ANDROMEDA

ANDROMEDA
Pertemuan dengan Nikita



Di rumah Sean.


Sore itu Sean tampak tengah bersiap-siap untuk keluar rumah.


"Kau mau kemana, Sayang?" tanya Nikita.


"Aku ingin sekali makan kue," jawabnya.


"Aku bisa membuatkannya untukmu," ucap Nikita.


"Astaga! Apa aku harus memakan kue bantat lagi?" tanya Sean. Nikita terkekeh.


"Aku mau membelinya di toko kue milik keponakan kita. Kau mau ikut?"


"Maksudmu toko kue Aurora?"


"Ya. Toko kue itu banyak direkomendasikan oleh kawan-kawanku."


Nikita beranjak dari tempat duduknya.


"Aku ikut denganmu," ucap Nikita penuh semangat.


"Baiklah," ucap Sean.


Sean kemudian melajukan mobilnya menuju toko kue Aurora. 


Sean dan Nikita melangkah masuk ke dalam toko. Namun hanya terlihat beberapa pembeli dan seorang kasir. Aurora maupun Andromeda tak terlihat di sana.


"Permisi, Nona," sapa Sean pada kasir.


"Ada yang bisa saya bantu, Tuan?" tanya kasir bernama Nesya itu.


"Apakah Aurora tak datang ke toko ini?" tanya Sean.


"Nyonya…nyonya Aurora berada di rumah sakit, Tuan," jawab Nesya.


Sean dan Nikita tersentak kaget.


"Apakah dia sedang sakit?" tanya Nikita.


"Bukan nyonya Aurora yang sakit, Tuan, Nyonya. Tapi…" Nesya tak melanjutkan kata-katanya.


"Siapa yang sakit?" tanya Nikita dengan wajah panik.


"Andro...Andromeda. Kemarin siang ia mengalami kecelakaan," ucap Nesya.


Sean dan Nikita kembali tersentak.


"Astaga!" seru mereka hampir bersamaan.


"Andro dirawat di rumah sakit mana, Nona?" tanya Sean.


"Di rumah sakit MD," jawab Nesya.


"Baiklah. Kami akan kesana sekarang juga," ucap Sean.


Sean dan Nikita kemudian meninggalkan kios tersebut dan bergegas menuju rumah sakit.


Setelah bertanya pada salah satu perawat, keduanya pun lalu menuju ruang perawatan Andro.


Dari kejauhan tampak seorang perempuan tengah duduk di bangku tunggu yang ada di depan ruang ICU. Nikita tak asing dengan wajahnya.


"Bagaimana keadaan Andro?" tanya Sean pada Aurora.


Kedatangan Sean dan Nikita yang mendadak sedikit mengagetkan Aurora.


"Paman Sean...Bibi…Nikita?" 


Aurora menatap wajah Nikita. Istri Sean sekaligus bibinya tersebut. Nikita yang dari dulu tak pernah menyukainya. Perempuan yang sudah begitu lama tak dilihatnya. Kini berdiri tepat di hadapannya.


"Bibi Nikita…benarkah ini Bibi?" tanya Aurora dengan suara bergetar.


"Iya. Ini aku, Bibimu. Bagaimana kabarmu?" tanyanya.


"Aku takut...Paman, Bibi," ucap Aurora dengan mata berkaca-kaca.


"Bagaimana keadaan Andro?" tanya Sean dengan wajah cemas.


"Andro koma," jawabnya. Tiba-tiba buliran bening menetes di pipinya.


Nikita tiba-tiba mendekati Aurora kemudian merengkuh tubuh keponakannya tersebut ke dalam pelukannya.


"Tenanglah, Andro akan baik-baik saja. Dia anak yang kuat," ucap Nikita sambil mengelus lembut pundaknya.


*****


Di rumah Hans.


Malam itu Hans dan Helena berada di kamar mereka. Helena tampak menyandarkan kepalanya di dada Hans.


"Kemarin nyonya Joyce datang ke rumah kita," ucap Helena. 


"Sungguh?" tanya Hans.


"Mobilnya hampir menabrak ibu. Kemudian ia mengantar ibu pulang," jawabnya.


"Aku baru tahu. Ternyata nyonya Joyce memiliki masa lalu yang pahit," ucap Helena.


"Apa maksudmu?" tanya Hans.


"Mira...Mira ternyata berhubungan dengan masa lalunya," jawab Helena.


Hans menautkan alisnya.


"Ya. Ternyata Mira adalah orang ke tiga dalam pernikahan nyonya Joyce dan suaminya."


"Orang ke tiga?"


"Dulu Mira pernah bekerja di rumah nyonya Joyce sebagai pengasuh bayinya. Namun ternyata Mira dan suami nyonya Joyce menjalin hubungan terlarang bahkan sampai Mira mengandung. Saat nyonya Joyce mengetahui hubungan antara suami dan pengasuh bayinya itu pun ia memutuskan untuk mengusir keduanya pada hari yang sama."


