
Bab 21
Malam itu Celine baru pulang dari salon setelah melakukan perawatan rutinnya. Perempuan itu hanya menjadikan Freddy sebagai mesin pencetak uang. Freddy pun tak pernah mempermasalahkan uangnya. Yang terpenting baginya ialah Celine selalu terlihat menarik dan menggairahkan di hadapannya.
Setelah memarkir mobilnya, Perempuan itu pun berjalan menuju kamar apartemennya yang berada di lantai lima. Freddy sengaja memberikan apartemen bagi sekretaris sekaligus kekasih gelapnya itu cukup jauh dari kamar Helena yang berada di lantai satu.
Celine menaiki lift menuju ke kamarnya. Perempuan itu terkejut saat pintu lift terbuka. Tampak seorang wanita tengah berdiri di depan pintu kamarnya. Ia merasa tak asing dengan perempuan itu.
"Helena!" Serunya.
"Kau pulang juga akhirnya," ucap Helena sinis.
"Sedang apa kau di depan kamarku?" Tanyanya.
"Jauhi Freddy! Pria itu milikku!" Seru Helena.
"Perempuan tak tahu malu. Status kita tak jauh berbeda, nyonya Helena. Kita hanya perempuan simpanan tanpa status dan pengakuan!"
"Jangan samakan aku dengan dirimu. Tentu saja aku berbeda denganmu." Ucap Helena.
"Oh, tentu saja kita jauh berbeda. Lihat dirimu. Usiamu kini tak muda lagi. Kurasa Freddy mulai bosan padamu. Jadi ia mencari perempuan yang lebih muda dan menarik darimu," ejeknya.
Helena terdiam. Ia lalu memandang Celine. Penampilan dari ujung rambut hingga ujung rambutnya nyaris sempurna. Tubuhnya yang ideal dan wajahnya yang menarik. Tak heran jika pria seumuran Freddy terpikat padanya.
"Berapa usia putrimu sekarang?" Tanya Celine tiba-tiba. Pertanyaan itu membuat Helena kaget.
"Bukan urusanmu!" Jawabnya ketus.
"Ibu macam apa kau. Rela meninggalkan keluarga hanya demi pria lain."
"Jangan mencampuri urusanku!"
"Kenapa kau marah? Aku berbicara fakta 'kan?" Tanyanya.
"Aku katakan sekali lagi. Tinggalkan Freddy!" Seru Helena.
"Aku? Meninggalkannya? Dia adalah mesin uangku, nyonya."
"Perempuan matere!"
"Aku tak munafik. Siapa di dunia ini yang tak membutuhkan uang. Kau sendiri? Siapa yang selama ini menanggung hidupmu?" Tanya Celine.
Helena kembali terdiam.
"Aku tak akan pernah menjauh dari Freddy. Aku mencintainya," ucap Celine.
"Omong kosong! Kau hanya mencintai uangnya."
"Tahu apa kau soal cinta?" Tanya Celine.
"Freddy adalah cinta pertamaku." Ucapnya. Mata Celine terbelalak. Perempuan itu hampir tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.
"Kami berteman sejak kecil. Saat menginjak remaja, kami saling jatuh cinta. Kami cukup lama menjalin kasih. Namun orang tuaku tak pernah menyetujui hubungan kami. Saat itu Freddy hanya seorang pegawai biasa dengan gaji rendah. Kedua orang tuaku ingin aku menikah dengan orang kaya agar kehidupanku lebih baik. Hingga akhirnya aku dijodohkan dengan seorang pria bernama Hans yang juga anak dari salah satu sahabat ayahku. Aku terpaksa menerima lamarannya meskipun aku tak mencintai Hans sedikit pun." Ucap Helena.
"Kau bilang kau tak mencintainya? Tapi kau melahirkan anaknya."
"Anak itu bukan anak Hans," ucapnya.
"Lalu?"
"Kurasa kau sudah tahu jawabannya."
"Astaga!" Seru Celine. "Apa Freddy tahu jika ia telah memiliki anak darimu?" Tanyanya lagi.
"Freddy sama sekali tak tahu jika aku pernah mengandung anaknya."
"Lantas, suamimu sendiri?"
"Hans tak tahu jika pada saat malam pertama kami, aku telah mengandung anak Freddy." Jawab Helena.
"Aku tahu," jawab Helena.
"Jika ia tahu putrimu yang kini bersama suamimu adalah anak kandungnya, kurasa Freddy akan melakukan apapun untuk mendapatkannya."
