ANDROMEDA

ANDROMEDA
Mimpi buruk Nadine



New York, 08.00 am


"Bagaimana kondisimu? Kau sudah merasa lebih baik?" Tanya Joe pada Nadine yang tengah menikmati sarapan di ruang perawatannya.


"Siang ini aku diperbolehkan pulang," jawab Nadine.


"Kau tak menelpon keluargamu?" Tanya Joe. Nadine menggeleng pelan.


"Aku tak ingin membuat mereka cemas," jawabnya.


"Biar aku saja yang kau buat cemas, maksudmu?" Joe terkekeh.


"Kau pikir aku mau pingsan dan dirawat di tempat yang membosankan ini," gerutu Nadine sebal.


"Kau sendiri yang menyiksa dirimu, nona." 


"Aku tak pernah menyiksa diriku. Aku tak sebodoh itu."


"Dokter bahkan mengatakan kau tak menjaga pola makanmu."


"Aku hanya sedang banyak pikiran. Selera makanku tiba-tiba hilang."


"Habiskan makananmu, lalu minum obatmu. Jangan pernah menyiksa dirimu lagi. Aku sudah kehilangan banyak waktu," ucap Joe.


"Kurasa aku tak pernah memintamu untuk menemaniku," ucap Nadine.


"Aku peduli padamu. Mana mungkin aku biarkan kau seorang diri di rumah sakit ini. Apalagi kau jauh dari keluargamu," ucap Joe. Tanpa disadari, Nadine tersenyum mendengar ucapan Joe.


Tiba-tiba seorang dokter masuk ke ruangan tersebut.


"Good morning, miss Nadine," ucapnya.


"Good morning, doctor," jawab Nadine.


Dokter berambut pirang itu lalu memeriksa Nadine. Dengan stetoskop yang melingkar di lehernya, dokter itu memeriksa detak jantung pasiennya.


"Do you still feel nauseous or dizzy?" Tanyanya. Nadine menggelengkan kepalanya.


"Good, you can go home today. Watch your diet and don't stress," ucap Dokter itu. Nadine tersenyum. Tak lama kemudian dokter itu pun meninggalkan ruangan.


"Kau dengar sendiri, dokter mengatakan kau jangan stress," ucap Joe.


Nadine tiba-tiba merenung.


"Kau kenapa?" Tanya Joe kemudian. Ia beranjak dari tempat duduknya dan mendekat ke arah Nadine.


"Aku ingin membatalkan pertunanganku," jawabnya lirih.


"Pikirkan baik-baik, ini bukan keputusan kecil. Bahkan ini berhubungan dengan masa depanmu," ucap Joe.


"Aku benar-benar tak ingin membuat kesalahan besar dalam hidupku. Jika aku telah bertunangan dan bahkan menikah dengan Gibran. Suatu hari mimpi buruk itu benar-benar terjadi," ucapnya.


"Mimpi buruk apa yang kau maksud?" Tanyanya.


"Beberapa hari yang lalu aku bermimpi jika calon tunanganku menggendong seorang anak laki-laki. Aku melihat mereka dari kejauhan. Gibran terus melambaikan tangan ke arahku. Sedangkan seorang perempuan tengah menunggu mereka di seberang jalan," jawabnya.


Joe membuang napas.


"Aku bukan seorang penafsir mimpi. Namun kurasa mimpimu hanya bunga tidur. Kau terlalu berpikiran buruk tentang kekasihmu," ungkapnya.


"Lantas, apa kau tak sungguh-sungguh dengan ucapanmu beberapa waktu lalu. Kau mengatakan aku akan kehilangan seseorang, dan sebuah rahasia besar akan terungkap. Apakah mimpiku sama sekali tak ada hubungannya dengan ramalanmu?" Tanya Nadine.


"Semoga ramalanku meleset," jawab Joe.


"Kau jangan mempermainkanku," ucap Nadine.


"Aku tak bisa mengatakan ramalanku seratus persen akurat, Hanya Tuhan yang tahu apa yang akan terjadi pada kita di kemudian hari."


Ucapan Joe terasa membungkam mulut Nadine. Perempuan itu pun diam. Terlepas dari ramalan Joe, tampaknya Nadine harus mulai menyiapkan hatinya jika suatu hari mimpi buruknya benar-benar akan terjadi.


****


Sore itu.


Nikita tengah menyiram tanaman di kebun bunga miliknya yang terletak di belakang rumah. Suara deru mobil terdengar dari arah halaman rumahnya. Perempuan itu bergegas meninggalkan kebun itu lalu melangkah menuju halaman depan.


Nikita menyambut Sean yang baru pulang dari kantor. Tiba-tiba pandangannya tertuju pada kaca mobil suaminya yang berlubang.


"Astaga! Ada apa dengan mobilmu? Apa kau…?" Nikita terlihat panik. Ia bahkan memeriksa wajah dan beberapa bagian tubuh suaminya.


"Tenang lah, Niki. Aku baik-baik saja," ucap Sean.


