ANDROMEDA

ANDROMEDA
Sebuah keputusan



New York, 09.00 am.


Joe tampak duduk menyendiri di tepi telaga. Jika biasanya Nadine yang menemaninya mengobrol, tapi tidak untuk kali ini. Tiba-tiba Joe merindukan Nadine. Meskipun ia sering memanggilnya gadis konyol, namun baginya kehadiran Nadine memberi ruang tersendiri di dalam hatinya.


Sama seperti yang biasa dilakukan Nadine di tempat tersebut, Joe melemparkan kerikil-kerikil kecil ke dalam air telaga yang tenang.


"Jika gadis konyol itu ada disini, saat ini pasti aku sedang berdebat dengannya," gumamnya.


Tiba-tiba seseorang menutup matanya dari belakang. Joe menyentuh tangan itu.


"Nadine," ucapnya.


"Aku Fay, bukan Nadine," gerutunya sebal. Ia lalu duduk di sisi Joe.


Fay adalah teman kuliah Joe. Keduanya bertemu di New York. Meskipun hubungan keduanya begitu dekat, namun tak ada status dalam hubungan mereka. Joe sendiri hanya menganggapnya tak lebih dari teman. 


"Aku merasa kehilangannya," ucap Joe.


"Sejauh apa hubungan kalian?" Tanya Fay dengan suara berat.


"Dia hanya temanku. Namun aku merasa nyaman saat bersamanya, walaupun terkadang dia konyol," jawab Joe. Ia lalu melemparkan sebuah batu kerikil ke dalam air telaga.


Ada sedikit perasaan perih yang tiba-tiba hinggap di hati Fay. Seandainya kata-kata yang baru saja terlontar dari mulut Joe ditujukan untuk dirinya. Mungkin Fay akan menjadi perempuan paling bahagia.


"Apakah kau tak tahu apa yang kini kurasakan?" Fay bergumam dalam hatinya.


"Kau menyukainya?" Tanya Fay. Pertanyaan itu sontak membuat Joe sedikit tersentak. Mungkin Fay benar, benih-benih cinta itu mulai tumbuh di hati Joe.


"Entahlah," jawabnya singkat.


Tak berselang lama, ponsel Joe berdering. Nadine yang menelpon. Joe pun menjawab panggilan tersebut. 


~Joe: "Halo, aku sedang memikirkanmu."


~Nadine: "Kau memang konyol."


~Joe: "Apa semuanya baik-baik saja?"


~Nadine: "Tidak sama sekali."


~Joe: "Lalu?"


~Nadine: "Benar katamu. Sesuatu yang buruk telah terjadi. Gibran...Gibran, dia mengalami kecelakaan".


~Joe: "Apa?"


~Nadine: "Apa ucapanku kurang jelas?"


~Joe: "Aku hanya kaget. Lalu bagaimana keadaannya sekarang?"


~Nadine: "Gibran...dia...mengalami amnesia."


~Joe: "Hah?"


~Nadine: "Gibran tak mengingat siapapun. Bahkan dirinya sendiri."


~Joe: "Astaga!"


~Nadine: "Aku bingung. Apa yang harus kulakukan?"


~Joe: "Pikirkan baik-baik. Kau pasti tahu apa yang harus kau lakukan."


~Nadine: "Apa kau di rumahmu?"


~Joe: "Aku di berada di telaga. Tempat favoritmu."


~Nadine: "Kau sendirian?"


~Joe: "Aku bersama kawanku."


~Nadine: "Siapa?" 


~Joe: "Namanya Fay."


~Nadine: "Dia perempuan?"


~Joe: Kau pikir ada laki-laki bernama Fay?"


Tiba-tiba panggilan terputus. Nadine mengakhiri pembicaraan.


"Apa Nadine yang menelpon?" Tanya Fay. Joe mengangguk.


"Calon tunangannnya mengalami kecelakaan," jawabnya.


"Calon tunangan?" Tanya Fay lagi.


"Ya. Nadine tak lama lagi akan bertunangan," jawab Joe. Entah mengapa jawaban itu membuat Fay merasa sedikit lega.


Joe membuang napas. Ia mendongakkan kepalanya. Menatap langit yang berwarna biru cerah.


Tiba-tiba Fay beranjak dari tempat duduknya.


"Kau mau kemana?" Tanya Joe.


"Aku harus segera berangkat ke kampus," jawabnya.


Joe kemudian berdiri. Keduanya pun lalu meninggalkan telaga.


*****


"Aku ingin pulang, Nyonya," ucap Helena pada Joyce.


"Apa maksud ucapanmu?" Tanyanya.


"Aku tak ingin lebih merepotkanmu," ujarnya.


"Jika kau pulang, siapa yang akan merawatmu? Kau tak mungkin hidup seorang diri dengan keadaanmu sekarang," ucap Joyce.


Helena membuang napas.


"Kurasa aku mulai terbiasa dengan keadaanku," ujarnya.


