ANDROMEDA

ANDROMEDA
Kado



Pagi itu Aurora hendak membuka kiosnya. Ia belum mendapat kasir pengganti di toko kue miliknya. Dari kejauhan tampak seorang pria berdiri di depan tokonya.


Aurora mendekati pria tersebut.


"Keenan," ucapnya.


Keenan memandang ke arah mantan kekasihnya tersebut.


"Hai, bagaimana kabarmu?" Tanyanya sambil tersenyum.


"Aku baik-baik saja," jawabnya.


"Terima kasih untuk kuenya," ucap Keenan.


"Hanya dengan cara itu aku berterima kasih padamu."


"Untuk apa?"


"Beberapa waktu yang lalu kau telah menolong kami saat Andro tiba-tiba demam. Aku tak tahu lagi harus minta tolong pada siapa," ujarnya.


"Bukankah begitu seharusnya sikap seorang kawan?" Tanya Keenan.


Ada perasaan aneh saat Keenan menyebutnya kawan. Dulu kata cinta tak pernah berhenti terucap dari mulut keduanya. Namun kini hubungan mereka telah berubah. Keenan bukan lagi kekasih ataupun calon tunangannya.


"Nadine pergi ke luar negeri," ucap Keenan tiba-tiba.


"Mengapa dia melakukannya?" Tanyanya heran.


"Kurasa kawanku itu sengaja menghindari calon tunangannya," jawab Keenan.


"Apa kau mencampuri urusan mereka lagi?" Tanya Aurora.


Keenan membuang napas.


"Aku hanya mengatakan kebenaran pada Nadine."


"Kebenaran apa yang kau maksud?"


"Kebenaran tentang masa lalu calon tunangannya."


"Astaga! Apa yang kau katakan pada Nadine, hingga ia begitu nekad pergi?"


"Aku hanya memutar rekaman suaranya dari ponselku."


"Rekaman apa yang kau maksud?"


"Kau lupa, aku pernah mendatangi kantornya. Aku mendesaknya agar ia mau mengakui perbuatannya padamu. Tanpa ia ketahui, aku merekam pengakuannya."


Aurora terdiam. Ia tak tahu harus marah atau justru berterima kasih pada pria yang pernah cukup lama mengisi hatinya tersebut.


"Nadine sungguh telah mendengar isi rekaman itu?"


"Walaupun Nadine tampak begitu terpukul, namun setidaknya aku sedikit lega sekarang. Gibran tak bisa lagi mengelak."


"Kau tak perlu berbuat sejauh itu. Aku sudah ikhlas dengan hidup yang harus kujalani sekarang. Aku bahagia bersama Andro."


"Ada satu hal lagi yang perlu kau tahu." Ucap Keenan.


Aurora menautkan alisnya.


"Aku akan melakukan tes DNA antara Gibran dan Andro."


"Cukup! Jangan lakukan itu!" Pekik Aurora.


"Aku sudah mendapat sampel rambut miliknya."


"Itu tak mungkin. Aku tahu, kakak tirimu keras kepala. Jadi mana mungkin dia menuruti kemauanmu."


"Itu mudah saja bagiku. Aku tak perlu mengotori tanganku. Aku hanya perlu membayar orang. Dan, beres."


Aurora sekali lagi kehilangan kata-katanya.


"Bagaimana perasaanmu padanya?" Tanya Keenan.


"Perasaan apa yang kau maksud. Aku tak memiliki perasaan apapun pada Gibran."


"Sungguh?" Tanya Keenan.


"Mengapa kau menanyakan hal itu padaku?"


"Aku hanya ingin tahu."


"Andai kau tahu, hanya kau pria yang ada di hatiku," ucap Aurora di dalam hatinya.


"Di mana si tampan? Dia tak ikut denganmu?" Pertanyaan Keenan sedikit mengejutkan Aurora dari lamunan singkatnya.


"Dia di rumah," jawab Aurora.


"Berikan ini untuknya." Keenan menyodorkan sebuah bungkusan tipis berbentuk persegi.


"Apa ini?" Tanya Aurora.


"Berikan itu padanya. Kurasa anak itu membutuhkannya."


"Kau tak perlu repot memberinya hadiah," ucap Aurora.


"Aku dan Andro sudah cukup lama berteman. Kurasa tak ada salahnya jika sekali-kali memberinya hadiah."


"Aku bahkan tak pernah sekalipun memberinya hadiah ataupun merayakan pesta ulang tahunnya," ucap Aurora dengan wajah sedih.


"Kapan Andro berulang tahun?" Tanya Keenan.


"Minggu depan."


"Sungguh? Kau berikan saja benda itu sebagai kado ulang tahunnya."


"Benda ini pemberianmu. Mana mungkin aku mengatakan padanya jika aku yang membelikannya?"


"Terserah kau. Kau ibunya. Kurasa kau lebih tahu apa yang terbaik untuk Andromeda."


Keenan membuka pintu mobilnya.


"Sampai jumpa," ucapnya.


