
Gibran membuka matanya. Ia merasakan sakit luar biasa pada kepalanya. Ia menatap langit-langit ruangan tempatnya dirawat selama lebih dari seminggu tersebut.
"Dimana aku?" gumamnya.
Zivanna, perawat yang saat itu tengah berada di ruangan tersebut pun merasa kaget. Perawat itu pun bergegas menghampiri Gibran yang tampak kebingungan.
"Kau sudah siuman?" Tanyanya dengan mata berbinar.
"Dimana aku?" Tanya Gibran sambil terus memegangi kepalanya.
"Kau di rumah sakit, Tuan. Sudah sembilan hari kau dirawat di ruangan ini, jawabnya.
"Apa yang terjadi padaku? Aku sama sekali tak mengingat apapun," ucap Gibran.
"Kau mengalami kecelakaan parah beberapa hari yang lalu," ungkap perawat Zi.
"Kecelakaan?" Gibran kembali merasakan nyeri hebat di kepalanya.
"Aku? Siapa aku?" Tanyanya. Perawat Zi mengernyitkan keningnya.
"Siapa aku, suster? Arrrrgggh....!" Gibran kembali mengerang kesakitan.
"Kau? Apa kau benar-benar tak mengingat apapun? Bahkan namamu sendiri?" Tanya Zivanna sedikit cemas.
Gibran menggeleng lemah.
"Tunggu sebentar, aku akan memanggil dokter." Zivanna berlalu dari hadapan Gibran. Ia pun melangkah mendekati pintu.
Tiba-tiba seseorang membuka pintu ruangan tersebut. Tampak pria paruh baya dan seorang gadis berusia 30 an.
"Selamat pagi, suster," sapa pria yang berdiri di balik pintu.
"Selamat pagi, Tuan, Nona," sahut Zi.
"Kalian keluarga pasien Gibran?" Tanyanya kemudian. Pria tersebut menganggukkan kepalanya. Nadine memandang sang ayah penuh tanda tanya.
"Silahkan masuk, Tuan Gibran baru saja siuman," ucap Zivanna.
"Gibran?" gumam Nadine.
Keduanya pun lalu masuk ke dalam ruangan tersebut.
Dengan langkah berat Nadine mendekati ranjang tempat Gibran terbaring selama sembilan hari tersebut.
"Gib...Gib...ran? Kau?" Nadine memandang Gibran. Ia hampir tak percaya dengan apa yang kini tampak di depan matanya. Hans sang ayah ternyata mengajaknya bertemu dengan Gibran. Pria yang tak lain adalah calon tunangannya. Nadine menatap wajah Gibran. Netra mereka bertemu.
"Anda siapa?" Tanya Gibran dengan wajah bingung. Nadine menatap Hans penuh tanya.
"Gibran! Jangan bercanda! Ini sama sekali tak lucu!" Jerit Nadine.
Gibran tak bergeming. Ia justru menatap Nadine dengan pandangan aneh.
"Apa kau mengenalku?" Tanyanya.
"Gibran! Hentikan!" Sebuah tamparan keras tiba-tiba mendarat di pipi pria yang baru tersadar dari komanya tersebut.
Gibran tersentak.
"Mengapa kau menamparku?" Tanyanya.
Nadine berlari dari hadapan Gibran. Ia kemudian keluar dari ruangan tersebut.
Gibran memegang kepalanya yang kembali terasa nyeri. Pria itu benar-benar tak mengenali Nadine, bahkan dengan dirinya sendiri.
"Gibran! Apa ini? Kau jangan main-main!" Kali ini Hans menggertaknya.
"Apa maksud perkataanmu, Tuan?" Tanyanya masih dengan wajah bingung.
"Kau… !" Hans tak melanjutkan kata-katanya. Ia berlalu dari hadapan calon tunangan putrinya tersebut. Sementara Gibran masih tak mengerti dengan apa yang baru saja terjadi padanya. Dua orang asing tiba-tiba datang dan terus memanggilnya dengan nama Gibran. Perempuan itu bahkan memberinya sebuah tamparan keras yang cukup menyakitkan.
Hans menghampiri Nadine yang tengah duduk di sebuah bangku tak jauh dari tempat Hans memarkirkan mobilnya.
Hans menyentuh pundak Nadine. Perempuan itu pun menoleh.
"Ayah," ucapnya. Nadine cepat-cepat menyeka air matanya. "Benarkah Gibran benar-benar tak mengenali kita?" Tanyanya kemudian. Hans menatap mata Nadine yang basah.
"Tenanglah, Gibran baru saja tersadar dari komanya, ia mungkin butuh waktu untuk memulihkan kembali ingatannya," hibur Hans.
"Bagaimana jika ia benar-benar tak ingat padaku? Aku mengenal Gibran. Ia bahkan tak bisa bercanda," ucap Nadine.
"Kurasa kita harus tahu. Apakah yang sebenarnya terjadi." Hans bangkit dari duduknya.
"Ayah mau kemana?" Tanya Nadine.
