
Sore itu Andromeda baru pulang dari belajar di taman bersama Florencia serta kawan-kawan sekolahnya.
Ia mengayuh sepedanya dengan riang. Tiba-tiba pandangannya tertuju pada sebuah mobil yang berhenti tak jauh dari taman tersebut. Bukan mobil yang menjadi perhatiaanya. Namun seorang pria yang gerakannya terlihat mencurigakan.
Ia terus mondar-mandir di sisi mobil. Sesekali pria tersebut mengintip isi mobil melalui kaca. Andro terus mengamati gerak-gerik pria itu tanpa turun dari sepedanya.
Sejenak kemudian pria tersebut mengambil sesuatu yang disembunyikan di dalam bajunya. Pria itu kemudian memukul salah satu kaca samping mobil tersebut. Dengan mudah pria itu dapat mengambil benda yang ada di dalamnya.
Ia kemudian memasukkan benda berbentuk persegi itu ke dalam bajunya. Pria itu berjalan melenggang seperti tak melakukan apapun sebelumnya. Andro terus mengamati pria tersebut. Ternyata salah satu temannya telah menunggunya di atas sepeda motor. Dengan santai keduanya meninggalkan mobil tersebut.
Kedua pria itu melintas tepat di depan Andro. Bocah itu dapat dengan jelas membaca empat nomor yang tertera di plat motor tersebut.
Ia pun bergegas mengayuh sepedanya menuju sebuah kantor polisi yang terletak tak jauh dari taman.
"Good evening, mister," sapanya pada seorang polisi yang pernah dijumpainya beberapa bulan lalu saat toko milik sang ibu mengalami perampokan.
"Eh, kau ternyata. Apa kabarmu, anak pemberani?" Tanyanya.
"Aku baik-baik saja, mister. Boleh aku meminta selembar kertas padamu?" Tanya Andro.
"Kau jauh-jauh datang kesini hanya untuk meminta selembar kertas?" Polisi itu terkekeh. Ia lalu mengambil selembar kertas dan pulpen untuknya.
Andro lalu menulis sebuah rangkaian huruf dan angka B 55xx DC.
"Nomor plat siapa itu?" Tanya polisi itu sedikit heran.
"Coba saja kau periksa pemiliknya," jawab Andro.
Polisi itu dengan sigap memasukkan nomor plat tersebut ke dalam data komputer.
"Apa sudah muncul nama pemiliknya?" Tanya Andro.
"Ya. Nama pemilik plat tersebut adalah Thomas. Alamatnya tak jauh dari tempat ini," jawab polisi tersebut.
"Kita ke rumahnya sekarang,"ucap Andro.
"Untuk apa kita ke rumahnya? Aku bahkan tak mengenalnya," Tanya polisi.
"Nanti kau akan tahu," jawab Andro sambil tersenyum.
"Baiklah. Tinggalkan sepedamu di sini. Aku akan mengajak salah satu anak buahku ikut bersama kita," ucapnya.
Pimpinan polisi itu lalu beranjak dari tempat duduknya.
"Kita berangkat sekarang!" Serunya.
Andro dan dua orang polisi lalu masuk ke dalam mobil. Setelah beberapa menit, mobil itu berhenti di sebuah rumah. Sepeda motor yang beberapa waktu lalu dilihatnya pun tampak berada di teras rumah tersebut.
"Aku tahu sekarang," ucapnya.
Rupanya polisi itu mulai paham dengan maksud Andro mengajaknya mencari pemilik nomor plat tersebut.
Ia pun mengetuk pintu rumah yang tertutup rapat tersebut. Dan benar saja, dari dalam rumah keluar seorang pria yang beberapa waktu lalu dilihatnya memecahkan kaca mobil.
"Selamat siang, kami dari kepolisian. Apakah benar pemilik sepeda motor ini atas nama Thomas?" Tanya polisi.
"Ya. Saya Thomas. Pemilik sepeda motor ini," ucapnya dengan wajah gugup.
"Apa yang kau ambil dari mobil berwarna silver yang terparkir di depan sebuah bank?" Tanya Andro.
"Mobil berwarna silver? Apa maksud pertanyaanmu, adik kecil?" Tanyanya.
"Apakah kami diizinkan menggeledah rumah ini?" Tanya polisi.
"Aku keberatan. Tak ada apapun yang kesembunyikan di rumah ini," jawabnya dengan wajah bingung.
"Kau tak perlu sepanik ini jika kau memang tak menyembunyikan apapun," ucap polisi.
"Tadi aku melihatnya mengambil sebuah laptop dari mobil itu," ucap Andro.
"Kau. periksa rumah ini!" Serunya pada anak buahnya.
