ANDROMEDA

ANDROMEDA
Kakek & Nenek



Siang itu Aurora berada di toko kue miliknya. Nesya, kasir di toko tak bisa datang karena sakit. 


Tiba-tiba sebuah mobil berwarna silver berhenti di depan toko. Tampak seorang pria setengah baya mengenakan setelan jas turun dari mobil tersebut.


Aurora yang tengah sibuk melayani pelanggan tak menyadari jika pria itu telah berdiri di hadapannya.


"Ada yang bisa saya bantu, Tuan," sapa Aurora. Ia memandang pria tersebut. Ia merasa jantungnya berhenti berdetak. 


"Paman Sean…" ucapnya. Aurora hampir tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Ia kembali bertemu dengan Sean, satu-satunya saudara mendiang ayahnya.


"Kau…? Aurora!" Pria itu tak kalah kaget.


"Bagaimana kabarmu sekarang?" Tanya Sean.


"Paman lihat sendiri. Aku baik-baik saja. Aku masih bernafas," jawab Aurora.


"Kupikir kau…" Sean tak melanjutkan kata-katanya.


"Paman berpikir jika aku tak bisa bertahan hidup tanpa siapapun?" Tanyanya.


"Kemana kau selama ini?" 


"Sejak kapan Paman peduli padaku? Bukankah Paman sudah tak menganggapku ada?" 


"Kau salah paham."


"Salah paham? Dimana Paman saat aku jatuh dan dan terpuruk? Dan dimana Paman saat pemakaman ibu?" Tanya Aurora dengan mata berkaca-kaca.


"Diana? Diana sudah…" Sean tak melanjutkan kata-katanya.


"Ya. Ibuku meninggal tak lama setelah perusahaan milik kami hancur."


Sean terdiam dan hanya menundukkan kepalanya.


"Aku minta maaf. Saat itu aku…"


"Sudahlah paman. Aku tak perlu penjelasan apapun."


"Toko ini milikmu?" Tanyanya.


"Ya. Meskipun hanya sebuah toko kecil, namun toko ini mampu membuatku bertahan hidup," jawabnya.


"Aurora...Paman minta maaf padamu jika Paman banyak salah padamu."


"Mengapa baru sekarang Paman meminta maaf? Bagaimana dengan ayah dan ibuku? Seharusnya Paman meminta maaf pada mereka."


Sean terdiam. Ia tak mampu berkata sepatah kata pun.


"Hai...Mommy," sapa Andro yang tiba-tiba masuk ke dalam toko.


Sean membalikkan badannya. Ia kembali dibuat kaget saat melihat wajah Andro. Pahlawan kecil yang beberapa waktu lalu pernah membantunya saat ia hampir menjadi korban pencurian.


"Andromeda…" ucapnya.


"Paman Sean…" ucap Andro.


"Sejak kapan Paman ada di sini?" Tanya Andro.


"Baru beberapa saat yang lalu," jawab Sean.


"Apakah kalian sudah saling kenal?" Tanya Aurora heran.


"Ya. Anak ini pernah menolongku beberapa waktu lalu saat aku hampir kehilangan laptopku," ucapnya.


"Dia anakku," ucap Aurora.


Sean tersentak. Ia hampir tak percaya jika pahlawan kecil itu adalah anak dari keponakannya sendiri.


"Sungguh?" Tanyanya dengan wajah haru.


"Apakah Mommy mengenal Paman Sean?" Tanya Andro.


"Paman Sean adalah kakak dari almarhum kakekmu," jawabnya.


"Sungguh? Apa aku boleh memanggilnya kakek?" Tanya Andro polos.


"Tentu saja boleh, Sayang. Aku Kakekmu juga." Sean merentangkan tangannya. Tanpa perintah siapapun Andro menghambur ke pelukan Sean. Tanpa ia sadari, buliran bening menetes di pipinya.


Aurora memandang adegan itu. Tiba-tiba hatinya merasa hangat. Dendam dan kebencian yang selama ini menumpuk di hatinya pun perlahan mencair.


"Apakah paman mencariku?" Tanya Andro. Pria itu cepat-cepat menyeka air matanya.


"Tadinya begitu. Paman ingin menanyakan rumahmu. Saat itu kau mengatakan jika rumahmu ada di belakang toko kue Aurora 'kan? Ternyata kita justru bertemu di tempat ini."


"Aurora…bolehkah aku mengajak Andro pergi keluar?" Tanya Sean.


Aurora menatap wajah Andro. Kebahagiaan terpancar dari wajahnya. Rupanya Andro menyukai sosok paman Sean. Ia tak ingin merenggut senyum cerianya hanya karena ia melarang Sean membawanya keluar. Andro tak mengerti apapun tentang masa lalu Aurora dan Sean. Andro berhak bahagia.


Aurora pun kemudian menganggukkan kepalanya. Andro pun bergegas memberinya sebuah kecupan hangat.


