
Seorang pria melangkah gontai, kemeja putihnya tak lagi berwarna putih melainkan merah kehitaman. Sesekali dia meringis dan mengerang menahan rasa sakit di tubuhnya yang penuh luka parah. Cairan kental terus mengalir merembas di kemejanya, hingga klimaksnya, diapun roboh dan terkulai lemah di keramaian Kota Seoul.
Tak seorangpun yang lalu lalang menolongnya, yang ada hanya tatapan aneh dan jijik pada pria tersebut.
Pandangannya mulai buram, tubuhnya tak bisa lagi digerakan hanya beberapa jemarinya yang masih berkutik.
"Tolong Aku..." lirihnya namun tak bisa di dengar siapapun dalam keadaan sekarat.
-Chapter 1-
Laboratorium-
Seorang pria yang cukup muda dan masih singel sedang berkutik dengan alat-alat mesinnya, sesekali dia mengelas kerangka untuk dibuat robot, terlihat percikan-percikan api kecil di hadapannya.
“Selesai” ucapnya dengan wajah sumringah. Di hadapannya terpampang sebuah manusia robot.
“Sempurna” ucapnya lagi kemudian mencoba merangsang otot-otot syaraf robot tersebut hingga membuat robotnya aktif membuka matanya.
Prof. Muda bernama Lee Joon Hyuk itu tersenyum lebar “Kau, akan ku beri nama Andromeda”
-@@@-
1 Minggu kemudian. Seorang pria tengah siap dengan seragam sekolahnya. Dia tersenyum di depan cermin sambil merapihkan rambutnya.
“Sepertinya aku sudah terlihat sempurna” pujinya sendiri. Kemudian mengambil tasmya lalu bergegas ke ruang makan. Setengah berlari dia menuruni tangga hingga terlihat sosok seorang pria yang sedang menata makanan di meja.
“Pagi Hyung” sapanya sembari menarik kursi dan duduk manis
“Pagi, Waah...ternyata kau terlihat sangat cocok dengan seragam SMA itu” pujinya
Pemuda bernama Kim Jinhwan itu tersenyum lebar “Jelas, aku kan tampan jadi mengenakan pakaian apapun terlihat cocok”
“Ya sudah, sekarang makanlah setelah itu kita berangkat” ucap Hyungnya bernama Lee Joon Hyuk
“Hyung ingin ke Lab lagi? Oia bagaimana dengan robotmu yang baru?” tanya Jinhwan sambil menikmati sarapannya
“Sudah ada yang memesan dari Jerman, mereka akan datang hari ini. Itu sebabnya Hyung harus ke Lab lagi. Cepat habiskan” ucapnya sambil menambahkan beberapa lauk di mangkuk nasi Jinhwan.
-@@@-
Setelah menempuh perjalanan 30 menit, Jinhwan sampai di sekolah barunya.
“Jinan, Kau ingat pesan Hyungkan?” ucapnya sebelum Jinan keluar dari mobil
“Iya aku ingat Hyung” jawabnya sambil tersenyum lalu keluar dari mobil.
Jinhwan berdiri di depan gerbang sekolah barunya Seoul High School. Dia menghirup nafas dalam-dalam sambil merentangkan kedua tangannya.
“Lama tidak menghirup udara segar” gumamnya kemudian melangkah masuk namun belum ada 2 langkah.
BUGH!
“Uh maaf” seorang menabrak bahunya tapi orang itu pergi begitu saja.
Jinan melihat seorang wanita yang menabraknya namun hanya melihat punggungnya saja dengan rambut menjutai panjang.
“Maaf dia bilang? Ck! Sambil pergi begitu saja” gumam Jinan yang lanjut masuk ke dalam.
-Kelas 3-1-
“Kim Yura!” teriak Nami saat melihat sahabatnya datang tapi ada sesuatu yang aneh diraut wajahnya. “Kau kenapa?” tanya Nami
“Entahlah, bahuku sedikit ngilu tapi saat berangkat tidak apa-apa” ucapnya sambil memijat-mijat bahunya lalu duduk.
