
New York, 02.00 a.m.
Nadine berada di kamar hotelnya. Sudah berjam-jam ia berusaha memejamkan matanya, namun rasa kantuk tak jua datang. Pikirannya terus melayang. Wajah Gibran, calon tunangannya terus mengganggunya.
Nadine mengambil ponselnya. Ia memasang kembali simcard lamanya yang telah berhari-hari ia lepas dari ponselnya.
Ratusan pesan dan panggilan menumpuk di aplikasi percakapan.
Ia lalu membuka pesan dari calon tunangannya, Gibran.
[From: Gibran
Kau dimana?
12 Des 2020]
[From: Gibran
Jangan membuatku panik.
Aku merindukanmu.
13 Des 2020]
[From: Gibran
Kembalilah. Semua bisa dibicarakan.
14 Des 2020]
[From: Gibran
Jika aku punya salah, maafkan aku.
15 Des 2020]
[From Gibran
Pulang lah, hari pertunangan kita semakin dekat.
16 Des 2020]
[From: Gibran
Baju pertunangan kita sudah selesai dijahit.
17 Des 2020]
[From: Gibran
Aku menunggumu pulang.
Aku mencintaimu.
18 Des 2020
Nadine membuang napas. Ia masih merasa sedikit lega. Setidaknya Gibran benar-benar merasa kehilangan dirinya.
Nadine mengetik beberapa kata di layar ponselnya. Namun ia hapus. Kemudian ia mengetik lagi. Tak lama kemudian ia menghapusnya lagi.
"Aaargggh!" Teriaknya. Perempuan itu melemparkan ponselnya di ranjang.
Beberapa menit kemudian ponselnya berdering. Nama Gibran tertera di layar ponselnya. Nadine masih enggan berbicara dengan pria itu. Ia pun hanya menatap ponselnya yang tak henti berdering.
Nadine menutup kedua telinganya dengan bantal. Ia terus mengabaikan panggilan masuk di ponselnya.
Setelah beberapa menit, ponselnya berhenti berdering. Nadine mengambil ponsel tersebut kemudian mematikannya.
"Aku membencimu, Gibran," gumamnya.
08.00 am.
Entah kapan Nadine tertidur. Suara alarm tiba-tiba membangunkannya. Nadine mematikan alarm di ponselnya. Ia kembali menarik selimut tebalnya.
Suara ketukan pintu membuat keinginannya untuk kembali memejamkan matanya pun seketika sirna. Ia lalu bangkit dari ranjangnya.
Nadine menyibakkan selimutnya dan berjalan ke arah pintu kamarnya.
Perlahan ia membuka pintu kamarnya. Ia hampir tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Hans, sang ayah berdiri di hadapannya. Nadine mengucek matanya. Ia memastikan matanya yang masih mengantuk itu tak salah lihat.
"Ayah!" Serunya.
"Bagaimana mungkin kau berada di sini?" Nadine menepuk kedua pipinya.
"Sampai kapan kau akan membiarkan ayahmu berdiri di sini?" Tanya Hans.
Nadine pun menggandeng tangan sang ayah dan mengajaknya masuk ke dalam kamar hotelnya.
"Bagaimana kau mengetahui keberadaanku di hotel ini?" Tanya Nadine. Ia tampak tengah menyeduh teh hangat untuk sang ayah.
"Itu mudah saja bagiku. Hotel ini tak jauh dari tempat mu kuliah dulu," jawab Hans.
"Sejak kecil aku tak pernah berhasil bersembunyi saat bermain petak umpet denganmu 'kan?" Tanyanya. Hans terkekeh.
Nadine lalu meletakkan secangkir teh hangat di atas meja.
"Kau masih belum mau pulang ke rumahmu?" Tanya Hans.
Nadine terdiam.
"Masalah hadir untuk diselesaikan, bukan untuk dihindari," ucap Hans kemudian.
"Aku hanya perlu waktu untuk sendiri."
"Pikirkan pertunanganmu yang tinggal menghitung hari."
"Aku tak yakin melanjutkan hubunganku dengan Gibran." Ucapan Nadine sontak membuat sang ayah tersentak.
"Apa kau sadar dengan ucapanmu?" Tanya Hans.
"Aku kecewa padanya!" Seru Nadine.
"Kemarin aku menemuinya," ucap Hans. Ia lalu menyeruput teh hangatnya.
"Kurasa ia benar-benar tak tahu alasanmu pergi," ucapnya kemudian.
Nadine menatap mata Hans. Tiba-tiba buliran bening mengalir di pipinya.
"Dia… dia benar-benar telah membohongiku," jawab Nadine.
"Berbohong?"
"Ia telah menyembunyikan sebuah rahasia besar tentang masa lalunya."
"Masa lalu?" Tanya Hans lagi.
"Dia benar-benar pernah menyentuh Aurora. Aku mendengar bukti pengakuannya di ponsel Keenan."
"Bukan kah semua orang punya masa lalu?" Tanya Hans.
