
Mira menuntun Helena menuju ruang tamu. Joyce tersentak kaget saat melihat Helena berada di rumah tersebut.
"Helena. Kau…?" ucap Joyce.
"Nyonya Joyce, kau kah itu?" tanya Helena.
"Mengapa kau berada di rumah ini?"
"Rumah ini adalah rumah Hans, suamiku."
"Astaga! Kenapa dunia ini begitu sempit?" Joyce terkekeh.
Felice menautkan alisnya.
"Kalian sudah saling mengenal?" tanyanya penasaran.
"Helena pernah bekerja di butikku," jawabnya.
Hari ini Joyce mendapat dua kali kejutan. Kejutan pertamanya adalah bertemu dengan Mira, mantan pengasuh bayinya yang kemudian menjadi penghancur pernikahannya bersama Rio.
Kejutan ke dua adalah Felicia ternyata ibu kandung Hans, sekaligus ibu mertua Helena. Mantan penjahit di butiknya.
Tiba-tiba ponsel Joyce berdering. Ia pun lalu mengambil ponsel dari dalam tasnya.
"Kurasa aku harus pergi sekarang. Nyonya, Helena, Mira, aku pamit," ucapnya.
"Hati-hati menyetir mobilmu, Nak,"ucap Felice. Joyce mengangguk kemudian tersenyum. Tak berselang lama ia pun berlalu dari ketiga perempuan tersebut.
******
Siang itu entah kenapa Gibran ingin sekali pergi ke taman.
"Kau mau kemana, Nak?" tanya Emily.
"Aku merasa jenuh di rumah. Aku ingin mencari udara segar," jawab Gibran.
"Mengapa kau tak mengajak Alicya?"
"Dia sedang tidur siang. Aku takut mengganggunya."
"Kau mengajak sopir 'kan?" tanya Emily.
"Tidak, Ibu. Aku bisa menyetir sendiri."
"Kau yakin?"
Gibran tersenyum kemudian menganggukkan kepalanya. Tak berselang lama ia pun berlalu dari hadapan sang ibu.
******
Di rumah Aurora.
"Kita kehabisan pengembang kue, Sayang. Bisakah kau membelikannya?" tanya Aurora pada Andromeda yang tengah asyik dengan laptopnya. Bocah itu pun lalu menutup laptopnya kemudian beranjak dari tempat duduknya.
"Tentu saja, Ibu," ucapnya sambil tersenyum.
Andro lalu menuntun sepedanya. Ia memandang sang ibu selama beberapa detik. "Aku menyayangimu, Ibu," ucapnya.
"Ada apa denganmu, Nak." Aurora terkekeh. Namun ia sedikit heran. Mengapa Andro tiba-tiba mengucapkan kata-kata tersebut.
"Selamat tinggal, Ibu," ucap Andro sembari melambaikan tangannya. Tiba-tiba jantung Aurora berdegup kencang. Ada sesuatu yang tak biasa pada Andromeda.
"Mengapa ia mengucapkan kata selamat tinggal? Biasanya dia mengucapkan kata sampai jumpa," gumamnya.
Aurora bergegas berlari keluar rumah. Ia berniat memanggil Andro untuk kembali.
"Andro! Andro!" serunya. Aurora terus memanggil nama sang anak namun Andro sudah melaju terlalu jauh dengan sepedanya.
Aurora menghela napas. Ia tak bisa berbuat apapun selain berdo'a agar tak terjadi apapun pada sang anak.
Andro melajukan sepedanya dengan wajah riang. Ia menuju sebuah toko tempat ia biasa membeli bahan-bahan kue. Setelah membeli barang yang diperlukan sang ibu, bocah itu pun keluar dari toko.
Andro hendak menaiki sepedanya namun tiba-tiba pandangannya tertuju pada seorang perempuan tua dan seorang laki-laki. Keduanya terlihat tengah tarik menarik sebuah tas.
Perempuan tua berteriak minta tolong. Namun suaranya yang lemah membuat teriakannya hampir tak terdengar oleh siapapun.
Perempuan tua itu tak lebih kuat. Ia akhirnya terjatuh dan harus merelakan tas miliknya diambil paksa oleh laki-laki tersebut.
Andro bergegas menghampiri perempuan tersebut. "Nenek baik-baik saja?" tanyanya.
"Tasku!" serunya sambil mengacungkan jarinya ke arah laki-laki yang baru saja merebut tas miliknya.
Laki-laki itu berlari.
Andro bergegas menaiki sepedanya kemudian mengejar laki-laki tersebut.
Andro terus mengejarnya hingga ia masuk ke sebuah gang sempit.
"Kembalikan tas itu pada pemiliknya!" seru Andro.
"Kau anak kecil. Jangan mencampuri urusanku. Lebih baik kau bermain dengan teman-temanmu." Laki-laki itu terkekeh.
