
Pagi hari di rumah sakit.
Seorang perawat tampak memasuki ruang perawatan Gibran.
"Selamat pagi, Tuan Gibran," sapanya. Meskipun ia tahu Gibran tak akan membalas sapaannya.
Perawat itu bernama Zivanna. Ia terbiasa dipanggil Zi. Hampir seminggu perawat berusia 23 tahun tersebut selalu mendatangi ruangan tempat Gibran dirawat. Ia akan membuka tirai jendela kemudian memeriksa peralatan yang terpasang di tubuh Gibran. Sesekali ia membersihkan wajah pria tersebut menggunakan kain dan air hangat.
"Kapan kau akan bangun? Lihat wajahmu. Kau terlihat lebih tua dari usiamu." Ucapnya.
Zi memandang wajah Gibran yang masih terlelap di alam bawah sadarnya.
"Kau pria yang tampan, namun harus mengalami nasib setragis ini," gumamnya.
Zi menyentuh wajah Gibran dengan jarinya. Gadis itu baru sadar, ia mulai mengagumi pria yang tengah koma tersebut.
Tiba-tiba seseorang membuka pintu.
Zi panik, hingga ia menjatuhkan pulpennya.
"Suster Zi..." ucapnya sedikit kaget.
"Arsen…" ucap Zivanna.
"Kau merawat pasien ini?" Tanyanya.
"Kau sendiri, mengapa kau masuk ke ruangan ini?" Tanya Zi.
" Aku menggantikan dokter David. Beliau sakit," jawabnya.
Dokter Arsen adalah dokter muda berusia 25 tahun. Sudah cukup lama ia memendam perasaan pada Zivanna. Perawat yang dulunya teman sekelasnya saat SMA.
"Apakah ada tanda-tanda pasien ini mulai sadar?" Tanyanya kemudian. Zi menggeleng pelan.
Dokter muda tersebut kemudian memeriksa Gibran.
"Sungguh malang nasibmu, tuan," gumamnya.
*****
Di rumah Hans.
"Apa kau sudah menemui Gibran?" Tanya Felice di sela sarapan pagi mereka.
"Aku tak berhasil menemuinya. Ia baru saja mengalami kecelakaan. Dan belum sadar dari koma," jawab Hans.
"Astaga!" seru Felice. Ia tersentak. "Pagi ini juga antar aku ke rumah sakit," ucapnya kemudian.
Setelah menyelesaikan sarapan, keduanya pun menuju rumah sakit.
****
Di rumah sakit.
Felice menuju sebuah ruangan. Ia melihat Emily tengah duduk di kursi rodanya berada di depan ruangan tersebut.
"Apa kabar Emily," sapa Felice.
"Tak begitu baik, nyonya," balasnya.
"Bagaimana keadaan putramu?" Tanyanya. Emily menggeleng lemah.
"Aku takut jika pertunangan Gibran dan Nadine batal," ucapnya tiba-tiba.
"Mengapa Nyonya berkata begitu?" Tanya Emily.
"Cucuku pergi di saat menjelang pertunangannya. Tanpa tahu kapan ia akan kembali. Dan sekarang putramu mengalami musibah. Bahkan sudah berhari-hari ia belum sadarkan diri."
"Entahlah. Tak ada seorang pun yang bisa menebak apa yang akan terjadi pada kita," ucap Emily kemudian.
*****
New York, 10.00 pm.
Di sebuah rumah sewa sederhana. Joe tengah bersiap untuk menghadiri sebuah undangan pesta. Ia tampak mengenakan pakaian badutnya. Tiba-tiba seseorang mengetuk pintu. Ia pun bergegas membuka pintu tersebut.
"Nadine.Kau…?" Joe tampak kaget saat melihat Nadine yang tiba-tiba berdiri di depan pintu rumahnya. Ia memandang Joe dan tersenyum.
"Mimpi apa aku semalam. Pagi-pagi begini ada tamu tak terduga di rumahku?" Joe terkekeh.
"Mimpi buruk!" gerutu Nadine.
"Are you OK, masuklah," ucap Joe.
Nadine kemudian masuk ke rumah kecil tersebut. Sebuah rumah yang mungkin ukurannya tak lebih besar dari kamar tidurnya. Di rumah ini lah selama ini Joe tinggal.
"Aku mimpi buruk lagi," ucap Nadine dengan wajah sedih.
"Tentang pria itu?" Tanya Joe.
"Bagaimana kau tahu. Aku bahkan belum memberi tahumu." Nadine sedikit heran.
"Apalagi yang ada di pikiranmu selain pria itu," ucap Joe.
"Kau menyebalkan!" gerutu Nadine.
Joe justru terkekeh.
"Aku bermimpi jika Gibran tengah berada di hutan. Aku memanggilnya namun ia justru ketakutan dan terus berlari semakin jauh ke dalam hutan. Ia jatuh ke dalam jurang yang dalam," ungkapnya kemudian.
"Kurasa sesuatu telah terjadi padanya," ucap Joe.