"Ini tak sesederhana seperti yang kau pikir. Gibran terus menyangkal perbuatannya. Sedangkan Aurora memiliki anak tanpa seorang pun tahu siapa dan dimana suaminya. Kejadiannya sudah delapan tahun lalu. Kurasa masuk akal jika anak laki-laki yang bersamanya kini adalah anaknya bersama Gibran."
"Keputusan ada di tanganmu sekarang. Aku tahu kau sudah dewasa. Kau pasti tahu mana yang terbaik untukmu," ucap Hans. Nadine lalu memeluk Hans dan menangis di pundaknya.
*****
Di Joyce Boutique.
Joyce masuk ke dalam butik miliknya. Ia menemui penjahit di butiknya tersebut.
"Apa kau sudah menyelesaikan pesanan baju pertunangan kemarin?" Tanyanya.
"Seharusnya kemarin mereka datang ke butik ini. Namun hingga hari ini mereka belum melakukan fitting. Aku sudah mengirim pesan ke nomor ponselnya namun belum ada balasan," jawab Helena.
"Mungkin mereka sibuk. Tunggulah tiga hari ke depan. Jika mereka belum datang, aku akan menghubungi mereka," ucap Joyce.
"Kurasa aku mulai kehabisan stock benang. Aku harus pergi ke toko sekarang," ucapnya.
"Mintalah uang pada kasir, dan pastikan ia tak lupa mencatatnya."
"Baik, nyonya." Perempuan itu kemudian. berlalu dari hadapan Joyce.
****
Helena menaiki sebuah taksi dari depan butik. Perempuan yang baru beberapa minggu bekerja di butik tersebut lalu menuju sebuah toko perlengkapan menjahit yang telah ia persiapkan sebelumnya.
Seorang pelayan toko menyambutnya.
"Ada yang bisa saya bantu, nyonya," sapanya ramah.
"Aku memerlukan barang-barang di catatan ini." Helena menyodorkan selembar kertas berisi catatan keperluan menjahit.
"Tunggu sebentar, aku akan menyiapkan barang-barang di list ini." Ucap pelayan toko.
Tiba-tiba Helena merasa harus ke kamar kecil.
"Bisakah aku menumpang ke kamar kecil?" Tanyanya pada penjaga toko tersebut.
"Tentu, nyonya. Kau berjalan lurus saja. Kamar kecil berada di pojok ruangan sebelah kanan," ucapnya.
"Terima kasih," ucapnya kemudian.
Beberapa saat kemudian seseorang memasuki toko tersebut.
"Ada yang bisa saya bantu, nyonya," sapa penjaga toko ramah.
"Aku memerlukan benang wol berwarna hijau tosca serta kuning muda," ucap perempuan bersyal itu.
"Baik nyonya, tunggu sebentar. Aku akan menyiapkannya untukmu."
Tak berselang lama, penjaga toko itu pun kembali.
"Maaf, nyonya. Stock benang wol berwarna hijau tosca di toko kami saat ini kosong. Apa kau menginginkan warna lain?" Tanyanya.
"Tak masalah. Apa aku bisa mendapatkan benang berwarna biru muda?" Tanya perempuan itu.
"Baiklah," ucap penjaga toko tersebut.
Beberapa saat kemudian, penjaga toko itu kembali.
"Ini nyonya, benang wolmu. Warna kuning muda dan biru muda. Kau bisa membayarnya di kasir," ucap penjaga toko itu.
Perempuan itu pun lalu membalikkan badannya, hendak menuju kasir.
Namun tiba-tiba seseorang yang baru saja keluar dari dalam toko, tak sengaja menabraknya. Benang wol yang ada di tangannya pun terjatuh.
"Maaf, nyonya, aku tak sengaja," ucap Helena. Ia membantu perempuan itu memungut benang wol yang terjatuh di lantai.
"Tak masalah," ucap perempuan itu.
Keduanya lalu berdiri berhadapan. Netra mereka bertemu.
Helena kaget bukan main. Perempuan yang kini berdiri di hadapannya tak lain adalah ibu mertuanya, Felice. Jantungnya seakan berhenti berdetak.
"I...i..ibu," ucapnya terbata-bata.
"Kau,..." ucap Felice kemudian tak kalah kaget.
Bersambung…
Tembus 200 👍aku up episode berikutnya…
❤ ❤ ❤
Hai kak, dukung terus karyaku ya…
Jangan lupa beri like👍, komentar💬, ✒vote, favorit💙 serta hadiah🎁.
Sekecil apapun dukungan yang kalian berikan untukku, aku akan sangat berterima kasih.
Semoga kalian terus menjadi pembaca setiaku..💕💕
Tembus 200 👍aku up episode berikutnya…
❤ ❤ ❤
Hai kak, dukung terus karyaku ya…
Jangan lupa beri like👍, komentar💬, ✒vote, favorit💙 serta hadiah🎁.
Sekecil apapun dukungan yang kalian berikan untukku, aku akan sangat berterima kasih.
Semoga kalian terus menjadi pembaca setiaku..💕💕