
Bab 23
Seorang pria berjalan ke arah kamar Helena. Hampir dua minggu pria itu tak menemuinya. Ia mengetuk pintu kamar yang tertutup rapat itu dan berkali-kali memanggil nama Helena. Namun tak ada jawaban.
Pria itu mencoba mendorong gagang pintu. Ternyata pintu itu tak dikunci. Pandangannya kemudian menyapu setiap sudut kamar. Helena tak ada di sana.
"Kemana dia? Tak biasanya perempuan itu meninggalkan kamar begitu saja tanpa menguncinya." Gumam pria itu.
Pandangannya tiba-tiba tertuju pada sebuah buku yang terbuka di atas meja.
Pria itu mengambil buku tersebut. Ia pun perlahan membaca tulisan pada sebuah halaman.
Dear Freddy,
Saat kau membaca tulisan ini mungkin aku telah pergi jauh darimu. Dan mungkin tak akan pernah kembali di sisimu. Fred, aku seorang perempuan yang memiliki hati dan perasaan. Bertahun-tahun kau mengurungku dalam penderitaan. Aku mungkin hanya diam. Namun kurasa aku telah berada di titik lelah. Aku lelah menjalani hidup dengan cara tak biasa ini. Terima kasih untuk semuanya. Maaf jika aku harus meninggalkanmu dengan cara seperti ini. Jangan lagi kau permainkan hati perempuan. Cukup aku yang merasakannya. Kembalilah pada istrimu. Sarah lebih membutuhkanmu sekarang.
Selamat tinggal.
Dari seorang perempuan yang pernah mencintaimu begitu dalam,
Helena
Freddy melempar buku itu ke atas ranjang.
"Perempuan tak tahu diri!" Umpatnya.
Pria itu kemudian membuka lemari baju Helena. Lemari itu hampir kosong. Helena benar-benar telah pergi meninggalkan kamar yang telah ditempatinya selama hampir tiga puluh tahun.
Freddy mengambil ponselnya dan berniat menghubungi kekasih gelapnya tersebut. Berkali-kali ia mencoba meneleponnya namun tak tersambung. Kali ini pria itu merasa kesal. Ia menatap bayangannya di cermin. Lalu menghantam cermin berukuran cukup besar itu dengan tangannya. Ia tak memperdulikan tangannya yang berdarah karena serpihan kaca tersebut. Baginya kepergian Helena adalah luka terperih dalam hidupnya.
"Maafkan aku, Helena. Jika aku terlalu sering menyakitimu," ucapnya dengan hati perih.
Freddy memejamkan matanya. Tiba-tiba kenangan tentang Helena melintas di kepalanya.
Helena adalah seorang model majalah yang cukup terkenal pada masanya. Parasnya yang menawan dan tubuhnya yang nyaris sempurna. Membuatnya dikagumi oleh banyak kaum adam termasuk dirinya. Meskipun Banyak pria yang mendekatinya, namun Helena muda justru jatuh cinta pada Freddy. Seorang pria sederhana yang juga teman masa kecilnya. Keduanya pun menjalin sebuah hubungan dekat.
Siang itu Helena mengajak Freddy untuk bertemu di sebuah taman.
"Aku dijodohkan oleh orang tuaku," ucap Helena dengan raut sedih.
"Kau menolaknya 'kan?" Tanya Freddy.
"Orang tua Hans sudah terlalu banyak membantu bisnis orang tuaku," jawab Helena.
"Jadi nama pria itu Hans?" Tanyanya dengan senyum getir.
"Kau mencintainya?" Tanya Freddy.
"Aku hanya mencintaimu, Freddy."
"Aku perlu bukti jika kau benar-benar mencintaiku."
"Apa maksudmu?"
"Aku tak rela jika pria lain menyentuh tubuhmu!" Seru Freddy. Ia menatap mata Helena begitu tajam.
"Lalu, apa maumu sekarang?"
"Jika kau benar-benar mencintaiku, datanglah ke rumahku malam ini." Ucapnya sambil berlalu dari hadapan Helena. Gadis itu hanya terpaku menatap Freddy yang meninggalkannya begitu saja.
Malam harinya Helena benar-benar mendatangi rumah kekasihnya.
"Ayo, masuklah," ajak Freddy. Pria itu menggandeng tangan Helena menuju kamarnya. Gadis itu kaget. Kamar Freddy telah dihias begitu indah. Bunga-bunga yang bertaburan di atas ranjang, serta lilin-lilin yang berada di sekelilingnya. Alunan musik yang romantis pun seakan menambah suasana syahdu di kamar tersebut.
