
Bab 22
Sore itu Keenan baru saja pulang dari kantornya. Tiba-tiba ia merasakan ban mobilnya menginjak sesuatu. Pria itu lalu menepikan mobilnya dan memeriksa ban mobilnya. Benar saja, sebuah paku berukuran cukup besar tertancap di ban belakang mobilnya.
"Sial!" Umpatnya.
Keenan mengarahkan pandangannya di sekitar jalan. Pria itu beruntung. Tampak sebuah bengkel terletak tak jauh dari tempatnya berdiri. Ia pun lalu bergegas menaiki kembali mobilnya dan mendekat ke arah bengkel tersebut.
"Permisi," ucapnya pada seorang pria paruh baya yang tengah menambal ban.
"Ada yang bisa saya bantu, tuan?" Tanyanya.
"Ban mobil belakangku baru saja bocor. Sepertinya menginjak paku."
"Baiklah, setelah selesai menambal ban ini, aku akan segera memeriksa ban mobilmu."
Keenan lalu duduk di sebuah bangku yang ada di bengkel tersebut. Tiba-tiba ia merasa haus.
"Aku ke toko itu sebentar untuk membeli minum," Ucapnya pada pria pemilik bengkel. Pria itu pun menganggukkan kepalanya.
Keenan lalu berjalan ke arah toko yang terletak di seberang jalan tersebut. Ia berniat membeli minuman dingin untuk menyegarkan tenggorokannnya.
Seorang penjaga toko menyambutnya dengan ramah. Keenan pun berjalan menyusuri rak-rak berisi berbagai macam makanan kecil. Pandangannya tertuju pada sebuah lemari pendingin yang terletak di sudut ruangan.
Pria itu lalu mengambil sebotol minuman dingin dari lemari pendingin tersebut.
Saat ia hendak membayar minumannya di meja kasir, seseorang masuk ke dalam toko. Wajah pembeli itu tak asing baginya.
"Andro," sapanya.
"Mister tampan!" Seru Andro dengan wajah berseri.
"Sepertinya sudah lama sekali kita tak bertemu. Apa kabarmu, anak tampan?" Tanya Keenan.
"Aku baik-baik saja," jawab Andro sambil tersenyum.
"Kau ingin membeli sesuatu di toko ini?"
"Mommy memintaku membelikan shampoo dan pasta gigi untuknya. Kurasa kedua barang itu terlupa untuk dibelinya tadi pagi. Kau sendiri?"
"Aku hanya mampir untuk membeli sebotol minuman ini."
"Aku tak melihat mobilmu di depan toko ini," ucap Andro.
"Ban mobilku bocor. Aku menambalkannya di bengkel tak jauh dari toko ini." Ucapnya.
"Bagaimana kabar ibumu?" Tanyanya kemudian.
"Ia baik-baik saja," jawab Andro.
"Sudah lama kita tak bertemu. Apa kau mau jika kuajak berjalan-jalan?" Tanya Keenan.
Andro ingin sekali menganggukkan kepalanya dan mengikuti ajakan Keenan. Namun anak itu tiba-tiba teringat pesan sang ibu yang melarangnya untuk terlalu dekat dengan pria tersebut.
"Sorry, I can't go with you," ucapnya dengan suara berat.
"Selama ini kau tak pernah menolak ajakanku. Mengapa kali ini kau menolaknya?"
"Aku belum meminta izin pada mommy."
"Aku hanya perlu mengirim pesan pada ponsel ibumu 'kan?"
"Mommy mengatakan padaku, aku diizinkan bertemu denganmu namun hanya di rumahku. Atau tidak sama sekali."
"Ibumu sudah lama mengenalku, dan kita sering bertemu. Mengapa kini ia membatasi pertemuan kita?"
"Entahlah. Aku hanya ingin menjadi anak yang penurut. Kuharap kau paham."
"Baiklah, aku ke rumahmu sekarang."
"Sungguh?" Tanya Andro dengan wajah senang.
"Biar aku yang membayar belanjamu," Ucap Keenan. Pria itu lalu mengeluarkan dompet dari dalam saku celanannya.
"Tak perlu," ucap Andro.
"Kau tak perlu sungkan padaku," ucap Keenan. Pria itu mengambil selembar uang dari dalam dompetnya dan menyerahkannya pada kasir toko.
"Thank's, mister tampan," ucap Andro. Keenan mengacak rambut Andro.
Keduanya lalu berjalan keluar meninggalkan toko.
"Apakah kau sudah selesai menambal ban mobilku?" Tanya Keenan pada pria pemilik bengkel.
Keenan mengambil selembar uang dari dalam dompetnya dan menyerahkannya pada pria tersebut.
