
New York, 03.00 am, di kamar hotel.
"Tidak! Tunggu! Gibran!" Jerit Nadine dalam tidurnya. Ia kemudian terjaga. Jantungnya berdebar, nafasnya tersengal, dan keringat dingin mengalir deras. Nadine kemudian duduk dan merenung. Ia mengambil gelas berisi air putih di sisi ranjangnya dan menghabiskannya dengan cepat.
"Astaga! Aku hanya bermimpi," gumamnya.
Gibran baru saja hadir dalam mimpinya. Dalam mimpinya tersebut ia melihat Gibran berlari di tengah hutan. Ia mengejar Gibran yang terus berlari semakin jauh ke dalam hutan. Namun pria itu justru ketakutan. Nadine terus memanggilnya. Gibran semakin menjauhinya. Hingga akhirnya Gibran jatuh terperosok ke dalam jurang yang dalam.
Nadine menarik napas kemudian menghembuskannya. Mimpi itu sungguh terasa seperti nyata. Apakah mimpi tersebut adalah sebuah firasat?
Nadine melirik layar ponselnya. Pukul 03.10 am. Sebuah pesan masuk di aplikasi percakapan.
[From: Daddy
Bagaimana kabarmu? Apa kau baik-baik saja. Kami merindukanmu.]
Nadine meletakkan ponselnya. Ia sudah lebih dari tiga minggu meninggalkan keluarganya. Namun untuk kembali, ia masih ragu. Perempuan itu belum siap jika harus bertemu dengan Gibran. Dan hari pertunangan yang sudah di depan mata pun, kini ia tak menginginkannya lagi.
Tiba-tiba wajah Joe melintas di pikirannya. Badut tampan yang sering membuatnya kesal itu perlahan justru membuat Nadine merasa nyaman saat berada di dekatnya.
"Apa aku mulai jatuh cinta padanya?" gumamnya.
Nadine membuka jendela kamarnya. Hawa dingin seketika menyeruak. Pemandangan kota New York lebih indah di malam hari.
Nadine memejamkan matanya. Kemudian menghirup udara pagi yang menyejukkan. Seketika beban di pikirannya pun hilang.
*****
Pagi hari di rumah Hans.
"Sudah lebih dari tiga minggu putrimu meninggalkan rumah. Sampai kapan ia akan terus lari dari masalahnya?" Tanya Felice.
"Aku sudah mengirim pesan untuknya namun belum ada balasan," jawab Hans. Pria itu tengah membaca surat kabar di kursi tamu.
"Tampaknya calon tunangannya acuh pada putrimu. Seharusnya ia menyusulnya dan membujuk Nadine pulang. Gibran terlalu mementingkan pekerjaanya," ucap Felice.
"Atur pertemuanku dengan Gibran. Kurasa aku perlu berbicara empat mata dengannya," ucapnya kemudian.
"Apa kita tak tak terlalu mencampuri urusan mereka?" Tanya Hans.
"Nadine cucuku satu-satunya. Aku tak akan diam saja jika ia menghadapi masalah," jawab Hans.
"Baiklah, hari ini juga aku akan menemuinya," ucap Hans.
Pria itu pun berlalu dari hadapan Felice. Ia kemudian melajukan mobilnya menuju kantor Gibran.
*****
Di kantor Gibran.
Hans menuju meja sekretaris yang berada di depan ruang kerja Gibran.
"Apa atasanmu ada di dalam ruang kerjanya?" Tanyanya.
"Bapak Gibran sudah empat hari tidak berada di kantor. Beliau berada di rumah sakit," ucap Cindy, sekretaris Gibran.
Hans tersentak mendengar jawaban tersebut.
"Dia sakit?" Tanyanya.
"Bapak Gibran mengalami kecelakaan empat hari yang lalu. Dan sampai hari ini belum sadar dari komanya," jawabnya.
"Astaga!" Serunya.
Hans bergegas meninggalkan tempat itu dan melajukan mobilnya menuju rumah sakit.
Setelah bertanya pada perawat, ia pun menuju ruang perawatan Gibran.
Dua orang perempuan tampak duduk di bangku tunggu di depan ruangan tersebut.
"Selamat pagi, Nyonya Emily," sapanya.
"Selamat pagi, Tuan Hans," sahutnya. Pria itu lalu duduk di sisi Alice.
"Kau bahkan tak memberi tahuku jika Gibran dirawat di rumah sakit," ucap Hans.
"Ah, aku tak ingin membuatmu khawatir," ucap Emily.
"Bagaimana keadaannya sekarang? Apa dia belum sadar?" Tanya Hans.
Emily menggeleng pelan.
Hans bangkit dari duduknya.
"Tak lama lagi kita akan menjadi keluarga," ucap Hans.
Emily membuang napas.
"Aku tak yakin putrimu dan putraku berjodoh," ucapnya.
"Apa maksud perkataanmu?" Tanya Hans.