"Kenapa mobilmu?" Tanyanya.


"Berapa lama lagi kita akan mengobrol di sini?" Sindir Sean.


Nikita terkekeh. Ia pun lalu mengambil koper dari tangan suaminya dan menggandengnya mesra.


Nikita yang tengah menyeduh kopi untuk suaminya kaget dan hampir menjatuhkan gelasnya.


"Astaga! Kau sudah lapor polisi?" Tanya Nikita.


"Aku masih beruntung. Seorang anak laki-laki berusia tujuh tahun telah menyelamatkanku. Aku sungguh berhutang budi padanya. Jika laptop ini hilang, aku tak tahu apa yang akan terjadi pada hidup kita. Aku menyimpan puluhan bahkan ratusan data penting di dalamnya," ungkap Sean.


Nikita membuang napas. Wajahnya terlihat lega.


"Bagaimana anak sekecil itu bisa menyelamatkanmu?" Tanyanya sambil meletakkan secangkir kopi hangat di atas meja.


"Namanya Andromeda. Kurasa anak itu bukan anak biasa. Jika orang lain melihat seseorang merusak kaca mobilku, aku yakin orang itu akan meneriakinya pencuri saat itu juga. Orang-orang pun akan segera berkerumun, lalu memukulinya," ucap Sean.


"Lantas, apa yang dilakukan Andromeda?" Tanya Niki.


"Bocah itu benar-benar cerdas. Ia hanya mencatat nomor plat sepeda motor pria yang memecahkan kaca mobilku. Lalu menanyakan pemilik nomor plat tersebut pada polisi," jawab Sean.


"Polisi? Apa yang dilakukan anak itu kemudian?" Tanya Niki penuh penasaran.


"Ia mengajak polisi mendatangi rumah pemilik sepeda motor itu. Dan benar saja. Setelah dilakukan penggeledahan di rumah tersebut, polisi menemukan puluhan laptop di dalam sebuah kamar. Termasuk laptop milikku," jawabnya.


Nikita berdecak kagum.


"Apa kau menanyakan alamat rumahnya? Tampaknya kita harus mendatangi orang tuanya untuk berterima kasih. Tanpa bantuan anak itu mungkin saat ini kita tengah merasa kacau."


"Anak itu tadi mengatakan jika ia tinggal bersama ibunya di belakang toko kue Aurora."


"Aurora?" Tanya Niki. "Nama itu sepertinya tak asing di telingaku," ucapnya kemudian. 


"Mungkinkah toko kue itu yang dimaksud Fiona?" Tanya Sean.


Niki mengangkat kedua bahunya.


"Jika ada waktu luang kita cari rumah jagoan kecil itu," ucap Sean lalu menyeruput kopinya.


Tiba-tiba Fiona masuk ke dalam ruangan tersebut. Wajahnya tampak tengah begitu kesal. Ia melemparkan tubuhnya di atas sofa.


"Apa kau tak bisa mengucap salam terlebih dahulu sebelum masuk ke rumahmu?" Tanya Sean.


Fiona tak menjawab. Ia lalu berdiri dan mengambil segelas air putih di atas meja kemudian meneguknya dengan terburu-buru hingga tersedak.


"Astaga! Fiona. Kau ini!" Seru Nikita. 


Fiona duduk kembali di sofa.


"Aku baru saja memecat penjaga counter handphone ku," ucapnya.


"Apa dia membuat kesalahan?" Tanya sang ibu.


"Penjualan ponsel di tokoku menurun drastis," jawabnya.


"Sudah berapa penjaga toko yang kau pecat?" Tanya Sean.


Fiona mengangkat kedua bahunya.


"Penjualan ponsel menurun, mengapa penjaga toko itu yang kau salahkan?" Tanya Sean lagi.


"Tentu saja. Gadis itu pasti malas," jawab Fiona.


"Jika kau terus-terusan seperti ini. Toko handphone mu tak hanya akan menurun penjualannya. Tapi akan benar-benar bangkrut," ucap Sean.


"Ayah… jangan berkata begitu," rengek Fiona.


"Tak ada yang mau bekerja di tokomu jika kau tak pernah bisa menghargai mereka!" Seru Sean.


"Berapa usiamu sekarang. Kau bahkan masih kekanak-kanakan." Ucap Sean sambil berlalu dari ruang tersebut.


"Ada yang ingin kutanyakan padamu, Fio," ucap sang ibu.


Fiona memandang wajah Nikita.


"Sejauh mana hubunganmu dengan Dave?" Tanyanya.


Bersambung...


Tembus 200 👍aku up episode berikutnya…


❤ ❤ ❤ 


Hai kak, dukung terus karyaku ya…


Jangan lupa beri like👍, komentar💬, ✒vote, favorit💙 serta hadiah🎁.


Sekecil apapun dukungan yang kalian berikan untukku, aku akan sangat berterima kasih.


Semoga kalian terus menjadi pembaca setiaku..💕💕