
Di ruang perawatan Andromeda.
Tiba-tiba seseorang mendorong pintu.
Tak berselang lama tampak seorang pria melangkah masuk ke dalam ruangan tersebut.
"Keenan..." ucap Aurora.
Tiba-tiba pandangan Keenan tertuju pada sesosok pria yang duduk di sisi Andro. Ia terlihat tengah menyuapi bocah kecil yang baru tersadar dari komanya tersebut.
Raut wajahnya tampak begitu kaget saat mendapati Andro duduk di ranjang dan melemparkan senyum ke arahnya.
"Andro? Kau...sudah sadar?" tanya Keenan. Andro kembali tersenyum.
"Dan...Kau? Apa yang kau lakukan di ruangan ini?" tanya Keenan sambil memandang ke arah Gibran.
Keenan hendak mengambil alih mangkuk yang berada di tangan Gibran.
"Aku yang minta disuapi Mister handsome," ucap Andro.
Keenan kemudian menatap wajah Gibran. Entah keduanya menyadari atau tidak, pria itu kini begitu dekat dengan Andromeda yang tak lain adalah anak kandungnya.
"Baiklah, lanjutkan makanmu, jagoan," ucap Keenan sambil mengusap kepala Andro.
Keenan kemudian membalikkan badannya.
"Mister tampan mau kemana?" tanya Andro.
"Aku mau keluar sebentar," jawabnya dengan raut wajah kurang bersemangat.
Pria itu kemudian berlalu dari ruangan tersebut.
Aurora bisa menangkap rasa tidak nyaman pada Keenan. Ia pun bergegas mengikuti langkah pria yang pernah menjadi kekasihnya itu.
"Kau kenapa?" tanya Aurora sambil duduk di sisi Keenan.
Keenan hanya tersenyum simpul.
"Aku tahu, kau tidak menyukai kedekatan di antara Andro dan Gibran."
"Mengapa Gibran berada di ruangan Andro?"
"Aku tadi keluar ke kantin sebentar. Waktu itu Andro belum sadar. Namun saat aku kembali ke ruangan ini, Gibran sudah ada di dalam. Dan Andro juga sudah sadar dari komanya. Gibran mengatakan jika ia berbicara pada Andro. Tak lama berselang jari-jari Andro bergerak kemudian ia membuka matanya."
"Apa yang ia katakan pada Andro hingga membuat Andro sadar?"
"Entahlah. Gibran hanya memintanya bangun."
Keenan membuang napas.
"Ikatan darah memang memang paling kuat dibandingkan ikatan yang lain," ucap Keenan.
"Kau benar. Apakah getaran itu mulai terasa di hatinya? Meskipun kini memori masa lalu Gibran benar-benar kosong."
"Hanya waktu yang bisa menjawab," ucap Keenan.
Suara derit pintu membuat keduanya menghentikan obrolan. Mereka lalu mengalihkan pandangan ke arah ruangan yang terletak persis di samping ruangan Andro.
Tampak pria paruh baya keluar dari ruangan tersebut. Raut wajahnya terlihat murung. Keenan merasa mengenal wajah pria itu.
"Selamat malam, Tuan Hans," sapa Keenan. Hans lalu memandang wajah Keenan.
"Apakah kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya Hans.
"Ternyata Tuan lupa padaku." Keenan terkekeh. Hans lalu mengamati wajah Keenan selama beberapa detik.
"Astaga! Keenan!" seru Hans.
"Terakhir kita bertemu saat acara wisuda di kampus. Apa kabarmu, Nak?" tanya Hans.
"Aku baik-baik saja," jawab Keenan.
"Siapa yang sakit, Tuan?" tanya Keenan.
"Ibuku. Kemarin ibu jatuh di kamar mandi," jawabnya.
"Lalu bagaimana keadaannya?" tanya Keenan.
"Ibuku mengalami stroke," jawabnya dengan raut wajah penuh kesedihan.
"Kau sendiri? Apakah salah satu anggota keluargamu dirawat di rumah sakit ini?"
"Tidak, Tuan. Aku hanya menjenguk kawanku. Beberapa hari yang lalu ia mengalami kecelakaan dan sempat mengalami koma. Namun beberapa saat lalu ia sudah sadar dari komanya."
"Syukurlah," ucap Hans sambil tersenyum.
"Bagaimana kabar Nadine, Tuan? Cukup lama kami tak saling berkabar."
"Putriku memutuskan untuk membatalkan pertunangannya dan menetap di New York."
Ucapan Hans membuat Keenan dan Aurora tersentak.
"Kurasa Nadine benar-benar ingin melupakan Gibran. Aku tak tahu pasti apa yang membuatnya begitu kecewa hingga ia berani mengambil keputusan sebesar itu."
