ANDROMEDA

ANDROMEDA
Berhati emas



Malam itu Emily terus gelisah. Jam sudah menunjukkan pukul 23.00 namun kedua anaknya, Gibran dan Alicya belum juga pulang. Ia telah berkali-kali mencoba menghubungi ponsel Alicya namun tak tersambung.


"Dimana kalian? Mengapa belum pulang juga?" gumamnya.


Di saat kebingungannya, tiba-tiba telepon rumahnya berdering. Emily pun segera menjawab panggilan tersebut.


["Hallo, selamat malam, dengan Emily. Siapa disana?"]


["Selamat malam, Nyonya. Aku Rio."]


["Kurasa aku tak mengenalmu."]


["Aku menelponmu dari rumah sakit HJ".]


["Mungkin anda salah nomor.]


["Tidak, Nyonya. Aku tahu nomor telepon rumah Nyonya dari Gibran.]


["Gibran? Ya, benar dia nama putraku.]


["Tuan Gibran dan adiknya beberapa waktu yang lalu mengalami perampokan. Aku kebetulan melintas di jalan itu dan mendengar teriakan putrimu yang meminta tolong."]


["Astaga! Lalu bagaimana keadaan kedua anakku?"]


["Perampok itu mengambil ponsel dan dompet milik kedua anak Nyonya. Gibran sempat pingsan karena kepalanya dipukul benda keras. Tapi sekarang putramu sudah sadar. Mungkin besok pagi dokter baru mengizinkannya pulang."]


["Terima kasih, Nak.]


Emily mengakhiri percakapan.


Emily merasa bingung. Ia tak tega jika harus membangunkan sopirnya yang telah tertidur hanya untuk mengantarkannya ke rumah sakit. Akhirnya ia pun memilih menunggu hingga esok hari.


Pagi-pagi sekali Emily mengetuk pintu kamar sopir pribadinya.


"Ada apa, Nyonya," tanya sopir.


"Antar aku ke rumah sakit sekarang juga," ucap Emily.


"Siapa yang sakit, Nyonya?" tanyanya dengan wajah panik. 


"Gibran dan Alicya dari semalam belum pulang," jawab Emily.


"Astaga! Apa yang terjadi pada tuan Gibran dan nona Alicya?" tanyanya.


"Semalam mereka dirampok. Gibran terluka karena dipukul oleh perampok," jawab Emily. Keduanya pun lalu menuju rumah sakit.


Sesampainya di rumah sakit "HJ", Emily dan sang supir bergegas menuju ruang perawatan Gibran. Emily membuka pintu ruangan tersebut. Tampak Gibran masih tertidur di ranjang pasien, dan Alicya tertidur di kursi di sisi ranjang. Sedangkan seorang laki-laki tidur di atas sofa.


"Nak," ucap Emily sambil menyentuh lembut pundak Alicya. Gadis itu pun terbangun.


"Ibu? Sejak kapan Ibu berada disini?" tanya Alice.


"Ibu baru saja tiba bersama pak Sopir," ucapnya sambil memandang sopir pribadinya.


"Bagaimana keadaan kakakmu?" 


"Kakak semalaman sulit tidur, Ibu. Ia mengatakan jika kepalanya terasa nyeri. Dokter terpaksa menyuntikkan obat bius. Mungkin beberapa jam lagi kakak baru bangun."


Emily lalu memandang pria yang tengah tertidur di atas sofa. "Apakah pria itu bernama Rio?" tanya Emily.


"Ya, Ibu. Kak Rio yang telah menolong kami dan membawa kakak ke rumah sakit ini," jawab Alicya.


Tiba-tiba Rio terbangun. Ia beranjak dari sofa kemudian berjalan ke arah Emily.


"Selamat pagi, Nyonya," sapanya ramah.


"Selamat pagi, Rio. Maaf jadi merepotkanmu. Kau harus ikut berjaga semalaman."


"Tak apa, Nyonya. Aku hanya khawatir jika Tuan Gibran membutuhkan sesuatu."


"Kau begitu baik pada kami meskipun Kau sama sekali belum mengenal kami," ucap Emily.


"Aky hanya melakukan apa yang seharusnya aku lakukan, Nyonya," ucapnya sambil tersenyum.


"Hatimu begitu baik, Nak. Oh ya, dimana tempat tinggalmu?" tanya Emily.


"Aku tinggal di apartemen Eddelweise, Nyonya," jawab Rio.


Rio kemudian melirik arloji di pergelangan tangannya. "Maaf, Nyonya. Aku harus pergi sekarang," ucapnya.


"Sekali lagi terima kasih, Nak," ucap Emily. Rio tersenyum kemudian berlalu dari kamar tersebut.


******


Rio tiba di apartemen. Ia berpapasan dengan Keenan yang hendak berangkat ke kantornya.


