ANDROMEDA

ANDROMEDA
Kepergian Felicia



Hans terlihat tengah sibuk di kantornya.


Tiba-tiba ponselnya berdering. Nomor tak dikenal tertera di layar ponselnya. Hans membiarkan ponselnya berdering. Dia menganggap si penelpon hanyalah orang iseng. Namun setelah beberapa menit ponselnya tak berhenti berdering. Ia pun akhirnya menerima panggilan tersebut.


["Selamat siang, siapa disana?"]


["Tuan, ini saya, Mira."]


["Mira? Kau menelponku dari mana?"]


["Saya menelpon dari rumah sakit "MD"]


["Apa yang kau lakukan disana?"]


["Nyo...nyonya...nyonya Felice berada di rumah sakit. Nyonya terjatuh dari ranjang."]


["Astaga!"]


Hans mengakhiri percakapan. Ia bergegas meninggalkan kantornya dan menuju rumah sakit.


Felice menempati kembali ruang ICU yang baru beberapa hari yang lalu ditinggalkannya.


"Apa yang terjadi pada ibu?" tanya Hans pada Helena yang berada di depan ruangan tersebut.


"Ibu...ibu terjatuh dari ranjang. Mungkin ibu berusaha mengambil gelas air minum. Aku juga mendengar suara gelas yang terjatuh sesaat sebelum ibu jatuh di lantai," jawab Helena.


"Mengapa ini bisa terjadi, dimana Mira saat itu? Dia seharusnya menjaga ibu."


"Maaf, Tuan, saya harus pergi ke pasar. Saat itu hendak berpamitan pada nyonya tetapi nyonya Felicia sedang tidur siang."


Tiba-tiba pintu ruangan tersebut terbuka. Tampak seorang dokter keluar dari ruangan tersebut.


"Keluarga pasien,"  ucapnya.


Hans menuntun Helena menghampiri dokter. "Bagaimana keadaan ibu saya, Dokter?" tanya Hans.


"Kondisi pasien kritis, silahkan anda menemui pasien," jawab dokter.


Hans, Helena, dan Mira bergegas masuk ke ruangan Felice.


"Ibu, Ibu pasti akan sembuh," ucap Hans sambil menggenggam tangan sang ibu.


"He...le...na...maaf," ucapnya terbata-bata.


"Ibu tak perlu meminta maaf. Aku sudah memaafkan ibu," ucap Helena.


"Hans...ibu su..dah...ti..dak...ku...kuat, ji..ka...ibu...me...ning...gal...ma...ta..i...bu….un...tuk...He...le...na..." ucapnya dengan nafas yang semakin sesak.


"Ibu pasti akan baik-baik saja. Ibu akan sembuh," ucap Hans. Tangisnya pun pecah.


"Ti...tip...sa...lam...un...tuk...Na...dine…" ucapnya lagi. Tiba-tiba nafasnya tersengal. Hans seketika panik. Ia pun berteriak memanggil dokter.


"Dokter! Ibu saya...tolong! Dokter!" seru Hans sambil berurai air mata. Helena dan Mira pun tak sanggup lagi menahan tangis mereka. Tiba-tiba Felice menarik nafas panjang lalu menghembuskannya. 


"Ibu! Ibu! Bangunlah!" pekik Hans namun Felice tak bergerak lagi.


Dokter segera memeriksa detak jantung Felice serta denyut nadinya. 


"Bagaimana ibu saya, Dokter?" tanya Hans dengan suara bergetar.


"Maaf, nyonya Felice telah meninggal dunia," jawab dokter.


Hans memeluk Felice yang sudah tak bernyawa. Seperti anak kecil, Hans menangis sejadi-jadinya di atas dada sang ibu.


"Sudahlah, ibu tak kesakitan lagi. Kau harus merelakan ibu," ucap Helena sambil mengusap lembut punggung Hans.


Setelah Hans mulai tenang, dokter menghampirinya.


"Sebelum nyonya Felicia meninggal, beliau berwasiat untuk mendonorkan kornea matanya kepada menantunya, nyonya Helena. Kita harus secepatnya melakukan tindakan operasi sebelum pemakaman ibu anda," ucap dokter.


"Baik, Dokter," ucap Hans dengan mata sembab.


Dokter membawa Helena serta jenazah Felice ke dalam ruang operasi untuk melakukan operasi pencangkokan kornea mata.


Keenan yang saat itu hendak menjenguk Andromeda, tak sengaja berpapasan dengan Helena yang berada di atas trolly pasien. Meskipun sudah lama tak pernah bertemu dengan Helena, namun Keenan ingat betul wajah perempuan yang hampir 30 tahun pernah menjadi kekasih gelap ayah angkatnya.


Keenan menghentikan langkahnya.