“Mungkin kau kecapean, untung saja kau tidak terlambat” ucap Nami
“Iya aku beruntung hari ini” jawabnya sambil memperlihatkan barisan giginya.
KRIIIIING....!” Tak lama bel masuk berbunyi semua siswa yang berada di luar kelas langsung masuk sambil berlarian. Suasana kelas ricuh sejenak kemudian hening saat Seo Kang Jun Sam masuk bersama seseorang.
Seketika suara-suara kecil terdengar, yang tak lain adalah suara para siswi.
“Hari ini, kelas kita kedatangan siswa baru. Dia pindahan dari Jeju. Silahkan, kau perkenalkan diri” ucap Kang Jun Sam
“Anyyeong, Kim Jinhwan Imnida” sapanya sambil memgukir senyum tipis
“KYAAAA!! Suaranya indah!!”
“SEKSII!!”
“SENYUMNYA! OH MY GOD!!” teriakan-teriakan histeris para gadis dengan alay menyeruak seketika.
“Bisakah kalian diam!?” Sam. Suasana kelas kembali hening, “Jinhwan Ssi, kau bisa duduk di bangku yang sudah kamo sediakan” Sam menunjuk bangku samping Yura.
“Terima kasih Sam” Jinan melangkah menuju bangku tersebut
BRAK!! Seseorang mengulurkan kakinya membuay Jinan sedikit oleng karena tersandung namun langsung memegang meja.
“Jinhwan, ada apa!?” tanya Sam
“A...ani gwenchanna Sam” jawab Jinan sambil melirik ke seorang siswa yang sedang terkekeh.
Pelajaran mulai berjalan, Jinan yang tak punya buku cetak hanya celingukan “Hei, bisakah kau berbagi buku denganku?” bisiknya pada gadis di samping kirinya.
KRIIIIING...KRIIING....KRIIING....!!!
Bel istirahat berbunyi, beberapa siswa berhambur keluar kelas. Jinan memilih untuk tetap dikelas karena dia membawa bekal yang disediakan Hyungnya.
“Sepertinya ada mangsa baru” ucap Siswa yang membuat Jinan tersandung, dia adalah Mino.
Ucapan itu terdengar jelas di telinga Jinan tapi dia tetap bersikap tenang. Pria itu mendekati Jinan tapi temannya langsung mencegahnya.
“Dari pada anak baru itu, kita kan masih punya mangsa” ucap Seunghoon sambil melirik ke siswa yang sedang duduk waspada, dia adalah Jinwoo atau Jinu.
“A iya, kau benar”
BRAK!! Mino memggebrak meja Jinu membuatnya bejimbul semakin ketakutan “Belikan kami makanan dikantin! Kami lapar!” tegasnya
“A...aku...ti...tid...tidak pun...nya u...u...uang” jawab Jinu gemetaran
Mino mengusap rambut Jinu kemudian menjambaknya “AAARGH!” rintihnya.
Jinan yang berada di kelas masih asik menikmati bekalnya tanpa memperdulikan mereka.
“Tidak punya uang? Benarkah?” Mino sambil memberi isyarat pada 2 temannya untuk menggeleda tas dan tubuhnya.
“Apa ini? Ini Uang kan? Huh!” dari uji Seunghoon yang menemukan beberapa lembar uang di kaus kaki Jinu.
“Ja...jangan, i...itu untuk ongkos pulangku naik taxi”
“Kau bisa pulang jalan kaki atau... Minta jemput kakakmu saja! Sekarang belikan kami makanan, cepat!”
“Aku tidak mau! I...tu uangku yang terakhir. Kembalikan” Jinu berusaha meraih uangnya dari tangan Mino tapi mereka melemparnya saling menngoper uang
BRAk! BRUGH!!! Jinu tersandung dan tersungkur memgenai besi meja didepannya hingga membuat dahinya berdarah. Gelak tawa langsung mencuat dari mulut mereka bertiga.
