ANDROMEDA

ANDROMEDA
Keras kepala



Sean masuk ke dalam ruang perawatan Fiona. Namun ia kaget mendapati Fiona berdiri di balik pintu.


"Fiona, apa yang kau lakukan di sini? Kau seharusnya beristirahat," ucap Sean. Fiona terdiam.


"Apakah tadi kau menguping pembicaraan kami?" tanya Sean.


"Jadi benar dugaanku selama ini jika Andromeda adalah anak haram. Dia terlahir di luar pernikahan. Dan itu semua terjadi karena ibunya mabuk!" seru Fiona.


"Kau tak berhak menghakimi Aurora. Dia bukan satu-satunya orang yang bersalah dalam masalah ini," ucap Sean.


"Jika Aurora tak pergi ke bar malam itu, dia tak akan mengalami nasib seburuk itu."


"Sudahlah. Kau jangan terus menyalahkan Aurora. Jika disuruh memilih, tak ada seorang pun yang mau berada di posisinya."


"Terus saja Ayah membela keponakan ayah yang tercinta itu!" 


"Ayah tak membela siapapun. Masalah yang dihadapi Aurora sudah begitu berat. Tak sepantasnya kau sebagai saudaranya justru menghakiminya. Kau seharusnya memberinya dukungan."


"Aku tak sudi memiliki saudara sepertinya!" serunya.


"Kau memang keras kepala, Fio. Lihat usiamu sekarang. Kau tak muda lagi. Seharusnya kau memperbaiki sifatmu kecuali kau ingin menjadi perawan tua," ucap Sean dengan raut wajah kesal.


Tiba-tiba pintu terbuka. Nikita dan Sofia sudah kembali dari kantin.


"Ada apa ini? Mengapa wajahmu terlihat begitu kesal?" tanya Nikita.


"Aku hanya ingin Fiona berubah menjadi pribadi yang lebih baik," ucap Sean sambil berlalu dari ruangan tersebut.


"Kenapa dengan ayahmu, Fio?" tanya Nikita.


"Tadi aku mendengar obrolan ayah dan Aurora. Ternyata benar, Aurora memiliki anak di luar pernikahan. Bukankah itu berarti dia bukan perempuan baik-baik? Dan anak yang dilahirkannya adalah anak haram?" 


"Fiona! Sampai kapan kau akan terus beranggapan buruk kepada Aurora? Dan Andromeda adalah anak tak berdosa. Tak ada seorang pun anak di dunia ini yang terlahir haram. Mungkin itu sudah menjadi takdir Aurora. Kau tak pantas menghakiminya."


"Ayah dan Ibu sama saja. Selalu membela Aurora," gerutu Fiona.


"Ibu tak membela siapapun, ibu hanya menasehatimu. Jangan mudah menghakimi orang lain. Kau sendiri pasti tak suka jika orang lain menghakimimu, 'kan?" tanya sang ibu.


Seseorang mengetuk pintu. Sofia bergegas mendekati pintu kemudian membukanya. Tampak seorang laki-laki berdiri di depan pintu. Ia tampak menenteng keranjang berisi buah-buahan. Sofia tak mengenali laki-laki tersebut.


"Apakah Fiona dirawat di ruangan ini?" tanyanya.


"Ya. Apa kau kawan kakakku?" tanya Sofia. Laki-laki itu mengangguk.


Sofia lalu mempersilahkan laki-laki itu masuk.


"Selamat siang, Nyonya," ucapnya sambil memandang ke arah Nikita.


"Kenalkan, namaku Dave. Aku adalah kawan putrimu, Fiona," ucapnya sambil mengulurkan tangan ke arah Nikita.


Nikita tak bergeming. Ia enggan menjabat tangan laki-laki tersebut.


"Ibu keluar sebentar," ucap Nikita sambil melangkah keluar dari ruangan tersebut.


Sofia yang merasa tak nyaman dengan keberadaan laki-laki itu pun memilih mengikuti sang ibu keluar.


"Bagaimana kabarmu, gadisku?" tanyanya sambil meletakkan keranjang berisi buah yang dibawanya di atas meja.


"Kau lihat sendiri, 'kan? Kabarku sedang tidak baik. Sudah berhari-hari wajahku seperti mumi," gerutunya.


"Ah, tenanglah. Nanti jika lukamu sudah mengering, dokter akan membuka perban di wajahmu."


"Bagaimana kau tahu jika aku berada di rumah sakit ini?" tanya Fiona.


"Mudah saja bagiku, untuk tahu hal itu," jawab Dave.


"Ngomong-ngomong gadis berkaca mata yang membuka pintu itu adalah adikmu? Dia manis juga." Dave terkekeh.


"Meskipun adikmu terlihat polos, namun aku justru menyukai gadis yang polos."


