ANDROMEDA

ANDROMEDA
Dua hati menyatu



Di apartemen Keenan.


Sore itu Keenan baru saja memasuki kamar apartemennya ketika tiba-tiba ponselnya berdering. Sebuah pesan masuk di aplikasi percakapan.


[From: Aurora


Temui aku di cafe Pandora pukul 19.00.]


"Mengapa tiba-tiba dia mengajakku bertemu? Apakah dia ingin mengucapkan selamat tinggal padaku?" gumamnya.


Keenan merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Menghela nafas yang terasa sedikit sesak. Mungkin dia harus kehilangan Aurora untuk yang ke dua kalinya. Bagaimana pun Aurora berhak memilih. Bukankah Andromeda akan bahagia jika ia memiliki orang tua yang lengkap? Kali ini ikatan darah lah yang lebih kuat dari ikatan manapun. Dan dia yang hanya sebagai mantan kekasih Aurora tentu saja tak memiliki hak apapun untuk menghalangi bersatunya tiga hati yang telah begitu lama terpisah itu.


Satu jam kemudian Keenan telah tiba di cafe. Ia mengedarkan pandangannya di sekitar ruangan tersebut namun tak menemukan Aurora di sana.


"Mungkin dia sedikit terlambat," gumamnya.


Hampir lima belas menit berlalu, namun perempuan yang ditunggunya tak kunjung  tiba. Dia mulai menghubungi ponsel Aurora namun tak bisa terhubung.


Hingga suatu ketika seorang pramusaji menghampiri mejanya.


"Selamat malam, Tuan," sapanya ramah.


"Selamat malam. Aku tengah menunggu seseorang yang telah memesan meja ini," ucap Keenan.


"Nyonya Aurora berada di taman sebelah sana, Tuan." Pramusaji itu mengarahkan tangannya menuju sebuah taman kecil yang berada tak jauh dari cafe tersebut.


Ia lantas mengikuti pramusaji menuju taman kecil itu. Dari kejauhan terlihat Aurora tengah duduk bersebelahan dengan seorang pria. Cahaya lampu taman yang tak begitu terang membuatnya kesulitan untuk mengenali pria tersebut. Ketika dirinya berjalan mendekati keduanya, barulah terlihat jelas siapa sosok pria yang duduk bersama Aurora.


Ya, pria itu adalah Gibran William Alvaro. Yang tak lain adalah ayah kandung Andromeda, sekaligus calon suami Aurora.


Keenan memaksakan langkah kakinya yang tiba-tiba terasa begitu berat.


"Selamat malam, Keenan," sapa Gibran.


Keenan memandang pria yang juga saudara tirinya tersebut. Dia sedikit tersentak saat melihat Gibran yang malam itu mengenakan jas yang beberapa hari yang lalu dipilih olehnya.


Keenan terdiam. Tiba-tiba rasa perih itu datang. Meskipun dia telah berusaha merelakan Aurora untuk Gibran, namun rupanya hatinya tidak sekuat itu. Rasa takut kehilangan itu justru menyeruak memenuhi rongga dadanya.


"Maaf, sepertinya aku datang di waktu yang salah," ucap Keenan sembari membalikkan badannya hendak berlalu dari tempat tersebut sekaligus menjauh dari pemandangan yang menyakitkan itu.


"Bukankah aku yang mengundangmu ke tempat ini? Mengapa kau ingin cepat-cepat pergi?" ucap Aurora setengah berteriak.


"Untuk apa kau mengundangku ke tempat ini?" pekik Keenan dengan gemuruh hebat di dadanya.


"Aku hal penting yang ingin aku bicarakan denganmu."


"Jika kau hanya ingin memberi tahu perihal hari pernikahan kalian, kau bisa mengirim undangannya padaku atau menelponku."


"Aku tak bisa mengatakan hal ini melalui ponsel." 


"Apa maksud ucapanmu?" 


Tiba-tiba Gibran beranjak dari tempat duduknya. Tanpa diduga melepas jas yang kini dikenakannya. Ia lantas melangkah mendekati adik tirinya tersebut.


"Bukankah kau yang memilih jas ini?" tanyanya.


Keenan menautkan alisnya. "Ya. Aurora yang memintaku untuk memilih jas  untukmu."


"Aku tak menyukai jas ini. Lebih baik kau yang memakainya." Sekali lagi Keenan menatap heran pada Gibran.


"Jas ini menjadi milikmu," ucap Gibran. Tak terlihat sedikit pun amarah ataupun kebencian di sorot matanya. Keenan justru menangkap sebuah ketulusan.


