
Gibran melajukan mobilnya menuju rumah sakit bersama adik perempuannya, Alicya. Ketika di tengah perjalanan tiba-tiba Gibran merasa ban mobilnya telah menginjak sesuatu. Ia pun menepikan mobilnya.
Gibran keluar dari mobil dan memeriksa ban belakang mobilnya. Benar saja, tampak sebuah paku berukuran besar tertancap di sana.
"Sial!" umpatnya.
Alicya turun dari mobil kemudian menghampiri sang kakak yang tampak kebingungan.
"Kenapa, Kak?" tanyanya.
"Ban mobilku menginjak paku. Kita harus menambalnya," jawab Gibran.
Alicya memandang sekeliling tempat itu. Sepi dan minim penerangan. Tak terlihat rumah ataupun deretan toko.
"Bagaimana kita akan mendapatkan bengkel untuk menambal ban mobil kita?" tanya Alicya.
"Tenanglah, kakak akan mencoba meminta pertolongan pada pengendara yang melintas," ucapnya.
Gibran mencoba menghentikan kendaraan yang lalu lalang melintasi jalan tersebut namun tak satupun pengguna jalan yang mau menepikan kendaraannya.
"Bagaimana ini, Kak?" tanya Alicya dengan wajah panik. Gibran pun mulai terlihat cemas.
Di saat itulah tiba-tiba muncul dua orang pria mengendarai sepeda motor mendekat ke arah Gibran dan Alicya. Keduanya kemudian turun dari sepeda motor. Gibran merasa sedikit lega. Setidaknya bantuan telah datang.
"Kenapa dengan mobilmu, Tuan?" tanya salah satu pria.
"Ban mobilku bocor karena menginjak paku," jawab Gibran.
"Kami bisa membantumu. Tak jauh dari tempat ini ada sebuah bengkel. Kebetulan kami mengenal pemilik bengkel itu," ucapnya.
"Apakah kami bisa meminta tolong untuk mengajak pemilik bengkel itu ke tempat ini?" tanya Gibran.
"Tentu saja, tapi ada imbalannya, Tuan," ucap pria tersebut.
"Kalian jangan khawatir. Aku akan memberi imbalan yang pantas untuk kalian," ucap Gibran.
Gibran lalu mengambil dompet dari saku belakang celananya dan membuka dompet tersebut. Ia mengambil dua lembar uang kemudian menyodorkannya pada pria itu.
"Kurasa ini cukup, Tuan," ucap Gibran.
Namun tanpa ia duga, pria itu justru merebut dompet dari tangan Gibran. Ia pun sontak berteriak.
"Hei! Kembalikan dompetku!" seru Gibran.
"Tebal juga dompetmu, Tuan" Pria itu terkekeh.
"Kembalikan dompetku!" Gibran berusaha merebut dompet miliknya dari tangan pria tersebut namun pria itu menolak memberikannya.
Salah satu pria bergegas menaiki sepeda motornya namun Gibran berhasil menarik ujung jaket yang dikenakan oleh pria tersebut. Gibran terus menarik jaketnya, hingga pria itu kehilangan keseimbangan dan jatuh bersama sepeda motornya.
"Kurang ajar!" serunya.
Pria itu bergegas bangkit kemudian mendekat ke arah Gibran. Sebuah pukulan yang cukup keras tiba-tiba mendarat di pelipisnya. Gibran sedikit terhuyung.
"Kakak!" jerit Alicya dengan wajah ketakutan namun tak ada yang bisa ia lakukan selain bersembunyi di balik badan mobil.
Gibran hendak membalas pukulan pria yang telah merebut paksa dompet miliknya namun tiba-tiba ia merasakan hantaman benda keras tepat di kepalanya. Rupanya kawan pria itu memukul Gibran dari arah belakangnya menggunakan batang kayu berukuran cukup besar. Gibran seketika ambruk dan terjatuh di tanah.
"Serahkan ponselmu!" seru pria berjaket sambil memukul badan mobil. Alicya terlihat begitu ketakutan. Ia tak punya pilihan selain menyerahkan ponsel miliknya pada pria tersebut. Tak berselang lama kedua pria itu pun bergegas meninggalkan tempat tersebut.
Alicya mendekati sang kakak yang tak sadarkan diri.
"Kakak! Bangun!" pekiknya sambil mengguncang tubuh Gibran namun sang kakak tak bergeming.
"Tolong! Tolong!" Alicya berteriak sekuat tenaga berharap seseorang mendengar teriakannya kemudian datang menolongnya.
Cukup lama ia berteriak meminta pertolongan. Kondisi jalan yang sepi dan minim penerangan nyaris membuat orang mau berhenti di tempat tersebut.
