kemana, Dave?" Tanya Alice.


"Aku harus pergi sekarang," ucapnya dengan wajah panik.


"Kau baik-baik saja? Wajahmu terlihat pucat," Tanya Alice.


"Ya. Nanti aku telepon." Dave berlalu dari kantin. Meninggalkan Alice yang keheranan.


Alice kembali ke ruang tunggu ICU. Sang ibu tampak tertidur di kursi rodanya.


"Ah, mungkin ibu terlalu lelah. Dari kemarin ia belum istirahat," gumamnya.


"Kau pulanglah, biar aku yang menjaga kakak," ucap Alice sambil menyentuh lembut pundak sang ibu.


"Aku ingin menunggu kakakmu sadar," ucapnya.


"Aku mengerti. Tapi kau juga harus menjaga kesehatanmu," ucap Alice.


Emily pun mengangguk. Alice lalu menelepon sopir dan memintanya menjemput sang ibu.


"Dimana pria tak sopan itu?" Tanya Emily.


"Namanya Dave. Dia sudah pulang," jawab Alice.


"Dia pergi begitu saja saat aku belum selesai berbicara. Ia bahkan tak pamit padaku sebelum meninggalkan tempat ini."


"Dave terburu-buru," ucap Alice.


"Aku tak suka jika kau terlalu dekat dengannya. Kau lihat saja penampilannya. Kurasa dia bukan pria baik-baik," ucap Emily.


"Kami hanya berteman," ucap Alice.


Di sela obrolan ibu dan anak tersebut, tiba-tiba seorang perempuan melintas di hadapan keduanya. Perempuan itu menghentikan langkahnya lalu duduk di sisi Alice.


"Apa kau keluarga dari pasien yang terlibat kecelakaan kemarin pagi?" Tanyanya.


"Ya, aku ibu dari pemilik mobil yang tertabrak truk," jawabnya.


"Apa kau tahu, jika sebelum mobil putramu mengalami tabrakan dengan truk itu, mobilnya terlebih dahulu menabrak seorang pejalan kaki?" Tanyanya. Emily sedikit tersentak.


"Kau mengarang cerita," bantah Emily.


"Ada beberapa saksi mata yang menyaksikan kejadian itu. Putramu mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Ia bahkan tak berhenti saat lampu merah," ungkapnya.


"Itu tak mungkin. Aku mengenal putraku. Ia bukan laki-laki yang ceroboh."


Perempuan itu menghela napas.


"Karena kecerobohan putramu, salah satu pegawai di butikku kini harus kehilangan penglihatannya," ucapnya.


"Jaga bicaramu, Nyonya!" Seru Emily.


"Semoga putramu segera sadar. Agar ia bisa segera bersaksi di depan polisi," ucap perempuan itu sambil berlalu dari hadapan Emily dan Alice.


"Apa benar yang dikatakan perempuan itu?" Tanya Alice.


Emily tak menjawab. Ia pun berharap jika apa yang baru saja diucapkan oleh perempuan itu tidak benar.


*****


"Kau sudah bangun, Helena?" Tanya Joyce saat kembali dari kantin.


"Jam berapa sekarang?" Tanya Helena.


"Jam delapan pagi," jawabnya. 


"Bagaimana keadaanmu? Kau sudah merasa lebih baik?" Tanyanya kemudian.


"Tak ada yang lebih selain penglihatanku kembali," jawab Helena. Joyce menatapnya penuh iba.


"Laki-laki yang menabrakmu masih koma," ucap Joyce.


"Dia ada di rumah sakit ini?" Tanya Helena.


"Beberapa saat yang lalu aku bertemu dengan keluarganya di depan ruang ICU," jawab Helena.


"Semoga laki-laki itu segera sadar," ucap Helena. 


"Apa telingaku tak salah dengar? Kau bahkan mendoakannya."


"Apa kau tahu, pria itu adalah pria yang beberapa minggu lalu memesan baju pertunangan di butik milik mu."


"Sungguh?" Tanya Joyce setengah tak percaya.


"Aku sempat melihat wajahnya dari kaca mobil sesaat sebelum mobilnya menabrakku," jawabnya.


"Mungkin pria itu tengah menghadapi masalah berat. Ia mengendarai mobilnya dengan sangat kencang. Hingga ia menerobos lampu merah," ungkap Helena.


"Mengapa kau peduli padanya? Karena kecerobohannya, sekarang kau kehilangan penglihatanmu," ucap Joyce.


Bersambung…


Tembus 200 👍aku up episode selanjutnya.…


❤ ❤ ❤ 


Hai kak, dukung terus karyaku ya…


Jangan lupa beri like👍, komentar💬, ✒vote, favorit💙 serta hadiah🎁.


Sekecil apapun dukungan yang kalian berikan untukku, aku akan sangat berterima kasih.


Semoga kalian terus menjadi pembaca setiaku..💕💕