"Putrimu mungkin tak menginginkan bertunangan dengan putraku. Dia justru meninggalkan putraku saat mendekati hari pertunangan mereka," jawab Emily.
"Nadine pasti punya alasan. Mengapa ia melakukannya," ucap Hans.
"Apa kau yang mengajarkan padanya untuk lari dari masalah?"
"Putriku sudah dewasa. Ia tahu apa yang harus ia lakukan."
"Lantas? Bagaimana dengan pertunangan mereka?"
"Kita akan membahasnya nanti saat putriku pulang."
"Kau memojokkan putriku. Seolah hanya dia yang bersalah. Apa kau tahu, apa alasan Nadine pergi?" Tanya Hans.
Emily mengangkat kedua bahunya.
"Putramu bukan pria yang bertanggung jawab," jawab Hans.
"Aku ibunya. Kau tak berhak mengatakan apapun tentang Gibran," ucap Emily.
"Nadine sudah bercerita padaku. Gibran menyimpan sebuah rahasia besar tentang masa lalunya," ucap Hans.
"Rahasia besar?" Tanya Emily.
Tiba-tiba ponsel Hans berdering. Seseorang menelponnya. Hans mengambil ponsel dari saku celananya dan memandang layar ponselnya beberapa saat.
"Aku harus pergi sekarang," ucapnya sambil berlalu dari hadapan Emily.
Emily menatap punggung Hans yang semakin menjauh. Sebuah pertanyaan besar kini mengganggu pikirannya.
*****
Di sebuah cafe.
"Ada apa kau mengajakku bertemu, Joyce?" Tanya Hans.
"Kurasa aku butuh bantuanmu lagi," jawabnya.
"Apa yang bisa kubantu. Apa Roy masih mengganggumu?" Tanyanya.
Joyce menggeleng pelan.
"Aku baru saja kehilangan penjahit di butikku," jawabnya.
"Dia berhenti bekerja?"
"Dia baru saja mengalami kecelakaan. Dan perempuan itu kehilangan penglihatannya. Butikku tak bisa berjalan tanpa penjahit. Aku sudah cocok dengannya. Jahitannya rapi. Bahkan ia penjahit terbaik yang pernah aku temukan. Kini ia tak bisa melihat. Tak mungkin ia bisa bekerja lagi."
"Baiklah, aku akan coba membantumu," ucap Hans.
"Bagaimana kabar putrimu? Apa dia sudah kembali?" Tanya Joyce.
Hans menggeleng.
"Aku harus pergi sekarang," ucap Hans sambil bangkit dari tempat duduknya.
"Kau tak ingin menjenguk penjahit butikku itu?" Tanya Joyce.
Hans melirik arloji di tangannya.
"Lain kali," jawabnya kemudian.
Hans pun berlalu dari hadapan Joyce dn meninggalkan cafe.
"Kau pria yang baik, Hans. Pria sepertimu tak pantas disia-siakan," gumam Joyce. Ia lalu meneguk minumannya. Setelah meninggalkan selembar uang di meja cafe, perempuan itu pun berlalu dari tempat tersebut.
*****
Di ruang perawatan Helena.
Joyce masuk ke ruang perawatan Helena. Seorang perawat tampak duduk di samping ranjang. Ia memegang nampan berisi sarapan pagi.
"Selamat pagi, suster," sapa Joyce.
"Selamat pagi, Nyonya Joyce," sahutnya.
"Maaf merepotkanmu, aku ada urusan sebentar tadi," ucapnya.
"Tak apa, Nyonya. Ini menjadi salah satu tugasku."
"Kau bisa meninggalkan ruangan ini, biar aku yang melanjutkan membantu Helena menghabiskan sarapannya." Joyce mengambil alih nampan tersebut dari tangan perawat. Tak lama kemudian perawat itu pun meninggalkan ruangan Helena.
"Kau begitu baik padaku, Nyonya. Bagaimana aku bisa membalas kebaikanmu?" Tanya Helena tiba-tiba.
"Mengapa kau berkata begitu? Aku sudah menganggapku seperti saudaraku sendiri."
"Mungkin ini karma dari dosaku di masa lalu," ucapnya. Joyce sedikit tersentak.
"Apa maksud perkataanmu?"
"Sebenarnya aku masih memiliki suami dan seorang anak perempuan."
"Sungguh?" Tanya Joyce.
"Aku perempuan bodoh. Aku ibu paling kejam. Aku bahkan meninggalkan putri kandungku saat ia masih berusia balita hanya demi seorang pria."
Joyce memandang Helena penuh rasa iba.
Bersambung...
Tembus 200 👍aku up episode selanjutnya.…
❤ ❤ ❤
Hai kak, dukung terus karyaku ya…
Jangan lupa beri like👍, komentar💬, ✒vote, favorit💙 serta hadiah🎁.
Sekecil apapun dukungan yang kalian berikan untukku, aku akan sangat berterima kasih.
Semoga kalian terus menjadi pembaca setiaku..💕💕