"Kau bisa tinggal di rumahku. Asisten rumah tanggaku yang akan membantumu jika kau memerlukan sesuatu," ucap Joyce.


"Aku ingin kembali ke tempat tinggal lamaku saja."


"Jangan keras kepala. Lihat keadaanmu. Kau tak bisa melanjutkan hidupmu seorang diri."


"Harusnya aku mati saja!" Ujar Helena. 


Joyce kemudian memandang Helena dengan tatapan tajam.


"Jika aku mati tak akan ada seorang pun yang merasa kehilangan diriku," ujarnya kemudian.


"Apa kau lupa? Kau masih memiliki keluarga?" Tanya Joyce.


"Aku tak yakin mereka masih mau menerimaku. Apa yang telah aku lakukan pada mereka sungguh tak pantas untuk dimaafkan. Apalagi dengan kondisiku sekarang," ujar Helena dengan raut wajah penuh penyesalan.


"Setiap orang punya masa lalu. Aku yakin kau sudah menyesali kesalahanmu. Kurasa tak ada salahnya mencoba. Temui mereka. Yakinlah, masih ada maaf untukmu." Joyce mencoba meyakinkan Helena.


Helena terdiam dan merenungi ucapan Joyce. "Apa aku pantas meminta maaf pada suami dan anakku?" gumamnya.


Tiba-tiba bayangan Felice, mertuanya melintas. Helena masih ingat. Ketika beberapa waktu lalu secara tak sengaja bertemu dengan Felice di salah satu toko.


Tatapan kebencian yang ada di mata Felice tak mungkin begitu saja ia lupakan. Tatapan itu bahkan terus membekas di hatinya. Felice mungkin saja tahu jika Nadine bukanlah anak kandung Hans, melainkan anak hasil hubungannya bersama Freddy.


"Ah, Freddy. Bagaimana kabar pria itu sekarang," gumamnya.


Freddy, cinta pertama Helena. Pria yang pernah begitu dalam mengisi hatinya. Bahkan ia rela meninggalkan anak serta suaminya hanya untuk mengikuti pria tersebut. Dan pada akhirnya Helena tersadar jika ia telah melakukan sebuah tindakan bodoh. Ia memutuskan untuk menjauh dari kehidupan Freddy. 


"Apa aku boleh minta tolong padamu, Nyonya?" Tanyanya kemudian.


"Apa yang bisa aku lakukan untuk membantumu?" Tanya Joyce.


"Aku ingin menemui keluargaku," jawabnya.


"Kau benar-benar sudah siap menemui mereka?" Tanya Joyce lagi. Helena menganggukkan kepalanya.


*****


Di rumah Aurora.


Andro tampak tengah duduk termenung di sofa. Aurora yang baru pulang saja dari kios pun menghampirinya.


"Apa yang sedang kau pikirkan?" Tanyanya. Aurora lalu duduk di sisi Andro.


"Aku ingin bertemu Mister handsome," jawabnya dengan raut wajah sedih.


"Bukankah tiga hari yang lalu kita sudah mengunjunginya di rumah sakit?" 


"Aku ingin bertemu dengannya," ucap Andro sedikit memaksa.


Aurora menatap wajah putra semata wayangnya tersebut. Wajah seorang anak yang begitu merindukan ayah kandungnya. Meskipun Andro sama. sekali tak tahu jika Gibran adalah anak kandungnya. Namun entah mengapa belakangan ini Aurora merasa jika sang anak mulai merasakan adanya getaran-getaran aneh pada Gibran. Mungkin hal itu yang disebut instinct.


Andro mungkin saja merasa nyaman saat berada di dekat ayah kandungnya. Meskipun ia belum bisa mengungkapkannya pada siapapun termasuk pada dirinya.


"Kau tahu. Dari dulu Mommy tak bisa melihatmu sedih," ujar Aurora. Ia lalu membelai rambut pirang sang anak.


"Mandilah, kita akan segera ke rumah sakit," ujarnya. 


Aurora menatap wajah Andro. Wajah Andro yang tadinya sedih, seketika berubah berseri-seri. Bocah itu pun lalu memeluk Aurora dengan perasaan bahagia.


Tak lama kemudian keduanya pun menuju rumah sakit. Andro tampak begitu bahagia karena keinginannya untuk bertemu Mister handsome tak lama lagi akan segera terwujud.


Dengan langkah ceria Andro masuk ke dalam rumah sakit. Perasaan bahagia itu melebihi apapun.


Keduanya lalu menuju ruang perawatan Gibran. Tak terlihat seorang pun duduk di bangku tunggu. 


"Apa Gibran sudah pulang," gumamnya.


Bersambung...


Tembus 200 👍aku up episode selanjutnya.…


❤ ❤ ❤ 


Hai kak, dukung terus karyaku ya…


Jangan lupa beri like👍, komentar💬, ✒vote, favorit💙 serta hadiah🎁.


Sekecil apapun dukungan yang kalian berikan untukku, aku akan sangat berterima kasih.


Semoga kalian terus menjadi pembaca setiaku..💕💕