
Pagi itu Aurora yang nyaris tak pernah bersolek itu terlihat lain dari biasanya.
"Kenapa kau menatap ibu begitu, Sayang?" tanyanya pada putra semata wayangnya, Andromeda.
"Hari ini begitu cantik. Aku nyaris tidak mengenali Ibu," ujar bocah berusia tujuh tahun itu.
Tidak berselang terdengar suara klakson dari arah halaman rumah. Andro pun bergegas menuju teras rumahnya. Rupanya Sean dan keluarganya datang untuk menjemput Aurora menuju gedung pernikahan.
"Apa ibumu sudah siap, Nak?" tanya Sean.
"Ibu sudah merias diri selama lebih dari dua jam. Tapi belum selesai."
"Astaga. Kau jangan mengada-ada. Ibu hanya menggunakan bedak tipis dan lipstik saja," gerutu Aurora sebal namun justru membuat Sean dan keluarganya terkekeh.
"Riasanmu terlalu biasa untuk hari bahagiamu," ucap Fiona.
"T-t-tapi aku tidak memiliki peralatan makeup selain bedak padat dan lipstik," ucap Aurora.
"Kau pikir aku bicara begitu tanpa alasan? Aku sudah menyiapkan semuanya."
Fiona mengeluarkan sebuah kotak berisi peralatan makeup dari balik badannya.
"Aku akan membuat Keenan terpana karena riasan tanganku." Fiona menggandeng tangan saudara sepupunya itu lantas mengajaknya masuk ke dalam kamarnya.
Lima belas menit kemudian keduanya terlihat keluar dari dalam kamar itu. Benar saja, Fiona telah membuat penampilan Aurora jauh lebih menawan dari sebelumnya.
"Kita berangkat sekarang. Jangan biarkan calon suamimu menunggumu terlalu lama," ucap sang bibi, Nikita.
Andro pun lantas menggandeng tangan Aurora dan mengajaknya masuk ke dalam mobil Sean.
Setibanya di gedung pernikahan.
Di depan pintu masuk gedung pernikahan itu tampak Keenan berdiri di samping Gibran, Alicia, Emily dan beberapa kawan dekatnya.
Keenan nyaris tak berkedip menatap wajah Aurora hingga tak menyadari jika calon istrinya itu telah berdiri tepat di hadapannya.
"Sampai kapan kau akan terus menatap wajah keponakanku?" sindir Sean yang sontak membuat Keenan tersentak kaget.
"Apa kita bisa mulai sekarang?" tanya seorang pria bermata teduh itu.
"I-i-iya."
Aurora menggandeng lengan Keenan. Keduanya lantas masuk ke dalam gedung itu untuk pengucapan janji suci pernikahan.
***
"Apa aku boleh memanggil Mister tampan dengan sebutan ayah?" tanya Andromeda pada Keenan yang baru saja resmi menjadi suami ibunya itu.
Keenan tersenyum.
"Tentu saja. Kau boleh memanggilku ayah," ucapnya.
"Jadi aku punya dua ayah 'bukan? Mister tampan dan Mister Handsome?" tanya Andro lagi. Aurora menganggukkan kepalanya.
Tiba-tiba seorang pria menghampiri mereka. "Saatnya berfoto," ucapnya.
Mereka pun lantas naik ke atas panggung. Mereka membuat fotmasi sesuai arahan fotografer itu. Andromeda berdiri di antara kedua mempelai sementara Gibran dan berdiri di samping Aurora. Setelah acara pengambilan foto selesai, mereka pun lantas membubarkan diri dan turun dari panggung. Entah bagaimana hak sepatu Fiona tersangkut di ekor gaun yang dikenakan Aurora. Alhasil dia pun nyaris jatuh terjungkal. Beruntung Gibran dengan sigap menopang tubuhnya hingga membuat Fiona tidak terjatuh. Di saat itulah untuk pertama kali netra keduanya bersitatap.
"Siapa pria ini? Apa dia kawan Aurora?" gumamnya.
"Kau baik-baik saja, Nona?" tanya Gibran.
"Ehm…ya. Aku baik-baik saja. Terima kasih sudah membantuku," ucap Fiona.
Gibran menganggukkan kepalanya, ia lantas tersenyum.
"Apa kau kawan Aurora?" tanya Fiona.
"Bisa dibilang aku dan Aurora tidak memiliki hubungan. Namun, aku memiliki hubungan darah dengan Andromeda," ujar Gibran.
