
Bab 26
Keenan terlihat tengah berbincang dengan seorang pria. Pria itu mengenakan seragam seorang petugas kebersihan.
"Kau sudah tahu tugasmu 'kan?" Tanyanya. Pria itu mengangguk paham.
Di apartemen Gibran.
Gibran baru saja menyelesaikan mandi sorenya. Saat seorang petugas kebersihan mendatangi kamarnya.
Setelah menjelaskan maksud kedatangannya, Gibran pun mempersilahkan pria tersebut masuk ke dalam kamar apartemennya.
Petugas kebersihan yang sengaja dibayar Keenan untuk mencari sampel rambut di kamar kakak tirinya itu pun mulai melancarkan aksinya.
Ia mengamati sisir yang terletak di atas meja. Namun sisir itu bersih. Pencariannya berlanjut ke sebuah topi dan handuk basah yang tergantung di belakang pintu. Hasilnya juga nihil. Tak sehelai pun rambut Gibran yang tampak disana. Hanya tempat tidur harapan terakhirnya. Pria itu lau mengamati bantal berwarna putih di atas ranjang.
Pencariannya tak sia-sia. Sehelai rambut terlihat di atas bantal. Dengan hati-hati petugas kebersihan itu memasukkan sehelai rambut tersebut ke dalam sebuah botol kecil yang telah ia persiapkan sebelumnya.
"Aku sudah selesai memeriksa kamarmu. Kurasa kamarmu aman dari gangguan tikus dan kecoa," ujar pria tersebut.
Tak lama pria itu pun berlalu meninggalkan kamarnya. Gibran sama sekali tak menaruh curiga pada pria itu. Ia tak menyangka sedikit pun jika kedatangan pria tersebut di kamarnya akan menjadi awal terjadinya konflik terbesar dalam hidupnya.
"Ini upah yang sudah kujanjikan padamu," ucap Keenan. menyodorkan amplop berisi uang dalam jumlah yang terbilang besar bagi seorang cleaning service.
"Kartu As mu ada di tanganku sekarang," gumam Keenan.
*****
Pagi itu di sebuah kamar apartemen.
Pukul 08.00. Suara alarm dari ponsel membangunkan Celine. Perempuan itu membuka matanya. Tangannya lalu meraba sisi tempat tidurnya. Rupanya Freddy tak datang ke kamarnya Kemarin malam.
Celine mengambil ponselnya dari atas nakas. Ia mematikan alarm tersebut dan kembali menarik selimutnya.
Tiba-tiba ponselnya berdering singkat. Sebuah pesan masuk di aplikasi percakapan.
[From: My Mom
Meet me at 9.00 a.m in Paradise Cafe.]
Celine lalu membalas pesan dari ibunya tersebut.
[To: My Mom
OK. See you,]
Celine menyibakkan selimut tebalnya. Ia mencoba mengusir rasa malasnya yang masih menyerang. Perempuan itu pun bergegas ke kamar mandi. Hangatnya air shower perlahan membuat tubuhnya merasa segar.
Celine mengenakan blouse selutut berwarna hijau tosca. Serta blazer dan sepatu berwarna senada. Riasan yang tak begitu tebal membuat janda muda itu tampil cukup menawan.
Ia mengendarai mobilnya menuju cafe tempat ia akan bertemu dengan ibunya.
"Kau sudah lama menunggu?" Tanya Celine sambil mencium kedua pipi sang ibu.
"Belum begitu lama," jawabnya. Aku sudah memesan menu sarapan untukmu," ucapnya kemudian.
"Apa ada hal penting yang ingin kau bicarakan?" Tanya Celine sambil menduduki kursinya.
"Bagaimana pekerjaanmu?"
"Kurasa aku merasa cocok dengan profesi baruku," jawabnya.
"Lalu, sejauh mana hubunganmu dengan Freddy? Aku tak yakin hubungan kalian hanya sebatas bos dan sekretaris."
"Mengapa kau tiba-tiba menanyakan hal itu?"
"Ingat pesanku. Jangan bermain api jika kau tak ingin terbakar."
"Aku tak bisa menyangkal. Aku menyukai pria itu," ucap Celine.
"Freddy pria beristri, Celine!" Seru Joyce, sang ibu.
"Aku tahu. Tapi Freddy nyaman bersamaku. Ia tak bahagia dengan pernikahannya."
"Lantas? Itukah alasanmu, hingga kau rela menjadi kekasih gelapnya?" Tanya Joyce. Celine tak menjawab.
"Sama sepertiku. Kau pernah gagal dalam pernikahanmu sebelumnya. Namun kau juga harus menjadi perempuan yang punya harga diri."
"Lalu, dimana salahku? Apa aku tak berhak mencintai seorang pria?"
"Freddy bukan pria yang baik. Pria yang baik tak akan pernah mengkhianati istrinya. Seperti yang dulu pernah ayahmu lakukan padaku."
"Ayah?"
"Saat kau masih kecil, ayahmu meninggalkanku hanya karena seorang pengasuh bayi." Tiba-tiba raut kemarahan tampak di wajahnya.
"Pengasuh bayi?"
