
Siang itu Joyce mengendarai mobilnya hendak menuju butik. Ketika di tengah perjalanan, ponselnya berdering. Ia mencari ponselnya di atas dashboard, namun tak menemukannya. Ia menajamkan telinganya. Ternyata dering ponsel berasal dari bawah kursi kemudinya.
"Astaga! Kenapa ponselku ada disana?"gumamnya.
Joyce mengambil ponsel dengan tangan kirinya sementara tangan lainnya terus mengendalikan laju mobil. Joyce terus berusaha meraih ponselnya. Konsentrasinya pun kini terbagi. Setelah mendapatkan ponsel tersebut ia kembali menatap ke arah jalan. Tak disangka tiba-tiba seorang pejalan kaki melintas tepat di depan mobilnya.
Dengan sekuat tenaga Joyce menginjak rem mobilnya. Beruntung ia tak terlambat. Pejalan kaki itu pun tersentak kaget meskipun mobil Joyce sama sekali tak menyentuhnya.
"Astaga!" serunya. Jantung Joyce berdegup kencang. Ia bergegas keluar dari mobilnya dan hendak memastikan jika pejalan kaki tersebut baik-baik saja.
Joyce membuka pintu mobilnya. Tampak seorang perempuan tua berusia sekitar 70 tahun berdiri tepat di depan mobilnya.
"Nyonya baik-baik saja?" tanya Joyce dengan wajah panik.
"Aku hanya terkejut. Kau harus lebih berhati-hati menyetir, Nak," ucap perempuan tua tersebut.
"Aku minta maaf, Nyonya. Tadi aku aku kurang memperhatikan jalan," ucap Joyce.
"Tak masalah. Aku tak mengalami luka sedikit pun," ucapnya.
Joyce membuang napas. Kelegaan terpancar di wajahnya.
Joyce memandang perempuan yang memakai syal itu.
"Nyonya dari mana?" tanya Joyce sambil memandang ke arah kantong yang berada di tangan perempuan tua tersebut.
"Aku baru saja membeli benang wol di toko perlengkapan menjahit itu," jawabnya sambil menunjuk sebuah toko yang terletak di seberang jalan.
"Nyonya suka merajut?" tanya Joyce.
"Semua pakaian yang kupakai adalah hasil rajutanku," ucapnya.
"Nyonya sekarang mau pulang? Biar aku yang mengantarmu," ucap Joyce.
"Tak perlu. Rumahku tak jauh dari tempat ini. Aku lebih suka berjalan kaki," ucapnya.
"Tak apa, Nyonya. Anggap saja ini sebagai permintaan maafku karena hampir menabrakmu," ucap Joyce.
"Baiklah, jika kau memaksa," ucapnya.
Keduanya pun kemudian masuk ke dalam mobil.
"Kita belum berkenalan. Siapa nama Nyonya?" tanya Joyce.
"Namaku Felicia. Panggil saja Felice," jawabnya.
Joyce kemudian melajukan mobilnya menuju rumah Felice.
Sesampainya di rumah besar tersebut, Felice pun mengajak tamunya masuk ke dalam rumah.
Joyce memandang seisi ruang tamu. Namun ia tak menemukan satupun foto yang terpajang di dinding seperti ruang tamu pada umumnya.
"Nyonya tinggal seorang diri?" tanya Joyce.
"Tentu tidak, mana mungkin aku bisa tinggal sendirian di rumah sebesar ini," Felice terkekeh.
"Kau duduklah, aku ke dalam sebentar," ucap Felice sambil berlalu dari hadapan Joyce. Ia kemudian berjalan ke arah dapur. Tampak Mira, asisten rumah tangganya tengah sibuk memasak.
"Di luar ada tamu. Buatkan minuman untuknya," ucap Felice pada Mira.
"Baik, Nyonya," ucapnya.
Tak lama berselang Mira berjalan ke arah ruang tamu dengan membawa nampan berisi secangkir teh hangat beserta setoples kue kering.
Joyce tengah memainkan ponselnya hingga tak menyadari kedatangan Mira.
"Silahkan, Nyonya," ucapnya sambil menaruh cangkir beserta toples berisi camilan di atas meja.
"Terima kasih, Bi," ucapnya. Joyce mengalihkan pandangan dari ponselnya ke arah Mira. Ia tersentak. Perempuan itu tak asing di matanya.
"Kau…?" ucap Joyce.
"Nyonya...Nyonya Joyce…?" ucap Mira tak kalah kaget.
"Apa yang kau lakukan di rumah ini?" tanya Joyce.
"Aku...aku bekerja di rumah ini," jawabnya dengan kepala menunduk.
Joyce memandang wajah Mira. Wajah yang begitu ia kenal. Meskipun puluhan tahun tak bertemu dengannya, namun ia tak mungkin melupakan Mira, pengasuh bayinya, Celine yang kemudian merebut suaminya dan menghancurkan pernikahannya.