"Aku adalah ayah kandung Andromeda. Sebuah kejadian membuat Aurora mengandung Andromeda meskipun kami tidak memiliki hubungan apapun," jelas Gibran. Fiona mengangguk paham.
"Kau sendiri? Apa kau adalah saudara Aurora?" tanya Gibran penasaran.
"Ya. Ayahku dan ayah Aurora kakak beradik."
"Kita belum saling kenal. Namaku Gibran."
"Namaku Fiona."
"Kakak!" seru Sofia dari kejauhan sembari melambaikan tangan ke arahnya. Rupanya dia mengajak Fiona makan.
"Mari kita kesana," ucap Fiona. Keduanya pun lantas turun dari panggung lalu menuju meja yang menyediakan makanan serta minuman bagi para tamu undangan.
"Apakah setelah Ibu menikah, kita akan tinggal bersama ayah Keenan?" tanya Andromeda.
"Ya, Sayang. Mulai hari ini kau dan ibumu akan tinggal bersamaku di apartemen," ucap Keenan. Bocah laki-laki itu mengangguk paham.
*****
Setelah acara pernikahan usai, Aurora dan Andromeda pun mulai menempati apartemen Keenan.
"Ayah, Ibu. Aku ingin berkeliling apartemen dulu. Siapa tahu aku memiliki kawan baru," ucap Andromeda.
Sepasang pengantin baru itu menganggukkan kepalanya. Keduanya lantas masuk ke dalam apartemen.
"Apa kau masih ingat kejadian delapan tahun lalu di apartemen ini?" tanya Aurora.
"Tentu saja aku masih ingat. Kau salah paham padaku hingga akhirnya kau pergi ke sebuah bar dan bertemu dengan kak Gibran."
Tiba-tiba Keenan menatap lekat wajah perempuan yang kini sudah menjadi istrinya itu.
"Setelah apa yang kita lalui, Tuhan kembali mempertemukan kita dalam ikatan suci pernikahan," ucapnya.
"Sepertinya kita memang berjodoh," ujar Aurora.
"Ehm, berapa usia Andromeda sekarang?" tanya Keenan.
"Hampir delapan tahun. Memangnya kenapa?"
"Bukankah di usia itu sudah cukup pantas untuk memiliki adik?" ucap Keenan yang sontak membuat Aurora tersipu.
"Kau pasti paham dengan maksud ucapanku." Tiba-tiba Keenan membopong tubuh Aurora lalu membawanya masuk ke dalam kamar. Dia lantas membaringkan tubuh Aurora di atas ranjang.
Netra keduanya saling bersitatap sebelum Keenan mulai mendaratkan sebuah kecupan lembut di bibir Aurora. Dari bagian bibir, Keenan sedikit bergeser di leher jenjang Aurora hingga berhenti sejenak di atas gundukan itu.
"Apa aku melakukannya sekarang?" tanya Keenan. Meskipun sedikit tersipu, Aurora menganggukkan kepalanya.
Keenan pun lantas menyingkap gaun pengantin itu hingga memperlihatkan setiap lekuk tubuh indah Aurora.
Jemari Keenan pun mulai menjelajahi setiap bagian tubuh Aurora tanpa terkecuali hingga akhirnya tangan itu berhenti di bagian inti itu. Di saat bersamaan bagian intinya menghangat. Dengan hati-hati jemari Keenan menanggalkan kain tipis yang menutupi bagian itu. Aurora memejamkan matanya saat Keenan mulai melebarkan kedua pahanya dan bersiap melancarkan serangan pamungkasnya di lubang sempit itu.
Perlahan tapi pasti bagian tubuh yang telah mengeras itu mulai memasuki lubang kenikmatan itu. Dia menarik lalu mendorongnya berulang hingga akhirnya sebuah lenguhan meluncur dari mulut keduanya.
Tiba-tiba pintu depan berderit yang menandakan Andromeda telah kembali.
Keenan lekas mencabut pusakanya yang telah basah itu lalu mengenakan kembali pakaiannya.
"Ibu…ayah… kalian di mana?" tanya Andromeda dari balik kamar itu yang sontak membuat pasangan pengantin baru itu kebingungan.
Bersambung……..
Halo, reader tersayang,
Setelah sekian lama mangkrak, Andromeda kembali update nih…tetap ikuti ya…jangan lupa kasih like dan komentar yang positif…serta hadiah ya.
Sekecil apapun dukungan kalian sangat berarti bagi Author 🥰🥰