"Thank' s, Mom," (Terima kasih, Ibu) ucapnya.


Dengan langkah ceria Andro mendekat ke arah mobil Sean. Keduanya pun berlalu dari tempat tersebut.


Di dalam mobil terjadi percakapan diantara keduanya.


"Paman mau mengajakku kemana?" Tanya Andro.


"Nenek?"


"Ya. Istri Paman. Bukankah kau seharusnya memanggil nenek padanya?"


Andro terkekeh.


Sean menghentikan mobilnya di depan sebuah rumah yang terbilang mewah bagi Andro.


Seorang perempuan paruh baya terlihat keluar dari dalam rumah tersebut dan menyambut Sean.


"Aku punya kejutan untukmu," ucap Sean.


"Kejutan?" Tanyanya dengan wajah penasaran.


"Apakah kau membelikanku hadiah?" Tanya Nikita. 


"Bukan," jawabnya.


"Bukalah pintu depan mobilku," ucap Sean.


Nikita mendekat ke arah mobil lalu membuka pintu depan mobil tersebut. Ia tersentak kaget mendapati seorang anak laki-laki berada di dalamnya. Andro lalu keluar dari mobil.


"Siapa anak ini?" Tanyanya heran.


"Dia pahlawan kecil yang pernah kuceritakan padamu beberapa waktu lalu," jawab Sean. Nikita memandang bocah tampan berambut pirang itu dan tersenyum padanya.


"Nenek!" seru Andro. Tiba-tiba ia menghambur ke pelukan Nikita.


"Nenek? Mengapa kau memanggilku Nenek? Apa aku setua itu?" Tanyanya. Sean terkekeh.


"Dia adalah anak dari keponakan kita," ungkap Sean.


"Keponakan kita? Maksudmu…?"


"Apakah dia anak Aurora?" 


"Kau benar."


Nikita memandang wajah Andromeda. Seketika wajah itu mengingatkannya pada seorang gadis yang pernah ia sia-siakan. Seorang gadis yang seharusnya ia sayangi. Tapi di saat ia membutuhkannya, Nikita dan keluarganya justru menjauhi dan dan seakan membuangnya.


Nikita tiba-tiba berlutut dan merengkuh Andro ke dalam pelukannya. Andro bisa merasakan bahu perempuan itu berguncang.


"Maafkan Nenek, Nak" ucapnya terisak.


" Mengapa Nenek minta maaf? Kita baru saja bertemu. Nenek tak punya salah."


Nikita tak menjawab. Ia justru semakin mengeratkan pelukannya.


Suara deru mobil sedikit mengejutkannya. Nikita melonggarkan pelukannya. Ia berdiri lalu memandang mobil tersebut. Rupanya itu mobil putrinya, Fiona. Tak berselang lama gadis itu pun keluar dari mobilnya dengan wajah kesal.


"Ada apa denganmu, Fio?" Tanya Nikita.


Fiona menggelengkan kepalanya. Tiba-tiba pandangannya tertuju pada Andromeda.


"Kau…?  Mengapa kau berada di rumahku?"


"Namanya Andromeda. Dia keponakanmu," ucap Sean.


"Anak ha**m yang terlahir tanpa ayah yang jelas," ucapnya ketus.


"Fiona! Jaga ucapanmu. Tak seharusnya kau mengatakan kata-kata itu di depan anak sekecil Andro!" seru Sean.


"Bukankah aku berkata benar? Dia memang anak yang tak jelas asal-usulnya 'kan?" Tanya Fiona sambil berlalu.


Wajah Andro tiba-tiba berubah sedih.


"Aku mau pulang, Kakek," ucapnya.


Sean lalu mendekati Andro.


"Maafkan sikap bibi Fiona," ucap Sean.


"Kau bahkan belum masuk ke dalam rumahku. Aku tak mengizinkanmu pulang," ucap Nikita. Ia pun lalu menggandeng tangan kecil Andro dan mengajaknya masuk ke dalam rumah.


"Mengapa Ibu dan Ayah mengajak anak ini masuk ke rumah kita? Dia hanya mengotori lantai rumah," ucap Fiona dengan tatapan sinis.


"Apakah sedikit saja kau tak bisa bersikap sopan, Fio!" seru Sean.


"Aku tak sudi menganggap anak ha**m itu sebagai keponakanku!" umpatnya. Ia lalu masuk ke dalam kamarnya.


Sean merasa malu pada tamu kecilnya. Fiona, putri kandungnya selalu meremehkan orang lain. Ia hampir tak bisa bersikap sopan pada siapapun.


Bersambung…


Tembus 200 👍aku up episode selanjutnya.…


❤ ❤ ❤ 


Hai kak, dukung terus karyaku ya…


Jangan lupa beri like👍, komentar💬, ✒vote, favorit💙 serta hadiah🎁.


Sekecil apapun dukungan yang kalian berikan untukku, aku akan sangat berterima kasih.


Semoga kalian terus menjadi pembaca setiaku..💕💕