ANDROMEDA

ANDROMEDA
Sebuah keputusan



Keenan bergegas mengenakan kembali pakaiannya. Sementara Aurora lebih memilih menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut tak terkecuali bagian kepalanya. Keenan bergegas beranjak dari kamar itu dan menutup rapat pintunya.


"Ibu di mana, Ayah?" tanya bocah laki-laki itu.


"Ibumu tidur di dalam kamar. Sepertinya dia kelelahan."


"Saat ibu kelelahan biasanya dia memintaku untuk memijitnya." Andro berjalan mendekati pintu kamar itu. Tentu saja Keenan menahannya. Dia tidak mungkin membiarkan putra sambungnya itu mendapati Aurora yang kini bertelanjang bulat.


"Ehm, biarkan saja ibumu tidur. Jika kau masuk, nanti dia terbangun," ujar Keenan. Beruntung Andromeda menurut.


"Di mana kamarku, Ayah?" tanyanya.


"Di sebelah sana." Keenan mengacungkan jari telunjuknya pada sebuah kamar yang berada di balik ruang makan. Bocah laki-laki itu pun lantas melangkahkan kakinya menuju kamar tersebut.


"Hampir saja."


*****


Di rumah Gibran.


"Bagaimana kabar Nadine sekarang, Nak?" tanya Emily pada Gibran di sela makan malam mereka.


"Entahlah. Aku tak pernah lagi berhubungan dengannya. Sepertinya dia masih berada di kota NY."


"Apa rencanamu selanjutnya?" tanya Emily lagi.


"Aku berencana membuka perusahaan baru di kota LA," jawab Gibran.


"Apa kau tega meninggalkan ibu yang sudah tua ini?" Tiba-tiba sorot wanita paruh baya itu berkaca-kaca.


Gibran membuang nafas.


"Aku ingin melupakan semua yang sudah terjadi," ujarnya.


"Kenapa Kakak harus pergi?" Kini giliran raut wajah Alicia yang tiba-tiba berubah sedih.


"Maaf, Alice. Keputusan kakak sudah bulat. Mungkin Minggu depan kakak berangkat."


Tiba-tiba Alicia beranjak dari tempat duduknya. Ia lantas berjalan dengan langkah cepat menuju kamarnya.


"Tidak hanya ibu, adikmu juga keberatan jika kau pergi meninggalkan negara ini," ujar Emily.


"Tapi, Bu, …"


"Kecuali kau ingin membuat kami sedih." Emily membalikkan kursi rodanya. Dia pun meninggalkan meja makan.


Sementara itu di rumah Sean.


"Pria yang tadi mengobrol dengan Kakak tampan juga," goda Sofia pada saudara perempuannya, Fiona yang tengah membaca majalah di ruang tamu.


"Pria mana yang kau maksud?" 


Fiona menutup majalahnya lalu meletakkannya di atas meja.


"Pria yang siang tadi mengobrol dengan Kakak di acara pernikahan kak Aurora."


"Namanya Gibran."


"Kakak bahkan sudah tahu namanya. Apa Kakak tidak tertarik padanya?"


"Apa maksudmu? Aku bahkan baru sekali sekali bertemu dengannya."


"Apa Kakak tidak tahu istilah jatuh cinta pada pandangan pertama?"


"Aku mengantuk. Selamat malam."


Fiona beranjak dari sofa dan berjalan menuju kamarnya.


"Kenapa dengan kakakmu?" tanya Nikita yang baru saja muncul dari arah dapur. Dia tampak membawa wadah berisi puding.


"Aku hanya ingin tahu siapa pria yang tadi mengobrol dengannya di acara pernikahan kak Aurora."


"Apa pria yang kau maksud yang mengenakan jas berwarna abu-abu?" tanya Nikita. Sofia menganggukkan kepalanya.


Nikita meletakkan wadah berisi puding itu di atas meja lalu duduk di samping Sofia.


"Aurora sudah menceritakan semua tentang masa lalunya. Gibran adalah ayah kandung Andromeda," ungkap Nikita.


"Astaga!" Sofia membungkam mulutnya dengan salah satu tangannya. "Ja-ja-di Gibran adalah mantan suami kak Aurora?" tanyanya kemudian.


Nikita menggelengkan kepalanya.


"Aurora dan Gibran tak pernah menikah. Mereka bukan suami istri."


"Apa maksud Ibu?" Gadis berkacamata itu mengerti keningnya.


"Sebuah kejadian membuat Aurora mengandung. Namun Gibran saat itu berada di luar negeri sama sekali tak tahu jika Aurora tengah berbadan dua. Mereka dipertemukan kembali setelah Andromeda lahir dan berusia tujuh tahun," ungkap Nikita.


"Apa Gibran tahu jika Andromeda adalah putra kandungnya?" tanya Sofia.


"Awalnya dia tak tahu. Bahkan Gibran yang saat itu telah bertunangan dengan seorang gadis bernama Nadine membantah mengenal Aurora dan menyangkal semua perbuatannya. Namun benar apa kata pepatah yang mengatakan serapat-rapatnya menyimpan bangkai, akan tercium baunya. Nadine akhirnya mengetahui masa lalu Gibran. Dia pun membatalkan pertunangannya dan memutuskan pergi ke kota NY."