Rasa takut dan cemas bercampur jadi satu. Suara Alicya mulai serak namun ia tak menyerah. Ia terus berteriak meminta tolong hingga akhirnya sebuah mobil berhenti tak jauh dari mobil sang kakak.
Tampak seorang laki-laki turun dari mobil tersebut. Ia lalu menghampiri Alicya yang tengah memangku tubuh sang kakak sambil berurai air mata.
"Apa yang terjadi, Nona?" tanyanya.
"Kami baru saja dirampok," jawab Alicya terisak.
"Mereka memukul kakakku hingga pingsan," jawab Alicya masih terisak.
"Ayo kita bawa ke rumah sakit," ucap laki-laki itu sambil mengangkat tubuh Gibran masuk ke dalam mobilnya.
Laki-laki itu pun segera melajukan mobilnya menuju rumah sakit.
"Tempat itu rawan perampokan. Mengapa kalian berada di sana malam-malam begini?" tanyanya.
"Kami mau ke rumah sakit. Namun tiba-tiba ban mobil kami bocor karena menginjak paku. Saat itu datanglah dua orang pria yang menawarkan bantuan. Awalnya mereka akan memanggil pemilik bengkel ke tempat ini namun mereka meminta imbalan. Kakak memberikan uang pada mereka namun tiba-tiba salah satu pria merebut dompet milik kakakku. Kakakku melawan hingga akhirnya mereka terlibat sebuah perkelahian," ungkap Alicya.
"Semoga kakakmu baik-baik saja," ucap laki-laki itu.
"Semoga pukulan keras di kepalanya tak memperparah keadaan kakakku," ucap Alicya.
"Apa maksud ucapanmu?" tanyanya.
"Beberapa waktu yang lalu kakakku mengalami kecelakaan dan kakak harus kehilangan ingatannya," jawab Alicya.
"Maksudmu kini kakakmu sedang mengalami amnesia?" tanyanya. Alicya mengangguk.
Keduanya tiba di rumah sakit HJ. Gibran kemudian dibawa menuju ruang ICU.
Keduanya menunggu Gibran di ruang tunggu. Wajah mereka tampak begitu panik. Setelah hampir satu jam, seorang dokter keluar dari ruangan tersebut.
"Bagaimana kondisi kakak saya, Dokter?" tanya Alicya.
"Kakakmu baik-baik saja. Ia hanya mengalami shock akibat pukulan keras di kepalanya," jawab dokter.
"Apakah kakakku sudah sadar?" tanya Alicya.
"Ya. Kalian bisa menemuinya sekarang," ucap dokter.
Alicya dan laki-laki itu bergegas masuk ke ruangan Gibran. Alicya menatap wajah sang kakak kemudian menghambur ke pelukannya.
"Kakak baik-baik saja?" tanyanya.
"Kakak baik-baik saja, hanya merasa sedikit pusing," jawabnya. Tiba-tiba pandangan Gibran tertuju pada laki-laki yang masuk ke ruangan itu bersama Alicya.
"Anda siapa? Mengapa berada di ruangan ini?" tanya Gibran.
"Perkenalkan namaku Rio. Aku tengah melintas di jalan itu dan tidak sengaja mendengar teriakan adikmu yang meminta tolong."
Gibran berpikir sejenak.
"Ya. Aku ingat sekarang. Tadi waktu aku mengendarai mobilku, tiba-tiba ban mobilku bocor. Aku berhenti di tepi jalan namun tak lama kemudian ada dua orang pria menghampiri kami. Awalnya kami berpikir jika mereka akan memberi kami bantuan namun ternyata kedua laki-laki itu adalah perampok. Mereka mengambil dompetku," ungkapnya.
Gibran lalu memandang Alicya.
"Alicya, Kau baik-baik saja?" tanyanya dengan wajah panik.
"Aku baik-baik saja, Kak. Mereka tak melukaiku sedikit pun namun aku harus merelakan ponsel milikku diambil mereka," ucapnya.
"Tak apa. Yang penting Kau selamat," ucapnya kemudian tersenyum.
"Oh ya, siapa nama Tuan?" tanya Rio.
"Gibran, dan ini adikku, Alicya. Kami mengucapkan terima kasih karena Tuan telah menolong kami," ucap Gibran.
"Tak apa, Tuan. Kita harus saling membantu meskipun pada orang yang belum kita kenal," ucapnya kemudian tersenyum.
Bersambung…
Tembus 500 👍aku up episode selanjutnya.…
❤ ❤ ❤
Hai kak, dukung terus karyaku ya…
Jangan lupa beri like👍, komentar💬, ✒vote, favorit💙 serta hadiah🎁.
Sekecil apapun dukungan yang kalian berikan untukku, aku akan sangat berterima kasih.
Semoga kalian terus menjadi pembaca setiaku..💕💕