"Permisi, Tuan," sapanya pada Hans. Wajahnya diliputi kesedihan.


"Apa yang terjadi? Tuan terlihat begitu sedih."


"Ibu...ibuku baru saja meninggal dunia," jawabnya. Keenan tersentak.


"Ya. Beberapa jam yang lalu ibuku terjatuh dari ranjang," jawabnya.


Keenan memandang Hans penuh rasa iba.


"Jika boleh kutahu siapa perempuan yang ada di trolly pasien itu?" tanya Keenan.


"Dia istriku, Helena. Maaf, aku harus ke ruang operasi sekarang," ucap Hans sambi berlalu dari hadapan Keenan.


Keenan tersentak. Ternyata Helena adalah istri Hans.


"Jika Nadine adalah putri tuan Hans, itu artinya...Nadine adalah…?" gumam Keenan.


Keenan lalu masuk ke ruang perawatan Andromeda.


"Wajahmu terlihat kebingungan. Apa kau baik-baik saja?" tanya Aurora.


"Aku baik-baik saja," jawabnya sambil tersenyum.


"Aku sudah lama mengenalmu. Aku tahu jika ada yang sedang mengganggu pikiranmu," ucap Aurora.


Keenan memandang Andromeda yang terlelap karena baru saja makan siang dan minum obat.


"Aku baru tahu jika istri tuan Hans adalah Helena," ucapnya.


"Maksudmu Helena...perempuan yang pernah menjadi…" Aurora tak melanjutkan kata-katanya.


"Ya. Beberapa saat yang lalu aku berpapasan dengan Helena saat akan memasuki ruang operasi. Aku pun bertanya pada tuan Hans, siapa  perempuan yang ada di trolly pasien, tuan Hans menjawab jika perempuan itu adalah Helena, istrinya."


Aurora membungkam mulutnya dengan tangannya sendiri.


"Jika Helena adalah istri tuan Hans, itu artinya Nadine adalah putri Helena," ucap Keenan.


"Astaga! Bukankah selama ini Nadine tak pernah tahu dimana ibunya? Mengapa kini ibunya justru bersama ayahnya?" tanya Aurora dengan wajah bingung.


"Entahlah. Biarlah ini menjadi urusan keluarga mereka. Ibuku sudah tak ada lagi di dunia ini. Aku sudah tak peduli pada Helena," ucap Keenan. Ada kesedihan yang mendalam di matanya.


"Bagaimana kabar jagoan kecil ini?" tanyanya sambil memandang Andro.


"Dokter mengatakan besok pagi Andro diperbolehkan pulang," jawabnya.


"Syukurlah," ucap Keenan. Raut kelegaan terpancar di wajahnya.


"Paman Sean bertanya padaku, siapa ayah kandung Andromeda," ucap Aurora.


"Lalu, apa yang kau katakan pada paman Sean?" tanya Keanan.


"Aku telah mengatakan semuanya pada paman Sean. Aku tak mungkin selamanya menyimpan rahasia ini," jawab Aurora.


"Kau benar, waktu akan menjawab semuanya. Andromeda juga berhak tahu siapa ayah kandungnya," ucap Keenan.


*****


Sementara itu Hans dan Mira berada di depan ruang operasi. Keduanya terlihat panik. Hans berharap operasi cangkok mata Helena berjalan lancar dan penglihatannya bisa kembali seperti dulu.


Setelah hampir tiga jam, akhirnya lampu yang berada di atas pintu ruang operasi padam, menandakan operasi telah selesai. Tak lama berselang, seorang dokter keluar dari ruangan tersebut.


"Bagaimana operasi istri saya, Dokter?" tanya Hans dengan wajah cemas.


"Operasinya berjalan lancar, Tuan," jawab Dokter.


"Syukurlah," ucap Hans. Raut kelegaan terpancar di wajahnya.


"Pasien akan kami pindahkan di ruang perawatan. Tak lama lagi nyonya Helena akan sadar. Lebih baik sekarang anda segera mempersiapkan pemakaman almarhumah ibu anda," ucap dokter.


Di satu sisi Hans merasa lega karena tak lama lagi penglihatan Helena akan kembali. Namun kepergian sang ibu juga membuatnya merasa begitu kehilangan. 


Felicia, sang ibu kini telah meninggalkan dirinya untuk selamanya.


Bersambung...


Tembus 500 👍aku up episode selanjutnya.…


❤ ❤ ❤ 


Hai kak, dukung terus karyaku ya…


Jangan lupa beri like👍, komentar💬, ✒vote, favorit💙 serta hadiah🎁.


Sekecil apapun dukungan yang kalian berikan untukku, aku akan sangat berterima kasih.


Semoga kalian terus menjadi pembaca setiaku..💕💕