"Berikan tas itu atau aku akan melaporkan perbuatanmu pada polisi!"
"Kau pikir polisi akan percaya dengan ucapan anak kecil sepertimu?" ejeknya.
Andro turun dari sepedanya dan merebut tas dari tangan pejambret tersebut namun ia terus mempertahankannya. Hingga akhirnya Andro berinisiatif menendang ************ laki-laki itu.
Beberapa detik kemudian laki-laki itu jatuh terjengkang. Tas milik sang nenek kini telah berpindah ke tangan Andro.
Andro bergegas menaiki sepedanya kemudian meninggalkan tempat tersebut. Namun laki-laki itu ternyata belum menyerah. Ia kini berusaha mengejar Andro dan berusaha merebut kembali tas tersebut.
Andro melajukan sepedanya secepat mungkin keluar dari gang sempit tersebut Hingga tiba-tiba ia merasa kehilangan kendali. Sepedanya tak juga berhenti meskipun ia telah sekuat tenaga menekan tuas remnya. Di saat bersamaan muncul sebuah mobil yang melaju cukup cepat. Tabrakan pun tak terhindarkan. Andro terpental beberapa meter. Sementara sepedanya ringsek tak berbentuk.
Jambret yang mengejar Andro pun hanya bisa tercengang saat melihat bocah kecil itu terkapar di atas aspal dengan bersimbah darah. Ia pun akhirnya memilih berlari meninggalkan Andro.
Suara tabrakan yang cukup keras menarik perhatian warga dan para pengguna jalan. Dalam sekejap tempat itu telah menjadi kerumunan warga.
Perempuan tua pemilik tas itu pun menghampiri kerumunan tersebut.
"Ada apa ini?" tanyanya sambil berjalan menembus kerumunan.
Perempuan itu terbelalak saat mendapati seorang anak kecil terkapar di tengah jalan. Tubuhnya berlumuran darah. Tas miliknya berada tak jauh dari bocah tersebut.
"Astaga! Anak ini…" ucapnya.
"Nyonya mengenal anak ini?" tanya seorang pengguna jalan.
"Aku tak mengenalnya. Tapi beberapa waktu lalu ia menolongku mengejar seorang pria yang telah merampas tas milikku," ungkapnya.
Tiba-tiba mobil Gibran melintas. Ia heran sekaligus penasaran. Jalan yang ia lalui saat itu begitu ramai bahkan terdapat kerumunan di tengah jalan. Beberapa kendaraan terpaksa berhenti karena kerumunan tersebut menyebabkan lalu lintas tersendat.
Gibran turun dari mobilnya.
"Ada apa ini, Paman?" tanyanya pada seorang pengguna jalan.
"Ada kecelakaan, Tuan. Bocah laki-laki kecil bersepeda bertabrakan dengan mobil. Lukanya begitu parah. Mungkin ia tak selamat," jawabnya.
Gibran semakin penasaran. Ia pun melangkah mendekat ke arah kerumunan tersebut. Ia hampir tak mempercayai dengan apa yang kini dilihatnya. Ia sangat mengenali wajah anak laki-laki yang terkapar di tengah jalan tersebut.
"Andromeda!" pekiknya sambil berlari ke arah bocah tersebut.
Di saat tak ada seorang pun yang berani mendekat, Gibran justru mengangkat tubuh Andro kemudian memeluknya. Ia tak peduli pada pakaiannya yang kini telah terkena noda darah.
"Andro! Bangun!" serunya sambil mengguncang tubuh kecil itu. Namun Andro tak bergerak. Tiba-tiba air matanya mengalir.
Tanpa pikir panjang Gibran membopong tubuh kecil itu masuk ke dalam mobilnya.
"Bertahanlah, Andro," ucapnya parau.
Gibran melajukan mobilnya menuju rumah sakit. Ia tak mengerti mengapa saat ini ia begitu panik. Ia begitu takut sesuatu yang buruk terjadi pada Andromeda.
Sesampainya di rumah sakit.
"Dokter! Suster! Tolong selamatkan anak ini!" seru Gibran sambil membopong tubuh kecil Andro menuju ruang ICU.
"Apa yang terjadi dengan anak ini?" tanya seorang perawat.
"Ia baru saja mengalami kecelakaan," jawabnya dengan suara bergetar.
"Apakah kau Ayah dari anak ini?" tanya perawat.
Bersambung…
Tembus 500 👍aku up episode selanjutnya.…
❤ ❤ ❤
Hai kak, dukung terus karyaku ya…
Jangan lupa beri like👍, komentar💬, ✒vote, favorit💙 serta hadiah🎁.
Sekecil apapun dukungan yang kalian berikan untukku, aku akan sangat berterima kasih.
Semoga kalian terus menjadi pembaca setiaku..💕💕