ANDROMEDA

ANDROMEDA
Kesempatan ke dua



Hans menghentikan mobilnya di depan rumahnya.


"Kita sudah sampai," ucapnya.


Helena tak bergeming. Ia enggan beranjak dari tempat duduknya.


"Kau kenapa?" Tanyanya.


"Apakah ibu akan menerimaku?" Tanyanya.


"Tenanglah, semua akan baik-baik saja." 


Hans menggenggam tangan Helena.


Keduanya lalu turun dari mobil dan melangkah ke arah ruang tamu. Felice tak ada di sana. Mereka lalu menuju ruang makan. Felice juga tak sedang berada di ruangan itu.


"Mungkin ibu di balkon," gumam Hans.


Dengan langkah berat Helena mengikuti Hans yang terus menggandeng tangannya menuju ke lantai dua.


Benar saja, sore itu Felice tampak tengah membaca surat kabar di balkon ditemani secangkir teh hangat.


"Ibu disini rupanya," ucap Hans.


"Kau sudah pulang?" Tanya Felice. Pandangannya tak beralih dari surat kabar yang tengah dibacanya.


"Kau sudah menemui Gibran?" Tanyanya. Hans menggeleng.


"Aku membawa seseorang," ucap Hans.


Felice menutup surat kabarnya lalu meletakkannya di meja. Ia kemudian menatap Hans. "Seseorang?" Tanyanya.


"Dia kini berdiri di belakang Ibu," ucap Hans.


Felice membalikkan badannya. Perempuan itu tercengang. Ia tak percaya pada apa yang kini dilihatnya.


Tiba-tiba jantungnya berdegup kencang.


"Hel...Hel...Helena…" ucapnya terbata-bata.


"Iya, Ibu, dia istriku Helena," ucap Hans.


"Masih berani kau menginjakkan kaki di rumah ini 'heh?" Tanya Felice dengan pandangan penuh kebencian.


Helena hanya terdiam dan menundukkan kepalanya. Ia tahu dari dulu Ibu mertuanya itu tak pernah menyukainya.


"Mengapa kau mengajak perempuan j***ng ini kembali ke rumah ini, Hans? Apa kau sudah kehilangan akal?" Tanya Felice. 


"Ibu...Helena sudah berubah. Dia sudah menyadari kesalahannya. Kumohon, beri dia kesempatan," ucap Hans.


"Perempuan inu tak pantas berada di rumahku!" seru Felice.


"Aku masih mencintainya, Ibu."


"Itu bukan cinta. Namun kebodohan!" 


"Apakah setiap orang yang telah menyadari kesalahannya tak pantas untuk mendapat maaf dan kesempatan kedua?"


"Dosanya sudah terlalu besar. Tiga puluh tahun dia meninggalkan begitu saja suami dan anaknya hanya demi seorang pria. Julukan apa yang pantas disandangnya selain perempuan j***ng!"


"Cukup, Ibu. Jangan lagi memanggilku seperti itu…" ucap Helena. Ia mulai terisak.


"Jangan memanggilku Ibu! Aku tak sudi memiliki menantu hina sepertimu!" serunya.


Helena menjatuhkan lututnya di lantai. Ia lalu meraih tangan Felice.


"Ibu…maafkan aku," ucapnya sambil terisak.


Felice menepis tangan Helena dan mendorongnya dengan kasar.


"Aku tak akan pernah memaafkanmu sampai aku mati sekalipun!"


Felice memandang Helena yang terlihat kesulitan mencari pegangan untuk berdiri. Ia baru sadar jika perempuan itu tak dapat melihat.


Hans bergegas menghampirinya dan membantunya berdiri.


"Kau…?" Tanya Felice.


"Beberapa hari yang lalu Helena mengalami kecelakaan. Dan kini ia harus kehilangan penglihatannya," jawab Hans.


Felice tersentak.


"Kecelakaan?"


"Ya. Kecelakaan yang melibatkan Gibran. Calon tunangan putriku. Helena mengatakan jika pengemudi mobil itu adalah Gibran." Felice kembali tersentak.


"Ibu lihat. Tuhan sudah menghukumku atas dosa yang sudah kuperbuat. Kini aku kehilangan penglihatanku," ucap Helena dengan suara bergetar.


"Kau pantas mendapatkannya!"


"Apakah Ibu benar-benar tak mau memaafkanku?" Tanyanya.


"Sampai mati aku tak akan pernah memaafkanmu!" serunya.


Tiba-tiba Felice memegangi dadanya. Ia terlihat sangat kesakitan. Nafasnya sesak. Tak lama berselang perempuan itu pun jatuh pingsan.


"Ibu! Bangun!" Hans mengguncang tubuh Felice namun Felice tak bergerak.


