ANDROMEDA

ANDROMEDA
Curiga



Keenan berjalan menghampiri Fiona yang masih kesal karena bertabrakan dengan Andro dan membuat ponselnya jatuh.


"Permisi, Nona," ucap Keenan.


Fiona membalikkan badannya. Ia tersentak kaget melihat wajah Keenan yang tiba-tiba berdiri di depannya.


"Kenapa dengan ponselmu?" tanyanya.


"Anak sialan yang ceroboh itu. Ia menabrakku hingga membuat ponselku jatuh," jawabnya dengan raut wajah penuh amarah.


"Biar kuperiksa ponselmu." 


Fiona lalu menyodorkan ponselnya pada pria yang diam-diam ia kagumi tersebut.


"Ponselmu baik-baik saja. Mungkin kau kurang memperhatikan jalanmu." Keenan kembali menyodorkan ponsel tersebut pada Fiona.


"Anak itu memang anak pembawa sial!" umpat Fiona.


"Yang kau maksud Andromeda?" tanya Keenan.


"Kau mengenal anak itu?" tanya Fiona penasaran.


"Dia kawan baikku," jawab Keenan sambil tersenyum.


"Hai, kemarilah." Keenan memandang ke arah Andro. Tak berselang lama bocah itu pun melangkah mendekati Keenan.


"Aku minta maaf, Bibi Fiona," ucap Andro. 


Fiona hanya terdiam. Ia justru kembali menmandang bocah tersebut dengan tatapan sinis.


"Lihat anak ini. Kurasa kau perlu belajar tentang kata maaf darinya," ucap Keenan.


"Bagaimana mungkin kau bisa begitu dekat dengan anak h***m ini?" Tanya Fiona.


"Berhentilah mengeluarkan kata-kata kasar di depan anak kecil sepertinya!" seru Keenan.


"Panggilan apalagi yang pantas ditujukan pada seorang anak yang terlahir tanpa ayah yang jelas?" Tanyanya.


"Kau tak punya hak menghakiminya. Andro hanya seorang anak kecil yang tak tahu apapun," ucap Keenan.


"Seorang anak ha**m terlahir dari perempuan j***ang!" seru Fiona.


Andro tiba-tiba berlari dari sisi Keenan.


"Cukup Fiona!" seru Keenan.


Keenan berlalu dari hadapan Fiona dan mengejar Andro yang berlari menjauh darinya.


Andro terlihat duduk di sebuah bangku taman. Wajahnya diliputi kesedihan.


"Mengapa aku harus dilahirkan tanpa seorang ayah?" tanya Andro terisak.


Keenan membelai rambut Andro kemudian merengkuh tubuh kecil itu ke dalam pelukannya.


"Jangan terlalu memikirkan ucapan Bibimu itu," ucap Keenan.


"Mister mengenalnya?" tanya Andro.


"Dia salah satu kawanku," jawabnya.


"Kau sudah melupakan es krim mu?" Tanya Keenan sambil menyeka air mata Andro.


Wajah Andro tiba-tiba berseri. Keenan kemudian menggandeng tangannya menuju kedai es krim.


Keenan sudah beberapa kali bertemu dengan Fiona. Dan ia heran setiap kali bertemu dengannya, perempuan itu pasti tengah menunjukkan sifat kasarnya. Hatinya tak selembut Aurora. Perempuan yang hingga kini masih mengisi hatinya.


"Ah, separuh hatiku memang masih tertinggal di hatimu, Aurora," gumam Keenan. Tiba-tiba hatinya merasa hangat.


*****


Malam itu Freddy mendatangi kamar apartemen Celine. Wajahnya tampak begitu murung.


"Aku tak suka melihatmu begini," ucap Celine.


"Aku tak mendapat sedikit pun harta milik Sarah!" serunya. Celine tercengang.


"Apa maksud ucapanmu?" tanyanya.


"Sarah memberikan seluruh hartanya pada Keenan." Ucap Freddy dengan wajah penuh amarah.


"Bagaimana mungkin itu terjadi? Bukankah Keenan hanya anak angkat kalian?" tanya Celine setengah tak percaya.


"Rupanya Sarah telah membayar seorang pengacara untuk membuat surat wasiat," jawab Freddy.


"Pengacara?"


"Dia laki-laki yang bersama Keenan saat pemakaman Sarah."


"Rio?" 


"Kau mengenal laki-laki itu?" tanya Freddy.


"Dia hanya kawan sekolahku," jawab Celine sedikit gugup.


"Aku tak memiliki apapun sekarang," ucap Freddy.


"Lantas, kau akan diam begitu saja?" tanya Celine. 


"Apa maksud ucapanmu?"


Freddy terdiam. Tiba-tiba ia merasa jika Sarah telah berbuat tak adil padanya. Ia telah menikahi sarah lebih dari tiga puluh tahun. Namun ternyata ia tak mendapat apapun dari Sarah.