"Kau dari mana saja, semalaman tak pulang ke kamarmu?" tanya Keenan.


"Aku di rumah sakit," jawabnya.


"Siapa yang sakit?" tanya Keenan.


"Tadi malam saat aku melintas di jalan kenanga, tiba-tiba aku mendengar teriakan seorang gadis yang meminta tolong. Ternyata ia dan kakaknya baru saja menjadi korban perampokan," jawab Rio.


"Astaga!" Apa perampok itu melukai mereka?" 


"Gibran?" tanya Keenan.


"Ya, nama laki-laki itu adalah Gibran dan adik perempuannya bernama Alicya."


Keenan tersentak. "Aku mengenal mereka," ucapnya.


"Sungguh? Apakah Gibran saudaramu?" tanya Rio. Pertanyaan Rio sontak membuat Keenan kebingungan.


"Dia...dia hanya kawanku," jawabnya sedikit gugup.


"Gibran dirawat di rumah sakit mana?" tanya Keenan.


"Di rumah sakit "HJ"," jawab Rio.


"Baiklah," ucap Keenan sambil berlalu dari hadapan Rio.


*****


Di ruang perawatan Andromeda.


Andromeda baru saja menghabiskan sarapan paginya. Tiba-tiba pintu terbuka. Seorang dokter masuk ke ruangan tersebut.


"Selamat pagi, anak tampan. Bagaimana keadaanmu?" tanyanya.


"Aku sudah merasa lebih baik. Bolehkah aku pulang hari ini, Dokter?" tanyanya polos.


"Mengapa kau ingin cepat-cepat pulang?"


"Aku tak betah berlama-lama di rumah sakit ini. Aku ingin berjalan-jalan bersama si biru."


"Siapa si biru?"


"Si biru adalah sepeda kesayanganku."


"Kau harus pulih dulu baru aku mengizinkanmu pulang."


"Baiklah, Dokter. Aku akan makan yang banyak dan rajin minum obat."


"Anak pandai," ucap dokter sambil mengacak pelan rambut Andro.


Setelah memeriksa Andro, dokter ramah itu pun keluar dari ruangan tersebut.


"Sudah dua hari mister handsome tak mengunjungiku," ucap Andro.


"Mungkin dia sedang sibuk," ucap Aurora.


"Aku merindukannya," ucap Andro. Tiba-tiba matanya berkaca-kaca.


Tak berselang lama pintu kembali terbuka. Tampak Sean dan Nikita masuk ke ruangan tersebut.


"Selamat pagi, cucu nenek," ucap Nikita.


"Cucu?" Andro menautkan alisnya.


"Tentu saja itu Kau, Sayang," ucap Sean.


"Kau adalah cucu dari adikku. Bukankah Kau cucuku juga?" Sean terkekeh.


"Bagaimana keadaan Fiona, Paman?" tanya Aurora.


Andro tersentak. "Kenapa dengan bibi Fiona?" tanya Andro dengan wajah panik.


"Bibi Fiona mengalami kecelakaan. Ruangannya persis berada di depan ruangan ini," jawab Nikita.


"Apakah aku boleh menemui bibi Fiona? tanyanya. Sean dan Nikita saling memandang.


Aurora lalu mendekati Andro.


"Bibi Fiona saat ini sedang istirahat dan belum bisa ditemui siapapun. Nanti jika keadaan bibimu sudah membaik, Kau boleh menemuinya. Kau mengerti?" tanyanya. Andro mengangguk paham.


"Fiona harus menjalani operasi. Luka akibat serpihan kaca mobil di wajahnya cukup parah," ucap Sean.


"Astaga!" Aurora membungkam mulutnya.


"Fiona begitu terpukul dan belum bisa berdamai dengan keadaan. Ia masih sering berteriak histeris. Ia bahkan selalu menyalahkan adiknya. Fiona menganggap kecelakaan yang dialaminya adalah salah satu keinginan Sofia. Aku kadang tak mengerti mengapa Fiona selalu merendahkan orang lain. Aku merasa telah gagal mendidiknya," ungkap Sean. Raut kecewa terpancar di wajahnya.


"Mungkin karena kita terlalu memanjakannya," timpal Nikita.


"Lihat Andro. Meskipun Kau merawat dan membesarkannya dengan tanganmu sendiri, namun Andro adalah anak yang baik, sopan, dan berhati emas. Aurora, Kau beruntung memiliki Andromeda," ucap Sean dengan wajah haru.


Bersambung…


Tembus 500 👍aku up episode selanjutnya.…


❤ ❤ ❤ 


Hai kak, dukung terus karyaku ya…


Jangan lupa beri like👍, komentar💬, ✒vote, favorit💙 serta hadiah🎁.


Sekecil apapun dukungan yang kalian berikan untukku, aku akan sangat berterima kasih.


Semoga kalian terus menjadi pembaca setiaku..💕💕