"Uangmu terlalu besar. Aku tak memiliki cukup kembalian."
"Oh, ambil saja kembaliannya," ucap Keenan.
"Sungguh?" Tanya pemilik bengkel.
Keenan menganggukkan kepalanya lalu tersenyum.
*****
Aurora tengah membersihkan teras rumahnya. Saat Keenan tiba-tiba menyapanya.
"Selamat sore, nyonya Aurora," sapanya.
Aurora sedikit kaget.
"Kau?" Tanya Aurora. Ia heran melihat Andro pulang bersama seorang pria yang sangat dikenalnya.
"Tadi kami tak sengaja bertemu di toko. Aku mengajaknya berjalan-jalan namun ia menolaknya. Dia mengatakan jika kau melarangnya menemuiku selain di dalam rumah ini."
"Andro tak berbohong padamu, aku memang melarangnya untuk terlalu dekat denganmu."
Keenan mengernyitkan keningnya.
"Andro, mandilah, hari sudah sore," ucapnya. Andro pun menurut. Anak laki-laki itu pun berjalan ke dalam rumahnya.
"Apa aku punya salah padamu, hingga kau melarang Andro terlalu dekat denganku?"
"Kau tak perlu tahu alasannya. Aku ibu kandungnya. Aku berhak menentukan dengan siapa anakku berteman."
"Tapi ini tak adil bagiku. Aku menyayangi Andro. Aku tak pernah menyakitinya. Mengapa kau melarang kami untuk dekat?"
"Kau curang." Ucap Aurora tiba-tiba. Keenan sedikit kaget.
"Curang? Apa maksudmu?"
"Apa yang sedang kau rencanakan di belakangku?" Tanya Aurora. Matanya menatap tajam mata pria yang pernah mengisi hatinya itu.
"Aku benar-benar tak paham maksud perkataanmu."
"Kau pikir aku tak tahu, kau berencana melakukan tes DNA pada Andro?" Tanyanya.
Keenan tersentak. Pria itu hampir tak percaya jika Aurora mengetahui perihal tes DNA yang akan dilakukannya.
"Aku hanya ingin kau mendapatkan keadilan," ucapnya.
"Aku sudah bahagia dengan hidupku sekarang. Kurasa kau tak perlu melakukan tindakan yang sia-sia. Biarlah aku sendiri yang menanggung dosa masa laluku."
"Andro berhak tahu siapa ayah kandungnya. Mungkin ia hanya diam. Tapi aku yakin, di dalam hatinya ia sungguh ingin tahu dan mengenal siapa ayah kandungnya. Sampai kapan kau akan menyembunyikan identitas ayah kandungnya? Jika kau ada di posisinya sekarang, apa kau akan diam saja jika ibumu merahasiakan siapa ayahmu?" Tanya Keenan.
"Andai saja kau tahu apa yang kurasakan. Kau pikir aku baik-baik saja? Kau pikir saat aku memutuskan hubungan denganmu delapan tahun lalu, aku tak terluka? Aku merasa hancur, Keenan! Di saat semua orang menjauhiku, dan di saat bersamaan perusahaan yang susah payah ku pertahankan. Kini hanya tinggal nama. Ibuku satu-satunya yang kumiliki pun turut pergi meninggalkanku. Aku hampir gila saat itu. Tak ada seorang pun yang mendampingiku melewati masa-masa berat itu. Bahkan aku harus mendengar cibiran-cibiran yang begitu menyakitkanku." Ucap Aurora dengan mata basah.
"Andai saja saat itu kau tak menjauhiku, mungkin ceritanya akan berbeda." Ucap Keenan.
"Aku masih punya malu. Saat itu aku tengah mengandung anak dari pria yang bahkan tak kukenal. Jika waktu itu kita bertunangan lalu menikah. Aku hanya akan menyakitimu, Keenan. Kau akan menganggap anak yang kukandung saat itu adalah anak kandungmu. Itu tak adil bagimu."
Keenan membuang napas.
"Apa benar Andromeda adalah anak kandung Gibran?" Tanyanya.
Aurora terdiam beberapa saat.
"Sebesar itukah rasa ingin tahumu?" Tanya Aurora.
"Kau hanya perlu menjawab ya atau bukan." Ucap Keenan.
"Aku punya hak untuk tak menjawab setiap pertanyaanmu, bukan?" Tanya Aurora.
"Aku akan menjawab sendiri rasa penasaranku," ucap Keenan. Pria itu berlalu dari hadapan Aurora.
Dari balik pintu, seorang bocah laki-laki berusia tujuh tahun mengusap air matanya.
"Andro? Kau menangis?" Tanya sang ibu. Perempuan itu pun merengkuh Andro ke dalam pelukannya. Aurora pun menangis.
To be continue...