
Sore itu Celine mendatangi butik. Sudah hampir sebulan ia tak menjumpai ibunya.
"Selamat sore, nona Celine," sapa kasir ramah.
"Aku ingin menemui ibuku," ucapnya.
"Sudah dua hari nyonya tidak datang ke butik ini," ucap kasir.
Celine mengernyitkan keningnya.
"Nyonya Joyce berada di rumah sakit," ucapnya kemudian. Celine tersentak.
"Apa ibu sakit?" Tanyanya.
"Bukan Nyonya yang sakit, tapi Helena," jawabnya.
"Helena? Siapa dia?"
"Dia penjahit baru di butik ini. Belum genap sebulan ia bekerja di tempat ini," jawabnya.
Nama Helena tak asing di telinga Celine. Perempuan itu pernah menjadi kekasih gelap Freddy, atasan tempatnya bekerja.
Setelah malam itu, saat Helena memutuskan pergi dari kehidupan Freddy. Ia pun tak pernah tahu lagi dimana keberadaannya.
"Apa yang terjadi padanya?" Tanyanya kemudian.
"Helena mengalami kecelakaan beberapa hari yang lalu," jawab kasir.
Celine kembali tersentak. Ia pun lalu bergegas meninggalkan butik tersebut dan melajukan mobilnya menuju rumah sakit.
Celine terus memikirkan nama Helena. Ia tak pernah berharap bertemu lagi dengannya.
Sesampainya di rumah sakit ia pun
bertanya pada perawat, dimana ruang perawatan Helena. Setelah mengetahui kamar tersebut ia pun menuju kamar perawatan Helena.
Helena membuka pintu. Tampak olehnya sang ibu duduk di atas sofa. Ia tengah membaca majalah.
Joyce meletakkan majalahnya. Ia lalu memandang ke arah pintu tersebut.
"Celine," ucapnya.
Celine lalu duduk di sisi sang ibu.
"Aku mendatangi butikmu. Kasir mengatakan jika sudah dua hari kau tak datang ke butik," ucap Celine.
"Aku harus menjaga Helena." Joyce memandang Helena yang tengah terlelap. Perempuan itu baru saja minum obat.
"Dia tak memiliki seorang pun yang bisa menjaganya, perempuan itu tak memiliki keluarga," ucapnya.
Celine mendekat ke arah ranjang pasien. Ia harus memastikan jika perempuan yang terbaring di ranjang tersebut benar-benar bukan Helena yang ia kenal.
Jantungnya tiba-tiba berdegup kencang. Perempuan itu ternyata Helena yang ia kenal. Helena yang pernah menjadi kekasih gelap Freddy selama lebih dari dua puluh tahun.
"Astaga!" Serunya.
"Kau kenapa?" Tanya Joyce tak kalah kaget.
"Tak apa. Aku hanya sedikit kaget melihat perempuan ini. Lukanya cukup parah," ucap Celine mencoba menyembunyikan kepanikannya.
Tanpa ia sangka, Helena membuka mata. Wajah Celine seketika berubah pucat. Ingin rasanya ia menghilang dari hadapannya detik itu juga.
Tangannya meraba meja di sisi tempat tidurnya. Celine memandang Helena dengan tatapan heran. Ia merasa Helena tak melihat kehadirannya. Sang ibu bangkit dari duduknya dan menghampiri Helena.
"Kau mau minum?" Joyce mengambil segelas air putih dan menyodorkannya ke arah Helena. Celine mulai sadar jika perempuan itu tak bisa melihat.
Celine menarik lengan sang ibu dan mengajaknya menjauh beberapa langkah dari Helena.
"Apa yang terjadi dengannya?" Tanyanya setengah berbisik.
"Akibat kecelakaan itu, Helena kehilangan penglihatannya," jawab Joyce.
Celine tak tahu harus merasa iba ataukah justru merasa senang. Helena, perempuan yang sering dianggapnya mengganggu hubungannya dengan Freddy tersebut kini adalah seorang tuna netra.
"Apa ada orang lain di kamar ini, Nyonya?" Tanya Helena. Rupanya perempuan itu menyadari jika Joyce tengah mengobrol dengan seseorang.
"Ya, dia putriku, Cel…" Celine segera menutup mulut sang ibu. Agar tak menyebutkan namanya di hadapan Helena.
"Jam berapa sekarang, Nyonya?" Tanyanya kemudian.
"Jam lima sore," jawabnya.
"Kurasa aku harus pergi sekarang," ucap Celine.
"Baiklah."
Celine pun keluar dari ruang tersebut. Berbagai macam perasaan bercampur aduk di pikirannya.
"Rasanya suara itu tak asing bagiku," gumam Helena.
*****
Celine berjalan keluar dari ruang perawatan Helena. Namun tiba-tiba langkahnya terhenti saat melintasi sebuah ruangan. Ia memandan seorang gadis yang tengah duduk di bangku di depan ruangan tersebut sambil memainkan ponselnya.