“Dasar bodoh!!” ucap Mino
Jinan yang sedari tadi diam saja, kini mulai geram. Tangannya mengepal erat tapi dia teringat dengan pesan Hyungnya untuk tidak melakukan kekerasan tapi emosinya sudah memuncak dan hendak berdiri.
“YAK!! MINO Ssi!!” teriak Yura yang tidak tahan dengan kelakuan mereka. Jinan yang sudah siap berdiri memilih untuk duduk kembali dan menyantap bekalnya lagi.
Yura mendekati Jinu dan membantunya berdiri “Kalian benar-benar tidak bosan! Terus menerus membulinya huh!! Apa kalian miskin huh! Sampai harus meminta uang Jinu untuk membelikan kalian makanan!?”
Mino tersenyum miring sambil mendekati Yura “Hei Kim Yura, kenapa kau selalu saja membelanya huh!? Apa kau suka pada pria cupu dan idiot itu? Daripada dengannya, lebih baik...denganku saja” jelasnya sambil merangkulnya
“Cuih! Aku tidak suka pria bengis sepertimu!” Yura menepis tangan Mino lalu memapah Jinu. “Kita keruang kesehatan” ucapnya
“YAK! Kim Yura!” hentak Mino sambil mencengkram lengan Yura
“AAARGH!! Sakit!” rintihnya
“Jangan ikut campur urusan kami, kalau kau tidak ingin terluka” Ancam Mino
Seunghoon dan Seunyoon menarik Jinu dan memegangi kedua tangannya.
“Kau cepat pergi belikan kami makanan atau *mencengkram keras lengan Yura* aku sakiti gadis ini!” ancam Mino
“Ja....jangan, aku mohon jangan sakiti Yura. Baiklah, A....aku A... Akan...”
“AAAAARGHHHH!!” Rintih Mino tiba-tiba saat tangannya di cengkram dan di pelintir seseorang.
“K...Kau!?” Mino terkejut melihat siapa orang tersebut.
Kim Jinhwan, berdiri dengan tangan kananya di saku dan tangan kirinya memutar pergelangan tangan Mino.
“Bisakah kalian diam, kalian membuat selera makanku hilang!” tegas Jinan
“YA...YAK! Kenapa kalian diam saja!! Tolong aku!!” Teriak Mino.
Seunghoon dan Seungyoon lamgsung menyerang Jinan. Pria itu bergerak, berputar, menunduk memghindari pukulan kedua teman Mino dengan tangan yamg masih di dalam saku dan mencengkram pergelangan tangan Mino.
“HIAAAAAAAT!!!” keduanya kembali menyerang bersama. Jinan menekuk tangan Mino dan mendorongnya hingga tersungkur.
Jinhwan terus menghindar hingga Seunghoon dan Seungjoon seolah saling bertarung, mereka tabrakan, kemudian saling pukul hingga akhirnya kelelahan.
Seketika Mino bergerak menyerangnya dari belakang tapi Jinan langsung menyadarinya dan segera menghentakan satu kakinya ke meja lalu memutar ke belakang.
BRAK!! Mino melesat menabrak Meja hingga tersungkur.
“Belilah makanan yang banyak yang kalian suka agar tenaga kalian kembali” Jinan menaruh beberapa lembar uang di atas meja.
“Kau, Kim Yura, bawa temanmu ke ruang kesehatan” ucap Jinan dengan tatapan datar kemudian pergi.
Yura masih mematung melihat adegan yang ada dihadapannya dan matanya kini menatap pria bertubuh mungil tersebut hingga menjauh.
“Kim Yura, Hei Kim Yura!” hentak Jinu membuat gadis itu terkesiap.
“Eh, ayo aku antar keruang kesehatan”
Sementara Mino dan kedua temannya begitu geram “YAAAAK!! KIM JINHWAN!! AWAS KAU!!” teriak Mino
“Lihat saja, aku akan membuatmu tidak betah berada disekolah ini atau bertekuk lutut memohon ampun padaku!” gumamnya sambil menyeringai.
Terima kasih sudah mampir dan baca ceritaku, kuy beri bintang dan dukungan lainnya. 🙏😄