Aurora memandang mobil Keenan yang berlalu meninggalkan tokonya.


*****


 Di rumah Nadine.


"Kemana Nadine, aku tak melihatnya beberapa hari ini?" Tanya Hans pada sang ibu di sela makan malam mereka.


"Nadine berlibur," jawab sang ibu singkat.


"Berlibur? Tak biasanya gadis itu pergi tanpa memberitahuku," ucap Hans.


Felice meletakkan sendoknya. Ia kemudian menatap wajah anak laki-lakinya.


"Bagaimana kau tahu?"


"Ia bahkan pergi tanpa memberi tahu Gibran. Pria itu kemarin datang. Dia justru menanyakan keberadaan Nadine. Putrimu itu sepertinya sengaja mematikan ponselnya. Ia tak mau siapapun mengganggunya, termasuk calon tunangannya."


Hans mengambil ponsel dari saku celananya. Ia tampak akan menelepon seseorang. Sejenak kemudian ia menempelkan ponsel tersebut di dekat telinganya.


"Tak terhubung," ucapnya kemudian.


"Kau tahu kemana ia pergi?"Tanya Hans.


Felice menggeleng pelan.


"Kau kemana, Nadine," gumamnya.


Hans beranjak dari kursinya.


"Kau mau kemana, Hans?" Tanya sang ibu.


"Aku akan mencari putriku. Mungkin ia menginap di salah satu hotel di kota ini."


"Kurasa putrimu butuh waktu untuk menenangkan diri. Kau tak perlu khawatir. Putrimu bukan anak kecil lagi. Ia bisa menjaga dirinya," ucap Felice.


Tiba-tiba ponsel Hans berdering. Nomor asing tertera di layar ponselnya. Pria itu pun menjawab panggilan tersebut


~Hans: Halo?


~Nadine: Halo, ayah.


~Hans: Nadine!


~Nadine: Ya. Ini aku


~Hans: Kau dimana? Jangan membuat. 


  kami cemas.


~Nadine: Aku baik-baik saja, ayah.


~Hans: Apa aku perlu menjemputmu?


~Nadine: Tak perlu. Aku berada di New 


  York sekarang.


~Hans: Apa? Nadine, ini sama sekali tak


  lucu.


~Nadine: Aku tidak sedang bercanda, 


  ayah.


~Hans: Apa yang kau lakukan, Nadine?


~Nadine: Aku hanya ingin berlibur.


~Hans: Berlibur, katamu? Gibran calon 


  tunanganmu kebingungan karena tak 


 bisa menghubungi ponselmu.


~Nadine: Biarkan saja. Aku sengaja


  menghindarinya.


~Hans: Apa yang sebenarnya terjadi?


~Nadine: Maaf ayah, aku tak bisa 


 mengatakannya padamu di telepon.  Salam untuk nenek.


~Hans: Halo! Halo! Nadine!


Hans terus memanggil nama putrinya, namun perempuan itu sudah memutus pembicaraan.


"Dimana putrimu?" Tanya Felice.


"Ia berada di New York sekarang," jawab Hans.


"Sudah kuduga. Anakmu tak mungkin hanya berada di kota ini. Ia pasti akan pergi ke tempat yang jauh. Tapi setidaknya gadis itu pernah tinggal di New York selama beberapa tahun. Kurasa ia mengenal beberapa teman disana."


"Anak itu benar-benar nekad," ucap Hans.


"Mungkin Nadine butuh waktu sendiri untuk menenangkan pikirannya."


"Tapi bukan begini caranya."


"Tunggu saja. Tak lama lagi ia pasti pulang. Hari pertunangannya hanya tinggal hitungan jari. Mana mungkin ia mempermalukan dirinya sendiri."


"Kau benar. Bahkan ia telah memesan cincin dan baju pertunangannya."


"Seandainya ibunya tahu. Tak lama lagi putri kecilnya akan bertunangan. Kurasa ia akan merasa begitu bahagia," ucap Hans tiba-tiba.


"Kau masih saja mengingat perempuan tak punya malu itu," ucap Felice ketus.


"Bagaimana pun dia masih istriku, ibu dari Nadine."


"Kau yakin Nadine adalah anak kandungmu?" Tanya Felice.


Hans tersentak mendengar pertanyaan dari sang ibu.


"Apa maksud pertanyaanmu?" Tanya Hans.


Felice membuang napas. 


"Satu minggu sebelum hari pernikahan kalian, aku tak sengaja melihat Helena dan Freddy bertemu di taman. Kurasa saat ini perempuan itu ada bersama kekasihnya," jawab Felice.


Hans menatap tajam mata sang ibu.


Bersambung…


 


Tembus 200 👍aku up episode berikutnya…


❤ ❤ ❤ 


Hai kak, dukung terus karyaku ya…


Jangan lupa beri like👍, komentar💬, ✒vote, favorit💙 serta hadiah🎁.


Sekecil apapun dukungan yang kalian berikan untukku, aku akan sangat berterima kasih.


Semoga kalian terus menjadi pembaca setiaku..💕💕