"Astaga! Lalu dimana anak itu sekarang? Setahuku Mira tak pernah sekalipun bercerita perihal keluarganya."


"Anak itu meninggal saat dilahirkan," jawab Helena. Hans kembali tersentak.


"Tuhan telah menghukum Mira atas dosanya. Ia menikah dengan suami nyonya Joyce namun pernikahan mereka tak bahagia. Suami Mira meninggalkannya begitu saja beberapa minggu sebelum Mira melahirkan. Seperti halnya Mira, Tuhan juga telah menghukumku atas dosa yang telah aku perbuat di masa laluku," ujar Helena.


"Sudahlah. Aku tak suka jika kau kembali mengungkit hal itu," ucap Hans sambil membelai lembut rambut panjang Helena.


Helena mendongakkan wajahnya. Hans menatap mata Helena. Netra keduanya bertemu.


"Aku ingin kita mengulang semuanya," ucap Hans. Tangannya mulai menyentuh wajah Helena. Helena memejamkan matanya. Menikmati sentuhan Hans yang sudah begitu lama tak ia rasakan.


Hans membaringkan tubuh istrinya di atas ranjang. Ia menatap dalam mata istri yang sangat dicintainya tersebut.


"Aku mencintaimu, Helena," ucapnya sambil mengecup lembut bibir Helena.


Helena membuka matanya. Ia menatap mata Hans.


"Aku juga mencintaimu, Hans," ucapnya sambil membalas kecupan mesra Hans.


Tiba-tiba terdengar jeritan dari arah kamar mandi. Keduanya sontak kaget.


Hans bergegas beranjak dari ranjang dan keluar dari kamar. Ia berlari menuju kamar mandi.


"Ibu! Apa yang terjadi?" Hans menggedor pintu kamar mandi namun tak ada jawaban.


"Ibu? Ibu baik-baik saja?" tanyanya mulai khawatir. 


Hans terus menggedor pintu namun sang ibu tak menjawab. Akhirnya ia pun membuka paksa pintu tersebut.


Hans membelalakkan matanya saat mendapati Felice sang ibu terduduk di lantai kamar mandi. Kepalanya berdarah karena menghantam dinding.


"Ibu! Ibu! Sadarlah!" Hans mengguncang tubuh Felice namun ia tak bergerak.


Mira tiba-tiba berlari ke arah mereka.


"Astaga! Apa yang terjadi, Tuan?" tanyanya dengan wajah panik.


"Sepertinya ibu baru saja terpeleset. Kepalanya berdarah karena membentur dinding," jawab Hans.


Hans lalu membopong tubuh Felice keluar dari kamar mandi.


"Ajak Helena. Kita ke rumah sakit sekarang," ucap Hans sambil berlalu dari hadapan Mira.


Meskipun tak bisa melihat, namun Helena bisa merasakan jika sesuatu telah terjadi di rumah itu.


"Kita ke rumah sakit sekarang, Nyonya," ucap Mira yang tiba-tiba masuk ke kamarnya.


"Ibu kenapa?" tanyanya dengan wajah panik.


"Nyonya...Nyonya Felice terpeleset di kamar mandi dan pingsan, Nyonya," jawabnya.


"Astaga!"


"Tuan Hans akan segera membawa nyonya ke rumah sakit," ucap Mira.


"Mira, bantu aku menuju mobil," ucap Helena.


Mira kemudian menuntun Helena keluar dari kamarnya dan berjalan menuju mobil Hans. Hans lalu melajukan mobilnya menuju rumah sakit.


*******


Di Rumah sakit.


Felice langsung dibawa masuk ke sebuah kamar ICU yang terletak persis di samping ruang perawatan Andromeda.


Hans, Helena dan Mira duduk di bangku tunggu yang berada di depan ruang perawatan Felice.


Aurora yang saat itu tengah berada tak jauh dari ketiganya pun berjalan mendekat ke arah mereka.


"Siapa yang sakit, Tuan, Nyonya?" tanya Aurora.


"Ibuku. Ia baru saja jatuh terpeleset di kamar mandi," jawab Hans.


"Astaga! Semoga ibu Tuan baik-baik saja," ucap Aurora dengan senyum tulus.


"Kau sendiri? Apakah kau sedang menunggu salah satu anggota keluargamu?" tanya Hans.


"Dia putraku satu-satunya. Ia baru saja mengalami kecelakaan dan kondisinya masih koma," jawab Aurora dengan raut wajah penuh kesedihan.


Ketiganya memandang iba pada Aurora.


Bersambung…


Tembus 500 👍aku up episode selanjutnya.…


❤ ❤ ❤ 


Hai kak, dukung terus karyaku ya…


Jangan lupa beri like👍, komentar💬, ✒vote, favorit💙 serta hadiah🎁.


Sekecil apapun dukungan yang kalian berikan untukku, aku akan sangat berterima kasih.


Semoga kalian terus menjadi pembaca setiaku..💕💕