"Aku mencintaimu, Helena," bisik Freddy. Pria itu memeluk tubuh gadis yang amat dicintainya itu. Helena pun seakan terhanyut dalam suasana. Keduanya pun tak dapat mengendalikan perasaan yang makin memuncak. Malam itu Helena benar-benar menyerahkan tubuhnya pada Freddy.
Seminggu kemudian Helena pun menikah dengan Hans, pria pilihan orang tuanya. Meskipun tak pernah mencintai suaminya, namun Helena tak pernah sekalipun bersikap buruk terhadapnya. Hal itu yang membuatnya tak curiga sedikit pun saat Helena mengatakan dirinya tengah hamil. Hans merasa begitu bahagia saat mengetahui kehamilan istrinya. Pria itu bahkan membuat pesta yang cukup mewah untuk merayakan kehamilan istrinya tersebut.
Beberapa bulan kemudian, Helena pun melahirkan seorang bayi perempuan cantik yang ia beri nama Nadine.
Di saat Nadine berumur satu tahun, Helena dan Freddy tanpa sengaja bertemu di sebuah cafe.
Cinta lama yang pernah tumbuh di antara keduanya pun kembali bersemi.
Helena benar-benar tidak bisa melupakan cinta pertamanya.
"Kau mau pergi kemana malam-malam begini?" Tanya Hans. Ia menatap Helena yang tengah merias diri.
"Aku akan menghadiri pesta pernikahan kawan lamaku," jawabnya.
"Kau tak mengajakku?" Tanya Hans.
"Aku pergi bersama kawan-kawanku." Jawabnya. "Kau jaga Nadine, jika ia terbangun, berikan botol susu itu padanya," Ucap Helena kemudian.
Perempuan itu lalu mengecup kening
putrinya yang tengah terlelap. Ia pun berlalu dari hadapan suaminya.
"Kau cantik sekali malam ini," puji Freddy. Helena tersipu.
Keduanya pun menuju pesta pernikahan kawan lama mereka.
"Aku tak bisa melupakanmu, Helena," ucap Freddy sepulang dari pesta.
"Aku pun sama denganmu, Fred," ucap Helena.
"Aku ingin terus di sisimu. Kebahagiaanku hanya bila bersamamu,"ucap Freddy.
"Tapi kita sudah saling memiliki pasangan, Fred."
"Apa kau bahagia dengan pernikahanmu? Apa kau bahagia hidup bersama suami yang sama sekali tak kau cintai?" Tanya Freddy.
Helena terdiam. Ia tak memiliki jawaban untuk pertanyaan Freddy.
"Ikutlah denganku, kau akan bahagia bersamaku," ucap Freddy.
Helena sekuat hati mencoba melupakan Freddy. Namun semakin ia berusaha melupakannya, ia justru semakin ingin bersamanya.
Akhirnya saat Nadine berusia tiga tahun, Helena benar-benar meninggalkan anak dan suaminya. Perempuan itu lebih memilih tinggal bersama Freddy, cinta pertamanya.
Helena tak sampai hati jika secara terang-terangan mengatakan pada Hans alasannya pergi meninggalkannya. Ia pun menulis sepucuk surat untuk Hans, suaminya.
Dear Hans,
Aku berusaha mencintaimu, namun aku selalu gagal melakukannya. Aku baru sadar separuh hatiku masih tertinggal di hati pria yang pernah menjadi cinta pertama ku. Maaf jika aku melukaimu, aku hanya ingin bahagia. Jaga Nadine baik-baik. Jangan pernah kau membuatnya membenciku. Rawat dan besarkan dia dengan kasih sayang.
Peluk dan cium dariku untuknya.
Helena.
Hans begitu terpukul atas kepergian istrinya tanpa alasan yang jelas itu. Namun pria itu begitu yakin jika suatu saat Helena akan kembali kepadanya.
*******
Dering ponsel menyadarkan Freddy dari lamunan panjangnya. Sebuah pesan masuk di aplikasi percakapan.
[From: Celine
Aku rindu padamu,]
Freddy pun lalu membalas pesan dari sekretarisnya itu.
[To: Celine
[Tunggu aku di kamarmu]
Pria itu kemudian meninggalkan kamar Helena yang telah kosong. Setidaknya ia masih memiliki Celine, untuk menemani kesepian hatinya malam ini.
To be continue….