
Hans menghentikan mobilnya di depan rumah sakit.
"Mengapa Ayah mengajakku ke tempat ini?" tanya Nadine. Wajahnya terlihat sedikit bingung.
Hans tak menjawab. Ia justru menggandeng tangan putrinya kemudian melangkah masuk ke dalam rumah sakit. Nadine pun akhirnya memilih pasrah saat sang ayah terus mengajaknya menyusuri ruang demi ruang yang ada di rumah sakit tersebut.
Tiba-tiba Hans menghentikan langkahnya di depan sebuah pintu bertuliskan ruang VIP. Ia lalu membuka pintu ruangan tersebut.
"Selamat siang, Dokter. Maaf saya sedikit terlambat," ucap Hans.
"Tak masalah, Tuan," ucap dokter.
Tiba-tiba pandangan Nadine tertuju pada seorang perempuan yang duduk di atas ranjang pasien. Nadine tak mengenalinya. Kedua matanya masih tertutup perban.
"Siapa perempuan ini? Mengapa ayah mengajakku ke ruangan ini?" gumam Nadine.
"Hari ini kita akan melepaskan perban dari mata pasien. Semoga hasilnya seperti yang kita harapkan," ucap dokter.
Tak berselang lama dokter itu pun mulai membuka perban yang melekat pada kedua mata Helena. Beberapa waktu yang lalu ia baru saja menjalani operasi pencangkokan kornea mata dari mendiang ibu mertuanya, Felicia.
Tak butuh waktu lama, perban itu pun sudah terlepas dari mata Helena. Dengan aba-aba dari dokter, Helena mulai membuka matanya. Awalnya semuanya masih terlihat samar, namun beberapa detik kemudian ia dapat melihat dengan jelas.
Wajah yang pertama kali ia lihat setelah beberapa bulan terakhir ini hidup dalam kegelapan adalah wajah Hans, suaminya.
"Hans! Aku bisa melihat lagi!" pekiknya.
"Syukurlah," ucap Hans. Ia langsung menghambur ke pelukan Helena.
Nadine semakin bingung dengan apa yang dilihatnya.
"Ayah...siapa dia?" tanya Nadine.
"Kurasa kita pernah bertemu," ucap Helena. Ia kemudian tampak berpikir sejenak. "Aku ingat sekarang. Beberapa bulan yang lalu kau datang ke butik tempatku bekerja lalu memesan baju pertunangan. Mengapa kau bisa bersama Hans? Apa kau mengenal Hans?" tanya Helena.
Nadine mengamati wajah Helena selama beberapa detik. "Ya. Kita pernah bertemu di butik. Apakah Nyonya mengenal ayahku?" tanya Nadine dengan raut wajah kebingungan.
"Ayah?" tanya Helena.
"Ya. Pria ini adalah ayahku," jawab Nadine.
"Kau...apakah kau...putriku...Nadine?" tanya Helena. Tiba-tiba matanya berkaca-kaca.
"Putrimu? Tak mungkin, Nyonya," ucap Nadine.
"Helena benar, kau adalah putri kandungnya, dan dia adalah ibu kandungmu," timpal Hans.
"Ibu? Itu tak mungkin!" seru Nadine.
"Dia Helena, ibu kandungmu, perempuan yang telah mengandung dan melahirkanmu," ucap Hans.
"Tidak!" pekik Nadine.
"Nadine, maafkan ibu. Ibu meninggalkanmu begitu saja saat kau masih kecil. Ibu menyesal," ucap Helena. Tiba-tiba buliran bening menetes dari sudut matanya.
"Begitu mudahnya anda meminta maaf. Apakah anda sadar apa yang telah anda lakukan? Anda bahkan lebih kejam dari seorang penjahat!" tangis Nadine pun tiba-tiba pecah.
"Ibu tahu, dosa ibu begitu besar padamu dan juga pada ayahmu. Ibu tak pantas untuk dimaafkan," ucap Helena dengan suara bergetar.
"Aku tak sudi memanggilmu ibu!" seru Nadine. Ia hendak beranjak dari ruangan tersebut namun tiba-tiba Helena menarik lengannya. "Maafkan ibu, Nak," ucapnya parau.
Nadine enggan memandang wajah Helena. Ia justru menepis tangan Helena dengan kasar kemudian melangkah keluar dari ruangan tersebut.
Helena menangis sejadi-jadinya. Hans mungkin bisa dengan mudah memaafkan Helena atas kesalahan yang telah dilakukannya, namun tidak dengan Nadine putrinya. Kesalahan yang dilakukannya ternyata menggoreskan luka yang begitu dalam di hati putri semata wayangnya tersebut.
Hans menghampiri Helena.
"Bersabarlah, kurasa Nadine hanya perlu waktu untuk menerima ini semua," ucap Hans sambil membelai lembut rambut istrinya.