"Ibu  kenapa?" Tanya Helena.


"Ibu pingsan. Kita harus segera membawanya ke rumah sakit," ucap Hans dengan wajah panik.


Sesampainya di rumah sakit.


Felice langsung dibawa ke ruang ICU. 


Hans menunggu di bangku tunggu dengan wajah panik.


Beberapa menit kemudian seorang dokter keluar dari ruangan tersebut.


"Bagaimana keadaan ibu saya, Dokter?" Tanyanya masih dengan wajah tegang.


"Pasien mengalami serangan jantung," jawab Dokter. Hans tersentak.


"Apakah ibu bisa sembuh?" 


"Kami akan berusaha semampu kami," ucap dokter. 


"Apakah kami bisa menemui ibu sekarang?"


"Silahkan. Sebisa mungkin jangan membuat pasien tertekan atau emosi. Karena hal tersebut bisa membuat keadaannya semakin memburuk."


Tak berselang lama dokter itu pun berlalu dari hadapan Hans.


"Ini semua salahku. Jika aku tak datang ke rumahmu dan berdebat dengan ibu, mungkin semua ini tak akan terjadi. Aku memang perempuan tak berguna," ucap Helena tiba-tiba.


"Jangan salahkan dirimu. Ini bukan salahmu. Ibu memang memiliki riwayat penyakit jantung," ucap Hans.


"Kau mau ikut ke dalam?" Tanya Hans.


Helena menggeleng.


"Aku tak ingin membuat ibu marah-marah lagi. Itu tak baik untuk kesehatannya," ucap Helena.


Hans lalu masuk ke ruang perawatan sang ibu. Felice tampak terbaring lemah di ranjang pasien.


"Ibu sudah merasa lebih baik?" Tanyanya. Felice hanya terdiam. Ia memalingkan wajahnya.


"Kau ingin membuatku mati perlahan," ucap Felice.


"Apa yang Ibu katakan?"


"Kau pasti paham dengan apa yang kukatakan."


"Bagaimana pun Helena masih istriku. Dan ibu kandung Nadine."


"Selama puluhan tahun Kau dan putrimu hidup tanpanya dan kalian baik-baik saja.


Mengapa kau harus menerimanya kembali?" 


"Aku masih mencintainya."


"Kau memang keras kepala."


"Sekarang kau pilih. Ibumu atau perempuan itu!" serunya.


"Itu pilihan berat bagiku. Aku mencintai Helena. Namun aku juga sangat menyayangi ibu. Setiap orang pernah membuat kesalahan. Kita harus memberinya kesempatan ke dua."


"Baiklah. Jika sekali lagi dia membuatku kecewa, aku tak akan pernah mengampuninya." 


"Terima kasih, Ibu," ucapnya dengan mata berkaca-kaca.


Sementara dari luar ruangan itu Helena tersenyum dan menghembuskan nafas lega.


Ia bersyukur. Meskipun Felice ibu mertuanya sangat membencinya, namun ia tak menyangka jika perempuan itu mau memaafkannya dan memberinya kesempatan ke dua.


Helena lalu masuk ke dalam ruangan Felice dengan raut wajah bahagia.


*******


New York, 01.00 am.


Nadine baru saja tiba si hotel setelah perjalanan udara yang cukup melelahkan. Ia membaringkan tubuhnya di atas ranjang.


Mulai hari ini Nadine bersumpah pada dirinya sendiri. Ia akan menutup hatinya dan seluruh kenangannya bersama Gibran. Pria yang empat tahun belakangan telah mengisi hatinya.


Pertunangan yang dulu pernah begitu ia impikan pun harus benar-benar gagal. Nadine tak menginginkannya lagi. Bahkan ia merasa cintanya pada Gibran telah mati seiring rasa kecewa yang mendalam di hatinya.


Nadine membuang napas. Ia lalu mengambil ponselnya.


Ia membuka galeri yang berisi ratusan kenangan bersama Gibran. Dalam hitungan detik kenangan Gibran yang tersimpan di ponselnya pun benar-benar hilang. Nadine telah menghapus semua kenangan itu tanpa sisa.


"Selamat tinggal, Gibran," gumamnya.


Nadine meletakkan kembali ponselnya. Ia memejamkan matanya yang mulai terasa berat. Tak berselang lama gadis itu pun terlelap. Ia siap menyambut esok hari. Esok baru tanpa bayang-bayang Gibran.


Bersambung...



Visual: Felice


V



Visual: Nadine.


Hai kak dukung terus karyaku ya. Jangan lupa beri like, koment, favorit dan hadiah.


Sekecil apapun dukungan yang kalian berikan, penulis akan sangat berterima kasih.😍😍😍