"Bagaimana kabarmu, Mira?" tanya Joyce ketus.
Mira tak menjawab. Kepalanya masih menunduk.
"Dimana keluargamu?" tanyanya lagi.
"Apa maksud ucapanmu? Bukankah kau bahagia hidup dengan mantan suamiku? Lalu, dimana anak hasil hubungan gelap kalian?" tanyanya sinis meskipun ada rasa perih yang tiba-tiba mengiris hatinya.
Tiba-tiba Mira berlutut di lantai.
"Aku menyesal telah mengkhianati kebaikanmu, Nyonya," ucap Mira. Air matanya mulai menetes.
"Mengapa baru sekarang kau meminta maaf?"
"Aku kehilangan semuanya. Tuan Roy, bahkan anak yang kukandung." Mira mulai terisak.
Joyce menautkan alisnya.
"Setelah meninggalkan rumahmu kami menikah. Namun pernikahan kami sama sekali tak bahagia. Bahkan Tuan Roy meninggalkanku begitu saja di saat mendekati hari persalinan."
Joyce tersentak. Tiba-tiba ia merasa iba pada Mira.
"Lalu, dimana anakmu sekarang?" tanya Joyce.
"Aku melahirkan putraku dalam keadaan sudah tak bernyawa," jawabnya.
Joyce kembali memandang wajah Mira. Dendam dan kebencian yang selama ini tersimpan di hatinya seketika mencair.
"Aku minta maaf, Nyonya. Kini aku sadar. Segala sesuatu yang didapatkan dengan cara tak semestinya, tak akan bertahan lama. Aku kehilangan semuanya. Aku tak memiliki siapapun sekarang. Tuhan benar-benar telah menghukumku akibat dosaku sendiri," ucapnya dengan mata sembab.
Mira meraih kaki Joyce kemudian mendekapnya. Perempuan itu kembali menangis.
"Maafkan aku, Nyonya."
"Sudahlah. Lupakan semua itu. Aku sudah melupakannya," ucap Joyce sambil mengangkat pundak Mira.
"Apakah Nyonya mau memaafkanku?" tanya Mira. Joyce mengangguk kemudian tersenyum.
Keduanya tak menyadari jika sepasang mata menyaksikan adegan tersebut dengan berurai air mata.
Joyce seorang perempuan. Ia pernah disakiti sesama perempuan di masa lalunya dan membuat goresan luka yang teramat dalam. Namun ia memaafkan Mira.
Helena pun pernah membuat hidup Hans begitu hancur. Namun ia juga masih mau memberi kesempatan kedua bagi istrinya. Tiba-tiba Felice merasa sudah berbuat tak adil pada Helena.
Setiap orang pernah berbuat salah dan ia berhak mendapatkan kesempatan kedua. Jika Hans yang pernah begitu terluka karena Helena masih mau memaafkannya, mengapa Felice selalu berpikiran buruk tentang menantunya?
"Nyonya Felice," ucap Joyce kaget saat mendapati Felice tengah berdiri tak jauh darinya.
Felice menyeka air matanya.
"Aku sudah mendengar semuanya. Hatimu luar biasa, Nak," ucap Felice sambil tersenyum.
"Setiap orang pernah berbuat kesalahan. Jika ia telah menyadari kesalahannya, ia berhak mendapatkan kesempatan ke dua," ujarnya.
"Kau benar, aku baru saja mendapatkan pelajaran berharga darimu," ucap Felice dengan wajah haru.
Tiba-tiba terdengar suara benda jatuh dari kamar Helena. Mira pun bergegas mendatangi kamar tersebut. Ia terkejut mendapati pecahan beling tercecer di lantai. Rupanya Helena baru saja menjatuhkan gelas.
"Nyonya, kau baik-baik saja?" tanya Mira dengan wajah khawatir.
"Aku baik-baik saja, Mira. Aku merasa haus. Aku mencoba mengambil gelasku. Tapi tak sengaja justru menjatuhkannya," ucap Helena.
"Mengapa Nyonya tak memanggilku?"
"Aku sedari tadi memanggilmu. Tapi kau tak mendengarku," ucapnya.
"Maaf, Nyonya. Aku sedang menemui tamu," jawabnya.
"Tamu?" tanyanya.
"Dia adalah Nyonya Joyce. Perempuan yang pernah kusakiti," ucap Mira.
"Nyonya Joyce? Kau bisa mengantarku ke ruang tamu?" tanya Helena.
Bersambung….
Tembus 500 👍aku up episode selanjutnya.…
❤ ❤ ❤
Hai kak, dukung terus karyaku ya…
Jangan lupa beri like👍, komentar💬, ✒vote, favorit💙 serta hadiah🎁.
Sekecil apapun dukungan yang kalian berikan untukku, aku akan sangat berterima kasih.
Semoga kalian terus menjadi pembaca setiaku..💕💕