"Bagaimana jika seumur hidup Nadine tak mau memaafkanku?"
"Aku akan membuat Nadine percaya padamu." Hans lalu merengkuh tubuh Helena ke dalam pelukannya. Ia membiarkan Helena menangis.
Sementara itu Nadine terus berlari menyusuri lorong rumah sakit hingga akhirnya tubuhnya menabrak seseorang.
"Maaf, aku kurang hati-hati," ucap Nadine. Ia lalu memandang wajah perempuan yang baru saja bertabrakan dengannya tersebut. Nadine tersentak saat mendapati perempuan itu adalah Aurora.
"Aurora...kau…" ucap Nadine
"Nadine…" ucap Aurora.
Aurora memandang wajah Nadine yang terlihat begitu sedih. Bahkan matanya masih terlihat basah.
"Apa kau baik-baik saja?" tanyanya.
Aurora menggandeng tangan Nadine kemudian mengajaknya duduk di sebuah bangku. "Jika kau tak keberatan, kau bisa menceritakan apa yang kini kau rasakan," ucap Aurora.
"Perempuan itu...tiba-tiba kembali," ucap Nadine.
"Apa maksud ucapanmu?" tanya Aurora.
"Perempuan itu meninggalkanku begitu saja selama hampir tiga puluh tahun. Dan kini tiba-tiba ia datang meminta maaf padaku," Nadine terisak.
"Kurasa semua orang pernah berbuat kesalahan dan kita berhak memberinya maaf sekaligus kesempatan kedua," ucap Aurora.
"Apa yang pernah ia lakukan sangat menyakiti hatiku. Aku tak bisa memaafkannya," ucap Nadine.
"Bagaimanapun dia ibumu. Meskipun ia tak merawat dan membesarkanmu namun dialah perempuan yang telah mengandung dan melahirkanmu. Kau beruntung masih memiliki ibu. Meskipun ibumu pernah berbuat kesalahan namun aku yakin ia telah menyadari kesalahannya. Berilah kesempatan padanya, sebelum kau merasakan pedihnya kehilangan karena kepergian ibu," ucap Aurora.
Nadine menatap mata Aurora yang penuh dengan ketulusan.
"Gibran begitu bodoh telah menyia-nyiakan perempuan sebaik dirimu," ucapnya.
"Aku tak mengharapkannya lagi. Aku sudah bahagia dengan kehidupanku sekarang. Andromeda adalah segalanya bagiku," ucap Aurora dengan senyum tulus.
"Bagaimana keadaan Andromeda?" tanya Nadine.
"Keadaanya mulai membaik. Dokter mengizinkannya pulang besok pagi," jawab Aurora.
"Syukurlah. Bolehkah aku menanyakan satu hal padamu?" tanya Nadine.
"Apa yang ingin kau tanyakan?"
"Apakah Andromeda adalah anak kandung Gibran?" tanya Nadine.
Aurora tersentak. Ia sama sekali tak menyangka jika Nadine akan menanyakan hal itu padanya.
Aurora membuang nafas.
"Ya. Setelah pertemuan dengan Gibran malam itu, Andromeda tumbuh di dalam rahimku," jawab Aurora.
Sekali lagi Nadine menatap mata Aurora. Tak ada hal lain yang ia temukan selain kejujuran dan ketulusan.
"Andromeda berhak tahu siapa ayah kandungnya," ucap Nadine.
"Biarlah waktu yang akan menjawabnya," ucap Aurora.
"Apakah kau benar-benar telah membatalkan pertunanganmu dengan Gibran?" tanya Aurora.
Nadine menghela nafas.
"Tak ada lagi yang bisa dipertahankan dalam hubungan kami," ucapnya.
"Apakah sudah ada cinta baru di hatimu?" tanya Aurora.
"Apa maksud pertanyaanmu?" tanya Nadine. Tiba-tiba pipinya merona.
"Kau berhak bahagia," ucap Aurora.
Tiba-tiba seseorang menghampiri keduanya.
"Nadine," ucapnya.
Nadine dan Aurora tercengang. Pria yang menderita amnesia itu tiba-tiba memanggil nama Nadine.
"Gib...Gib...ran...kau…" ucap Nadine dan Aurora hampir bersamaan.
"Aku mulai mengingatmu," ucap Gibran sambil memandang wajah Nadine.
"Astaga!" seru Nadine.
Tiba-tiba perasaan takut menyeruak di dalam hati Aurora. Ia takut jika ingatan Gibran benar benar telah kembali.
Bersambung….
Tembus 500 👍aku up episode selanjutnya.…
❤ ❤ ❤
Hai kak, dukung terus karyaku ya…
Jangan lupa beri like👍, komentar💬, ✒vote, favorit💙 serta hadiah🎁.
Sekecil apapun dukungan yang kalian berikan untukku, aku akan sangat berterima kasih.
Semoga kalian terus menjadi pembaca setiaku..💕💕