"Aku akan menemui dokter," jawabnya sambil berlalu. Nadine membuntuti sang ayah masuk kembali ke dalam ruangan tempat Gibran dirawat.
Seorang dokter terlihat keluar dari ruangan tersebut.
"Pasien mengalami amnesia," jawabnya dengan suara berat. Nadine tersentak. Jawaban dari dokter tersebut benar-benar mengejutkannya. Gibran ternyata benar-benar kehilangan ingatannya.
Seketika Nadine merasa tubuhnya lemas. Perempuan itu pun terduduk di lantai. Hans bergegas membantu putrinya tersebut berdiri. Nadine lalu duduk di bangku yang ada di depan ruangan perawatan Gibran.
"Apakah kondisi yang dialami Gibran parah, dokter?" Tanya Hans.
Dokter berkacamata itu menghela napas.
"Saat ini pasien mengalami Amnesia Disosiatif," jawabnya.
"Amnesia Disosiatif?" Tanya Hans lagi.
"Ya. Pengidap amnesia jenis ini tidak mampu untuk mengingat berbagai informasi pribadi yang bahkan dinilai sangat penting. Pasien bisa saja lupa nama dan segala hal yang erat kaitannya dengan pribadinya," jawab dokter.
"Astaga!" Seru Hans. Pria itu kini tersentak kaget. Ia lalu menatap Nadine. Ia tahu jika putri semata wayangnya itu begitu terpukul.
"Apakah Gibran bisa sembuh?" Tanya Hans. Dokter menggeleng. Tak lama kemudian dokter itu pun berlalu dari hadapan Hans dan Nadine.
Hans mengelus pundak putrinya. Nadine menatap mata sang ayah. Kemudian merengkuh tubuh sang ayah ke dalam pelukannya. Hans membiarkan Nadine menangis di pundaknya.
Tiba-tiba dua orang perempuan menghampiri keduanya.
"Hans...Nadine…" ucap Emily.
"Nyonya Emily...Alice…" ucap Hans.
Nadine memandang Emily dan Alice yang tiba-tiba berdiri di hadapannya tersebut.
"Nadine...kau? Kau ada di sini?" Tanya Emily. Nadine tak menjawab. Ia justru langsung menghambur ke pelukan ibu kandung dari kekasihnya tersebut.
"Kau kenapa, nak?" Tanya Emily. Ia lalu menatap mata Nadine yang sembab.
Nadine tak menjawab. Ia justru kembali meneteskan air matanya.
"Gib…Gib…Gibran sudah siuman," jawabnya dengan suara bergetar.
"Sungguh?" Tanyanya dengan mata berkaca-kaca.
Emily dan Alice lalu memasuki ruang tersebut. Mereka sudah tak sabar ingin menemui pria yang sangat mereka sayangi itu.
"Gibran....kau sudah sadar, nak," ucap Emily. Buliran bening menetes di pipinya.
Tangannya hendak menyentuh wajah putranya tersebut. Namun Gibran menepisnya.
"Anda siapa, Nyonya?" Tanya Gibran masih dengan wajah bingung. Emily dan dan Alice saling memandang.
"Ini ibu, kak, dan aku Alicya, adikmu," jawab Alice.
"Ibu? Adik?" Gibran semakin bingung. Tiba-tiba ia memegang kepalanya dan mengerang kesakitan.
"Kau kenapa, nak?" Tanya Emily dengan wajah cemas.
"Ada yang perlu kusampaikan padamu," ucap Hans. Pria itu lalu memberi kode kecil pada Emily agar mengikutinya keluar dari ruangan tersebut.
"Ada apa, Tuan Hans? Apa kau tahu sesuatu?" Tanya Emily.
"Putramu kehilangan ingatannya," jawabnya.
"Jaga ucapan Anda, Tuan!" Seru Emily.
"Ayahku tidak sedang berbohong, ibu. Gibran mengalami amnesia," timpal Nadine. Emily seketika merasa hatinya begitu hancur. Gibran, putra semata wayangnya kini tak mengenalinya. Kecelakaan yang dialaminya beberapa waktu lalu ternyata membuat sang anak kehilangan ingatannya.
"Apakah hanya aku dan Alice yang tak ia kenali?" Tanya Emily terisak.
Hans menggeleng pelan.
"Ia tak mengenaliku. Bahkan Nadine, perempuan yang hampir menjadi tunangannya, ia juga tak mengenalinya. Mungkin putramu juga tak ingat identitas dirinya," jawabnya.
Ucapan dari Hans benar-benar membuat hati Emily terasa perih dan teriris.
Bersambung...
Tembus 200 👍aku up episode selanjutnya.…
❤ ❤ ❤
Hai kak, dukung terus karyaku ya…
Jangan lupa beri like👍, komentar💬, ✒vote, favorit💙 serta hadiah🎁.
Sekecil apapun dukungan yang kalian berikan untukku, aku akan sangat berterima kasih.
Semoga kalian terus menjadi pembaca setiaku..💕💕