"Kau tak sedang bercanda 'kan?" Tanya Nadine.
"Apa aku terlihat bercanda?" Tanya Joe.
"Kau memakai kostum badut. Mana mungkin aku tahu. Setiap orang yang melihatmu pasti hanya akan berpikir kau tak pernah punya masalah."
"Setiap orang punya masalahnya masing-masing, nona," ucap Joe.
"Mengapa kau bertanya padaku? Tanyakan pada keluargamu. Dasar gadis konyol." Joe kembali terkekeh.
Joe bangkit dari duduknya.
"Aku harus pergi sekarang," ucap Joe kemudian.
"Kau meninggalkanku?" Tanya Nadine.
"Lalu, apa aku harus mengajakmu? Konyol."
Nadine menggaruk kepalanya yang tak gatal. Ia kemudian beranjak dari tempat duduknya. Keduanya pun keluar dari rumah tersebut.
****
Nadine menuju telaga. Hanya di tempat itu ia bisa mendapatkan ketenangan.
"Apa yang terjadi padamu, Gibran?" gumamnya.
Nadine memandang air telaga yang tenang. Tiba-tiba wajah Gibran tampak di sana. Nadine melempar sebuah kerikil. Seketika bayangan Gibran pun menghilang.
Nadine mengambil ponselnya. Meskipun saat ini hatinya terluka oleh Gibran. Namun ia ingin memastikan jika mimpi buruknya beberapa hari lalu hanyalah bunga tidurnya.
Nadine menghubungi nomor Gibran. Entah mengapa jantungnya berdegup kencang. Rupanya nomor ponselnya tak dapat dihubungi. Ia terus mencobanya berkali-kali. Namun hanya suara operator yang ia dengar.
Nadine membuang napas. Ia meletakkan ponselnya di sisi tempat duduknya.
Netranya memandang air telaga yang begitu tenang. Namun tak seperti perasaannya kini yang sungguh kacau.
Tiba-tiba ponselnya berdering. Seseorang menelponnya. Nadine memandang layar ponselnya. Ternyata sang ayah yang menelpon. Nadine mengambil ponselnya kemudian menjawab panggilan tersebut.
~Nadine: Hallo, ayah.
~Hans: Bagaimana kabarmu? Apa kau baik-baik saja?
~Nadine: Aku baik-baik saja. Tapi…
~Hans: Tapi kenapa?
~Nadine: Aku merasa sebuah hal buruk telah terjadi. Tapi aku tak tahu apa hal itu.
~Hans: Nak, sebaiknya kau pulang.
~Nadine: Apa ada hal buruk yang terjadi?
~Hans: Jika kau masih menganggap aku sebagai ayahmu, pulanglah secepatnya.
~Nadine: Ada apa, ayah? Jangan membuatku penasaran.
~Hans: Cepatlah pulang.
~Nadine: Ayah! Halo… ayah.
Panggilan terputus.
Nadine memandang langit yang tak begitu cerah. Kini ia bingung. Hans ayahnya bahkan memintanya untuk segera pulang.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" gumamnya.
Nadine mengambil ponselnya dan mengirim pesan untuk Joe.
[To: Joe
Temui aku di taman sore ini jam 3.]
Nadine beranjak dari tempat duduknya. Ia pun meninggalkan telaga yang sering didatanginya saat hati dan pikirannya tengah kacau.
****
Sore hari di sebuah taman.
Nadine tampak duduk menyendiri di sebuah bangku. Ia tengah menunggu Joe.
"Baru tadi pagi kita bertemu, kau sudah mengajakku bertemu. Secepat itukah kau merindukanku?" Joe terkekeh.
"Ah, kau memang konyol," gerutu Nadine.
"Ada masalah apa, Nona? Hingga kau mengajakku bertemu di taman yang indah ini." Joe duduk di samping Nadine.
"Kurasa kau benar. Sesuatu yang buruk telah terjadi," ucap Nadine.
"Apa yang kau katakan?" Tanyanya.
"Tadi pagi ayah menelponku. Ia memintaku agar pulang secepatnya," jawabnya.
"Apa ayahmu mengatakan sesuatu?" Tanya Joe.
"Ayah hanya memintaku agar secepatnya pulang. Apa yang harus kulakukan?"
"Tanyakan pada hatimu," ucap Joe.
"Setidaknya beri aku saran," gerutu Nadine.
"Kurasa kau lebih tahu apa isi hatimu. Tubuhmu ada di sini. Tapi hati dan pikiranmu berada di tempat lain." Ucap Joe. Nadine tak menyangkal. Semenjak mimpi buruk itu, ia tak henti memikirkan Gibran.
Bersambung...
Tembus 200 👍aku up episode selanjutnya.…
❤ ❤ ❤
Hai kak, dukung terus karyaku ya…
Jangan lupa beri like👍, komentar💬, ✒vote, favorit💙 serta hadiah🎁.
Sekecil apapun dukungan yang kalian berikan untukku, aku akan sangat berterima kasih.
Semoga kalian terus menjadi pembaca setiaku..💕💕