"Nadine begitu kecewa dengan Gibran karena…" Keenan tak melanjutkan kata-katanya karena Aurora tiba-tiba menggelengkan kepalanya. Ia memberi isyarat kecil agar Keenan tak mengatakan apapun tentang Gibran.
"Kenapa, Nak?" tanya Hans.
"Tak apa, Tuan," jawabnya sedikit gugup.
Tiba-tiba pintu ruang perawatan Andro terbuka. Gibran terlihat keluar dari dari ruangan tersebut. Hans tercengang ketika melihat wajah pria yang nyaris menjadi menantunya itu.
"Andro sudah menghabiskan makanannya. Aku harus pergi sekarang," ucapnya.
"Baiklah, terima kasih," ucap Aurora. Ia kemudian beranjak dari tempat duduknya dan melangkah masuk ke dalam ruang perawatan Andro.
Gibran hanya tersenyum saat melintas di hadapan Keenan dan Hans.
"Sampai kapan pria itu akan mengalami amnesia? Apakah seumur hidup ia akan kehilangan ingatannya?" tanya Hans.
"Entahlah, Tuan. Hanya Tuhan yang tahu," jawab Keenan.
"Bagaimana kabar keluargamu?" tanya Hans.
"Ibuku baru saja meninggal," jawab Keenan. Tiba-tiba raut wajahnya berubah sedih.
"Aku tak memiliki siapapun sekarang. Hanya ibuku yang menyayangiku dan peduli padak," ujarnya.
"Bukankah ayahmu masih hidup?" tanya Hans.
"Ayahku memang masih hidup. Tapi di mataku ia bukan pria yang baik dan patut dicontoh," ucap Keenan sedikit kesal.
"Apa maksud ucapanmu?" tanya Hans.
"Dia bukan pria yang setia. Dia tak hanya sekali mengkhianati ibu. Bahkan ibuku melihat sendiri pengkhianatan ayah di saat-saat terakhir menjelang kematiannya," jawab Keenan.
"Astaga!" seru Hans.
"Selama puluhan tahun ayah mengkhianati pernikahannya sendiri. Namun ia selalu bermain rapi. Sikap manisnya seolah membuat ibu percaya jika pernikahannya baik-baik saja. Sebenarnya aku sudah lama tahu perihal kebusukan pria itu. Namun aku sengaja menyimpannya rapat-rapat. Aku tak ingin kesehatan ibuku semakin menurun."
"Sepertinya kau kurang menyukai ayahmu," ucap Hans.
"Sebenarnya dia bukan ayah kandungku," ucap Keenan.
Hans kembali tersentak.
"Aku diadopsi dari sebuah panti asuhan saat usiaku sepuluh tahun," ujarnya.
"Dimana ayah dan ibu kandungmu?" tanya Hans.
"Ibuku sudah lama meninggal. Sebenarnya aku dan Gibran memiliki ayah yang sama," ucap Keenan.
Ucapan Keenan kali ini membuat Hans ternganga. Ia hampir tak mempercayai ucapan Keenan.
"Apakah itu berarti Kau dan Gibran adalah saudara?" tanya Hans.
"Ya. Gibran adalah saudara tiriku. Ayahnya menikahi ibuku secara diam-diam di belakang ibunya. Namun saat semuanya terbongkar, aku dan ibuku yang tak tahu apapun justru menjadi korban. Saat menikahi ibu, ayah mengatakan jika ia masih lajang. Namun ternyata ia telah menikah dan memiliki seorang anak laki-laki. Tak lama setelah peristiwa itu ibu meninggal. Keluarga nyonya Emily tak mau menerimaku. Mereka membuangku ke sebuah panti asuhan."
Hans memandang Keenan penuh rasa iba. Ia tak menyangka jika kisah hidup Keenan begitu pahit.
"Oh ya, Tuan. Nadine pernah menceritakan padaku jika ia masih memiliki ibu. Jika aku boleh tahu dimana ibunya?"
"Nadine benar. Ibunya masih hidup meskipun ia pernah meninggalkan kami untuk waktu yang tak singkat," ucap Hans. Keenan menautkan alisnya.
"Helena meninggalkan Nadine saat ia masih begitu kecil," jawab Hans.
"Helena?" tanya Keenan.
Tiba-tiba ia merasa tak asing dengan nama tersebut.
Bersambung…
Tembus 500 👍aku up episode selanjutnya.…
❤ ❤ ❤
Hai kak, dukung terus karyaku ya…
Jangan lupa beri like👍, komentar💬, ✒vote, favorit💙 serta hadiah🎁.
Sekecil apapun dukungan yang kalian berikan untukku, aku akan sangat berterima kasih.
Semoga kalian terus menjadi pembaca setiaku..💕💕