"Apakah kak Aurora dan pak Keenan telah lama saling mengenal?" tanya Sofia penasaran. Keenan adalah atasan di kantor tempat Sofia bekerja.


"Keenan adalah mantan kekasih Aurora. Mereka bahkan pernah nyaris bertunangan. Hubungan mereka pun sempat terputus beberapa tahun. Namun, ternyata mereka masih memendam perasaan yang sama hingga akhirnya hari ini keduanya disatukan dalam ikatan suci pernikahan," jelas Nikita.


"Sungguh sebuah kisah cinta yang rumit," ucap Sofia.


"Cinta sejati akan menemukan jalannya meskipun harus melalui jalan yang berliku," ujar Nikita.


Tiba-tiba Sofia menguap yang menandakan jika rasa kantuk mulai menyerangnya.


"Sudah malam, cepatlah tidur. Besok kau harus bekerja 'bukan?"


"Selamat malam, Ibu," ucap Sofia sembari beranjak dari tempat duduknya.


Sofia beranjak dari tempat duduknya, ia lantas melangkahkan kakinya menuju kamarnya.


****


Berita pernikahan Aurora dan Keenan pun sampai di telinga Nadine yang masih berada di kota NY. Dia pun mengirim pesan berisi ucapan selamat untuk sahabatnya itu.


[Selamat menempuh hidup baru. Semoga kebahagiaan selalu menyertai kalian.]


Nadine baru saja merebahkan tubuhnya di atas ranjang ketika tiba-tiba ponselnya berdering. Dia pikir Keenan yang menghubunginya. Namun, rupanya nama Joe lah yang tertera di layar ponselnya.


Nadine : "Halo, Joe."


Joe: "Aku pikir kau sudah tidur."


Nadine: "Kau tahu, seusai makan malam tadi aku tidak beranjak dari perapian. Malam ini aku merasa kedinginan."


Joe: "Jika aku ada di sana, kau tidak akan kedinginan."


Nadine: "Memangnya kau mau apa?" 


Joe: "Aku ingin memelukmu."


Nadine: (terkekeh)


Joe: "Apa kau belum terpikir untuk pulang ke negara asalmu?" 


Nadine: "Entahlah. Aku masih begitu nyaman berada di negara ini."


Joe: "Ehm, Nadine."


Nadine: "Ya."


Joe: "Aku-aku berencana untuk melamarmu."


Nadine: "Apa?"


Joe: "Apa aku perlu mengulangi ucapanku?"


Nadine: "Aku hanya kaget."


Joe: "Apa kau mau menikah denganku?"


Nadine: "Astaga. Kau melamarku melalui sambungan telepon?"


Joe: "Tentu saja tidak. Aku akan menemui kedua orangtuamu."


Nadine: "Apa kau sungguh-sungguh dengan ucapanmu?"


Joe: "Aku yakin dengan pilihanku."


Nadine: "Baiklah. Minggu depan kota pulang ke negara asal kita."


Joe: "Aku tidak sabar lagi menunggu hari itu tiba."


Nadine: "Aku mengantuk. Selamat malam."


Joe: "Selamat malam, Sayang. Jangan lupa mimpikan aku."


Nadine: "Selamat malam."


-Panggilan terputus-


Keesokan paginya.


Aurora baru saja membuka tirai jendela pintu depan apartemennya. Dia tersentak kaget saat mendapati seorang pria yang berdiri di depan pintu tempat tinggal barunya itu. Dari postur tubuhnya dia paham betul siapa pria itu. Dia pun lantas membuka pintu tersebut.


"Gibran, …"


Pria bertubuh kekar itu pun lantas membalikkan badannya.


"Selamat pagi, Nyonya Keenan," sapanya.


"Mengapa kau memanggilku begitu?"


"Bukankah kau sudah menjadi istri Keenan? Kurasa bukan masalah jika aku memanggilmu dengan sebutan itu."


Aurora hanya tersenyum simpul menanggapi ucapan itu.


"Pagi-pagi begini kau sudah datang kesini. Apa ada hal penting?"


"Aku ingin menemui Andromeda."


"Pagi-pagi sekali Andro pamit untuk bersepeda. Sepertinya dia menemukan banyak kawan baru di tempat tinggal barunya."


"Apa aku boleh masuk ke dalam?" tanya Gibran.


"Tentu saja."


Aurora pun lantas mengajak Gibran yang tak lain adalah saudara tiri Keenan itu masuk ke dalam apartemennya. Keduanya lantas duduk berhadapan di ruang tamu.


"Aku ingin pamit padamu," ucap Gibran.


"Pamit? Memangnya kau mau kemana?" tanya Aurora penasaran. 


BERSAMBUNG…


Halo, Kak…Andromeda kembali update nih…tetap ikuti ya…jangan lupa kasih like, Fav, hadiah dan komen yang positif…


Sekecil apapun dukungan kalian sangat berarti bagi Author 🥰🥰


Happy reading….