"Siap!" Pria itu lalu memasuki rumah tersebut Ia memeriksa ruang tamu. Namun ia tak menemukan apapun di sana. Pencariannya berlanjut ke sebuah kamar. Hasilnya juga nihil. Ia pun beralih dari kamar tersebut dan hendak memeriksa sebuah ruangan yang tertutup rapat.
"Siapa yang ada di ruangan ini?" Tanya polisi. Penghuni rumah itu menggelengkan kepalanya.
Polisi pun membuka pintu itu namun ternyata seseorang menguncinya dari dalam kamar.
Dengan terpaksa polisi mendobrak pintu kamar. Tak ada seorang pun di kamar tersebut. Hanya jendela yang terbuka. Mungkin pria yang tadi bersamanya telah melarikan diri melalui jendela tersebut. Tampak sebuah kardus berukuran cukup besar berada di sudut kamar. Polisi kemudian membuka kardus itu. Betapa kagetnya pria itu. Saat mendapati kardus tersebut berisi puluhan laptop.
"Siapa pemilik barang ini?" Tanya polisi.
"Bukan milik saya," jawab pemuda itu dengan wajah gugup.
"Mengakulah! Jika kau tak ingin kami bersikap kasar!" Seru polisi sambil mengambil sebuah benda dari saku celananya lalu menodongkan ke arah pria tersebut.
"Ba...baik lah! Aku mengaku! Barang itu barang yang selama ini aku curi. Dan aku berencana menjualnya ke penadah malam ini," jawabnya.
Polisi lalu membawa kardus berisi puluhan laptop tersebut keluar dari dalam kamar.
Tangan pria itu pun kemudian diborgol.
"Sialan kau anak kecil!" Umpatnya sambil melirik ke arah Andro.
Polisi kemudian membawa pria tersebut ke dalam mobil.
Sesampainya di kantor polisi.
Seorang pria tampak berdiri dengan wajah panik di depan kantor polisi. Rupanya pria itu adalah pemilik mobil yang beberapa waktu lalu terparkir di dekat taman.
"Ini laptop milikmu," Andro menyodorkan sebuah laptop pada pria tersebut.
"Bagaimana laptop ini bisa berada di tanganmu?" Tanyanya dengan wajah heran.
"Masuklah, kami akan menjelaskannya padamu," ucap polisi.
"Anak ini telah berjasa besar pada pihak kepolisian. Ia melihat seorang pria merusak mobilmu dan mengambil sebuah laptop. Ia hanya menghafal nomor plat sepeda motor yang dipakai kedua pencuri yang telah lama menjadi target operasi kami. Lalu memintaku mencari pemilik nomor plat kendaraan tersebut. Benar saja, pemilik nomor itu adalah spesialis pencuri dengan modus memecahkan kaca mobil," ungkap polisi tersebut.
Pria itu lalu memandang wajah Andro dengan perasaan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.
"Siapa namamu, pahlawan kecil?" Tanyanya.
"Andromeda," jawabnya dengan penuh percaya diri.
"Sungguh beruntung ibu yang telah melahirkanmu, nak" ucapnya sambil mengelus kepala bocah tersebut.
"Kau berlebihan, tuan. Kurasa semua orang bisa melakukannya," ucap Andro.
"Kau anak pemberani. Kau telah menyelamatkan benda yang sangat berharga bagiku. Di laptop ini banyak tersimpan data penting perusahaan. Aku tak bisa membayangkan jika aku harus kehilangan benda ini," ucapnya.
"Bagaimana caraku berterima kasih padamu, Andro?" Tanya pria tersebut.
"Kau tak perlu memikirkannya. Aku senang jika bisa membantu orang-orang di sekelilingku," ucap Andro dengan senyum tulus.
"Selain pemberani, kau juga berjiwa besar rupanya," ucap pria itu.
"Oh ya, dimana rumahmu? Mungkin aku bisa berkenalan dengan orang tuamu."
"Aku dan ibuku tinggal di belakang toko kue Aurora, tuan."
"Aurora?" Gumamnya.
"Baiklah, jika aku punya waktu aku akan mengunjungi rumahmu," ucapnya kemudian.
"Oh ya, siapa namamu?" Tanya Andro.
"Panggil aku Sean," jawabnya.
Bersambung….
Tembus 200 👍aku up episode berikutnya…
❤ ❤ ❤
Hai kak, dukung terus karyaku ya…
Jangan lupa beri like👍, komentar💬, ✒vote, favorit💙 serta hadiah🎁.
Sekecil apapun dukungan yang kalian berikan untukku, aku akan sangat berterima kasih.
Semoga kalian terus menjadi pembaca setiaku..💕💕