"Apa maksudmu?" Keenan meninggikan suaranya.


"Menikahlah dengan Aurora. Kaulah cinta sejatinya, bukan aku."


Ucapan Gibran sontak membuat jantung Keenan berdegup kencang. Apakah mereka sedang membuat lelucon? Apakah Gibran hanya ingin sedikit menghiburnya? Pertanyaan itu berputar memenuhi otak Keenan.


Beberapa detik kemudian Gibran memakaikan jas berwarna peach itu pada tubuh Keenan. Kini Keenan tercengang.


"Aurora menolak lamaranku, dia lebih memilihmu," ucap Gibran.


Keenan merasakan jantungnya seperti berhenti berdetak. Apakah ini mimpi? Jika ini adalah mimpi, ia ingin terus tidur dan tak ingin terbangun.


 Keenan menatap lekat mata Aurora. "Benarkah yang dikatakan olehnya?"


"Aku mencintaimu, Keenan Alvaro. Menikahlah denganku," ucapnya dengan mata berkaca-kaca.


Keenan meraih tangan Aurora. Ia lantas mengecupnya dengan penuh kelembutan.


"Aku mencintamu, Aurora. Aku mau menikah denganmu." 


Buliran bening yang sedari tadi memenuhi sudut mata Aurora itu pun akhirnya tumpah. Keenan merengkuh tubuh Aurora ke dalam pelukannya.


Tiba-tiba seorang bocah kecil muncul.


"Ayah!" serunya sembari berlari kecil ke arah Gibran.


"Mulai sekarang kau bisa memanggil mister tampan dengan sebutan ayah," ucap Gibran.


"Sungguh?" Sorot mata bocah bernama Andromeda itu sontak berbinar.


"Ayah tampan!" serunya sembari beralih ke pelukan Keenan.


"Semoga kalian bahagia," ucap Gibran sembari menepuk punggung adik tirinya itu. Tak berselang lama ia pun berlalu dari tempat tersebut.


*******


Di rumah Hans.


Pagi itu Helena terlihat murung.


"Kau kenapa, Sayang?" tanya Hans sembari mengoleskan selai di atas roti bakarnya.


"Aku merindukan Nadine," jawabnya. 


"Nadine belum mau kembali ke rumah ini," ucap Hans.


"Kita akan menyusulnya."


"Kau yakin?" 


Helena menganggukkan kepalanya.


"Baiklah. Hari ini juga kita terbang ke New York."


*******


New York, 09.00.


Nadine baru terbangun dari tidurnya. Dia membuka tirai jendelanya. Alangkah terkejutnya gadis itu saat mendapati dua orang yang begitu dikenalnya tiba-tiba berdiri di depan pintu kamarnya.


"Ayah!"


"Ibu merindukanmu, Nak," ucap Helena sembari menatap lekat mata putri semata wayangnya tersebut. Dia hendak menghambur ke pelukan gadis itu, namun Nadine justru mendorong tubuh perempuan itu dengan kasar.


"Nadine! Jaga sikapmu! Dia ibumu. Perempuan yang melahirkanmu!" seru Hans.


"Lebih baik aku tak memiliki ibu!" 


"Plak!" Sebuah tamparan tiba-tiba mendarat di pipi Nadine. Ini adalah tamparan ke dua dari Hans setelah Helena kembali dalam kehidupan mereka.


"Sampai kapan kau akan bersikap seperti ini?"


"Sampai aku mati!" 


Helena mengedipkan matanya sekali. Menahan buliran bening yang telah memenuhi sudut matanya agar tak jatuh. Namun ucapan yang terlontar dari mulut putrinya kali ini membuat hatinya begitu perih. Helena hanya manusia biasa, yang memiliki hati. Ia juga memiliki batas kesabaran. Dan detik ini ia merasa jika dia sudah berada di titik lelah.


"Kita pulang sekarang," ucapnya datar sembari berlalu dari hadapan putrinya yang menatapnya masih dengan tatapan penuh amarah dan kebencian. Tak berubah sedikit pun dari ketika keduanya kembali bertemu setelah tiga puluh tahun terpisah.


"Helena! Tunggu! Helena!" Hans memanggil istrinya namun perempuan itu sama sekali tak mau kembali menengok ke belakang. Rupanya ucapan Nadine telah begitu dalam melukai perasaannya.


"Nadine, Kau,...!" Hans menahan amarah yang kini bergemuruh di dadanya. Kini hati Nadine dipenuhi dendam pada ibunya sendiri. Dan entah kapan dendam itu akan mereda.


Bersambung….


Otewe last episode…..tungguin yaa….🥰🥰