"Ayahmu jatuh cinta pada pengasuhmu!"
Seru Joyce. Wajahnya terlihat memendam sebuah amarah.
"Benarkah?" Tanya Celine setengah tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.
"Lalu, dimana ia sekarang?"
"Aku tak pernah peduli lagi padanya sejak hari ketika aku mendapati testpack di kamar perempuan itu."
"Kau mengusir ayah?"
"Tinggalkan pria itu atau kau akan menyesal!" Seru Joyce. Perempuan itu lalu meneguk jus jeruknya.
"Aku tak bisa kehilangan Freddy!" pekik Celine.
"Kau takut kehilangan pekerjaan mu? Kau bisa mengelola salah satu butik ku."
"Kau tahu. Dari dulu aku tak tertarik dengan bisnis mu."
"Kau tak pernah mencoba menyukainya."
Ucap Joyce. Ia mulai menyantap menu sarapannya.
"Aku tengah dekat dengan seorang pria," ucap Joyce. Celine hampir tersedak oleh makanannya. Ia pun cepat-cepat mengambil minumannya.
"Kau berniat menikah lagi?" Tanya Celine.
"Entahlah. Kami belum lama saling mengenal. Tapi kurasa dia pria yang baik," jawab Joyce.
"Siapa pria itu?" Tanya Celine.
"Dia pemilik salah satu perusahaan. Pria itu dulu kawan kuliahku. Beberapa waktu lalu kami bertemu lagi setelah sekian lama di acara reuni kampus."
"Pria itu pernah menikah?"
"Dia bahkan telah memiliki anak. Namun istrinya pergi meninggalkan mereka tanpa sebab yang jelas."
"Sepertinya kesetiaan dalam sebuah pernikahan adalah suatu hal yang yang sulit dilakukan," ucap Celine.
"Sama seperti Freddy 'kan?" Tanya Joyce. Celine tersenyum getir.
*****
"Bagaimana persiapan acara pertunanganmu?" Tanya Hans pada Nadine.
"Kami sudah memesan cincin dan baju pertunangan."
"Dimana kau memesan bajumu? Seharusnya kau mengatakannya padaku. Aku mengenal salah satu pemilik butik terbaik di kota ini," ucap Hans.
"Entahlah. Aku tak ingat nama butiknya. Salah satu kawanku yang merekomendasikannya untukku."
"Di mana nenek?" Tanya Nadine kemudian.
"Dia ada di halaman belakang," jawab Hans.
Nadine berlalu dari hadapan sang ayah. Perempuan itu lalu berjalan menuju halaman belakang rumahnya.
Tampak seorang perempuan tua tengah membaca surat kabar di bangku dekat taman. Nadine berjalan mengendap-endap menghampiri sang nenek yang usianya mendekati kepala tujuh tersebut. Ia pun menutup kedua mata sang nenek dengan tangannya.
"Nadine," ucapnya.
Nadine sedikit kesal. Ternyata sang nenek mengetahui kedatangannya bahkan dengan mata tertutup.
"Tentu saja nenekmu tahu.Jika itu kau," Perempuan tua itu terkekeh.
"Aku sama sekali tak asing denganmu. Sedari kecil aku yang merawatmu." Perempuan itu melepaskan kaca mata bacanya. Netranya lalu memandang ke arah cucu perempuan satu-satunya tersebut.
"Rasanya baru kemarin aku menggendongmu. Tak lama lagi kau akan menikah," ucapnya. Matanya tampak berkaca-kaca.
Nadine memeluk sang nenek. "Thank's, grandma," ucapnya kemudian. Matanya sedikit mengembun.
"Seandainya ibumu tak meninggalkanmu saat itu. Ia akan menjadi salah satu orang yang berbahagia dalam pertunanganmu."
"Boleh kutanya satu hal padamu?" Tanya Nadine.
"Apa yang ingin kau tanyakan?"
"Siapa Freddy?" Tanyanya lagi
Sang nenek sedikit kaget. Tiba-tiba Nadine menyebut nama pria itu.
"Dari mana kau tahu nama itu?"
"Ayah pernah menyebut namanya."
Sang nenek menghela napas. Perempuan tua itu tampak kesal saat Nadine menyebut nama Freddy di hadapannya.
"Kurasa sudah saatnya kau tahu tentang masa lalu kedua orang tuamu," ucap sang nenek. Ia mengalihkan pandangannya ke arah taman bunga tak jauh dari tempat duduknya.
"Ibumu dulu adalah seorang model cantik yang terkenal. Ayahmu menikahinya karena sebuah bisnis." Ucapnya.
Nadine menaikkan alisnya.
"Kurasa kedua orang tua ibumu terpaksa menikahkannya pada usia muda."
"Terpaksa?" Tanya Nadine.
Bersambung….
❤ ❤ ❤
Hai kak, dukung terus karyaku ya…
Jangan lupa beri like👍, komentar💬, ✒vote, favorit💙 serta hadiah🎁.
Sekecil apapun dukungan yang kalian berikan untukku, aku akan sangat berterima kasih.
Semoga kalian terus menjadi pembaca setiaku..💕💕