"Apa yang harus kulakukan sekarang?" tanya Freddy dengan raut wajah kebingungan.


Celine mendekatkan wajahnya ke arah Freddy dan membisikkan sesuatu di telinganya.


"Ide bagus!" seru Freddy beberapa saat kemudian.


Freddy menatap wajah Celine yang baru saja berganti pakaian tidur.


"Kau tak perlu kembali lagi ke rumah Sarah," ucapnya sambil bergelayut mesra di pundak Freddy.


Freddy lalu melingkarkan kedua tangannya di pinggang Celine.


"Sudah begitu lama kita tak menghabiskan malam bersama," ucapnya dengan tatapan nakal.


Celine membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Tiba-tiba hasrat Freddy pun muncul.


*******


Pagi hari di rumah Hans.


Hans beserta istri dan ibunya terlihat duduk mengitari meja makan.


Meskipun Felice kurang menyukai Helena, namun akhirnya ia mengizinkan menantunya tersebut kembali tinggal bersamanya.


Hans memandang Helena yang kesulitan menemukan gelas minumannya. Dengan sigap pria itu pun memberikan gelas tersebut.


"Terima kasih," ucapnya.


"Kau beruntung Hans masih mau menerimamu. Setelah apa yang kau lakukan padanya," ucap Felice ketus.


"Sudahlah, Ibu. Jangan mengungkitnya lagi. Bukankah Ibu sendiri yang mengatakan memberi kesempatan kedua bagi Helena. Aku yakin Helena akan memperbaiki kesalahannya," ucap Hans.


Felice tiba-tiba beranjak dari tempat duduknya.


"Ibu mau kemana?" tanya Hans.


"Selera makanku tiba-tiba hilang," ucapnya sambil berlalu dari hadapan anak dan menantunya.


Helena meletakkan sendoknya. Ia terlihat termenung.


"Kau kenapa?" tanya Hans.


"Aku ingin sekali bertemu Nadine," jawabnya dengan raut wajah sedih.


Freddy membuang napas.


"Nadine memutuskan untuk menetap di New York," ucap Hans.


"Apakah seumur hidupku aku tak akan pernah memeluknya lagi?" tanya Helena. Buliran bening tiba-tiba menetes di pipinya. Hans tak mampu berkata-kata. Ia hanya memandang iba pada istrinya tersebut.


"Aku memang Ibu yang bodoh!" seru Helena.


"Sudahlah, berhenti menyalahkan diri sendiri. Setiap orang pasti pernah melakukan kesalahan," hibur Hans.


"Mengapa kau masih mau menerimaku?" 


"Karena aku begitu mencintaimu. Dan kau ibu dari putriku. Aku yakin jika suatu saat kau akan kembali." 


Hans menyentuh lembut tangan Helena.


Tiba-tiba rasa bersalah dan penyesalan hinggap di hati Helena. Hingga detik ini ia masih menyembunyikan sebuah rahasia besar dari Hans.


Ingatannya tiba-tiba kembali pada puluhan tahun silam. Tepatnya satu minggu menjelang pernikahannya dengan Hans. Helena justru bertemu dengan Freddy, laki-laki yang begitu dicintainya. Dan di malam itu Helena menyerahkan tubuhnya untuk pertama kali. 


Beberapa minggu setelah menikah, Helena pun hamil. Ia tahu betul siapa ayah dari anak yang tengah dikandungnya tersebut. Hans yang begitu mencintainya tentu saja menganggap jika anak yang ada di kandungannya tersebut adalah darah dagingnya. Pria itu menjadi pria yang paling bahagia atas kehamilan Helena.


Wajah Nadine yang sedikit pun tak memiliki kemiripan dengan Hans, justru membuat Felice menaruh curiga terhadapnya. Berkali-kali perempuan itu melayangkan sindiran pada Helena, namun Hans tak terlalu memikirkannya. Ia meyakini Nadine adalah putri kandungnya.


Hans melirik arloji di tangannya. 


"Aku harus berangkat sekarang. Jika memerlukan sesuatu kau bisa meminta bantuan pada asisten rumah tangga kita," ucapnya.


Hans mengecup kening Helena kemudian berlalu dari hadapannya.


"Aku tak yakin jika Nadine adalah putri kandung Hans," ucap Felice yang tiba-tiba berdiri di hadapan Helena.


"Apa maksud ucapan Ibu?" tanya Helena. Tiba-tiba jantungnya berdegup kencang.


Bersambung….


Tembus 500 👍aku up episode selanjutnya.…


❤ ❤ ❤ 


Hai kak, dukung terus karyaku ya…


Jangan lupa beri like👍, komentar💬, ✒vote, favorit💙 serta hadiah🎁.


Sekecil apapun dukungan yang kalian berikan untukku, aku akan sangat berterima kasih.


Semoga kalian terus menjadi pembaca setiaku..💕💕