"Itulah yang kutakutkan. Aku sengaja meninggalkan putriku. Aku hanya ingin putriku tumbuh di lingkungan dan keluarga yang baik. Apa jadinya putriku jika aku memberinya makan dari uang Freddy yang merupakan pria beristri."
"Mengapa saat itu kau lebih memilih Freddy?" Tanya Helena.
"Cinta. Itulah alasannya. Ia berjanji akan menikahiku. Namun apa nyatanya? Selama ini aku hanya dijadikan kekasih gelapnya."
"Kau tak ingin kembali pada suamimu?" Tanya Celine.
"Aku tak punya muka lagi untuk menemui Hans dan Nadine," ucapnya dengan wajah sedih.
"Hidup kalian berdua sungguh rumit." Ucap Celine.
"Maaf jika aku tadi bicara sedikit kasar padamu," ucap Helena.
"Tak apa. Aku juga perempuan. Aku bisa merasakan apa yang kau rasakan."
"Kau bisa menjaga rahasia 'kan?" Tanya Helena. Celine menganggukkan kepalanya.
"Jangan pernah sekalipun kau memberi tahu Freddy jika Nadine yang kini tengah bersama Hans adalah anak kandungnya."
"Baiklah."
"Mulai besok aku akan pergi dari apartemen ini," ucap Helena.
"Kau mau kemana?"
"Entahlah. Aku sudah terlalu lelah menjalani hubungan ini. Aku tak bisa bertahan lebih lama lagi. Cintaku padanya yang dulu begitu besar. Perlahan menghilang karena ia mengingkari janjinya. Bukan kebahagiaan yang ia beri. Namun justru penderitaan yang entah kapan berakhir."
Helena meraih tangan Celine. Perempuan yang awalnya ia anggap telah merebut Freddy. Namun pada akhirnya ia sendiri yang memilih pergi.
"Aku pamit. Satu pesanku. Jaga rahasia itu. Kau satu-satunya orang yang tahu mengenai Nadine." Ucapnya.
Helena kemudian berlalu dari hadapan Celine. Perempuan itu tiba-tiba merasa iba padanya.
"Hidupmu begitu rumit, Helena. Padahal kau sendiri yang membuatnya," ucapnya.
*****
Helena kembali ke kamarnya. Ia memasukkan pakaian miliknya ke dalam sebuah tas berukuran cukup besar. Malam itu ia akan mengambil sebuah keputusan besar dalam hidupnya. Ia akan meninggalkan Freddy dan segala kenangan tentangnya. Meskipun ia tak tahu kemana arah yang akan ia tuju.
Helena mengambil pena dan buku dari dalam laci. Ia pun mulai menulis.
Dear Freddy,
Saat kau membaca tulisan ini mungkin aku telah pergi jauh darimu. Dan mungkin tak akan pernah kembali di sisimu. Fred, aku seorang perempuan yang memiliki hati dan perasaan. Bertahun-tahun kau mengurungku dalam penderitaan. Aku mungkin hanya diam. Namun kurasa aku telah berada di titik lelah. Aku lelah menjalani hidup dengan cara tak biasa ini. Terima kasih untuk semuanya. Maaf jika aku harus meninggalkanmu dengan cara seperti ini. Jangan lagi kau permainkan hati perempuan. Cukup aku yang merasakannya. Kembalilah pada istrimu. Sarah lebih membutuhkanmu sekarang.
Selamat tinggal.
Dari seorang perempuan yang pernah begitu dalam mencintaimu,
Helena.
Helena mengusap air matanya. Keputusannya untuk meninggalkan Freddy sudah bulat. Ia bertekad akan memulai hidup baru tanpanya. Perempuan itu menanggalkan semua perhiasan yang dikenakannya. Ia juga meninggalkan seluruh uang dan beberapa lembar kartu kredit pemberian Freddy dari dalam dompetnya.
Tiba-tiba netranya tertuju pada sebuah cincin yang telah begitu lama ia simpan di dalam dompetnya. Cincin pernikahan yang dulu pernah disematkan Hans di jari manisnya. Cincin yang sudah lebih dari dua puluh tahun dilupakannya. Namun tanpa pernah ia sangka, justru cincin itulah yang akan menjadi penyelamatnya.
"Maafkan aku, Hans," ucapnya parau.
Helena memandang seisi kamarnya. Kamar yang hampir tiga puluh tahun menjadi saksi bisu saat ia melewatkan malam-malamnya bersama Freddy. Pria yang pernah begitu dicintainya. Pria yang membuatnya menjadi perempuan paling bahagia sekaligus paling bodoh di dunia.
To be continue...