"Kau?" Tanya Celine.
"Apa kau mengenalku?" Tanyanya.
"Siapa namamu?" Tanya Celine.
Gadis itu belum menjawab. Tiba-tiba ponselnya berdering.
"Maaf, aku harus menerima telepon," ucapnya. Gadis itu pun menjauh beberapa langkah dari Celine.
Celine memandang gadis itu beberapa saat sebelum benar-benar meninggalkan rumah sakit.
Kali ini Celine bertanya-tanya dalam hatinya. Apakah gadis ini adalah gadis yang dilihatnya beberapa hari yang lalu di cafe. Ia sedikit ragu. Malam itu saat ia akan makan malam bersama Freddy di cafe Pandora, ia melihat gadis itu keluar dari cafe bersama Dave, mantan suaminya.
*****
Di rumah Andromeda.
"Kapan kita akan menjenguk Mister handsome lagi?" Tanya Andro di sela makan malamnya bersama sang ibu.
"Kita berdoa saja untuknya," jawab sang ibu.
"Aku ingin menemuinya," rengeknya.
"Tak perlu, Andro," ucap sang ibu.
Andro terdiam. Wajahnya terlihat begitu sedih.
Meskipun ia belum tahu jika Gibran adalah ayah kandungnya. Namun sepertinya Andro mulai merasakan kedekatan dengannya. Jika saja Gibran tak menyangkal pernah menyentuhnya delapan tahun silam, mungkin kenyataannya akan berbeda.
Aurora merasa dirinya tak berharga di hadapan Gibran. Ia pun telah bersumpah pada dirinya sendiri. Tak akan pernah mengejar belas kasihan Gibran.
Aurora terus menyimpan rahasia itu dari Andro maupun dari Gibran. Apakah ini adil bagi keduanya?
Aurora memandang Andro. Sungguh, ia tak sanggup jika melihat putranya tersebut sedih apalagi menangis.
"Besok kita ke rumah sakit," ucap sang ibu. Andro langsung menghambur ke pelukan Aurora dan memberinya sebuah kecupan hangat.
"Thank's, mom," ucapnya dengan mata berbinar.
*****
Keesokan harinya Andro dan sang ibu menuju rumah sakit.
Emily dan sopir pribadinya tampak berada di depan ruangan yang sama seperti dua hari sebelumnya.
"Good morning, Madam," sapanya pada Emily.
"Good morning, handsome boy," balasnya.
"Bagaimana keadaan Gibran? Apa ada kemajuan?" Tanya Aurora.
Emily menggelengkan pelan.
Andro memandang Gibran dari jendela kaca. Pandangannya begitu polos penuh ketulusan.
"Apa aku boleh masuk ke dalam?" Tanyanya tiba-tiba.
"Tentu," jawab Emily.
Setelah mengenakan pakaian khusus, bocah itu pun masuk ke dalam ruang perawatan Gibran.
"Good morning, mister handsome. Ini aku Andromeda. Kapan kau akan bangun? Apa kau tak lelah terus-menerus tidur? Lihat. Nyonya Emily begitu mencemaskanmu. Cepatlah bangun. Kita akan bermain di taman Flamingoo seperti dulu," ucap Andro.
Andro mendekatkan wajahnya ke arah Gibran. Sebuah kecupan lembut mendarat di kening Gibran.
"Aku menyayangimu, Mister handsome,cepatlah bangun," ucapnya penuh ketulusan.
Dari luar ruangan Aurora hanya mampu memandang adegan mengharukan tersebut dengan hati perih. Tanpa ia sadari, air matanya menetes.
"Sejak kapan Gibran mengenal putramu?" Tanya Emily tiba-tiba.
Aura bergegas menyeka air matanya. Ia tak ingin Emily melihatnya menangis.
"Kurasa mereka sudah cukup lama saling mengenal. Andro pernah bercerita jika suatu hari seseorang mencuri dompetnya. Ia membantu putramu menemukan kembali dompetnya," jawabnya.
"Rupanya aku dan putraku sama-sama dipertemukan dengan Andro melalui dompet," Emily terkekeh.
"Aku merasa wajah Andro memiliki kemiripan dengan Gibran saat ia kecil," ucapnya kemudian.
Aurora menelan salivanya. Ia tak tahu harus berkata apa.
Bersambung...
Tembus 200 👍aku up episode selanjutnya.…
❤ ❤ ❤
Hai kak, dukung terus karyaku ya…
Jangan lupa beri like👍, komentar💬, ✒vote, favorit💙 serta hadiah🎁.
Sekecil apapun dukungan yang kalian berikan untukku, aku akan sangat berterima kasih.
Semoga kalian terus menjadi pembaca setiaku..💕💕