Fiona Tiba-tiba melemparkan sebuah bantal ke arah Dave. "Dasar buaya!" serunya.


Dave melamun. Sofia polos, sepolos Alicya. Gadis yang nyaris ia renggut kegadisannya. Namun malam itu sial baginya, Keenan datang dan merusak rencananya.


"Kau pasti sedang berpikir yang tidak-tidak tentang Sofia!" seru Fiona. Dave sedikit tersentak.


"Jadi nama gadis itu Sofia?" tanyanya.


"Kau jangan macam-macam dengan adikku!" seru Fiona. Meskipun Fiona selalu kasar pada Sofia, namun masih ada sedikit rasa kasih sayang di hati Fiona untuk adik semata wayangnya tersebut. 


****


Di rumah Hans.


Siang itu Helena hanya berdua dengan Felice di dalam rumah. Mira, sang asisten rumah tangga sedang berbelanja di pasar.


Felice baru bangun dari tidur siangnya. Perempuan itu merasa haus. Kondisinya kini menyulitkannya untuk memanggil Mira untuk meminta bantuan.


Felice memandang segelas air putih yang berada di atas meja di sisi ranjangnya. Ia berusaha sekuat tenaga untuk meraih gelas tersebut. Sedikit demi sedikit Felice menggeser tubuhnya mendekat ke arah meja, usahanya pun tak sia-sia. Tubuhnya berhasil mendekati meja dan sedikit lagi tangannya berhasil meraih gelas berisi air minum untuk membasahi tenggorokannya yang terasa kering.


Tangannya telah berhasil menyentuh bibir gelas, namun tenaganya tak cukup kuat untuk menggenggam badan gelas.  Felice baru menyadari jika tubuhnya sudah berada di tepi ranjang. Beberapa detik kemudian tubuh yang sudah cukup renta itu pun jatuh ke lantai bersamaan dengan gelas tersebut. Felice pun seketika pingsan.


Dari dalam kamarnya, Helena mendengar suara benda jatuh dari kamar ibu mertuanya. Tiba-tiba ia merasa cemas. Helena bergegas mendatangi asal suara tersebut. Helena mengambil tongkatnya yang belakangan ini menjadi penunjuk langkahnya.


Perlahan ia meraba lantai dengan tongkatnya menuju kamar ibu mertuanya yang tak jauh dari kamarnya. Helena mengetuk pintu kamar Felice sambil memanggil nama ibu mertuanya tersebut. Berulang kali ia memanggilnya, namun tak ada jawaban dari dalam kamar. Helena makin panik. Ia pun lalu memutar gagang pintu dan mendorongnya.


"Ibu, Ibu baik-baik saja?" tanyanya dengan wajah panik namun tetap tak ada jawaban. Helena meraba lantai hendak menuju ke arah ranjang, namun tiba-tiba tongkatnya menyentuh sesuatu, dan itu adalah tubuh Felice yang beberapa saat lalu terjatuh dari ranjang.


Helena sontak melemparkan tongkatnya.


"Astaga! Ibu! Apa yang terjadi padamu?" Helena mencoba mengangkat tubuh Felice namun tenaganya tak cukup kuat.


Ia pun berteriak meminta tolong, berharap ada seseorang yang mendengar teriakannya.


Saat itu Mira kebetulan pulang dari pasar. Ia mendengar teriakan Helena dari arah halaman rumah. Mira pun bergegas masuk ke dalam rumah dan langsung menuju kamar majikannya.


Mira kaget bukan main saat mendapati Helena berada di kamar Felice. Ia terlihat duduk di lantai sambil memangku tubuh ibu mertuanya. Wajahnya berurai air mata.


"Astaga! Nyonya! Apa yang terjadi!" pekiknya.


"Ibu...Ibu jatuh dari ranjang." Helena terisak.


Mira mengguncang tubuh Felicia namun perempuan tua itu tak bergeming. Ia pun bergegas menuju ruang tamu dan menghubungi rumah sakit. Tak selang berapa lama sebuah mobil ambulance pun tiba di rumah Hans.


Tampak dua orang petugas rumah sakit keluar dari mobil ambulance dan bergegas masuk ke dalam rumah Hans.


Keduanya langsung mengangkat tubuh Felice kemudian memasukkannya ke dalam mobil Ambulance.


Bersambung…


Tembus 500 👍aku up episode selanjutnya.…


❤ ❤ ❤ 


Hai kak, dukung terus karyaku ya…


Jangan lupa beri like👍, komentar💬, ✒vote, favorit💙 serta hadiah🎁.


Sekecil apapun dukungan yang kalian berikan untukku, aku akan sangat berterima kasih.


Semoga kalian terus menjadi pembaca setiaku..💕💕